Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Evolusi Hancur, Dantian Hancur
Kaisar Maharaja Durgandha tidak langsung berbicara setelah kalimat pertamanya menggema di seluruh halaman kediaman klan Hydra.
Mata emas tuanya memindai Arjuna dari atas ke bawah dengan cara seseorang yang sedang menilai sesuatu yang belum pernah ia temukan sebelumnya dalam tiga ribu tahun hidupnya.
Ratusan prajurit klan Wyvern yang tergeletak, kawah-kawah kecil bekas Phantom Arcana Trap, dan Imperial Magna Cyborg Armor yang berdiri tegak di tengah semua kehancuran itu.
"Manusia murni …," ucap Kaisar Maharaja Durgandha akhirnya dengan suara yang mengisi seluruh halaman tanpa ia perlu mengeraskannya, "Kau membuat langit retak malam itu. Kau sekarang telah melumpuhkan ratusan prajurit klan Wyvern sendirian. Kau berdiri dihadapanku tanpa berlutut."
Kemudian ia berhenti sejenak. "Aku tertarik."
Ghatama yang berlutut mengangkat kepalanya satu senti dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Harjasa tidak bergerak. Namun matanya bergerak ke arah Arjuna dengan sorot yang mempertanyakan bagaimana manusia di depannya akan merespons pernyataan yang keluar dari mulut penguasa tertinggi Prefektur Draconis.
Arjuna tidak menjawab seketika. Matanya merah membara menatap Kaisar Maharaja Durgandha dengan kalkulasi yang tidak pernah berhenti berputar di balik ketenangan wajahnya.
"Apa yang Yang Mulia tawarkan?" tanya Arjuna dengan nada yang tidak mengandung rasa takut maupun tantangan.
Sudut bibir Kaisar Maharaja Durgandha bergerak sangat tipis.
"Perlindungan. Dari Alliance, dari Phantom, dari seluruh prefektur yang akan bergerak setelah braceletmu menyala merah SS malam ini,” balasnya dengan mata yang tidak berpaling dari Arjuna, "Sebagai gantinya, aku ingin melihat seberapa jauh manusia murni ini bisa melangkah di Benua Sangakama."
"Syaratnya?"
"Tetap hidup. Itu saja."
Arjuna memandang Kaisar Maharaja Durgandha selama tiga detik penuh. Kemudian ia mengangguk satu kali dengan gerakan yang sangat singkat. Namun mengandung bobot yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun yang menyaksikannya.
Ghatama menundukkan kepalanya kembali ke lantai dengan rahang mengeras, dan kedua tangan yang mengepal kuat.
Dyah Ayu tidak menunggu suasana mereda sepenuhnya.
Begitu Kaisar Maharaja Durgandha melangkah kembali ke kendaraan udaranya dengan Ghatama yang digiring oleh pengawal istana di belakangnya, Dyah Ayu sudah menerobos keluar dari ambang pintu kediaman klan Hydra dengan langkah yang tidak mengenal protokol apapun.
"Yang Mulia!" serunya dengan suara yang membelah keheningan halaman yang masih dipenuhi prajurit klan Wyvern yang belum sepenuhnya bergerak.
Kaisar Maharaja Durgandha berhenti tanpa berbalik.
"Hamba ingin menawarkan kerjasama pembuatan senjata, armor, dan artefak kepada istana Prefektur Draconis!"
Harjasa memejamkan mata satu detik penuh.
Ketiga tetua klan Hydra saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sudah melampaui kapasitas keterkejutan mereka malam ini.
Kaisar Maharaja Durgandha berbalik dengan sangat perlahan. Mata emas tuanya memandang Dyah Ayu yang berdiri di tengah halaman dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya, dan dagu yang terangkat.
Seolah ia baru saja menyampaikan proposisi paling wajar di seluruh Benua Sangakama.
"Siapa kau?"
"Dyah Ayu. Satu-satunya pengrajin yang memiliki Arc Of Embodiment yang ada di seluruh benua ini."
Keheningan turun selama dua detik.
Kaisar Maharaja Durgandha berpaling ke arah Harjasa dengan sorot yang mempertanyakan banyak hal sekaligus, tetapi tidak mengucapkan satupun.
Harjasa mengangguk satu kali dengan ekspresi seorang jenderal yang sudah menyerahkan seluruh pemahamannya kepada keadaan.
Arjuna memandang semua itu dari tempatnya berdiri. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis. Dyah Ayu baru saja membuka pintu yang bahkan tidak masuk dalam kalkulasi tercepatnya malam ini, dan membukanya dengan cara yang tidak akan pernah ia gunakan sendiri. Namun menghasilkan efek yang sama.
Kaisar Maharaja Durgandha menatap Dyah Ayu satu detik lagi. "Besok ke Istana. Bawa buktinya!”
Dyah Ayu mengangguk dengan semangat yang sangat tidak selaras dengan situasi yang baru saja berlangsung.
***
Malam itu Arjuna meninggalkan kediaman klan Hydra sendirian.
Kakinya membawa ia melewati lorong-lorong kota raja Prefektur Draconis yang sepi. Kemudian menembus lapisan distrik luar, hingga mencapai kawasan hutan kristal di tepi barat kota yang sudah lama ditinggalkan.
Karena kadar energi Ether-nya yang terlalu pekat untuk ditoleransi oleh ksatria di bawah ranah Void Anchoring Realm.
Bagi Arjuna, itu justru alasan utama ia memilihnya. “Disini cukup, dan sangat melimpah.”
Ia duduk bersila di atas akar kristal yang memancarkan cahaya biru keperakan di bawah langit malam yang masih menyisakan retakan tipis bekas tujuh Calamity Tribulation Catastrophe.
Dragon's Hunger bekerja seketika, menyerap energi Ether pekat di seluruh area dengan kecepatan seratus kali lipat yang mengalir masuk ke dalam dantiannya seperti sungai yang tidak mengenal henti.
Keheningan hutan kristal turun menyelimuti seluruh area.
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya denyut energi yang mengisi setiap meridian Arjuna dengan ritme yang semakin dalam setiap menitnya.
Kemudian sesuatu yang berbeda dari Dragon Soul Vein Earth berdenyut dari dalam dantian-nya.
“Apa yang terjadi?” batin Arjuna merasakan sesuatu.
Sesuatu itu adalah panas yang memancar dari dalam inti dantiannya membakar setiap jalur meridian dengan intensitas yang berbeda dari semua yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Dragon Soul Vein: Fire terbangun dari tidurnya. Berdenyut dengan ritme yang semakin keras, dan semakin mendesak. Seolah menuntut sesuatu yang tidak bisa ditunda lebih lama.
Panel sistem melayang di hadapan Arjuna.
[Misi Baru: Evolusikan Manusia Murni]
[Metode: Dragon Soul Vein Fire]
[Batas Waktu: 24 Jam]
[Hukuman Gagal: Wadah Induk Rusak Permanen]
[Hadiah: Artefak Batara Niskala]
Arjuna membaca baris hukuman itu dua kali. “Wadah induk atau dantian rusak permanen?”
Wadah induk rusak permanen berarti seluruh kapasitas kultivasi, dan seluruh yang sudah ia bangun sejak malam pertama sistem Devil Dragon membangkitkannya dari kematian akan lenyap selamanya.
Ia menutup panel sistem.
Kemudian matanya merah membara memindai seluruh hutan kristal di sekitarnya dengan kalkulasi yang sudah mulai berputar bahkan sebelum panel itu sepenuhnya menutup.
“Dragon Soul Vein: Fire membutuhkan penerima yang tepat. Aku harus segera mencarinya,” ujar Arjuna kepada dirinya sendiri.
Langkah kaki yang sangat berat terdengar dari arah timur hutan kristal. Langkah seseorang yang setiap jejaknya meninggalkan suara nafas tersengal yang memenuhi keheningan hutan dengan ritme yang sangat tidak heroik untuk situasi apapun.
Kemudian sosok itu muncul dari balik pohon kristal terbesar di tepi area.
Tubuhnya putih seperti kertas, gemuk melampaui semua ukuran yang wajar, dengan cangkul pertanian yang tersampir di bahu kanannya dan keringat yang mengalir deras dari dahinya meskipun ia tidak melakukan apapun selain berjalan.
Ia berhenti ketika melihat Arjuna. “Siapa kamu? Kenapa berada di kebunku?”
Namun Arjuna tidak menjawab.
Mata pria itu yang kecil hampir tersembunyi di antara pipinya yang tembem memandang Arjuna dengan ekspresi yang tidak mengandung rasa takut, dan tidak mengandung kewaspadaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan dari keduanya.
Keheranan yang sangat tulus.
"Hei, ini kebun singkong milikku," ucapnya dengan suara yang tersengal seolah kalimat pendek itu saja sudah menguras separuh nafasnya, "Kamu tersesat ya? Pergi sana! … atau cangkul ini akan membinasakanmu!”