NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH YANG BERBEDA

Perjalanan ke Yogyakarta telah berakhir tiga hari yang lalu. Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda setelah mereka kembali ke Jakarta. Bukan bangunan rumahnya, bukan rutinitasnya, bukan pula orang-masing yang tinggal di dalamnya.

Rumah keluarga Adipati masih sama seperti sebelumnya. Tetap luas, tetap rapi, dan tetap tenang. Setiap pagi para asisten rumah tangga sibuk menjalankan tugas masing-masing. Setiap sore kendaraan keluar masuk halaman utama. Dan setiap malam lampu-lampu gantung di ruang keluarga tetap menyala hangat hingga larut. Semuanya masih sama, tetapi Kirana mulai menyadari ada perubahan yang terjadi secara perlahan. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.

Pagi itu Kirana turun dari lantai atas sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap setelah mandi. Biasanya ia akan langsung menuju ruang makan, sarapan seperlunya, lalu berangkat ke kantor yayasan. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di anak tangga terakhir.

Danendra sudah lebih dulu berada di sana. Pria itu sedang membaca koran digital di tablet sambil menikmati secangkir kopi hitam. Sangat biasa, persis seperti pagi-pagi sebelumnya. Yang membedakan justru hal berikutnya. Danendra mendongak, mengarahkan pandangannya tepat pada Kirana.

"Selamat pagi."

Kirana sempat mengerjap pelan, terkejut. "...Pagi, Mas."

Danendra mengangguk pendek sebagai respons, lalu kembali fokus pada layar tabletnya. Selesai. Tidak ada hal besar yang terjadi setelah itu. Namun, Kirana masih berdiri diam selama beberapa detik di posisinya. Padahal itu hanya sapaan sederhana, tetapi selama satu tahun terakhir, mereka hampir tidak pernah memulai pagi dengan cara seperti itu.

Mereka tidak pernah bertengkar, hubungan mereka selama ini memang berjalan sangat sopan dan damai. Hanya saja, mereka lebih mirip dua orang yang kebetulan hidup berdampingan secara mandiri di bawah satu atap, bukan pasangan yang benar-benar berbagi kehidupan. Mereka menghormati satu sama lain, namun jarang sekali ada yang berinisiatif menyapa lebih dulu. Hari ini terasa berbeda. Dan anehnya, perbedaan kecil itu berhasil membuat suasana hati Kirana terasa jauh lebih ringan sejak pagi.

Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Biasanya ketika Kirana pulang kerja lebih dulu, ia akan langsung menuju kamar atau ruang baca. Sementara Danendra baru akan menginjakkan kaki di rumah beberapa jam kemudian. Kalaupun mereka tidak sengaja berpapasan, percakapan yang terjadi sering kali terbatas pada hal-hal yang mendesak saja.

Malam itu Kirana sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil memeriksa draf laporan yayasan. Suara kunci pintu depan berputar halus menandakan Danendra baru saja masuk. Pria itu tampak lelah, gurat wajah tegapnya memperlihatkan penat setelah seharian menghadiri rapat beruntun di kantor Adipati Group. Biasanya, Danendra akan langsung melangkah menuju ruang kerja tanpa menoleh. Namun kali ini, langkah kakinya melambat ketika melihat keberadaan Kirana.

"Sudah lama pulangnya?" tanya Danendra, memecah kesunyian.

Kirana mendongak. Pertanyaan kasual itu sempat membuatnya lupa untuk jawaban selama satu detik. "Eh... sekitar satu jam lalu, Mas."

"Hm." Danendra meletakkan tas kerjanya di sofa sebelah, melonggarkan ikatan dasinya. "Laporan Yogyakarta sudah selesai?"

"Sebagian besar sudah."

"Bagus."

Setelah percakapan pendek itu, Danendra kembali berjalan menuju lantai atas. Obrolan mereka bahkan tidak sampai satu menit, namun setelah sosok suaminya menghilang di balik kelokan tangga, Kirana justru menatap halaman dokumen di pangkuannya dalam durasi yang cukup lama. Tidak ada yang istimewa dari interaksi barusan. Benar-benar biasa. Tetapi entah kenapa, Kirana merasa rumah ini mendadak terasa jauh lebih hidup dibanding sebelumnya.

Perubahan yang paling mencolok justru terjadi saat makan malam. Dulu, meja makan mereka sering kali dipenuhi keheningan. Bukan keheningan kaku yang mencekam, hanya saja rasanya terlalu sepi. Mereka makan bersama dalam diam, lalu selesai.

Namun malam ini suasananya berubah total. Rani yang kebetulan sedang menginap di rumah mereka sejak kemarin sore, sibuk membuka bungkus kotak bakpia yang dibawa Kirana dari Yogyakarta.

"Wah, akhirnya kesampaian juga!" seru Rani girang, menata kue itu di atas piring kecil.

Kirana tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. "Kamu ini memang murni cuma menunggu oleh-oleh bakpia ini ya, Ran?"

"Tentu saja, Kak. Ini motivasi utamaku berkunjung," sahut Rani tanpa tahu malu. Ia mengambil satu buah bakpia lalu mengarahkannya pada Danendra yang baru saja duduk di kursinya. "Pak Danendra mau coba? Ini rasa kacang hijau."

Danendra menggelengkan kepala pelan. "Tidak, terima kasih."

Rani langsung menarik kembali tangannya, menoleh ke arah Kirana. "Lihat, Kak. Tebakanku benar, beliau memang tipe orang yang tidak suka makanan manis."

"Aku tahu," sahut Kirana spontan.

Gerakan tangan Rani yang hendak menyuap bakpia langsung terhenti di udara. Ia menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kakak tahu?"

Kirana terdiam sekilas, jemarinya yang memegang sendok mendadak kaku. Ia baru menyadari kalimat yang baru saja lolos begitu saja dari bibirnya. Aku tahu. Kalimat pendek itu keluar tanpa sempat ia saring terlebih dahulu. Karena memang kenyataannya, sekarang ia mulai tahu banyak hal tentang suaminya. Danendra tidak menyukai makanan manis. Pria itu lebih memilih kopi hitam pahit. Tidak menyukai buah durian. Selalu menyempatkan diri membaca dokumen sebelum tidur. Masih menyimpan draf buku-buku arsitektur lama di ruang kerjanya. Dan ternyata, pria sekaku Danendra masih suka menggambar sketsa bangunan secara sembunyi-sembunyi saat sedang senggang. Hal-hal kecil yang selama satu tahun penuh pernikahan mereka tidak pernah ia ketahui.

Rani menatap Kirana dan Danendra bergantian dengan pandangan mata penuh selidik. "Kenapa aku merasa ada atmosfer yang berubah ya di antara kalian berdua?"

"Tidak ada apa-apa, Rani. Jangan mulai sok tahu," jawab Kirana cepat, berusaha terlihat biasa saja untuk menyembunyikan salah tingkah fisiknya.

"Hm, mencurigakan," goda Rani, senyum miringnya semakin melebar.

Danendra sendiri memilih untuk tetap fokus pada piring makan malamnya, bersikap seolah-olah tidak mendengarkan gurauan di sekitarnya. Namun, Kirana yang duduk di seberangnya bisa melihat dengan jelas bahwa sudut bibir pria itu sempat bergerak tipis, menahan tawa agar tidak pecah.

Setelah Rani dijemput untuk pulang ke rumah orang tuanya keesokan hari, suasana rumah kembali tenang. Namun, sepi yang hadir kali ini tidak lagi terasa dingin dan asing seperti dulu. Malam berikutnya, Kirana dan Danendra kembali makan malam berdua di meja makan. Di luar dugaan Kirana, inisiatif percakapan justru muncul lebih dulu dari suaminya.

"Proyek digitalisasi arsip kuno di yayasan bagaimana perkembangannya?" tanya Danendra, meletakkan gelas airnya.

Kirana mendongak, sedikit terkejut. "Lancar, Mas. Semua draf sudah masuk tahap pemindaian." Ia menjeda kalimatnya sebentar, menatap wajah Danendra. "Kamu... masih ingat soal proyek itu?"

Danendra memperhatikannya beberapa detik. "Kenapa tidak?"

"Padahal itu cuma pernah aku ceritakan secara sekilas sekali, Mas."

"Kamu membahas detail kendala servernya hampir dua pukul puluh menit malam itu," sahut Danendra lempeng.

Kirana langsung tertawa renyah, rasa hangat mendadak membuat dadanya terasa ringan. "Jadi kamu benar-benar mendengarkan ceritaku?"

Danendra menunjukkan ekspresi sedikit bingung dengan pertanyaan istrinya. "Tentu saja aku mendengarkan, Kirana."

Jawaban itu keluar begitu alami dan tegas, tanpa ada kepura-puraan, hingga membuat Kirana sempat kehilangan kata-kata. Bagi Danendra, mungkin mendengarkan adalah bentuk tanggung jawab biasa. Namun bagi Kirana, kalimat pendek itu terasa sangat berarti. Karena selama ini ia sering berasumsi bahwa suaminya terlalu sibuk dengan urusan Adipati Group untuk memedulikan cerita-cerita remeh yang ia bawa dari kantor yayasan. Ternyata dugaannya keliru. Danendra mendengarkan semuanya, hanya saja pria itu tidak selalu mengungkapkannya lewat kata-kata manis.

Hari-hari berikutnya berjalan tenang dalam ritme yang sama. Hubungan mereka saat ini memang masih jauh dari definisi pasangan romantis yang sering Kirana baca di dalam novel. Mereka belum berada di fase saling mengirim pesan teks sepanjang hari, belum saling mencari alasan untuk selalu nempel bersama, belum ada genggaman tangan diam-diam di ruang publik, ataupun pengakuan perasaan yang dramatis. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting mulai tumbuh di antara mereka. Kenyamanan.

Mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain di dalam ruangan. Mulai terbiasa saling menunggu di meja makan saat jam makan malam tiba, mulai terbiasa bertanya bagaimana hari masing-masing berjalan, dan mulai terbiasa berbagi cerita kecil yang sebelumnya selalu dianggap tidak penting untuk diucapkan. Dan semua perubahan pola itu terjadi begitu saja secara organik.

Suatu malam, Kirana sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku ketika pintu kamar mereka didorong terbuka pelan. Danendra baru saja keluar dari ruang kerja atas setelah menyelesaikan urusan kantornya. Langkah kaki pria itu terdengar sedikit lebih lambat dari biasanya, memancarkan rasa lelah yang tipis. Kirana melirik ke arah jam dinding digital di atas nakas. Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.

"Kamu baru selesai kerja, Mas?"

"Hm."

"Kebanyakan rapat koordinasi lagi?"

"Iya," sahut Danendra pendek. Ia melangkah menuju meja samping tempat tidur, mengambil segelas air putih lalu meminumnya hingga kandas. Setelah meletakkan kembali gelas kosong itu, pria itu menoleh menatap Kirana. "Besok kamu berangkat jam berapa ke kantor?"

Kirana membetulkan posisi duduknya. "Jam delapan, Mas."

Danendra mengangguk pelan. Pria itu tampak diam berpikir selama beberapa detik sebelum kembali bersuara dengan nada datarnya yang khas. "Kalau begitu sarapan dulu."

Kirana mengernyitkan alisnya samar, bingung. "Hah?"

"Kemarin lusa kamu hampir berangkat tanpa menyentuh makanan di meja," tambah Danendra lempeng. Pria itu mengalihkan pandangannya menuju pintu kamar mandi. "Kalau tidak sarapan, nanti pusing."

Setelah kalimat logis itu meluncur tanpa beban dari bibirnya, Danendra langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu kayu di belakangnya tanpa menunggu respons atau jawaban lanjutan dari istrinya.

Kirana terpaku diam di posisinya selama beberapa saat, memandangi pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Bukunya masih terbuka lebar di atas pangkuan, namun sepasang matanya tidak lagi membaca satu kata pun di halaman tersebut. Pikirannya melayang kembali ke Yogyakarta, ke halaman pendopo joglo, ke percakapan jujur tentang mimpi mereka, hingga ke momen tawa bersama yang meneduhkan malam itu.

Kirana tersenyum sendiri. Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan. Perhatian-perhatian kecil dari Danendra terus terlintas di kepalanya tanpa diminta. Perhatian yang tidak berisik, tidak berlebihan, dan tidak dramatis, namun terasa nyata bagi hatinya.

Rumah besar ini sebenarnya masih menjadi rumah yang sama seperti satu tahun lalu. Koridornya masih sama luas, ruang makannya masih sama sepi, dan ruang kerja Danendra di lantai atas pun masih dipenuhi tumpukan dokumen korporasi yang membosankan. Bahkan orang-orang yang tinggal di dalamnya pun tidak ada yang berubah sifatnya secara drastis.

Selama ini Kirana selalu merasa tinggal serumah dengan seseorang yang dingin dan sulit dipahami. Namun malam ini, saat mendengarkan sayup suara gemercik air dari dalam kamar mandi, ia menyadari bahwa rumah yang dulu terasa terlalu besar dan sunyi itu perlahan-lahan telah berubah menjadi tempat yang jauh lebih hangat. Tempat yang tidak lagi membuat Kirana merasa sendirian.

Dan untuk pertama kalinya setelah satu tahun pernikahan mereka, Kirana menyadari sesuatu. Ia mulai menantikan suara langkah kaki Danendra saat pulang. Mulai terbiasa mencari keberadaan pria itu ketika rumah terasa terlalu sepi. Mulai memperhatikan hal-hal kecil yang berkaitan dengannya.

Pikiran itu membuat Kirana terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Lalu ia buru-buru menutup bukunya dan memalingkan wajah ke arah jendela, seolah dengan begitu ia bisa mengabaikan kesadaran yang baru saja muncul.

Padahal jauh di dalam hatinya, Kirana tahu. Perubahan itu sudah dimulai. Pelan. Nyaris tidak terlihat. Namun nyata. Dan untuk pertama kalinya, Kirana tidak ingin perubahan itu berhenti.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!