Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Desis Kabin dan Retakan di Balik Kaca
Langkah Kirei terasa sedikit lebih ringan saat dia berjalan di koridor khusus menuju lift pribadi, mengekor di belakang tubuh tegap Vaxerion. Begitu pintu lift tertutup, Maya langsung bergerak cepat mengunci akses lantai bawah agar tidak ada satu pun staf kantor yang bisa mengintip. Di dalam kotak besi yang bergerak turun itu, Kirei sempat melirik pantulan dirinya di dinding cermin. Blazer abu-abu gelapnya masih rapi, tapi ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong—dia benar-benar kelelahan. Tekanan dari segala penjuru seolah menumpuk di pundaknya, membuat cangkir kopi hitam yang dia teguk sejak subuh tadi terasa seperti racun yang mengikis energinya perlahan.
Brak.
Pintu SUV listrik Mahendra berwujud kekar itu menutup dengan suara gedebuk yang mantap. Seketika itu juga, semua bisingnya suara klakson, deru mesin angkutan umum, dan kesibukan Vancort Tower lenyap tanpa sisa. Kabin mobil ini luas banget, dilapisi kulit premium sewarna arang yang halus, dan langsung terasa adem begitu AC-nya mendesis halus mengeluarkan aroma terapi mint yang menenangkan. Di sinilah Kirei akhirnya bisa melepas napas panjang yang sejak subuh dia tahan di dada. Di dalam ruang kedap suara yang aman ini, dia tidak perlu memasang tampang CEO galak, dingin, dan tidak tersentuh di depan pria ini. Di sini, dia hanyalah Kirei.
Vaxerion menggeser tuas transmisi dengan gerakan tangannya yang mantap, lalu menginjak pedal gas tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mobil melaju mulus membelah aspal Sudirman yang mulai padat merayap karena jam makan siang. Pria dua puluh tujuh tahun itu sengaja tidak menyalakan musik atau radio di dasbor pintar. Dia tahu Kirei sedang tidak butuh kebisingan baru; wanita itu butuh ketenangan untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah.
"Kamu terlalu memaksakan dirimu pagi ini, Kirei," suara berat Vaxerion memecah kesunyian kabin, terdengar sangat bariton, dalam, dan tenang.
Sambil tetap fokus menatap jalanan di depan dengan satu tangan pada kemudi, Vaxerion melepas kancing teratas kemeja hitamnya, memberikan kesan kasual pada wajah tegasnya yang kokoh. Tangan kirinya yang besar bergerak santai ke tengah konsol, meraih telapak tangan Kirei yang sejak tadi mengepal erat di atas pangkuan. Jempolnya yang tegap mengusap punggung tangan Kirei dengan gerakan memutar yang sangat telaten, menyalurkan kehangatan kulit yang langsung membuat dada Kirei berdesir halus.
"Aku bisa mendeteksi perubahan raut wajahmu saat Maya membahas bank sentral Paris tadi," kata Vaxerion lagi, kali ini remasan tangannya di jemari Kirei makin mengerat secara protektif. "Kamu takut dokumen medis almarhum ibumu jatuh ke tangan Bianca, kan? Kamu takut mereka menggunakannya untuk menyerangmu?"
Kirei terdiam sebentar, menatap tautan jemari mereka yang begitu kokoh di atas pembungkus kulit mobil. Gengsi lamanya sebagai wanita mandiri yang anti-cengeng mencoba menahan gejolak emosi di dadanya, walau dia tahu di depan pria sedewasa dan sematang Vaxerion, semua rahasianya sudah terbuka sejak lima tahun lalu di halte stasiun itu.
"Bianca tidak akan berhenti sampai dia melihatku merangkak kembali ke pinggiran rel stasiun, Vaxerion," bisik Kirei jujur, suaranya agak serak karena menahan perih yang mendalam di hatinya. Matanya menatap lurus ke arah kaca depan yang memantulkan deretan gedung pencakar langit Jakarta yang berkilau di bawah terik matahari. "Kejadian semalam saat Ayah mengkhianati aku saja sudah menguras seluruh tenagaku, sekarang ditambah Bianca yang mulai bergerak dari balik layar. Dia punya uang melimpah, dia punya nama besar keluargamu di Eropa, dan dia punya Mirna yang tahu persis di mana letak gubuk lamaku. Aku... aku cuma tidak mau Oma dan Rian sedih kalau masa lalu kami yang penuh luka itu dijadikan bahan olok-olok di depan para konglomerat waktu Gala Dinner bulan depan. Aku tidak mau harga diri keluargaku diinjak lagi."
Vaxerion tiba-tiba memutar kemudi dengan halus, membelokkan mobilnya masuk ke sebuah pelataran teduh di bawah pohon beringin tua yang sepi di sudut Jakarta Selatan. Dia mematikan mesin, lalu memutar tubuh tegapnya sepenuhnya menghadap Kirei. Jarak di antara mereka mengikis habis sampai Kirei bisa mencium aroma kayu cendana bercampur wangi mint yang segar dari napas Vaxerion.
Pria tampan itu tidak menjawab dengan kalimat bisnis atau formalitas yang kaku. Dia mengulurkan kedua tangan hangatnya yang besar, menangkup pelan pipi Kirei dengan kelembutan yang sangat lembut, memaksa mata jernih Kirei yang secantik kristal untuk menatap langsung ke matanya yang jernih dan teduh.
"Dengarkan aku, Kirei Zhaklyn," bisik Vaxerion, suaranya merendah, terdengar sangat romantis, mendalam, dan penuh penegasan seorang pria sejati. "Selama lima tahun aku menyimpan gantungan kunci SMA-mu di dasbor mobilku, itu bukan karena aku merasa kasihan kepadamu. Aku menyimpannya karena aku kagum kepada perempuan keras kepala yang menantang badai banjir tanpa air mata. Dan hari ini, waktu kamu sudah berdiri di sebelahku sebagai calon istriku, aku janji... tidak akan ada satu lumpur pun dari Bianca yang bisa menyentuh ujung bajumu. Aku tidak akan membiarkan mereka sejengkal pun mendekatimu."
Vaxerion menggeser ibu jarinya dengan sangat lembut, mengusap sudut mata Kirei yang mulai berkaca-kaca karena rasa terharu yang luar biasa besar menembus dadanya.
"Kalau Bianca nekat menyebarkan dokumen medis ibumu di acara Gala Dinner nanti, aku yang akan membeli seluruh saham konsorsium keluarganya malam itu juga dan membuat namanya hancur lebur di bursa internasional tanpa sisa," kata Vaxerion dengan ketegasan matang yang menekan dada. Aura dominasinya keluar penuh, begitu berwibawa dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun di kota ini. "Kamu tidak perlu mengepalkan tanganmu terlalu keras lagi sampai kukumu memutih seperti itu, Kirei. Biar bajuku saja yang kotor menghadapi racun mereka. Kamu cukup berjalan di sebelahku dengan kepala tegak, menjadi ratu di duniaku."
Rayuan romantis yang dibungkus tindakan nyata dari pria sekelas Vaxerion benar-benar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan ego dan gengsi Kirei siang itu. Air mata harunya akhirnya luruh pelan melewati pipi, menghapus seluruh ketakutan di dalam dadanya. Di tengah Jakarta yang penuh kepalsuan dan intrik bisnis yang kejam, Kirei menyadari seutuhnya kalau dia tidak lagi berjalan sendirian di bawah badai. Ada benteng baja kokoh yang siap melindunginya dari arah mana pun.
Vaxerion terkekeh rendah, suara tawa bariton yang terdengar sangat seksi, hangat, dan menenangkan di telinga Kirei. Dia menarik tubuh ramping Kirei ke dalam pelukannya, mendekap erat kepala Kirei di dada bidangnya yang tegap, membiarkan kain kemeja hitam mahalnya basah oleh air mata haru wanitanya. Genggaman tangannya di punggung Kirei terasa begitu protektif.
Sambil mengusap rambut panjang Kirei dengan penuh kasih sayang, Vaxerion merogoh kotak makanan dari kursi belakang—membuka hidangan makan siang premium berisi potongan daging sapi hangat yang wangi menteganya langsung menguar menggugah selera dan menenangkan lambung Kirei yang sempat melilit sejak subuh. Kencan privat di dalam mobil yang sunyi ini menjadi tamparan telak bagi Bianca, karena di saat wanita Paris itu sibuk menyusun siasat kotor di Menteng, Vaxerion justru sedang sibuk menyerahkan seluruh hati, takhta, dan perlindungannya untuk memanjakan sang Ratu Es Jakarta hingga meleleh seutuhnya.