"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Dermaga Tua
Gemuruh ombak yang menghantam fondasi beton pelabuhan tua Valerika terdengar seperti ritme rendah yang konstan dan mengintimidasi.
Wilayah pesisir ini dulunya merupakan urat nadi perdagangan utama bagi Corisand Group sebelum seluruh jalur logistik dialihkan ke pelabuhan kontainer modern berskala internasional di sisi utara kota.
Kini, yang tersisa di tempat ini hanyalah jajaran gudang tua berkarat yang ditinggalkan, sisa-sisa tiang pancang yang melapuk, dan sebuah bangunan restoran bergaya kolonial yang terbengkalai di ujung dermaga kayu yang menjorok ke laut.
Sedan sport hitam milik Adrian berhenti dengan mulus beberapa puluh meter dari bangunan restoran tersebut, menyembunyikan posisinya di balik bayangan salah satu gudang kontainer yang kosong.
Aroma garam yang pekat, kayu basah yang membusuk, dan oksidasi karat besi langsung menyergap indra penciuman begitu pintu mobil dibuka.
Adrian turun terlebih dahulu dari kabin kemudi.
Dia sempat berdiri sejenak, membetulkan letak jam tangan taktisnya dan mengancingkan satu kancing blazer hitamnya sebelum berjalan memutari kap mobil untuk membukakan pintu bagi Alea.
Gerakan itu terlihat sangat alami dan penuh tata krama di mata kamera pengawas tersembunyi mana pun yang mungkin sedang mengintai mereka dari kejauhan.
Namun bagi Alea, genggaman tangan Adrian saat membantunya keluar dari mobil terasa jauh lebih erat dan tegas dari biasanya, sebuah sinyal taktis non-verbal bahwa permainan berbahaya telah dimulai.
"Sinyal seluler di tempat ini sangat lemah, bahkan hampir mati total," bisik Alea dengan suara rendah, melirik layar gawai di tangan kirinya yang kini hanya menampilkan satu garis indikator sinyal tipis yang berkedip malang.
"Sesuai dengan analisis digital yang kau paparkan di kantor tadi, alat pengacak sinyal (jammer) lokal berskala militer tampaknya aktif di sekitar radius bangunan ini."
"Jangan cemas dan jangan biarkan fokusmu terdistraksi," jawab Adrian dengan suara bariton yang rendah, sepasang matanya yang tajam terus memindai sekeliling area dengan waspada, mencari titik-titik buta (blind spot).
"Gawai pribadi yang kupegang saat ini menggunakan jaringan komunikasi enkripsi satelit berlapis yang terhubung langsung dengan pusat komando Hutama. Jika terjadi sesuatu situasi anomali di dalam sana, tim keamanan taktisku akan menerobos masuk ke tempat ini dalam waktu kurang dari tiga menit. Tetaplah berada di sampingku, Alea."
Mereka berdua berjalan beriringan dengan langkah yang teratur di atas papan-papan dermaga kayu yang mengeluarkan suara derit tua di setiap injakan kaki.
Angin laut yang berembus kencang menerbangkan beberapa helai rambut panjang Alea, namun wanita itu tetap melangkah dengan dagu terangkat, mempertahankan martabatnya sebagai seorang pemimpin.
Di dalam bangunan restoran tua yang sebagian besar jendela kacanya telah pecah dan berdebu, siluet seorang pria bertubuh kurus yang sangat akrab bagi Alea sudah berdiri menunggu dengan gestur tubuh yang gelisah.
Begitu langkah kaki Adrian dan Alea melangkah melewati ambang pintu kayu restoran yang telah lapuk dimakan usia, aroma debu, kelembapan, dan kertas tua langsung menyambut kedatangan mereka.
Julian berdiri tepat di tengah ruangan yang remang-remang, kedua tangannya bertumpu dengan tegang pada sebuah meja kayu panjang yang dipenuhi noda mading.
Di atas meja tersebut, tersebar beberapa lembar dokumen fisik tebal yang memancarkan aroma tinta cetak lama yang menyengat.
Wajah Julian seketika berubah tegang, sebuah perpaduan yang kacau antara rasa amarah yang meluap, kecemburuan, dan keterkejutan yang mendalam saat melihat Adrian Hutama berjalan dengan begitu tenang di samping Alea, dengan satu tangan yang melingkar secara protektif di bagian pinggang wanita itu.
"Alea! Kenapa kau harus membawa pria arogan ini ke sini?!" seru Julian dengan suara yang meninggi, gema suaranya memantul kasar di dalam ruangan kosong yang sunyi itu.
"Aku sudah memintamu dengan sangat jelas di dalam pesan untuk datang seorang diri tanpa melibatkan siapa pun! Kau sama sekali tidak tahu seberapa berbahayanya dokumen fisik yang sedang kupegang saat ini bagi kelangsungan masa depan keluargamu!"
"Jika sebuah masalah sudah menyangkut integritas internal Corisand Group, maka secara otomatis hal itu juga menjadi urusan dan tanggung jawab hukum bagi Hutama Industries, Julian," sahut Alea dengan nada suara yang tenang, datar, dan sangat terlatih dalam menghadapi konfrontasi terbuka.
Dia melepaskan diri dari dekapan tangan Adrian secara perlahan dan mengambil dua langkah maju ke depan.
"Kau mengancam posisiku dengan membawa-bawa draf wasiat mendiang kakekku, lalu dengan berani menuduh bahwa pernikahan kontrakku adalah sebuah konspirasi busuk. Sekarang, aku sudah berdiri di hadapanmu. Katakan padaku dengan jujur, dari siapa sebenarnya kau mendapatkan berkas rahasia itu?"
Julian terkekeh hambar dengan nada yang terdengar frustrasi, sepasang matanya menatap Adrian dengan kilatan kebencian yang mendalam.
"Kau benar-benar sudah sepenuhnya dicuci otak oleh pria dingin ini, Alea? Berkas asli ini dikirimkan langsung ke kotak surat apartemen pribadiku semalam oleh seseorang misterius yang mengaku sebagai mantan orang dalam divisi keuangan Hutama Industries. Dokumen otentik ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa tiga tahun lalu, tepat sebelum ayahmu meninggal dunia, ada aliran dana gelap sebesar lima puluh juta dolar dari kas Corisand yang 'diselamatkan' secara ilegal ke dalam sebuah rekening cangkang (shell company) milik Hutama Industries!"
Adrian melangkah maju dengan santai, memotong jarak spasial di antara dirinya dan Julian tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Ekspresi di wajah tegasnya tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan atau rasa bersalah, justru sebuah senyuman dingin yang sarat akan nada meremehkan muncul di sudut bibirnya yang kokoh.
"Aliran dana gelap sebesar lima puluh juta dolar?" Adrian mendengus pelan, memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana bahannya.
"Julian, jika kau memang memiliki niat besar untuk memeras sebuah imperium bisnis raksasa seperti kami, setidaknya luangkanlah sedikit waktumu untuk belajar bagaimana cara membaca laporan keuangan makro dengan benar. Angka nominal yang kau sebutkan dengan penuh ambisi itu sama sekali bukan aliran dana ilegal, melainkan nilai dari amortisasi aset tak berwujud yang sengaja dialihkan sebagai bentuk jaminan obligasi gabungan kedua belah pihak. Dokumen yang kau pegang dan kau banggakan itu... hanyalah sebuah draf palsu yang sengaja diubah format biner angkanya untuk mengecoh orang awam sepertimu."
Julian membelalakkan matanya yang merah karena kurang tidur, napasnya memburu.
"Palsu?! Jangan mencoba membual dan mengelabuhiku dengan istilah korporasimu, Hutama! Tulisan tangan dan goresan tinta di margin bawah halaman ini... ini adalah tanda tangan legalitas mutlak milik mendiang kakek Alea sendiri! Aku tahu persis bentuknya!"
"Tanda tangan historis seperti itu bisa ditiru dan direplikasi dengan sangat mudah menggunakan mesin printer laser termal modern dalam waktu kurang dari lima detik oleh siapa pun yang memiliki keahlian digital dasar," sela Alea, suara wanitanya terdengar sangat dingin, tegas, sekaligus menyimpan rasa kecewa yang mendalam terhadap kedangkalan pria di depannya.
"Julian... sadarlah bahwa kau telah dimanfaatkan secara penuh oleh orang lain. Kau hanya sedang digunakan sebagai bidak pion murahan untuk memancingku keluar dari area kantorku dan membuatku mengambil keputusan yang ceroboh karena panik."
Sebelum Julian sempat membuka mulutnya untuk membalas atau membantah kalimat tajam dari Alea, sebuah suara dentingan logam yang sangat keras tiba-tiba terdengar berdentang dari arah pintu masuk utama restoran kolonial tersebut.
Pintu kayu tebal yang tadinya terbuka lebar memberikan jalan masuk, kini mendadak menutup dengan satu sentakan mekanis yang sangat keras, diikuti oleh bunyi klik tajam dari mekanisme penguncian elektronik eksternal yang tampaknya telah dipasang secara rahasia sebelum mereka tiba.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan berubah total. Lampu gantung tua yang dipenuhi sarang laba-laba di langit-langit restoran yang tadinya mati total, mendadak menyala dengan sangat terang benderang, memancarkan cahaya putih neon yang menyilaukan mata dan membuat pandangan mereka sempat kabur.
Kejadian itu segera diikuti oleh munculnya suara desis halus yang keluar dari celah-celah dinding kayu bangunan, sebuah indikasi teknis bahwa sistem pendingin ruangan darurat yang telah dimodifikasi secara ilegal mulai menyemburkan gas uap dingin yang aneh ke dalam ruangan.
Adrian dengan insting taktisnya yang luar biasa cepat langsung menarik tubuh Alea ke belakang punggung tegapnya, menyembunyikan wanita itu dari potensi bahaya fisik, sementara gawai komunikasi satelit di dalam saku blazernya tiba-tiba bergetar dengan ritme yang sangat hebat dan tidak beraturan.
"Sinyal satelit cadanganku baru saja terputus total," ucap Adrian, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat tajam, serius, dan tanpa kompromi.
"Mereka tidak hanya sekadar menggunakan alat pengacak frekuensi radio standar, mereka telah mengaktifkan sebuah sistem sangkar Faraday aktif di seluruh struktur dinding bangunan restoran tua ini. Kita semua telah terkunci sempurna di dalam sini."
Julian seketika didera rasa panik yang luar biasa.
Wajahnya memucat, dan dia melangkah mundur beberapa kali dengan tergesa-gesa hingga tubuhnya menabrak pinggiran meja kayu panjang di belakangnya, membuat lembaran dokumen palsu itu berserakan di lantai berdebu.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?! Siapa... siapa orang gila yang berani mengunci kita di tempat terkutuk ini?!"
"Tentu saja orang yang sama yang telah mengirimkan berkas palsu itu ke apartemenmu dengan sangat ramah, Julian," sahut Alea dari balik perlindungan punggung Adrian.
Kedua matanya yang jeli terus memindai setiap sudut langit-langit ruangan yang tinggi, hingga akhirnya dia menemukan sebuah lensa kamera pengawas modern berukuran mikro yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik kap lampu gantung tua.
Lensa kamera itu tampak berputar perlahan dengan suara motor mekanis yang sangat halus, mengunci fokus rekamannya tepat pada posisi berdiri Adrian dan Alea yang saling melindungi satu sama lain.
Di tengah kepanikan massal yang melanda Julian dan situasi lingkungan yang semakin terdesak serta dingin, Adrian justru merasakan sebuah ketenangan batin yang aneh dan tidak biasa.
Dia menolehkan kepalanya sedikit ke arah belakang, menatap wajah Alea dari sudut matanya untuk memastikan bahwa wanita itu tidak mengalami cedera atau ketakutan yang berlebih.
"Apakah kau merasa takut dengan situasi jebakan ini, Alea?" tanya Adrian dengan bisikan suara yang sangat rendah, sebuah intonasi yang hanya bisa didengar oleh telinga Alea di antara suara desis gas ruangan.
Alea menatap balik ke dalam sepasang mata elang milik Adrian yang berkilat penuh perhitungan, lalu sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa percaya diri dan tantangan muncul menghiasi bibirnya yang indah.
"Takut? Dengan adanya Direktur Utama dari Hutama Industries yang berdiri kokoh di sampingku? Aku justru merasa sangat kasihan pada siapa pun orang bodoh yang sedang duduk manis di balik layar kamera pengawas itu, Adrian. Karena mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar dengan memancing sepasang singa yang salah masuk ke dalam perangkap mereka."
Di luar area dermaga tua yang sunyi dan terisolasi dari peradaban, ombak lautan malam terus menghantam dinding beton dengan suara yang semakin keras seiring dengan naiknya air pasang.
Jauh di sudut jalan setapak yang gelap, di dalam sebuah mobil sedan hitam misterius yang terparkir rapi dengan lampu yang mati, layar gawai khusus milik sang perancang skenario agung kembali berkedip terang.
Layar itu menampilkan visualisasi video berdefinisi tinggi secara langsung dari dalam restoran kolonial, tiga orang target utama kini berada dalam satu ruangan yang sama, terkunci dengan sangat sempurna dalam fase konfrontasi emosional tingkat akhir yang telah dirancang berbulan-bulan lalu.
Skenario isolasi total dan pengikatan emosi secara paksa kini telah mencapai titik puncaknya yang paling krusial. Dan sekarang, babak pembuktian yang sesungguhnya mengenai kekuatan aliansi, logika, serta rasa percaya di antara Adrian Hutama dan Alea Corisand baru saja resmi dimulai di atas panggung yang gelap ini.