NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Jason Pergi ke Selatan

Margaret memberi Jason satu map, satu daftar barang, dan uang jalan.

"Ke Solo," katanya. "Lihat Pasar Klewer. Tanya harga kain, batik, sarung, juga jalur sembako. Jangan langsung beli banyak. Lihat dulu."

Jason memegang map itu seperti memegang perintah perang.

Di meja bundar, Margaret juga menaruh buku kecil bersampul cokelat.

"Setiap harga harus ditulis," katanya. "Nama toko, letak kios, siapa yang bicara, berapa harga eceran, berapa harga grosir. Kalau mereka bilang besok beda harga, catat juga."

Jason membuka buku itu. Halamannya sudah diberi garis rapi. Di halaman pertama tertulis: kain batik, sarung, gula, minyak goreng, sabun, pasta gigi, ongkos angkut, uang makan.

"Mama, aku cuma pergi tanya harga, bukan ikut ujian."

"Dagang memang ujian," kata Margaret. "Yang tidak mencatat, kalah sebelum buka toko."

Natalie yang sedang menyusui Mia di kursi panjang ikut menoleh. Adrian berdiri di ambang pintu dengan wajah seolah ingin ikut, tetapi tidak mau meminta. Vanessa menyeka tangan di celemek, lalu menyelipkan dua bungkus kacang goreng ke tas Jason.

"Untuk di jalan," kata Vanessa.

Jason menerima tanpa banyak bicara. Sejak rumah mereka berubah aturan, perhatian kecil seperti itu masih membuatnya canggung. Dulu ia selalu merasa semua orang harus melayaninya. Sekarang ketika seseorang benar-benar memikirkan perutnya, ia malah tidak tahu harus meletakkan tangan di mana.

Marco berdiri di sampingnya, membawa tas kain kecil. Setelah memanggil Margaret Mama, sikapnya berubah. Ia masih terlihat seperti anak jalanan yang siap berkelahi, tetapi setiap kali Margaret bicara, punggungnya otomatis tegak.

"Mama, aku ikut jaga Jay."

"Jaga uangnya juga," kata Margaret.

Jason tidak terima. "Aku bukan anak kecil."

Margaret menatapnya. "Orang dewasa juga bisa ditipu."

Ia lalu membagi uang itu menjadi tiga bagian. Bagian perjalanan masuk ke saku Jason. Bagian makan masuk ke tas. Bagian cadangan ia berikan kepada Marco, tanpa menjelaskan jumlahnya di depan Jason.

"Kalau Jay marah, kau jangan ikut panas," pesan Margaret kepada Marco. "Kalau orang terlalu ramah, mundur setengah langkah. Kalau ada yang menyuruh bayar cepat, tanya dulu pada petugas yang benar."

Jason mendengus. "Mama bicara seolah Solo penuh penipu."

"Bukan Solo," jawab Margaret. "Jalan jauh yang penuh ujian."

Kalimat itu terdengar seperti ramalan.

Pagi itu mereka berangkat dari Stasiun Semarang. Jason membawa uang lebih banyak daripada yang pernah ia pegang untuk urusan sendiri. Di dalam tas ada bekal nasi, botol air, dan catatan harga yang ditulis Margaret rapi. Di dadanya ada rasa aneh: takut, bebas, dan sedikit bangga.

Kereta penuh.

Ada perempuan membawa kardus ayam hidup, mahasiswa dengan tas besar, pedagang yang tidur sambil memeluk karung, dan anak kecil yang terus bertanya kapan sampai. Bahasa di gerbong bercampur: Indonesia, Jawa, sedikit Hokkien dari penumpang tua di sudut. Semuanya membuat Jason merasa dunia di luar Semarang jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.

Marco duduk dekat jendela, matanya tidak pernah benar-benar tidur. Ia memperhatikan orang yang naik, orang yang turun, tangan yang terlalu dekat dengan tas, dan penjual yang menyelip di antara lutut penumpang.

"Kau seperti satpam," kata Jason.

"Aku pernah tidur di terminal. Kalau tidak lihat tangan orang, barang hilang."

Jason ingin bercanda, tetapi kalimat itu membuatnya diam.

Mama-nya benar. Marco tidak punya modal. Tetapi ia punya mata yang dibayar mahal oleh hidup.

Jason, sebaliknya, baru setengah perjalanan sudah mengantuk.

"Bangunkan aku kalau mendekati Solo," katanya.

"Iya."

Tetapi kereta berhenti lama di satu stasiun kecil. Penjual masuk, orang turun naik, suara menjadi ramai. Marco berdiri sebentar membeli air karena botol mereka tumpah. Saat ia kembali, Jason masih tidur, mulut sedikit terbuka.

Marco duduk lagi.

Ia juga mengantuk.

Ketika Jason bangun, langit sudah berubah warna.

"Solo?" tanyanya.

Marco melihat keluar.

Tulisan stasiun yang lewat bukan Solo.

Mereka sudah kelewatan jauh.

Jason berdiri begitu cepat sampai kepalanya hampir membentur rak.

"Kau bilang bangunkan aku!"

Marco langsung bangun. "Aku juga ketiduran."

"Kau jaga apa?"

"Jaga mimpi."

Jason ingin marah, tetapi wajah Marco terlalu serius.

Mereka turun di stasiun berikutnya, bertanya sana-sini, lalu diarahkan naik bus balik ke Solo. Di terminal kecil, seorang laki-laki berjaket lusuh mendekat.

"Mau Solo? Tiket cepat. Bus hampir berangkat."

Jason, masih kesal karena kelewatan, langsung membayar. Laki-laki itu memberi dua kertas kecil, lalu menghilang.

Bus yang dimaksud tidak ada.

Kertas itu bukan tiket.

Kerugian pertama: Rp 600.000.

Marco memegang kertas palsu itu lama. "Mama benar."

"Diam."

Jason meremas kertas itu sampai lecek. Di bengkel, kalau ada orang mencoba menipunya, ia bisa memaki, mengejar, bahkan mengangkat kunci pas. Di terminal asing, penipu sudah hilang sebelum amarahnya sempat menemukan arah.

"Pelajaran pertama," kata Marco.

"Jangan beri nama pelajaran pada kerugianku."

Mereka mencari bus lain. Kali ini Jason lebih hati-hati. Ia bertanya ke seorang sopir, membayar di dekat pintu, dan duduk dengan wajah gelap. Baru sepuluh menit, seorang laki-laki lain naik, memakai tas selempang dan membawa buku sobek.

"Tiket ulang. Yang tadi salah jurusan. Kalau tidak bayar, turun."

Beberapa penumpang lain membayar. Jason ragu, tetapi karena tidak mau diturunkan di tempat asing, ia membayar lagi.

Setengah jam kemudian, kondektur asli naik.

Tiket ulang tadi palsu.

Kerugian kedua: Rp 700.000.

Jason hampir berdiri untuk mengejar laki-laki itu, tetapi bus sudah bergerak jauh.

Marco memegang lengannya. "Kalau kau turun sekarang, kita kehilangan bus juga."

"Aku kehilangan harga diri!"

"Harga diri bisa diambil lagi. Bus susah."

Jason menatapnya.

Untuk ukuran orang yang baru diangkat jadi adik oleh rumah Lim, Marco terlalu tenang.

Di kursi depan, seorang penumpang tua menoleh dan berkata pelan dalam bahasa Jawa. Jason tidak mengerti semua katanya, tetapi nada orang itu jelas: jangan ribut, semua orang pernah kena tipu di jalan.

Marco menerjemahkan pendek, "Dia bilang kita masih baru."

"Terlihat sekali?"

"Sangat."

Jason menutup wajah dengan telapak tangan.

Mereka akhirnya turun di pinggir jalan karena sopir berkata bus tidak masuk Solo pusat. Dari sana, mereka harus naik kendaraan lain. Seorang calo menawarkan angkutan sambung sampai dekat Pasar Klewer. Kali ini Marco yang maju bertanya.

"Bayar nanti sampai?"

"Bayar separuh dulu."

Marco menolak.

Jason melihat jam, lelah, lapar, dan malu. Ia membayar separuh.

Angkutan itu membawa mereka memutar jauh, lalu menurunkan mereka di tempat yang katanya "dekat". Ternyata masih harus naik lagi.

Kerugian ketiga: Rp 800.000.

Total yang hilang: Rp 2.100.000.

Jason duduk di pinggir jalan, menatap debu.

"Aku belum berdagang sudah rugi."

Lebih menyakitkan lagi, setiap kerugian kecil itu terasa seperti menampar wajah Margaret di kepalanya. Ia teringat buku catatan ibunya, garis angka yang rapi, dan suara tenang yang berkata jangan percaya orang terlalu ramah. Semua nasihat itu ada di tasnya. Ia hanya terlalu panas hati untuk membacanya.

Jason membuka buku cokelat itu. Halaman pertama masih kosong. Kertasnya bersih, terlalu bersih, sampai membuat kerugiannya tampak lebih jelas.

Ia mengambil pensil tumpul dari saku tas, lalu menulis dengan huruf besar yang miring: tiket palsu Rp 600.000. Di bawahnya ia menulis: tiket ulang palsu Rp 700.000. Setelah menelan ludah, ia menulis baris ketiga: angkutan memutar Rp 800.000.

Marco melihat tulisan itu. "Kenapa dicatat?"

"Mama bilang semua harga harus ditulis."

"Itu bukan harga barang."

"Ini harga bodoh."

Marco terdiam sebentar, lalu mengangguk seperti orang sedang belajar rumus penting. "Kalau begitu mahal."

"Sangat mahal."

"Kalau pulang sekarang," katanya, "Mama akan tahu aku gagal."

"Kalau pulang sekarang, kita memang gagal," kata Marco. "Kalau sampai Solo, kita cuma rugi."

Jason menoleh.

Marco mengangkat bahu. "Beda."

Marco jongkok di sampingnya dan mengeluarkan uang dari lipatan dalam bajunya.

"Aku masih ada Rp 500.000."

Jason menoleh tajam. "Kau sembunyikan uang?"

"Mama bilang jaga uangnya juga. Kalau semua di tasmu, ya semua ikut hilang."

Jason membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Di satu sisi, ia ingin memukul sesuatu.

Di sisi lain, ia ingin memeluk Marco karena untuk pertama kalinya hari itu ada yang tidak bodoh.

"Cukup ke Solo?"

"Cukup. Makan murah, naik kendaraan yang benar, jangan percaya orang yang terlalu ramah."

Jason mengusap wajah.

"Mulai sekarang, kau yang pegang uang cadangan."

"Dari tadi juga begitu."

"Jangan sombong."

Mereka akhirnya sampai di Solo saat malam sudah turun. Lampu stasiun membuat jalan terlihat kuning. Perut mereka kosong, kaki pegal, kepala penuh asap. Pasar Klewer sudah tutup. Rencana melihat harga hari itu hancur total.

Namun dari kejauhan mereka masih melihat arah pasar: deretan kios tertutup, bau kain lembap, suara orang mendorong gerobak terakhir. Jason berdiri sebentar di pinggir jalan. Ia belum mendapatkan satu pun harga, tetapi untuk pertama kalinya ia melihat tempat yang mungkin menjadi awal hidup barunya.

"Besok pagi kita ke sana," kata Marco.

"Kalau aku tidak ditipu lagi sebelum pagi."

"Aku pegang uang."

"Kau mulai menyebalkan."

Di warung dekat stasiun, mereka memesan satu piring nasi goreng besar untuk dibagi dua. Marco makan cepat. Jason makan sambil menatap daftar harga dari Margaret yang masih bersih tanpa satu catatan pun.

"Mama akan membunuhku," gumamnya.

"Tidak," kata Marco. "Mama akan bertanya berapa rugi, kenapa rugi, lalu suruh kita jangan ulangi."

"Itu lebih menakutkan."

Marco mengangguk. "Benar."

Mereka hampir tertawa.

Lalu dari gang gelap di samping warung terdengar suara benturan.

Satu kali.

Lalu suara laki-laki memaki.

Kemudian jeritan perempuan.

Marco langsung berdiri.

Jason menarik lengannya. "Jangan cari masalah. Kita baru sampai."

Jeritan itu terdengar lagi, lebih tajam.

Marco menatap gang.

Jason menggenggam daftar harga di tangannya sampai kertas itu kusut.

Malam Solo yang baru saja mereka masuki mendadak terasa jauh lebih gelap.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!