Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Beberapa saat kemudian Joshua mengangkat ponselnya dan menekan nomor tertentu. Suaranya berubah tegas dan dingin saat panggilan tersambung.
“Halo. Ada masalah apa dengan lift tadi? Untung saja tidak ada hal buruk yang lebih parah.”
“Maaf, Pak… Kami baru saja memeriksa dan kabelnya bermasalah. Tapi kami sudah memperbaikinya secepat mungkin,” jawab suara dari seberang terdengar gugup.
“Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Mulai sekarang, periksa kondisi mesin dan kabel setiap hari tanpa terkecuali. Kalau ada kesalahan sekecil apa pun lagi, saya akan ganti seluruh tim teknisi dan mencari pihak lain yang lebih bertanggung jawab.”
“Siap, Pak! Kami janji tidak akan lalai lagi. Pemeriksaan rutin akan kami lakukan setiap hari mulai besok pagi.”
Joshua menutup sambungan telepon dengan wajah masih tampak marah. Ia menatap Dian yang tidur dengan napas yang kini sudah lebih tenang.
“Kejadian apa yang pernah menimpamu dulu… sampai sekadar terjebak di dalam lift saja, membuatmu begitu ketakutan seperti ini?” gumamnya pelan, penuh rasa ingin tahu.
Ia menunduk sebentar, lalu perlahan mendekatkan tangannya untuk menyentuh pelan rambut Dian yang sedikit berantakan. Tanpa sadar, hatinya mulai merasa terganggu melihat gadis itu menyembunyikan begitu banyak ketakutan sendirian.
Sinar matahari sore mulai meredup masuk lewat celah jendela kaca besar. Dian masih tidur nyenyak, namun sesekali kakinya bergerak gelisah seolah sedang bermimpi buruk. Joshua yang sedang meneliti berkas di mejanya segera berhenti, lalu kembali ke sisi sofa.
Baru saja ia hendak membetulkan posisi jas yang menutupi tubuh Dian, tiba-tiba gadis itu tersentak bangun dengan napas terengah-engah. Matanya menatap kosong ke sekeliling ruangan, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Dian… tenanglah, aku di sini,” Joshua langsung duduk di sampingnya, suara lembutnya kembali terdengar.
Dian menoleh ke arahnya, seolah baru sadar di mana ia berada. Rasa takut yang sempat hilang sejenak kini kembali muncul, namun kali ini ada rasa percaya yang lebih kuat saat ia menatap wajah Joshua.
Mimpi buruk lagi… Dian meremas tangannya kuat pada jas Joshua. Ia telah menunjukkan banyak hal akan kelemahan nya kali ini pada Joshua. Pernah sekali pada Emil, dan itu juga pertama kalinya bagi Emil tahu, bagaimana Dian yang menjadi cengeng tiba-tiba.
Meskipun di rumah ia menjadi gadis yang melawan, dan memberontak. Namun terkadang ia tetap takut pada semua keadaan dan kondisi yang ia hadapi.
Joshua tidak langsung bertanya apa pun. Ia hanya duduk diam di samping Dian, memberi ruang agar wanita itu bisa menenangkan diri sepenuhnya.
“Aku… maaf sudah merepotkanmu kali ini,” ucap Dian. Ia berusaha tampil tegar, berusaha menyembunyikan segala kelemahannya agar tidak terlihat lagi. Perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba membuat Joshua sedikit ragu—seolah-olah Dian sedang menutupi sesuatu tentang kondisinya saat ini.
“Aku mau tidur lagi,” kata Dian pelan, lalu membalut selimut lebih erat ke tubuhnya.
Joshua mengangguk pelan, suaranya lembut agar tidak mengganggu. “Istirahatlah dengan tenang. Aku akan tetap ada di sini kalau kamu butuh apa-apa.”
Dian hanya mengangguk tanpa menoleh, memejamkan mata rapat-rapat meski hatinya masih berdebar. Seolah ingin melompat keluar. Kali ini bukan karena ia takut akan mimpi buruknya atau karena kejadian tadi. Tapi semua karena perlakuan joshua yang begitu perhatian padanya.
Di sampingnya, Joshua duduk diam, matanya tak lepas dari wajah Dian—bertekad untuk memastikan ia benar-benar baik-baik saja, meski wanita itu tak mau bercerita lebih jauh.
.......
Dian menatap kedua orang tua angkatnya dengan rasa malas yang mendalam. Mereka memaksanya datang ke ruang tamu, bukan untuk menanyakan kabarnya, melainkan karena kekecewaan mereka pada Joshua—yang sampai kini belum juga melamar Dian.
“Dian, sudah lebih dari dua minggu berlalu. Dia bilang akan datang melamarmu, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangannya,” kata Pak Edo kesal.
“Iya benar. Padahal kamu sudah bekerja di sana, seharusnya urusan ini lebih cepat selesai, apalagi kalian sering bertemu dan bekerja bersama,” tambah Ibu Sela.
“Bukankah ini urusan kalian? Kenapa malah menuntut jawaban dariku?” sahut Dian dingin.
“Apa maksud mu!”
“Maaf, Pak. Semua rencana perjodohan ini kan kalian yang atur. Aku cuma menuruti saja. Kalau kalian begitu penasaran, lebih baik tanyakan langsung pada Joshua.”
“Benar juga. Kita sebaiknya bicara langsung dengannya. Kalau terus begini, perjanjian kerja kita bisa terganggu,” kata Pak Edo menyetujui ucapan Dian.
“Maaf, aku harus pergi sekarang. Tumpukan pekerjaan di kantor sudah banyak sekali. Tolong jangan tambah beban lagi untukku.”
Dian berjalan keluar dengan langkah malas, tanpa menoleh sedikit pun.
“Lihat saja dia, Pak. Sama sekali tidak menghargai kita!” gerutu Ibu angkatnya.
“Biarkan saja. Selama dia tidak merusak rencana kita, biarkan dia berbuat sesuka hati.”
Dian melangkah cepat menuju mobil, napasnya terasa sesak. Di dalam hati, ia justru merasa lega bahwa Joshua belum juga datang melamarnya—karena ia sadar, pernikahan ini hanyalah alat bagi orang tua angkatnya untuk mengamankan kontrak kerja besar dengan perusahaan tempat Joshua memimpin. Belum lagi, selama ini ia sengaja menghindari Joshua. Bahkan ketika pemuda itu mencoba mengajaknya bicara, Dian hanya diam seribu bahasa tanpa memberikan tanggapan apa pun.
Hah… sepertinya dia sudah berhasil mempengaruhiku. Setiap malam saja, pikiranku malah terus tertuju padanya.
Sesampainya di kantor, Dian langsung disapa Joshua yang sudah menunggunya di depan ruang kerja. Wajah pemuda itu tampak sangat serius.
“Maaf, Pak, kalau saya terlambat,” ujar Dian sambil berjalan melewatinya dan hendak masuk ke dalam ruangan.
“Tunggu, Dian.” Joshua segera mengikuti dari belakang.
“Kenapa kau selalu menghindariku?”
“Apakah Bapak ingin menyampaikan sesuatu terkait pekerjaan?” tanya Dian berusaha mengalihkan topik.
“Selalu saja soal pekerjaan yang kau bahas.”
“Tentu saja, Pak. Saya ini asisten Bapak. Sudah seharusnya kita membahas urusan kantor. Lalu apa lagi yang pantas dibicarakan?”
Joshua dengan lembut menarik pergelangan tangan Dian, memutar tubuh gadis itu hingga kini jarak mereka hanya berselang beberapa sentimeter. Kemudian, dia menggenggam tangan Dian dan meletakkannya tepat di atas dadanya.
“Kau pasti paham maksud perkataanku, Dian.”
Dian bisa merasakan dengan jelas detak jantung Joshua yang berpacu cepat di bawah telapak tangannya.
“Kau ingat bunga yang kuberikan padamu? Aku memilihnya sendiri dengan cermat, bahkan aku yang mengaturnya. Tapi apa balasanmu? Kau malah memberikannya kepada staf lain dan bilang aku memberikannya sebagai hadiah umum.”
“Itu…”
“Belum lagi kue yang aku buat khusus untukmu. Kau malah menyuruh Pak Arya membagikannya ke seluruh karyawan. Tidak bisakah kau sedikit lebih peka? Jika memang tidak menyukainya, katakan saja terus terang. Jangan terus menghindar tanpa penjelasan apa pun!”
Melihat raut wajah Joshua yang tampak cemberut dan terlihat seperti sedang merajuk, Dian tak bisa menahan tawa dan tertawa lepas.
“Ada apa ini? Kau kan seorang CEO yang disegani banyak orang. Mana wibawamu yang selama ini terlihat tegas? Sampai ‘merajuk’ begini hanya karena kado dan bunga yang kuberikan ke orang lain?”
Wajah Joshua memerah seketika mendengar ejekan itu, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Justru ia menatap mata Dian lebih dalam, suaranya terdengar lebih lembut namun tegas.
“Wibawa itu tidak ada artinya jika untuk orang yang aku sayang. Aku melakukan semua itu bukan untuk mencari pujian, tapi karena aku ingin kau tahu perasaanku. Kalau kau terus menghindar, bagaimana aku bisa meyakinkanmu bahwa niatku tulus—bukan hanya mengikuti rencana perjodohan orang tuamu?”
Tawa Dian perlahan mereda. Ia merasakan ketulusan yang terpancar dari tatapan Joshua, dan untuk pertama kalinya ia tidak berusaha menarik tangannya pergi.
Hatinya yang selama ini tertutup rapat perlahan mulai melunak. Mungkin, di balik semua rencana yang terasa rumit ini, ada satu hal yang benar-benar nyata, perasaan Joshua kepadanya.