Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Untuk pertama kalinya sejak Jovian mengucapkan nama Mama, air mata jatuh tanpa izin.
Kiana tidak menangis lama.
Di kursi belakang Bentley, ia hanya membiarkan air mata itu jatuh beberapa kali, lalu menghapusnya dengan punggung tangan. Hans tidak menoleh terlalu sering. Ia hanya menurunkan suhu AC sedikit, mengambil botol air mineral dari konsol, dan menyodorkannya saat lampu merah.
"Minum."
Kiana menerima botol itu.
Air terasa hambar, tetapi tenggorokannya akhirnya bisa bekerja lagi.
Malam itu ia tidak langsung ke Vila Lim. Tubuhnya masih lemah, pikirannya terlalu berisik. Hans mengantarnya pulang ke apartemen, memastikan ia minum obat lambung, lalu meninggalkan bubur polos di meja.
"Besok baru tanya," katanya.
Kiana tahu ia sedang bicara tentang Mama.
Ia juga tahu Hans benar.
Namun tidur malam itu pecah-pecah. Setiap kali memejamkan mata, suara Jovian kembali.
Ibumu membunuh ibuku.
Pagi berikutnya, Kiana pergi ke Vila Lim dengan wajah yang sudah ia paksa tenang. Lily sedang berada di taman belakang, duduk di kursi rotan dengan secangkir teh melati. Rambutnya disanggul rendah. Dari jauh, Mama terlihat seperti lukisan lama yang dipelihara dengan hati-hati.
Kiana berhenti di ambang pintu kaca.
Bagaimana seseorang bisa menuduh tangan selembut itu mengambil nyawa?
"Kia?" Lily menoleh, lalu langsung berdiri. "Kamu pucat sekali. Sakit?"
Kiana berjalan mendekat dan memeluknya.
Lily terkejut sesaat, lalu membalas pelukan itu. Tangannya menyentuh punggung Kiana dengan gerakan pelan yang sama sejak Kiana kecil.
"Ada apa, Nak?"
"Kangen Mama."
Lily mengusap rambutnya. "Baru beberapa hari tidak pulang, sudah begini."
Nada itu ringan, tetapi Kiana bisa merasakan Mama menahan banyak pertanyaan. Sejak Kiana membatalkan pernikahan dengan Jovian, sejak pindah apartemen, sejak ia tiba-tiba menjadi orang yang menyembunyikan terlalu banyak hal, Lily memilih tidak memaksa. Justru itu membuat Kiana makin ingin menangis.
Mereka makan malam lebih awal di meja kecil dekat taman. Bi Lan mengantar sup hangat dan nasi tim, lalu mundur setelah Lily memberi isyarat ingin berdua.
Kiana makan pelan. Perutnya masih sensitif.
Lily memperhatikan mangkuknya. "Kamu sakit lambung lagi?"
"Sedikit. Sudah ke dokter."
"Dengan siapa?"
Kiana mengangkat mata. "Hans."
Lily diam satu detik, lalu mengangguk pelan. "Dia menjaga kamu?"
"Iya."
"Kalau begitu Mama harus berterima kasih nanti."
Kalimat itu lembut, tetapi Kiana merasakan dadanya bergetar. Dunia di luar mungkin penuh kebohongan, tetapi Mama masih bisa melihat sesuatu yang baik dengan sederhana.
Setelah makan, Lily tiba-tiba meletakkan sendok.
"Kia, Mama juga punya sesuatu yang harus kamu tahu."
Kiana menahan napas.
"Pengacara Tjen mengirim laporan awal. Ada beberapa transfer besar dari rekening Papa kamu ke rekening luar negeri. Penerimanya berhubungan dengan Kiara Pai."
Nama itu jatuh seperti batu kedua.
"Kiara," ulang Kiana.
"Ibu Vanya." Wajah Lily menegang. "Nominalnya tidak kecil. Dan bukan sekali."
Kiana menatap teh di cangkirnya. Jadi Hendro bukan hanya memihak Vanya. Ia sedang mengalirkan uang keluarga Lim kepada ibu Vanya. Rantai yang dulu kabur mulai memperlihatkan bentuknya.
"Mama sudah tanya Papa?"
Lily tersenyum tipis, pahit. "Kalau Mama tanya sekarang, dia akan menyembunyikan sisanya. Kita kumpulkan bukti dulu."
Kiana memandang ibunya.
Mama yang dulu ia kira hanya lembut ternyata sedang belajar menggenggam pisau dengan tangan halus.
Mungkin ini saatnya.
"Ma," panggil Kiana.
"Hm?"
"Hari Bu Loe meninggal..." Kiana berhenti sebentar, memilih kata yang tidak langsung melukai. "Hari Mendiang Bu Loe kecelakaan, Mama sedang di mana?"
Warna wajah Lily berubah.
Tidak banyak. Hanya cukup untuk membuat tangan Kiana dingin.
"Kenapa tiba-tiba tanya itu?"
"Jovian menemuiku kemarin." Kiana tidak menyebut semua detail. Tidak dulu. "Dia bilang keluarga Lim punya utang darah pada keluarga Loe. Dia bilang Mama penyebab kematian ibunya."
Cangkir teh di tangan Lily bergetar kecil.
"Dia bilang begitu?"
"Mama?"
Lily menaruh cangkir. Untuk beberapa saat, hanya suara angin taman yang lewat di antara mereka.
"Kia," kata Lily akhirnya, "hari itu Mama memang bertemu Bu Loe."
Napas Kiana tertahan.
"Tapi bukan seperti yang Jovian pikir." Mata Lily memerah, tetapi suaranya tetap ditahan. "Bu Loe yang menjemput Mama dari vila. Dia bilang ada orang yang harus Mama temui sebelum semuanya terlambat."
"Orang siapa?"
Lily menutup mata sebentar.
"Seseorang yang tidak boleh Papa kamu tahu."
Jantung Kiana berdetak keras.
"Laki-laki?"
Lily tidak menjawab.
Itu cukup.
Di kepala Kiana, satu potongan ingatan dari kehidupan sebelumnya tiba-tiba naik ke permukaan. Setelah kabar pesawat Mama jatuh, ada seorang pria paruh baya yang muncul di lokasi pencarian. Bukan keluarga Lim. Bukan orang Bintang Grup. Ia berdiri di tengah hujan, memaksa tim penyelamat terus mencari sampai suaranya serak. Saat itu Kiana terlalu hancur untuk bertanya siapa dia.
Sekarang, bayangan pria itu terasa seperti pintu lain.
"Hari itu Mama pergi dengan Bu Loe untuk menemui dia?"
"Iya." Lily menatap tangannya sendiri. "Bu Loe mengantar Mama keluar. Dia bilang dia hanya bisa membantu sampai situ. Setelah Mama turun di tempat pertemuan, dia pergi. Itu terakhir kali Mama melihatnya hidup-hidup."
Kiana memegang tepi meja.
"Jadi saat kecelakaan itu terjadi..."
"Mama tidak berada di mobilnya." Suara Lily pecah. "Mama bahkan tidak tahu sampai malamnya. Dan setelah itu, Papa kamu melarang Mama ikut campur. Katanya keluarga Loe sedang berduka, jangan menambah masalah."
Kiana menutup mata.
Jovian salah.
Setidaknya, ceritanya tidak utuh.
Ada ruang kosong di antara Bu Loe mengantar Lily dan kecelakaan yang membunuhnya. Dan ruang kosong itu terlalu besar untuk disebut kebetulan.
"Ma, kenapa Mama tidak pernah cerita?"
Lily memandang taman gelap. "Karena orang yang Mama temui hari itu... kalau namanya keluar, hidup banyak orang bisa hancur. Mama pengecut, Kia. Mama memilih diam."
"Mama bukan pengecut."
"Mama diam terlalu lama."
Kiana menggenggam tangan Lily. "Kalau begitu sekarang kita tidak diam lagi."
Lily menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Kiana melihat ketakutan serta harapan berdiri bersama di mata ibunya.
Malam itu, setelah kembali ke kamar lamanya di Vila Lim, Kiana membuka WhatsApp Jovian. Ia mengetik satu kalimat.
Mama tidak membunuh ibumu.
Jarinya berhenti di tombol kirim.
Jika ia mengirim sekarang, Jovian tidak akan percaya. Ia akan menuduhnya membela keluarga sendiri. Ia akan berlari ke Vanya, dan Vanya akan punya waktu menyusun air mata baru.
Kiana menghapus pesan itu.
Ia membuka Instagram untuk mengalihkan pikiran.
Unggahan pertama yang muncul justru milik Jovian.
Foto tangan Jovian dan Vanya saling bertaut di meja restoran. Cincin kecil di jari Vanya menangkap cahaya kuning. Caption-nya pendek:
Memilih yang tidak pernah meninggalkan.
Kiana menatap foto itu beberapa detik.
Rasa sakitnya ada, tetapi tidak setajam dulu. Lebih seperti bekas luka yang ditekan, bukan luka yang baru dibuka.
Ia menekan tombol suka.
Lalu menulis komentar:
Semoga kalian terkunci selamanya.
Komentar itu terkirim.
Kiana meletakkan ponsel di meja, mematikan lampu, dan menatap langit-langit kamar lamanya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menjelaskan dirinya kepada Jovian.
Ia ingin mencari kebenaran.