NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENJAGA YANG MENUNGGU

Jawaban sarat pengalaman dari Leonard seketika membuat Primus terdiam. Ia memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan karena ia paham betul bahwa dalam dunia kaum Aristokrat, intuisis dari seorang pelayan senior yang telah bertahan melewati berbagai pergantian generasi sering kali jauh lebih akurat daripada laporan intelijen mana pun.

Menjelang siang hari, Primus memutuskan untuk keluar dari area mansion. Kali ini ia tidak pergi untuk urusan bisnis resmi klan, tidak juga untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan para investor luar. Ia hanya ingin berjalan-jalan sendirian guna menjernihkan pikiran yang mulai terasa penuh.

Mobil yang membawanya berhenti di pinggiran sebuah kawasan distrik tua yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Tempat ini menyuguhkan pemandangan yang sangat kontras dengan distrik bisnis modern yang biasa ia kunjungi. Jalanannya cenderung sempit, deretan bangunannya tampak kuno dengan arsitektur klasik yang mulai usang, namun atmosfer di sekitarnya terasa sangat hidup.

Primus berjalan kaki dengan santai, membiarkan dirinya membaur di antara kerumunan orang, melewati deretan toko-toko kecil, sesekali memperhatikan para pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangan, dan mendengarkan riuh rendah suara anak-anak yang sedang bermain di gang-gang kecil.

Tanpa ia rencanakan sebelumnya, langkah kaki Primus mendadak terhenti tepat di depan sebuah toko buku tua yang tampak terpencil di sudut jalan. Toko itu terlihat sangat bersahaja, bahkan papan nama kayu yang menggantung di atasnya sudah mulai pudar dan lapuk dimakan usia.

Namun, ada satu detail kecil yang berhasil menangkap perhatian mata tajam Primus. Sebuah simbol kuno yang terbuat dari kuningan tergantung tepat di dekat engsel pintu masuk. Simbol berbentuk seekor singa bersayap yang mengenakan mahkota di atas kepalanya.

Simbol itu sama persis dengan cap emas yang ada pada surat misterius yang ia temukan di perpustakaan semalam.

Sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna muncul di wajah Primus. Kebetulan yang luar biasa, gumamnya pada diri sendiri.

Dalam kamus hidup Primus, ia tidak pernah sekali pun memercayai apa yang disebut sebagai kebetulan, terlebih setelah rentetan peristiwa aneh yang menimpanya dalam beberapa hari terakhir ini. Segala hal pasti memiliki benang merah yang sengaja ditarik oleh seseorang.

Primus mengulurkan tangan, mendorong pintu kayu toko buku tersebut. Sebuah bel kuningan kecil yang terpasang di atas pintu berdenting pelan, memecah keheningan di dalam ruangan yang sunyi.

Ting.

Dan tepat ketika kaki Primus baru saja melewati batas pintu, sebuah suara parau dari seorang pria tua terdengar menggema dari arah kegelapan bagian dalam toko.

Akhirnya, kau datang juga, anak muda.

Langkah kaki Primus langsung terkunci di tempat. Ia mengosongkan ekspresi wajahnya, karena ia sangat yakin bahwa ini adalah kali pertama seumur hidupnya ia menginjakkan kaki di kawasan distrik tua ini, apalagi mengunjungi toko buku tersebut. Namun, suara pria tua di dalam sana berbicara dengan nada yang begitu akrab, seolah-olah ia memang sudah duduk di sana menantikan kedatangan Primus sejak lama

Bel kuningan di atas pintu toko masih tampak bergoyang pelan, menyisakan suara denting halus yang perlahan-lahan lenyap ditelan keheningan ruangan. Primus tidak bergerak dari posisinya, seluruh fokus pandangannya kini terkunci sepenuhnya pada sosok yang sedang duduk dengan tenang di balik meja kasir kayu yang sudah tua.

Sosok itu adalah seorang pria lansia yang usianya diperkirakan sudah melewati angka tujuh puluh tahun. Rambutnya telah memutih seluruhnya, kontras dengan kulit wajahnya yang dipenuhi kerutan dalam khas orang yang telah melewati banyak badai kehidupan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, dibalut oleh pakaian kain sederhana yang tampak pudar. Jika ada orang awam yang melihatnya, mereka pasti hanya akan menganggap pria ini sebagai seorang pemilik toko buku bekas biasa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun.

Namun, Primus langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari sepasang mata pria tua itu. Sorot matanya terasa sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran manusia biasa. Itu adalah tatapan mendalam milik seseorang yang telah menyaksikan berbagai peristiwa besar, konspirasi, dan rahasia-rahasia gelap dunia mengalir di depan matanya tanpa pernah terusik.

Pria tua itu perlahan menutup buku tebal ber-sampul kulit yang sedang dibacanya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman ramah yang tampak misterius. Kau bergerak sedikit lebih lambat dari perkiraanku, Primus.

Primus memilih untuk tidak langsung membalas ucapan tersebut. Alih-alih menjawab, ia justru mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan toko buku. Rak-rak kayu berukuran raksasa berdiri menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid buku yang sebagian besar kondisinya sudah sangat tua, bahkan beberapa di antaranya tampak seperti manuskrip kuno yang sudah tidak lagi dicetak oleh penerbit mana pun di dunia. Tempat ini tidak terasa seperti toko buku komersial, melainkan sebuah perpustakaan pribadi berskala besar yang sengaja disamarkan agar tidak menarik perhatian publik.

Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya? tanya Primus akhirnya sembari melangkah mendekat ke arah meja kasir.

Pria tua itu terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. Tidak, ini adalah pertemuan pertama kita secara langsung.

Kalau begitu, bagaimana Anda bisa tahu dengan pasti bahwa saya akan datang ke tempat terpencil ini?

Karena orang yang memiliki isi kepala cerdas seperti dirimu pasti akan datang ke sini setelah membaca pesan itu, jawabnya dengan nada santai tanpa beban. Dan untungnya, kau memang cukup cerdas untuk menangkap petunjuk yang kutinggalkan.

Sebuah jawaban yang terdengar ambigu, namun entah mengapa terdengar sangat masuk akal bagi Primus. Pria tua itu kemudian mengulurkan tangannya, menunjuk ke arah sebuah kursi kayu kosong yang terletak tepat di depan mejanya.

Duduklah dulu. Kita memiliki banyak hal untuk didiskusikan, dan rasanya kurang elok jika kita harus berbicara sambil berdiri seperti dua orang asing yang sedang bertransaksi.

Primus sempat terdiam selama beberapa detik, menimbang-nimbang situasi di sekitarnya. Secara teori, ia bisa saja berbalik arah dan melangkah keluar dari toko ini kapan saja ia mau. Namun, rasa penasaran yang bergejolak di dalam dirinya jauh lebih kuat daripada egonya, terutama setelah ia melihat langsung simbol singa bersayap yang terukir nyata di tempat ini. Primus pun melangkah maju dan menarik kursi tersebut lalu duduk dengan tenang.

Pria tua itu meraih sebuah teko keramik kuno, lalu menuangkan cairan teh hangat ke dalam dua buah cangkir kecil yang sudah disediakan di atas meja. Aroma harum dari uap teh itu langsung menyeruak, aroma pekat yang sangat familier di indra penciuman Primus. Wanginya mirip sekali dengan jenis teh hitam langka yang disajikan oleh Hector Lawrence di Rumah Teh Veridian semalam.

Kau pasti datang ke sini dengan membawa segudang pertanyaan di kepalamu, ucap pria tua itu membuka percakapan sembari menyodorkan secangkir teh ke hadapan Primus.

Bisa dibilang begitu, jawab Primus singkat. Cukup banyak hal yang ingin ku ketahui

Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!