Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Kebencian yang Ditanam
Sejat pertemuan di kafe hari itu, Bu Meyda menjadi jauh lebih sering menelepon Kayla. Hampir setiap malam atau di sela-sela jam santai, wanita itu akan menghubungi putri tunggalnya, bukan untuk menanyakan bagaimana sekolahnya, melainkan untuk mencurahkan isi hatinya yang penuh dengan keluhan. Meyda terus-menerus memengaruhi pikiran Kayla, memasang raut wajah paling sedih dan terluka seolah-olah dirinya adalah korban pengkhianatan yang paling malang.
"Mommy kenapa? Suara Mommy kok kayak habis nangis?" tanya Kayla cemas suatu malam, mendekapkan ponselnya erat-erat ke telinga saat mendengarkan isakan kecil di seberang telepon.
"Gak kenapa-napa, Kay... Mommy cuman ngerasa, Papih kamu bener-bener udah ngelupain Mommy," ucap Bu Meyda dengan nada suara yang bergetar rapuh, sengaja diatur agar terdengar menyedihkan. "Mommy gak tahu dia bisa secepat ini mengganti posisi Mommy di hatinya. Sampai-sampai... Mommy sempat berpikir, jangan-jangan Papih kamu udah kenal sama istri barunya itu dari pas Mommy dan Papih masih bersama dulu."
Deg.
Kalimat ibunya malam itu seketika menghujam otak Kayla, memicu sebuah spekulasi liar yang mengerikan. Pikiran Kayla langsung berkelana ke mana-mana. Jangan-jangan... perceraian orang tuanya tiga tahun lalu emang karena perselingkuhan Papih sama Hesti?
Pemikiran itu tertanam begitu dalam di kepala Kayla. Rasa hancur dan kecewa membuat api kebencian di dalam dirinya kepada Hesti membakar semakin hebat. Di mata Kayla sekarang, Hesti bukan sekadar wanita asing yang menggantikan ibunya, melainkan seorang pelakor yang telah merebut kebahagiaan keluarganya.
Keesokan paginya, atmosfer di dalam rumah besar itu terasa semakin dingin. Kayla turun dari lantai atas dengan seragam sekolah yang sudah rapi, melangkah cepat melewati ruang tengah tanpa niat untuk menoleh ke arah meja makan.
"Gak sarapan?" tanya Hesti datar saat melihat Kayla berjalan terburu-buru hendak langsung menuju pintu keluar.
"Ogah. Abisin aja sendiri," jawab Kayla ketus, menghentikan langkahnya sejenak hanya untuk melemparkan tatapan sinis.
Hesti yang sedang menata mangkuk di atas meja sama sekali tidak kelihatan tersinggung. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia membalas sarkas, "Baguslah. Jatah makanan kamu bisa saya kasih buat anak jalanan di depan yang lebih punya rasa syukur."
Darah Kayla seketika mendidih mendengarnya. Ia berbalik sepenuhnya, menatap Hesti dengan urat leher yang menegang. "Emang bener ya, ibu tiri di mana-mana tuh jahat! Gak punya hati!"
"Kayla! Jaga bicara kamu ya!" potong Pak Hendra tegas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan kemeja kantornya. Ia menatap putrinya dengan pandangan kecewa. "Hesti itu sekarang istri Papih, ibu kamu juga di rumah ini. Gak sepantasnya kamu bicara sekasar itu sama orang tua."
"Dia bukan ibu Kayla, Pih! Dan gak akan pernah!" bentak Kayla, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi yang meluap.
"Saya nyesuain diri aja sama kamu, Kay," timpal Hesti santai, melipat kedua tangan di dada tanpa terpengaruh bentakan Kayla. "Kalau saya gak tegas, kamu malah bakal bertindak seenaknya sendiri sama saya di rumah ini."
"Wajar dong gue kayak gini sama pelakor kayak lo?!" seru Kayla berang, menunjuk wajah Hesti dengan emosi yang memuncak.
"Mikayla! Cukup!" bentak Pak Hendra lagi, suaranya menggelegar di ruang makan hingga membuat suasana mendadak hening mencekam. "Dari mana kamu belajar bahasa sekotor itu, hah? Minta maaf sama Tante Hesti sekarang!"
Hesti memegang lengan Pak Hendra, menenangkannya lalu melirik Kayla dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. "Halloo... dapet dari mana sih pemikiran kayak gitu? Seenak jidat ngecap orang pelakor. Tuh, terarium di kamar kamu urusin, jangan lupa disemprot air biar bisa kasih pasokan oksigen yang positif buat otak kamu!"
Skakmat. Kayla mendengkus geram karena lagi-lagi argumennya dipatahkan dengan santai oleh wanita itu, ditambah pembelaan mutlak dari ayahnya. "Gak perlu dikasih tahu juga udah gue lakuin!" ketus Kayla, langsung melenggang pergi keluar rumah dengan mengentakkan kakinya kasar.
Anehnya, hari ini Arka tidak datang menjemputnya seperti biasa. Tidak ada deru motor sahabatnya itu di depan pagar. Sadar tidak punya pilihan lain, Kayla akhirnya terpaksa berangkat bersama Papihnya yang berniat langsung pergi ke kantor setelah mengantarnya. Sepanjang jalan di dalam mobil, tidak ada obrolan di antara mereka. Kayla hanya diam membuang muka ke luar jendela dengan dada yang bergemuruh.
Sementara itu di rumah, Hesti yang masih berdiri di ruang makan perlahan memandangi arah kepergian Kayla. Sebuah senyuman tipis yang sangat tulus mendadak terukir di wajah cantiknya.
"Ternyata dia gak buang terarium itu... dasar anak baik," gumam Hesti pelan, merasa usahanya memberikan perhatian kecil secara diam-diam mulai membuahkan hasil.
Begitu mobil Pak Hendra berhenti di depan gerbang sekolah, Kayla langsung turun tanpa menyalimi tangan ayahnya atau mengucapkan sepatah kata pun. Pak Hendra hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung putrinya, sebelum akhirnya melajukan mobilnya kembali membelah jalanan menuju kantor.
Baru saja Kayla hendak melangkah melewati gerbang utama sekolah, sebuah deru motor sport hitam yang sangat ia kenal mendadak memotong jalurnya. Motor itu berhenti tepat di depannya, memperlihatkan Gavin yang langsung membuka kaca helmnya dengan tatapan mata yang teramat serius, berbeda dari biasanya.
"Kay, ikut gue sekarang. Gak usah masuk kelas," ucap Gavin to the point, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.
Kayla mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud lo apa? Gue baru aja nyampe sekolah, Vin. Jangan ngaco deh."
Gavin memutar bola matanya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Kayla. "Gue gak lagi bercanda. Anak-anak gue semalam nemuin info valid. Kita bolos hari ini, gue mau ngajak lo nyari tahu siapa pemilik mobil minibus hitam yang beberapa waktu lalu sengaja nyerempet kita di jalan lingkar luar. Lo mau tahu kan siapa bajingan di balik nomor asing yang neror lo?"
Mendengar penuturan Gavin, jantung Kayla seketika berdegup kencang. Ketakutan dan rasa penasaran bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia melirik ke arah koridor sekolah yang mulai ramai, lalu beralih menatap boncengan motor Gavin. Tanpa berpikir panjang lagi tentang absensi sekolah atau apa yang akan dikatakan Arka nanti, Kayla akhirnya mengangguk, lalu naik ke atas boncengan motor Gavin. Motor itu pun melesat pergi meninggalkan area sekolah, membawa mereka berdua langsung menuju pusat bahaya yang sesungguhnya.