Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Gairah
...Area 25+++...
...Yang di bawah umur.. Yuukk skip aja.. Penasaran? Baca dikit nggak apa-apa kayaknya.. 🤣🤣🤣...
...****************...
...****************...
"Tuan... Anda suka bermain kasar, hemmm? Lakukan saja... aku milikmu malam ini..." desah Talitha, menanti sentuhan dengan tubuh yang mulai memanas akibat efek alkohol dan ramuan pemikat yang mengalir di pembuluh darahnya.
Detik berikutnya, Talitha bisa merasakan sentuhan tangan besar dan kasar mulai merayap di atas permukaan kulit tubuhnya. Tangan kekar itu bergerak dinamis, mulai menyentuh area-area sensitif di sepanjang lekuk pinggang dan dadanya dengan tekanan yang konsisten. Suara desahan-desahan syahdu yang dipenuhi kepuasan seketika mulai lolos dari mulut Talitha dengan ritme yang memburu. Dia benar-benar begitu menikmati setiap jengkal sentuhan fisik yang dia yakini sebagai milik Batara Moretti.
Di dalam kegelapan batinnya yang dipenuhi keangkuhan, Talitha memaki nama Sonya dengan kepuasan yang luar biasa. Rasakan itu, Sonya jalang! Malam ini suamimu yang agung sedang memuja tubuhku di kamar ini! Dia melupakanmu demi keindahanku! Kamu telah kalah telak!
Talitha bisa merasakan helaian kain lingerie merah transparan miliknya mulai ditarik lepas dan dicampakkan secara kasar dari tubuhnya, meninggalkan seluruh sosok fisiknya kini berada dalam kondisi polos, telanjang tanpa sehelai benang pun di atas seprai sutra. Tangan kekar yang dingin itu kembali merayap, membelai setiap sisi permukaan kulit tubuhnya yang sensitif, memberikan pijatan-pijatan halus dengan ritme konstan yang kian membakar gairah primitif di dalam sistem sarafnya.
"Terus, Tuan... Ahh... jangan berhenti... ini... ini sangat nikmat..." rintih Talitha dengan kepala yang terayun ke samping, tubuhnya meliuk-liuk pasrah di atas kasur.
Tiba-tiba, kulit leher bagian depan Talitha merasakan adanya sapuan sensasi yang sangat dingin, disusul oleh rasa perih yang cukup tajam di beberapa bagian permukaan kulit dadanya. Namun, dalam kondisi kedua mata yang tertutup rapat oleh ikatan pita hitam dan kedua lengan yang terkunci mati pada tiang ranjang, ditambah dengan efek memabukkan dari minuman anggur merah dosis tinggi yang dia minum sebelumnya, akal sehat Talitha telah terbakar sepenuhnya oleh halusinasi gairah. Dia sangat menikmati rasa sakit kecil tersebut, menganggapnya sebagai bentuk kebrutalan cinta dari sang harimau Inferno.
Di dalam rongga tubuh bagian bawahnya, Talitha mulai merasakan adanya sebuah tekanan besar yang menyeruak, mendesak masuk ke dalam dirinya secara paksa dan tanpa ada kelembutan sedikit pun. Meskipun rasanya terasa sangat menyakitkan, kesat, dan tidak senikmat yang dia bayangkan sebelumnya di dalam fantasi, Talitha merasa sangat bahagia dan menang. Pikirannya dipenuhi kepuasan ego yang tak ternilai; dia merasa akhirnya berhasil mengendalikan dan mengunci kartu As seorang Batara Moretti menggunakan keindahan tubuhnya malam ini.
"Oh... yes, Baby... Faster, please... ampun, Tuan... ahh..." teriak Talitha dengan suara melengking, meluapkan seluruh desahan kepuasan batinnya ke udara kamar yang redup.
Selama seluruh proses penyatuan fisik yang berlangsung intens dan dingin itu berjalan, hanya suara desahan dan teriakan manja dari mulut Talitha yang terdengar menggema memenuhi ruangan. Dia sama sekali tidak mendengar adanya satu pun suara letupan napas, bisikan kata cinta, atau bahkan seulas desahan maskulin yang keluar dari mulut Batara. Suasana dari sisi pria itu terasa sangat sunyi, bisu, seolah-olah proses di atas ranjang itu hanyalah sebuah transaksi mekanis tanpa melibatkan jiwa sedikit pun.
Namun bagi Talitha, hal tersebut sama sekali tidak menjadi masalah besar. Yang paling penting bagi ego dan ambisi liciknya adalah fakta objektif bahwa malam ini dia telah resmi menyerahkan tubuhnya dan mengunci posisi tawar terbesar untuk mengikat Batara Moretti secara sah di masa depan klan.
Dua hari telah berlalu...
Di dalam ruang perawatan intensif (ICU) rahasia klan Moretti yang dipenuhi oleh deretan monitor medis canggih yang berbunyi konstan, Jevan telah melewatkan waktu selama empat puluh delapan jam terakhir dalam kondisi tidak sadarkan diri pasca-operasi besar pembuluh darahnya yang koyak.
Siang itu, fajar menyinari ruangan melalui celah tirai yang terbuka sedikit. Batara Moretti berdiri tegak di samping ranjang medis Jevan, masih dengan pakaian serba hitamnya yang rapi, matanya mengawasi garis grafik elektrokardiogram (EKG) yang berfluktuasi dengan tenang di layar monitor.
Tiba-tiba, jemari tangan kiri Jevan yang terpasang alat pulse oximeter tampak bergerak halus. Kelopak matanya yang cekung perlahan-lahan terbuka, berkedip beberapa kali demi menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan yang masuk ke dalam retinanya.
Melihat asisten setianya telah tersadar, Batara melangkah mendekat selangkah, raut wajah kakunya sedikit melunak meskipun suaranya tetap terdengar datar penuh otoritas. "Jangan banyak bergerak dulu, Jevan. Kau baru saja melewati operasi besar. Istirahatlah terlebih dahulu sampai kondisimu pulih sepenuhnya."
Jevan menarik napasnya dengan lambat, masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya tampak berembun. Kedua matanya yang masih sayu dan buram berusaha mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan steril tersebut, hingga akhirnya pandangan matanya tertuju pada sosok seorang wanita yang berdiri tegak dengan keangkuhan penuh di samping tubuh Batara.
Wanita itu adalah Talitha Munic. Sejak pagi tadi, begitu mendengar kabar bahwa Jevan menunjukkan tanda-tanda akan siuman, Talitha langsung memaksa masuk dan berdiri di samping Batara, bersiap untuk menuntut balas jasa pertamanya di depan seluruh pasang mata klan.
Jevan mengernyitkan keningnya di balik masker oksigen, ekspresi wajahnya memancarkan kebingungan yang sangat mendalam sekaligus rasa tidak nyaman yang kentara. Dengan suara yang sangat lemah dan serak menembus plastik masker, dia berbisik, "Tuan... Tuan Besar... kenapa... kenapa wanita dari klan Munic itu bisa berada di sampingmu, Tuan? Di mana... di mana Nyonya Muda Sonya? Kenapa bukan Nyonya yang berada di sini...?"
Batara mengerutkan alisnya, menatap Jevan dengan pandangan memperingatkan. "Sudah kubilang, istirahat saja sekarang, Jevan. Ini bukan urusan taktis klan yang harus kau pikirkan saat ini!"
"Tapi Tuan..."
"Heh! Dengar ya, kau kacung setia tidak tahu diri!" Potong Talitha dengan nada suara yang mendadak melengking tinggi, melangkah maju ke depan ranjang dengan melipat kedua lengannya di dada, menatap Jevan dari atas dengan pandangan penuh penghinaan yang amat sangat. "Jaga bicaramu di depan pemilik mansion ini! Kau harus tahu diri, Jevan! Aku... akulah wanita yang telah menjadi penyelamat nyawamu yang tidak berharga itu! Aku yang bersedia mendonorkan dua labu darah segar dari tubuhku yang murni ini ke dalam tubuhhmu agar kamu bisa selamat dari kematian! Inikah caramu memperlakukan dewa penolongmu sendiri, hah?! Dasar pelayan rendahan!"
Plakk!!!
Suara hantaman tamparan tangan yang sangat keras dan bising seketika menggema di seluruh penjuru ruangan ICU yang sunyi tersebut.
Tubuh Talitha terhuyung mundur dua langkah ke belakang, hampir saja menabrak tiang penyangga kantong infus di dekatnya. Wajah cantiknya seketika menoleh ke samping, dan tangan kanannya bergerak naik dengan gemetar, memegangi pipi kirinya yang kini terasa sangat perih, panas, dan mulai memerah membentuk bekas telapak tangan yang sempurna akibat tamparan brutal dari Batara Moretti.
"Jaga batasan mulutmu yang kotor itu di depanku, Talitha Munic!!!" Bentak Batara dengan suara guntur yang begitu menggelegar, sepasang matanya berkilat memancarkan hasrat membunuh yang sangat murni hingga membuat perawat yang berada di sudut ruangan langsung memekik ketakutan. "Jika sekali lagi telingaku mendengar kau berani mengeluarkan kata 'kacung' atau menghina posisi Jevan di dalam klan ini... aku bersumpah akan mencabut seluruh lidahmu dan melemparkannya ke kandang anjing pemburu Inferno saat ini juga! Keluar!"
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini