Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDAI KOPI DI SUDUT KOTA
Bimo yang kembali dari Jakarta setelah mengurus urusan bisnisnya kembali menemui Kirana membawa secercah kehangatan
Kedai kopi itu bernama Le Café des Amis. Ukurannya kecil, tipikal kafe Paris dengan meja-meja bulat kecil yang diletakkan sangat berdekatan, memaksa para pengunjungnya untuk berbicara dengan nada rendah jika tidak ingin rahasia mereka didengar oleh meja sebelah. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan yang lebih menderu, membasahi kaca jendela besar kafe dan menciptakan ilusi dunia luar yang kabur dan melankolis.
Kirana dan Bimo memilih meja di sudut paling dalam, dekat dengan mesin pemanas ruangan yang mendengung pelan. Di hadapan mereka, dua cangkir café crème hangat dan dua potong croissant mentega yang masih mengepulkan uap wangi telah tersaji.
"Jadi," Kirana memulai percakapan setelah meminum sesendok busa susu dari kopinya. "Bagaimana Jakarta?"
Bimo mengaduk gulanya lambat-lambat. "Masih sama. Macet, panas, penuh intrik politik, dan semua orang masih saling sikut untuk mencari uang. Kamu memilih tempat yang tepat untuk menghilang, Na. Di sini... entah kenapa, bahkan hujannya pun terdengar lebih sopan."
Kirana terkekeh. "Jangan romantisasi kota ini, Bim. Kalau kamu harus mengangkat sepuluh kotak bunga hortensia di pagi buta bersuhu dua derajat Celsius, kamu akan merindukan matahari Jakarta yang membakar itu."
Suasana sempat menghening sejenak. Mereka menikmati kehangatan kafe di tengah badai musim semi Paris. Namun, Kirana tahu betul bahwa Bimo tidak mungkin datang jauh-jauh hanya untuk mencicipi kopi bersamanya. Bimo adalah pengacara pribadinya, sahabat terbaik mantan suaminya, dan satu-satunya orang yang memegang kunci transisi hidupnya dari puing-puing kehancuran di Jakarta menuju kehidupan barunya di Eropa.
"Kamu membawa sesuatu yang aku suruh bawakan untukku, kan?" tanya Kirana pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bimo.
Bimo menghentikan gerakan sendoknya. Ia menghela napas panjang, lalu membuka ritsleting tas kulitnya yang diletakkan di kursi kosong di sebelahnya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah berkas kecil bersampul cokelat rapi. Tidak tebal, mungkin hanya sekitar sepuluh lembar kertas di dalamnya.
Kirana merasakan sekat di dadanya tiba-tiba mengencang secara refleks. Setiap kali melihat berkas pengadilan atau dokumen resmi dari Jakarta, memorinya secara otomatis memutar kembali rekaman setahun lalu,ruang sidang pengadilan agama yang dingin, tatapan mata Aris yang penuh kilat amarah dan keserakahan, serta tumpukan kertas sita aset yang menyatakan bahwa seluruh jerih payah keluarga Kirana telah digelapkan oleh suaminya sendiri demi membiayai selingkuhannya dan investasi bodongnya.
Melihat perubahan ekspresi di wajah Kirana, Bimo dengan cepat memegang tangan sahabatnya itu di atas meja. Tangannya hangat dan menenangkan.
"Tenang, Na. Ini bukan dokumen sita aset. Ini bukan tentang utang, bukan tentang pengadilan, dan bukan tentang tuntutan baru dari para kreditur lama Aris. Semuanya sudah selesai tiga bulan lalu, seperti yang kujanjikan padamu sebelum kamu naik pesawat ke Paris," kata Bimo dengan suara yang sangat lembut namun tegas.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Lalu... apa ini, Bim cepat aku keburu mati penasaran nih ?" goda Kirana
"Buka saja. Ini adalah laporan akhir dari apa yang kamu minta sebelum kamu pergi," ujar Bimo sambil menggeser berkas tersebut ke hadapan Kirana.