💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Malu Sendiri
Lusi memeriksa hadiah selanjutnya, yaitu yaitu sebuah Rumah Sakit Permata Hati.
Nama itu tidak asing baginya. Beberapa tahun terakhir, rumah sakit tersebut hampir selalu muncul dalam berita kesehatan dan bisnis. Rumah sakit swasta terbesar kedua di Konoha, sekaligus salah satu rumah sakit paling bergengsi di negara itu.
Jika rumah sakit negeri nomor satu terkenal karena sejarah dan dukungan pemerintahnya, maka Permata Hati terkenal karena fasilitasnya yang mewah, teknologi medis mutakhir, serta pelayanan kelas premium yang menyasar kalangan menengah atas dan orang-orang kaya.
Lusi bahkan masih ingat sebuah artikel yang pernah ia baca saat masih tinggal di kos.
Rumah sakit itu baru berdiri sekitar lima tahun lalu, tetapi perkembangannya sangat cepat. Konon biaya pembangunan awalnya mencapai miliaran rupiah dan terus bertambah setiap tahun karena ekspansi fasilitas dan perekrutan dokter-dokter terbaik.
Belakangan, nama Permata Hati semakin melejit setelah bekerja sama dengan universitas kedokteran ternama dari luar negeri. Banyak dokter spesialis mereka menjalani pelatihan dan pertukaran ilmu secara rutin, membuat reputasinya semakin tinggi.
Di mata masyarakat umum, masuk ke Rumah Sakit Permata Hati saja sudah menjadi simbol status.
Namun setelah melihat tulisan (Kepemilikan Mutlak) di layar sistem, Lusi hanya mengangguk kecil dalam hatinya.
'Oh.'
Hanya itu reaksinya.
Jika ini terjadi beberan menit/detik lalu, mungkin dia sudah berteriak kegirangan di dalam mobil, memeriksa berita satu per satu, lalu mencari tahu berapa nilai aset rumah sakit tersebut.
Namun sekarang tidak. Ia bisa merasakan dengan jelas pengaruh Kartu Hati Tenang bekerja di dalam dirinya.
Bukan berarti ia kehilangan emosi. Ia masih bisa merasa senang, terkejut, atau penasaran. Hanya saja semua emosi itu seperti lapisan air yang tenang, tidak lagi membentuk gelombang besar yang mengganggu pikirannya.
Dengan kata lain, ia masih memahami nilai Rumah Sakit Permata Hati. Tetapi tidak lagi merasa perlu melompat kegirangan karenanya.
Baginya sekarang, rumah sakit itu hanyalah sebuah aset bernilai tinggi yang tiba-tiba masuk ke dalam daftar kepemilikannya.
Ia lalu membuka informasi berikutnya.
USD 100.000.
Lusi melirik angka itu sebentar.
Jika sebelumnya ia pasti akan langsung membuka aplikasi kurs dan menghitung berapa rupiah yang didapatkan, sekarang ia bahkan tidak tertarik melakukannya.
Jumlah itu memang besar. Namun dibandingkan Rumah Sakit Permata Hati, nilainya terasa jauh lebih kecil.
Tanpa banyak pikiran, ia menutup notifikasi tersebut.
Di dalam kamar hotel itu, Rayyan membantu memasukkan barang-barang Lusi ke dalam koper.
Lusi memilih-milih pakaian baru yang di belinya, sementara pakaian lama mungkin dia tidak membutuhkan nya lagi. Dan bisa di taruh di kantong terpisah dan untuk di buang oleh staff.
Setelah memasukkan barang-barang Lusi ke dalam koper, Rayyan menatap Lusi yang berdiri-- sedang membungkus beberapa pakaian lama.
Rayyan berjalan mendekati Lusi, berdiri sesaat di belakangnya lalu tanpa aba-aba memeluk Lusi dari belakang. Tangan Lusi yang sedang bergerak memasukan pakaian ke dalam paperbag seketika diam, tinggi Rayyan lebih tinggi darinya.
Lusi hanya seukuran tinggi dada Rayyan, dan tinggi Rayyan sedikit lebih tinggi dari lemari-- kebetulan Lusi memang menghadap cermin panjang di lemari dan Rayyan harus membungkuk untuk bisa melihat Lusi.
Dia menempatkan dagu nya di bahu Lusi, menatap wajah Lusi dan menanti wajahnya yang memerah malu. Namun selama beberapa detik, menatap dia tidak kunjung melihatnya. Malah mendengar suara tenang nya.
"Apa yang kamu inginkan?" Tangan nya kembali memasukkan pakaian ke dalam paperbag, setelah selesai dia menjulurkan tangan agar paperbag jatuh di arah yang di inginkan.
Dia menatap Rayyan dari kaca depan alis yang kemudian terangkat.
"Sekarang, aku harus panggil kamu apa? Sayang? Mommy? Atau... "
Rayyan menyembunyikan sedikit kekecewaan nya, padahal sebelumnya dia yakin telah membuat Lusi tersipu oleh kata-katanya. Apakah sebaiknya dia fokus pada pendekatan terlebih dahulu, jangan terburu-buru menyentuh seperti ini.
Melihat Rayyan berbicara dengan menggantung seolah menggoda nya, Lusi hanya tertawa pelan. "Kamu ingin panggil aku apa sebenarnya?"
"Aku..." Rayyan terlihat berpikir, dan dia bisa melihatnya dari depan kaca. "Ingin memanggil mu istriku, bagaimana?"
"Kalau begitu kamu harus kecewa, karena aku tidak akan menjadi istri mu~"
Tanpa sadar pelukan nya sedikit mengencang, namun Rayyan dengan cepat sadar dan memasang tampang pura-pura sedih yang acuh. "Yah~"
Lusi tertawa kecil, "panggil nama saja atau... Kakak?"
"Mm, baiklah" Rayyan mengangguk setuju, sementara Lusi terus menatap nya membuat Rayyan sadar terus di tatap dan menaikkan alisnya.
"Sampai kapan kamu akan memeluk ku?"
Rayyan berkedip, Lusi juga berkedip. Sedetik kemudian Rayyan melepaskan pelukan dengan pelan, sambil tertawa canggung. "Kamu pelit sekali, apakah aku tidak boleh memeluk pacar ku?"
Lusi berbalik menatap nya, "jadi pacar kecil ku ini ingin di peluk humm?" Tangan nya mencubit lembut pipi nya.
Rayyan terdiam-- termangu. Ekspresi nya melongo sambil semburat merah keluar dari tulang pipinya. Jantung nya berdugem tak terkendali. Dia tak ekspek jika Lusi akan memperlakukan nya seperti ini.
Lusi tertawa melihat wajah merona nya, dia berhenti mencubit. "Sudah selesai, tolong bawa koper ku ke bawah ya"
Rayyan mengangguk, wajahnya masih membeku malu. Setelah Lusi keluar dari kamar, dia langsung mengusap wajah nya dengan kasar.
"Sial!"
Dia menatap kosong, mencoba menenangkan hati dan pikirannya baru kemudian mengambil koper dan melangkah keluar kamar hotel.
Sepanjang perjalanan, suasana di mobil tampak hening. Rayyan tidak lagi berani menggoda, takut malah dia yang malu. Sementara Lusi menatap keluar jalanan, terlihat seperti sosok sad girl.
Baru setelah sampai di kawasan Luxhaven, suara Rayyan terdengar terkejut.
"Luxhaven? Kamu pindah kesini!?"
Lusi mengalihkan perhatian nya dari pemandangan luar dan menatap Rayyan dengan mengerutkan kening. "Aku kan udah kasih tahu, kamu gak cek?"
Baru Rayyan sadar jika dia hanya mengikuti jalan berdasarkan maps, dia tidak tahu dengan jelas Jiak tujuan nya ke Luxhaven.
Mobil pun melaju menyusuri area Luxhaven, lalu berhenti di rumah nomor. 1. Saat Lusi menawarkan masuk, Rayyan mengangguk karena berpikir mungkin Lusi membutuhkan bantuannya membereskan barang.
**
Dukungan nya readers~
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/