Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosa Yang Manis
“Ini salah, Ga.”
Suaraku nyaris tak terdengar, tercekat di tenggorokan saat aku menatap wajah pria di hadapanku. Mataku bergetar hebat, dipenuhi air mata yang berusaha kutahan agar tak tumpah. Di dadaku, badai sedang berkecamuk—rasa takut akan hasrat bergulat mati-matian dengan gairah yang telah terlanjur membakar seluruh urat nadiku.
Logikaku berteriak untuk lari, untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari harga diriku. Tapi tubuhku seolah sudah dipaku di lantai. Aku tidak bisa bergerak. Trutama saat dia menatapku seperti ini.
Aga menatapku lekat-lekat, matanya yang tajam tampak sedikit kemerahan, dipengaruhi alkohol yang beberapa saat lalu dia teguk. Namun, di balik itu, sorot matanya tetap lembut, begitu dalam, dan seakan aku adalah miliknya, sepenuhnya.
Aga.
Dia adalah Agantara Santoso—CEO muda yang kelak akan mewarisi seluruh kekayaan keluarganya, pewaris tunggal yang hidupnya diatur sedemikian rupa demi menjaga nama besar keluarga.
Dan aku?
Hanyalah Nadia. Nadia Dewi Saputri, pegawai biasa yang tak punya apa-apa.
“Kalau ini salah.…” Aga berbicara, suaranya rendah, berat, dan bergetar, hampir seperti bisikan yang meresap langsung ke ulu hati. “Kenapa rasanya begitu benar saat kulit kita bersentuhan?”
Aku menggeleng kuat, air mataku akhirnya lolos membasahi pipi. Aku mencoba menarik tanganku, mencoba mengambil langkah mundur untuk membangun tembok pertahanan. Tapi tangannya lebih cepat, mencengkeram jemariku dengan lembut namun tak terelakkan. Genggamannya hangat, kokoh, memaksa denyut nadiku berpacu lebih kencang.
“Gimana kalau nanti aku hamil, Ga?” Suaraku pecah, lirih dan penuh keputusasaan. “Orang-orang sudah banyak berbisik. Mereka tahu ada yang aneh dengan kita. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu… semuanya akan terbongkar. Orang tuamu… mereka akan semakin membenciku. Mereka gak akam pernah menerima aku, Ga. Aku cuma pegawai biasa, sedangkan kamu… calon pemimpin perusahaan.”
Aga tidak menjawab. Dia justru semakin mendekat, memaksaku mendongak menatap wajahnya yang tampan namun tampak lelah. Napasnya yang hangat dan beraroma whisky menerpa leherku, membuat bulu kudukku meremang dan pertahananku runtuh sepotong demi sepotong. Ruangan ini terasa semakin sempit, udaranya panas dan penuh ketegangan.
“Terserah apa yang mereka katakan. Aku enggak peduli orang tuaku marah,” ucapnya pelan, matanya tak pernah lepas dari bibirku. “Aku tidak peduli dengan aturan mereka. Aku tidak peduli dengan status atau garis keturunan yang mereka banggakan itu. Yang aku pedulikan… cuma kamu. Cuma rasa ini.”
Hening menyelimuti ruangan. Hening yang terasa berat, namun penuh dengan listrik statis yang menyengat. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, berdegup kencang dan kacau seperti genderang perang. Rasa bersalah itu menekan dadaku, membuat sesak, membayangkan bagaimana dunia akan menghakimi kami.
Tapi....
Di sisi lain… ada bagian terdalam dari diriku yang lapar akan kasih sayangnya. Bagian yang ingin dimiliki olehnya, meski hanya untuk malam ini.
Dengan gerakan lambat namun penuh dominasi, Aga menyapu jarak yang tersisa. Tubuh kami kini bersentuhan, dan aku bisa merasakan betapa hangat dan kokohnya tubuhnya di balik kemeja mahal yang sedikit terbuka di bagian kerah. Tangannya yang besar mulai bergerak, menyusuri pinggangku dengan perlahan, lalu naik membelai punggungku, menarikku semakin erat hingga tak ada ruang lagi di antara kami.
“Aga….” Suaraku seolah lenyap di tenggorokan, mataku kini basah oleh air mata yang tertahan. “Kalau ini akhirnya menghancurkan kita… bagaimana? Kalau karena semua ini kamu kehilangan segalanya gimana, Ga?”
Aga menatapku dalam-dalam. Ekspresinya sulit diterjemahkan, wajahnya tampak tenang tapi matanya menyala, seolah ada api yang membakar.
“Yang menghancurkan aku itu bukan gosip, Nad. Bukan juga kekayaan atau jabatan yang bisa hilang,” katanya tegas, jari-jarinya mengusap lembut pipiku, menghapus jejak air mata. “Yang benar-benar akan membunuhku secara perlahan… adalah kalau aku harus kehilangan kamu. Itu saja. Tanpa kamu, semua kekayaan dan tahta itu enggak ada artinya bagiku.”
Kata-katanya bagaikan mantra yang melumpuhkan seluruh pertahananku. Tubuhku bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena luapan emosi yang tak tertahan. Malam itu, di balik pintu tebal kamar hotel yang mengunci dunia luar dan segala aturan yang ada, hasratku bercampur aduk dengan rasa takut, rasa bersalah, dan cinta yang dilarang.
Aku tahu persis, garis yang akan kami langkahi ini tidak bisa kembali. Apa yang akan terjadi malam ini akan mengubah segalanya, selamanya. Aku mungkin akan menjadi 'wanita perusak' di mata keluarganya, atau sumber masalah bagi karirnya.
Namun, saat dia menundukkan wajahnya dan bibirnya hampir menyentuh bibirku… saat aku merasakan betapa dia begitu menginginkanku… aku tidak bergerak. Aku tidak menolak. Aku tetap diam, seolah siap menerima apa pun yang akan dia perbuat padaku.
Bodoh. Memang. Aku tahu ini salah. Tapi, sentuhannya terasa memabukkan. Aku tidak bisa menolaknya.
Mungkin… karena dosa ini terasa begitu manis. Begitu memabukkan. Dan malam ini, aku rela tenggelam di dalamnya, walau esok hari aku harus hancur karenanya.
demi hrga dirimu...