Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Video Maya berdurasi empat puluh detik.
Tidak ada lokasi jelas, tidak ada jendela, tidak ada suara lalu lintas. Hanya dinding semen, kursi logam, lampu putih, dan suara Fajar Santoso yang sengaja dibuat tenang.
Dinda menangis sampai hampir tidak bisa berdiri. Baskara memegang ponsel dengan tangan gemetar. Raka memutar video berulang-ulang, mencari pantulan, celah, apa pun. Rafi memindahkan file ke laptop, memisahkan audio.
Alya duduk di meja ruang tamu rumah aman, menatap kertas yang ditinggalkan.
Berhenti mencari Fajar.
Kalimat itu terlalu langsung.
"Dia takut," kata Alya.
Baskara menatapnya. "Apa?"
"Fajar takut kita terlalu dekat. Kalau tidak, dia tidak perlu menculik Maya. Dia bisa membunuhnya dan membuang mayatnya."
Dinda menoleh dengan wajah marah. "Kakak bisa bicara begitu tentang Mama?"
"Aku sedang membaca situasi."
"Dia bisa mati!"
"Karena itu berhenti menangis dan bantu ingat." Alya menatap Dinda. "Apa Mama punya tempat yang hanya dia dan Fajar tahu? Rumah lama, yayasan, klinik, gudang, apa pun."
Dinda tersedak. "Aku..."
"Ingat."
Baskara berkata, "Jangan tekan dia."
Alya menoleh. "Kalau kita lambat, Maya mati. Papa pilih kalimat lembut atau hasil?"
Baskara diam.
Dinda menutup mata. "Ada satu tempat. Waktu aku kecil, Mama pernah membawaku ke rumah putih dekat danau. Katanya rumah teman. Aku hanya ingat ada patung burung di halaman."
Raka langsung mencari di tablet. "Danau mana?"
"Aku kecil. Aku tidak tahu."
"Jakarta? Bogor? Tangerang?"
Dinda memegang kepala. "Ada jalan naik. Udara dingin. Mungkin Puncak."
Rafi mengangkat wajah. "Rumah putih dekat danau, Puncak, patung burung."
Ia mengetik cepat. Dalam beberapa menit, muncul tiga kemungkinan vila. Salah satunya terdaftar atas nama perusahaan lama yang sama dengan rumah aman Menteng.
Baskara berdiri. "Kita pergi."
"Tidak," kata Alya.
"Maya istriku."
"Dan Fajar ingin kita bergerak panik. Kita kirim orang mengawasi dulu."
Dinda hampir berteriak, "Itu Mama!"
Alya menatapnya. "Kalau kamu ingin menyelamatkan dia, jangan melakukan apa yang penculik inginkan."
Dinda menggigit bibir sampai berdarah.
Raka menghubungi Komisaris Ardi melalui jalur yang diberikan Alya. Ardi menolak mengirim tim resmi tanpa lokasi pasti, tetapi bersedia mengirim dua orang pengintai. Rafi juga mengirim orangnya sendiri.
Menunggu menjadi bagian paling menyiksa.
Mereka kembali ke rumah Wiratama menjelang subuh. Tidak ada yang tidur. Dinda duduk memeluk lutut di sofa. Baskara berjalan bolak-balik. Raka memantau ponsel. Alya membaca ulang semua dokumen Fajar.
Pukul tujuh pagi, kabar datang.
Vila putih itu kosong.
Namun di ruang bawah tanah ditemukan kursi logam, tali, dan bekas darah yang masih baru.
Dinda hampir pingsan.
Rafi menambahkan, "Ada jejak mobil keluar sekitar pukul empat. Mereka memindahkan Maya sebelum orang kita sampai."
Baskara memukul dinding. "Sial!"
Alya menatap foto ruang bawah tanah. Kursi logamnya sama dengan video. Lokasi benar. Mereka hanya terlambat.
Di sudut foto, ada sesuatu yang menarik.
Sebuah kotak obat kecil tertinggal di meja.
Alya memperbesar. Labelnya menunjukkan nama obat jantung.
"Maya sakit jantung?" tanya Alya.
Baskara menoleh. "Tidak."
"Fajar?"
Raka mencari cepat. "Fajar Santoso jarang muncul publik. Tapi ada rumor dia dirawat di luar negeri karena penyakit degeneratif."
Alya menatap label obat.
Kalau obat itu milik Fajar atau orang terdekatnya, mereka punya celah.
Sementara itu, keluarga Santoso membuat langkah baru. Pak Hendra mengumumkan lewat pernyataan bisnis bahwa kerja sama dengan Wiratama ditinjau ulang karena "ketidakstabilan internal keluarga mitra". Ia tidak menyebut Alya, tetapi semua orang tahu arahnya.
Saham Wiratama turun lagi.
Baskara menerima telepon tanpa henti. Beberapa pemegang saham meminta rapat darurat. Raka, yang memegang kuasa suara Alya, diminta hadir. Artinya serangan perusahaan dimulai bersamaan dengan penculikan Maya.
"Mereka memecah kita," kata Raka.
"Ya," jawab Alya. "Papa dan Mas ke rapat. Aku urus Maya."
Baskara menatapnya. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengejar penculik sendirian."
"Papa tidak sedang membiarkan. Papa sedang tidak punya pilihan."
Baskara ingin membantah, tetapi ponselnya kembali berbunyi. Sekretarisnya hampir menangis, mengatakan beberapa direksi sudah berkumpul tanpa menunggu.
Raka berkata, "Pa, kalau kita tidak datang, mereka bisa mengubah keputusan strategis."
Baskara melihat Dinda.
Dinda berkata pelan, "Aku ikut Kak Alya."
"Tidak."
"Mama diculik karena semua ini. Aku tidak bisa duduk menunggu."
Alya menatap Dinda. "Kamu yakin?"
Dinda mengangguk, meski wajahnya pucat.
Keputusan terpaksa dibuat. Baskara dan Raka pergi ke kantor. Alya, Dinda, dan Rafi pergi mengikuti jejak obat jantung.
Rafi menghubungi jaringan apotek. Obat itu tidak dijual bebas. Nomor batch mengarah ke klinik kardiologi swasta di Jakarta Barat. Pemilik klinik: dr. Banyu Prasetyo. Dalam dokumen Melati Merah, nama Banyu muncul sebagai dokter muda magang di proyek lama.
"Dia masih hidup," kata Rafi.
"Dan masih bekerja," kata Alya.
Klinik Banyu tampak seperti klinik mahal biasa. Rafi tidak masuk lewat depan. Ia menyewa ruangan konsultasi menggunakan nama palsu, lalu membiarkan Alya dan Dinda masuk sebagai pasien keluarga.
dr. Banyu adalah pria enam puluhan dengan rambut memutih. Ia memandang Alya terlalu lama saat membaca nama palsu di formulir.
"Ada keluhan apa?"
Alya meletakkan foto kotak obat di meja.
Wajah Banyu berubah.
"Saya tidak mengerti."
"Obat ini ditemukan di vila Fajar Santoso. Anda meresepkannya?"
Banyu berdiri. "Kalian harus pergi."
Dinda maju. "Mama saya diculik. Kalau dokter tahu sesuatu, tolong katakan."
Banyu menatap Dinda, lalu Alya. "Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi."
"Kami sedang belajar," kata Alya.
Banyu tertawa pahit. "Nadira juga bicara begitu dulu."
Nama itu membuat ruangan tegang.
Alya berkata, "Dokter mengenal ibu saya."
"Aku mengenalnya. Dan aku melihat apa yang terjadi pada orang yang mencoba melawan."
"Fajar membunuhnya?"
Banyu memejamkan mata. "Fajar tidak pernah membunuh dengan tangannya sendiri. Dia membuat orang lain membuka pintu, mengganti obat, menunda ambulans, memalsukan laporan."
Dinda menutup mulut.
Alya merasa udara keluar dari paru-parunya. "Siapa yang membuka pintu untuk kematian ibuku?"
Banyu menatapnya dengan rasa takut yang lama sekali ia pendam.
Sebelum ia menjawab, kaca klinik pecah.
Sebuah tembakan masuk dari luar, mengenai lampu di atas meja. Dinda berteriak. Rafi menerjang masuk dan menarik Alya serta Dinda ke lantai.
Banyu jatuh dari kursinya, memegang bahu yang berdarah.
Alya merangkak mendekatinya. "Dokter!"
Banyu menggenggam tangan Alya dengan sisa tenaga.
"Cari... perawat Sari... ruang bersalin malam itu..."
Lalu matanya terpejam.
Di luar, Rafi mengejar penembak.
Alya menatap darah di tangannya.
Jawaban semakin dekat.
Dan setiap orang yang ingin menjawab mulai ditembak satu per satu.
Rafi kembali sepuluh menit kemudian dengan rahang tegang. Penembak lolos, tetapi ia menemukan selongsong peluru dan satu potongan kain hitam yang tersangkut di pagar belakang panti jompo.
"Profesional?" tanya Alya.
"Cukup terlatih."
"Cukup terlatih berarti bisa disewa."
"Atau dibesarkan oleh orang yang sama."
Alya menatap dr. Banyu yang dibawa petugas medis ke ambulans. Lelaki tua itu masih hidup, tetapi jawaban yang ia bawa kini harus menunggu operasi.
Ardi datang dengan wajah keras. "Mulai sekarang semua saksi masuk perlindungan."
"Mulai sekarang?" Alya mengulang.
Ardi menerima kemarahannya tanpa membalas. "Saya terlambat. Saya perbaiki."
Alya ingin berkata bahwa terlambat bisa membunuh. Tapi darah Banyu di tangannya sudah mengatakannya lebih jelas.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔