NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Obsesif

Sejak malam itu, Alesha benar-benar mengubah sikapnya sepenuhnya. Di depan Aiden, ia berperan sebagai gadis yang paling tenang, paling patuh, dan seolah sudah menerima sepenuhnya kenyataan hidup barunya. Setiap kali Aiden datang menjenguk, mengantar makanan, atau sekadar duduk menemaninya, Alesha akan menyambutnya dengan senyum lembut, mendengarkan setiap ucapannya tanpa memotong, dan bahkan sesekali mengajukan pertanyaan ringan soal pelajaran seolah tak ada lagi keinginan lain di hatinya.

Perubahan ini membuat Aiden sangat puas. Bagi laki-laki itu, sikap Alesha adalah bukti bahwa caranya mendidik dan menjaga mulai membuahkan hasil. Ia mengira gadis manis nya itu akhirnya sadar bahwa dunia yang ia ciptakan adalah satu-satunya tempat yang pantas untuk Alesha tinggali. Tanpa ia sadari, sikap lengah ini justru membuka celah yang selama ini ditunggu-tunggu.

"Bagus sekali, gadis manis ku," ujar Aiden suatu sore sambil mengusap rambut panjang Alesha dengan tatapan penuh kepemilikan yang mendalam.

 "Kalau terus begini, Aku akan berikan buku-buku referensi yang lebih banyak lagi, apapun yang kamu minta asal tetap di dalam batas ini. Kamu lihat kan? Hidup tenang tanpa memikirkan hal-hal yang tidak perlu itu jauh lebih indah, ujar Aiden

"Iya, kak Aiden, Alesha mengerti," jawab Alesha pelan, matanya menunduk sedikit agar Aiden tak bisa melihat kilatan tekad yang tersembunyi di baliknya.

Namun begitu Aiden pergi dan pintu tertutup rapat, ekspresi wajah Alesha langsung berubah. Senyumnya lenyap, digantikan oleh tatapan serius yang mulai mengamati setiap sudut ruangan, setiap kebiasaan orang-orang di dalam rumah itu, dan setiap celah keamanan yang mungkin ada. Selama berminggu-minggu berikutnya, ia mengamati semuanya dengan cermat, seolah menyusun peta di dalam kepalanya.

Ia mencatat pola waktu: jam berapa para pembantu beristirahat, jam berapa pergantian pengawal, bagian mana dari koridor yang paling jarang dilewati, dan yang paling penting letak tangga belakang serta pintu darurat yang jarang digunakan, yang ia temukan secara tidak sengaja saat berjalan mengikuti gurunya ke kamar mandi khusus di lantai dua.

Dari pengamatannya, Alesha menyadari satu hal: sistem keamanan di sini memang sangat ketat, tapi semuanya dikendalikan terpusat dan hanya bisa dibuka dengan kode yang dipegang Aiden. Namun ada satu kelemahan kecil , pada malam hari setelah pukul dua belas lewat, ketika seluruh penghuni rumah sudah terlelap, hanya ada dua pengawal yang berjaga di gerbang utama, sedangkan bagian dalam mansion hanya dipantau lewat layar yang diawasi dari ruang kerja Aiden. Jika Alesha bisa bergerak sangat pelan, menutupi jejak, dan bergerak saat perhatian mulai kendur, masih ada kemungkinan.

Selagi menyusun rencana, ingatan tentang masa lalunya terus menjadi bahan bakar semangatnya. Ia teringat lagi betapa enaknya rasanya berjalan menuju gerbang sekolah dengan seragam sekolah , merasakan angin menerpa wajah, tertawa lepas tanpa rasa takut salah bicara, dan pulang membawa cerita baru setiap harinya. Dulu ia memang hidup berkecukupan dan Dedy serta Mami juga menjaganya agar tidak salah pergaulan, tapi mereka tidak pernah memutuskan haknya untuk tumbuh dan mengenal dunia. Apa yang ia rasakan sekarang adalah perbedaan yang sangat mencolok ,bukan dijaga, melainkan dikunci agar tidak bisa menjadi siapa-siapa selain milik Aiden.

Saat pelajaran berlangsung pun, Alesha tidak hanya mendengarkan materi. Ia mulai mengumpulkan benda-benda kecil yang bisa membantunya: seutas tali tipis dari kain sisa kerajinan, sebatang lilin kecil, dan secara diam-diam mencatat waktu serta arah langkahnya setiap kali berpindah tempat. Ia berpura-pura melamun saat menatap jendela, padahal matanya sedang menghitung jarak ke pagar luar dan mengamati posisi tanaman rimbun yang bisa dijadikan tempat bersembunyi jika berhasil keluar.

Namun di balik ketenangan dan kesiapannya, rasa takut tetap menyelimuti hatinya. Alesha tau ini bukanlah hal yang gampang. Jika ketahuan, hukuman apa yang akan didapatkannya? Aiden bukan orang yang marah secara kasar, tapi hukuman halusnya jauh lebih menyiksa memutuskan semua akses ke cahaya, ke buku, ke makanan kesukaan, atau bahkan mengurungnya di ruangan yang lebih kecil dan sunyi sampai ia benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Suatu malam, saat jam dinding baru menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit, Alesha memutuskan bahwa malam itu adalah waktunya. Hatinya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dada, telapak tangannya basah oleh keringat dingin, tapi kakinya tetap melangkah pelan dan hati-hati. Ia mengenakan baju tidur yang berwarna gelap, melipat selimutnya sedemikian rupa agar terlihat ada tubuh terbaring dari kejauhan, lalu menyelinap keluar dari kamar dengan membuka pintu perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Koridor lantai dua hanya diterangi lampu tidur yang remang-remang, membuat bayangannya terlihat memanjang dan mengerikan menurut perasaannya. Ia berjalan merapat ke dinding, berhenti sesekali mendengarkan suara sekeliling, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga belakang yang telah ia amati selama berhari-hari. Di dalam hatinya, ia terus berdoa dan membisikkan kata-kata penyemangat: Sekali ini saja, Alesha. Kalau berhasil, kau bisa kembali ke kehidupan yang seharusnya kau jalani. Kalau gagal... setidaknya kau sudah berusaha, bukan hanya diam menerima nasib ini.

Namun apa yang tidak ia sadari, tatapan tajam itu sudah mengawasinya sejak ia melangkah keluar dari ambang pintu kamarnya.

Di ruang kerja yang redup cahayanya, Aiden duduk santai di kursi besar sambil memandang layar monitor yang menampilkan seluruh sudut rumah. Di bibirnya terukir senyum dingin yang sama sekali tidak terkejut, bahkan terlihat sedikit terhibur. Jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu, matanya tak lepas mengikuti setiap gerakan kecil Alesha.

"Jadi begini cara kau balas kebaikan Aku sayang? batinnya, tanpa ada sedikit pun rasa marah meledak-ledak ,hanya rasa yakin yang makin menguat.

"Tapi tidak apa-apa. Setiap kali kau mencoba lari, kau hanya akan membuktikan betapa kau butuh dikendalikan lebih erat lagi. Dan ini memberi Aku alasan yang sempurna untuk mengikatmu sedemikian rupa sampai kau tak punya tenaga dan pikiran untuk melarikan diri lagi.

Aiden berdiri perlahan, mematikan layar monitor, dan berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tenang, seolah sedang berjalan di taman, bukan menghadapi gadis kecil nya yang berusaha lepas dari genggamannya. Ia tahu persis jalan mana yang akan dipilih Alesha, setiap tikungan yang akan dilewatinya, dan posisi mana yang paling tepat untuk muncul tepat saat gadis kecil nya itu hampir mencapai tujuan.

Sementara itu, Alesha sudah sampai di ujung koridor dan mulai melangkah menuruni tangga belakang yang terbuat dari kayu halus dan pijakannya agak licin jika terkena embun. Jantungnya berpacu makin cepat, napasnya tertahan, matanya berbinar melihat sedikit cahaya remang dari arah pintu darurat yang terlihat di ujung tangga. Rasa lega mulai menyelinap masuk ke hatinya ,ia merasa mungkin kali ini ia benar-benar bisa berhasil.

Namun saat ia baru melangkah turun setengah jalan, suara berat dan tenang itu memecah keheningan malam, membuat darah di tubuh Alesha terasa membeku seketika.

"Berjalan sangat hati-hati sekali, gadis manis ku... seolah-olah kau sedang mencuri apa yang bukan hakmu, ujar Aiden

Alesha tersentak hebat. Kakinya tergelincir karena kaget, badannya terhuyung ke belakang, tangannya berusaha meraih pegangan tangga tapi meleset. Dalam sepersekian detik, keseimbangannya hilang seluruhnya. Tubuhnya terguling jatuh menuruni sisa anak tangga yang cukup tinggi, membentur satu per satu pijakan kayu keras sebelum akhirnya terhempas di lantai keramik dingin di bagian paling bawah.

Suara benturan keras disusul jeritan kesakitan yang menyayat hati. Alesha terbaring meringkuk, kedua tangannya memeluk erat kaki kanannya yang terasa seperti terbakar dan terbelah dua. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari ujung jari kaki sampai ke tulang pinggulnya, membuat pandangannya berkunang-kunang dan air matanya membanjir tanpa kendali. Ia mencoba menggerakkan kakinya sedikit saja, tapi hanya mendapatkan rasa sakit yang makin melilit tulangnya terasa tertekuk pada posisi yang tidak wajar.

Dari atas tangga, Aiden berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca campuran kekecewaan samar, namun lebih banyak lagi rasa yakin dan obsesi yang terpuaskan. Ia melangkah turun perlahan, seolah tak terburu-buru, lalu berlutut di samping tubuh Alesha yang gemetar hebat menahan tangis.

Dengan gerakan yang anehnya tetap lembut namun terasa sangat mengerikan, Aiden mengangkat wajah Alesha yang pucat pasi itu agar menatap matanya. Jempolnya mengusap air mata yang mengalir deras, sementara pandangannya menyelusuri kaki yang tertekuk parah itu.

"Lihat apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri, sayang?" bisiknya dengan nada sedih yang dibuat-buat, namun matanya bersinar terang.

 "Sudah dikatakan berkali-kali, dunia luar dan keinginan bodoh itu hanya akan membawamu pada luka. Kalau saja kau tetap tenang dan mendengarkan Aku , hal ini tidak akan pernah terjadi. Kau sendiri yang membuktikan... kau terlalu rapuh untuk bebas. Hanya Aku satu-satunya tempat yang bisa menopang hidupmu sekarang."

Ia tidak memanggil dokter dengan panik seperti orang yang khawatir, melainkan mengeluarkan ponselnya dengan tenang, memberi perintah singkat namun tegas untuk mendatangkan dokter pribadi yang bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan apa pun. Sambil menunggu, Aiden tetap duduk di samping Alesha, memeluk tubuh gadis itu erat-erat seolah sedang menghiburnya, padahal dalam pelukan itu tersimpan ikatan yang jauh lebih kuat daripada rantai besi.

"Tenang saja... mulai hari ini, Aku akan mengurusi Mu lebih ketat lagi," bisiknya di telinga Alesha

Bersambung

Thank you yang sudah baca cerita oyen😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!