Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima belas ~
Komandan pusat melangkah mendekati meja saji dengan aura wibawa yang mencengkeram kuat ruangan tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil sendok perak, mencicipi sesendok sayur lodeh buatan Bagas, lalu menyuapkan sepotong ayam goreng ke dalam mulutnya untuk membuktikan kualitas hidangan itu.
Seketika itu juga, sang komandan terdiam kaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya membeku selama beberapa menit penuh tanpa bergerak sedikit pun, sementara matanya menerawang jauh menembus dinding dapur, terhanyut oleh rasa yang mengejutkan.
Suasana di dalam dapur mendadak berubah menjadi sunyi mencekam layaknya kuburan. Seluruh staf dapur, para juru masak junior yang tadi sempat membantu, hingga para prajurit yang berkerumun di depan pintu seketika menahan napas rapat-rapat dan menegang kaku. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi pelipis mereka secara massal.
Mati aku! Selesai sudah riwayat hidupku di barak ini! Komandan terdiam begitu lama sampai membeku begitu, pasti masakannya hancur total, keasinan parah, atau bahkan beracun! Sialan, habis sudah aku kalau komandan sampai murka besar dan menjatuhkan hukuman mati! batin Bagas menjerit histeris sambil memejamkan mata rapat-rapat, pasrah menunggu badai amukan sang petinggi jatuh ke kepalanya.
Bukan rahasia lagi di kalangan militer bahwa komandan pusat dikenal sebagai seorang picky eater yang lidahnya sangat rewel, kejam, dan paling benci makanan sembarangan hasil kerja asal-asalan. Kesalahan sekecil apa pun dalam takaran racikan bumbu dipastikan bisa berakibat fatal bagi seluruh orang yang bertugas di dapur hari ini.
Namun, drama ketegangan yang mencekik tenggorokan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, pemandangan aneh dan tidak masuk akal pecah di hadapan mereka semua tanpa diduga-duga.
Sang komandan pusat mendadak melompat menerjang maju ke depan, langsung memeluk tubuh Bagas erat-erat tanpa ampun sambil meledakkan tangisan tergugu layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya di pasar malam.
"Hiks... huaaaa! Sialan kamu Bagas! Sialan!" tangis sang komandan pecah sekencang-kencangnya di perpotongan pundak Bagas. "Enak... ini rasanya enak banget! Sialan, masakan ini... masakan sayur lodeh buatanmu ini benar-benar membuatku teringat kembali pada almarhum kedua orang tuaku di kampung halaman tercinta!" teriak sang komandan di sela-sela isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi, terus-menerus mengucapkan terima kasih sambil menepuk-nepuk punggung Bagas secara membabi buta penuh emosi.
Bagas yang dipeluk dan ditangisi dengan begitu dramatis oleh seorang petinggi militer tertinggi di barak itu hanya bisa memasang wajah kosong, kebingungan setengah mati tanpa tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan situasi yang telanjur kacau ini. Dengan canggung dan tangan yang gemetar hebat, ia hanya bisa mempuk-puk pelan punggung sang komandan yang masih asyik meratap sesenggukan di tubuhnya.
Sumpah demi apa pun di dunia ini, ini adalah situasi paling absurd, aneh, dan cringe yang pernah kualami seumur hidupku! Kenapa komandan malah mewek bombay gara-gara sayur lodeh buatanku?! Emangnya aku ini emaknya apa?! maki Bagas dalam hati dengan penuh kebingungan tingkat dewa yang sukses membuat kepalanya mau pecah.
Di sisi lain, seluruh orang yang ada di dalam dapur langsung mengembuskan napas lega yang amat panjang, berisik, dan berbarengan. Beban seberat gunung es yang menghimpit dada mereka seketika menguap begitu saja tanpa sisa. Mereka tersenyum lebar semringah, saling berpandangan penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang luar biasa karena berhasil selamat dari maut.
Namun, suasana hati yang sangat kontras justru dirasakan oleh satu orang di sudut ruangan. Asisten koki utama berdiri mematung kaku bagaikan patung batu dengan wajah sepucat mayat hidup. Senyum seringai jumawa yang tadi menghiasi wajahnya kini hancur berkeping-keping tanpa bentuk, menyisakan tatapan kosong penuh keputusasaan saat menyadari seluruh rencana licik dan harapannya untuk merebut kursi kepala koki telah musnah total dalam sekejap mata.
Sialan... sialan! Kenapa bisa berakhir begini?! Harusnya anak sialan itu dihukum berat karena memasak sembarangan, bukan malah dipeluk dan dipuji sambil nangis bombay di depan umum! Sialan kau Bagas! Habis sudah riwayatku kalau begini caranya! maki asisten koki itu dalam hati, menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah-darah karena diliputi amarah, kebencian, dan rasa frustrasi yang teramat sangat.
Acara tangis-tangisan dramatis di tengah dapur itu mendadak kacau balau ketika suara gebrakan pintu yang sangat keras dan teriakan menggelegar terdengar dari arah luar pintu utama.
"Ada apa ini sebenarnya?! Kenapa kalian semua berkerumun di depan pintu seperti sekumpulan orang bodoh yang tidak punya pekerjaan di barak?! Apakah di dalam sedang terjadi kekacauan atau kerusuhan besar?!" teriak suara garang sang kepala koki yang baru saja tiba kembali dari markas besar pusat dengan langkah menghentak penuh wibawa.
Mendengar suara menggelegar yang sangat familiar itu, para prajurit yang tadinya berdiri di depan pintu langsung menegang kaku bagaikan patung selamat datang. Mereka saling lempar pandang dengan panik luar biasa, sama sekali tidak tahu harus merespons atau menjawab apa untuk menyelamatkan diri dari amukan sang kepala koki.
Berbeda dengan situasi di luar yang menegang penuh ketakutan, orang-orang di dalam dapur langsung bergerak seribu bahasa dengan kecepatan cahaya. Mereka berhamburan dengan panik menyibukkan diri masing-masing demi menghapus kecurigaan, ada yang pura-pura mencuci piring kotor yang sudah bersih, mengelap meja dapur yang sudah mengkilap, hingga mengaduk-ngaduk kuali kosong tanpa isi demi menghindari suasana awkward di hadapan sang kepala koki.
Sang kepala koki melangkah masuk dengan alis bertaut tajam, merasa sangat terheran-heran melihat tingkah laku aneh bin ajaib para prajurit hari ini. Namun, kemarahannya seketika menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh keterkejutan luar biasa saat netranya menangkap sosok orang nomor satu di barak tersebut tengah memeluk erat seorang pemuda dapur dengan sisa-sisa air mata di pipinya.
Deg!
Melihat pemandangan absurd sahabat karibnya sedang mewek bombay di pelukan anak buahnya sendiri, sang kepala koki menggelengkan kepala perlahan-lahan, lalu menyeringai geli sambil melipat tangan di dada bidangnya.
"Lho, ada badai apa sampai-sampai komandan yang terhormat dan ditakuti ini rela menginjakkan kaki di dapur rendahan seperti ini?" sindir sang kepala koki dengan nada setengah mengejek yang sarat akan gurauan lama.
Hai hai hai hai... Maaffken kemarin gak bisa up karena satu dan lain hal, nanti kalo aku dapet wangsit aku doubel yaaa tapi tapi tapiiii tolong jangan berharap dulu aku doubel yaa.
Oh yaaa tolong dong tinggalkan jejak komen gitu biar aku semangat. Tanpa komen dari kalian ceritaku ini bagai nasi tanpa lauk kenyang sih tapi kurang nikmat.
Huhuhu....
Jadiii tolongggg yaaa tinggalin komen ayom ngobroll akuu sayang kalian banyak banyakkkk..... Muhehehhe ❤️❤️❤️
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘