NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Renungan Raka

Hening.

Itulah satu-satunya kata yang bisa mendeskripsikan suasana di dalam markas Tim Aurora pada pukul tiga pagi. Lampu-lampu koridor utama sudah dimatikan, menyisakan hanya cahaya redup dari panel indikator server yang berkedip-kedip lemah, seperti detak jantung elektronik yang tak pernah tidur. Di luar jendela kaca tempered setinggi langit-langit, Kota Terapung itu masih terjaga, gemerlap dengan neon-neon ungu dan biru yang memantul di permukaan awan sintetis di bawahnya. Indah, tapi bagi Raka, keindahan itu terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau oleh tangan yang kini ia tatapi lekat-lekat.

Raka duduk sendirian di ruang rekreasi, sebuah sofa kulit usang menjadi satu-satunya saksi bisu kesendiriannya. Di atas meja kopi kaca di hadapannya, tersusun beberapa bingkai foto fisik—barang langka di era digital ini. Ada foto mereka berempat saat pertama kali lolos dari Sektor 7, wajah-wajah mereka penuh debu dan luka, namun senyum mereka lebar hingga ke telinga. Ada foto Bimo yang sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang panci gosong, dan Kai yang pura-pura pingsan karena "keracunan aroma masakan". Dan ada satu foto yang paling sering Raka lihat akhir-akhir ini: foto Elara. Dia sedang tertidur pulas di perpustakaan markas, buku hologram masih melayang di atas dadanya, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah. Dia terlihat begitu damai. Begitu hidup.

Raka mengangkat tangan kanannya. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah cahaya remang-remang. Awalnya, tidak ada apa-apa. Hanya garis-garis tangan biasa, bekas kapalan akibat memegang pedang energi, dan beberapa luka kecil yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, ketika ia memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam, rasa itu datang lagi.

Nyeri.

Bukan nyeri otot biasa setelah latihan keras. Ini adalah sensasi asing, seperti ada ribuan jarum halus yang menusuk-nusuk dari dalam sumsum tulang, menjalar naik dari pergelangan tangan hingga ke siku, lalu menembus dada. Raka menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan erangan yang hampir lolos. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, kuku-kukunya menekan daging telapak tangan hingga memutih.

Perlahan, ia membuka matanya kembali. Dan di sanalah hal itu terjadi.

Selama sepersekian detik, jari-jarinya berkedip. Bukan kedip karena kelelahan saraf, melainkan glitch. Ujung jari telunjuknya seolah-olah kehilangan bentuk, pecah menjadi piksel-piksel kotak kecil berwarna abu-abu statis, sebelum kembali solid seperti semula. Raka menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan pahit. Ini bukan pertama kalinya. Seminggu terakhir, frekuensinya meningkat. Dulu hanya sekali sebulan, sekarang bisa terjadi beberapa kali dalam sehari jika ia terlalu lelah atau stres.

Dia tahu apa artinya. Tubuh fisiknya tidak lagi mampu menampung beban energi "Fajar" yang ia gunakan selama pertempuran di Arc 2 dan 3. Sistem biologisnya sedang runtuh, perlahan tapi pasti, seperti bangunan tua yang fondasinya digerogoti rayap tanpa pemiliknya sadari. Dokter di pusat medis kota terapung sudah memberi peringatan halus bulan lalu tentang "ketidakstabilan seluler", tapi Raka menolak untuk melakukan pemeriksaan mendalam. Ia tahu hasilnya. Ia tahu batas waktunya.

"Jadi begini rasanya..." bisik Raka pada keheningan. Suaranya serak, hampir tak terdengar. "Waktu yang tersisa."

Ia bangkit dari sofa, kakinya terasa berat seolah gravitasi di ruangan ini lebih besar daripada di tempat lain. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju jendela besar. Refleksi wajahnya terpantul di kaca. Wajah yang biasanya selalu tersenyum, selalu menjadi sandaran bagi teman-temannya, kini tampak pucat dan lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang bahkan foundation Elara pun mungkin akan kesulitan menutupinya.

Raka memikirkan Elara. Gadis itu baru saja tertidur lelap di kamarnya setelah pesta ulang tahun mendadak tadi sore. Ingatan tentang air mata haru Elara saat menerima kalung liontin "Fajar Kecil" masih segar di benaknya. "Aku berharap waktu berhenti di detik ini," kata Elara.

Raka tersenyum pahit. Andai saja bisa. Andai saja ia memiliki kekuatan untuk membekukan waktu, ia akan melakukannya tepat di momen itu. Ia ingin Elara tetap tersenyum seperti itu, tanpa tahu bahwa pria yang mencintainya sedang menghitung mundur hari-hari terakhirnya. Ia ingin Bimo terus memasak masakan anehnya tanpa khawatir tentang bahan baku yang semakin langka. Ia ingin Kai terus bermain musik tanpa harus memikirkan not-not perang.

Tapi realita tidak seindah fiksi.

"Aku tidak bisa memberitahu mereka," gumam Raka, napasnya membentuk embun tipis di kaca jendela yang dingin. "Jika Bimo tahu, dia akan panik dan mencoba membuat obat ajaib yang tidak ada. Jika Kai tahu, dia akan marah dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mendeteksi gejala ini lebih awal. Dan Elara..."

Raka menutup matanya. Bayangan Elara yang menangis histeris, merobek-robek rambutnya, dan menjeritkan namanya muncul di kepalanya. Rasa sakit di dadanya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam dibandingkan nyeri glitch di tangannya.

"Elara tidak boleh hancur," putusnya Raka dalam hati. "Biarkan dia mengingatku sebagai Raka yang kuat. Biarkan kenangan terakhir kita adalah tawa, janji road trip, dan dansa di bawah lampu kristal. Bukan rumah sakit. Bukan monitor detak jantung yang datar. Bukan pemakaman."

Ini adalah keputusan egois, mungkin. Sangat egois. Ia merampas hak mereka untuk bersiap-siap, untuk mengucapkan selamat tinggal yang layak. Tapi Raka menganggap ini sebagai bentuk perlindungan terakhirnya. Sebagai pemimpin, tugasnya bukan hanya melindungi nyawa mereka dari peluru musuh, tapi juga melindungi hati mereka dari kebenaran yang terlalu berat untuk ditanggung sebelum waktunya.

Ia berbalik dari jendela, berjalan menyusuri koridor menuju kamar-kamar timnya. Pintu kamar Bimo tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tercium aroma samar rempah-rempah sisa eksperimen masakannya. Raka tersenyum kecil. "Terima kasih sudah selalu mengisi perut kami, Bim. Maaf kalau aku tidak bisa menghabiskan semua masakanmu nanti."

Ia melangkah ke kamar sebelah. Kamar Kai. Terdengar dengkuran halus dan suara kipas pendingin server mini yang menyala. Kai pasti ketiduran setelah mengoding patch keamanan terbaru. "Mainkan lagu itu lagi untukku nanti, Kai. Lagu yang kau ciptakan saat kita pertama kali bertemu. Itu lagu favoritku."

Langkah kakinya terhenti di depan satu pintu terakhir. Pintu kamar Elara.

Raka mengangkat tangannya, hendak mengetuk, namun urung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sakit, tapi karena ketakutan. Ketakutan bahwa jika ia melihat Elara sekarang, ia akan gagal mempertahankan topengnya. Ia akan lari, memeluk gadis itu, dan menceritakan semuanya. Ia akan meruntuhkan benteng yang sudah susah payah ia bangun.

Alih-alih mengetuk, Raka menempelkan dahinya pada kayu pintu yang dingin. Ia memejamkan mata, membayangkan Elara di balik sana, tidur dengan selimut bintang-bintang hologram yang ia program khusus agar Elara tidak takut gelap.

"Jaga diri baik-baik, El," bisik Raka, suaranya bergetar hebat. Air mata akhirnya menetes, jatuh ke lantai karpet tanpa suara. "Maafkan aku. Maafkan aku karena harus pergi duluan. Maafkan aku karena ingkar janji nanti. Tapi percayalah... setiap detik yang kita habiskan bersama, adalah detik paling berharga dalam hidupku yang singkat ini."

Ia berdiri tegak, mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan jejak air mata. Ia menarik napas panjang, mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi Raka yang ceria, Raka yang optimis, Raka yang tidak kenal takut. Topeng itu sudah melekat sempurna.

"Malam ini tenang," kata Raka pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang gelisah. "Besok akan menjadi hari yang bagus. Kita akan punya misi mudah. Kita akan piknik. Kita akan membuat rencana masa depan."

Masa depan yang tidak akan pernah ia masuki.

Raka berbalik, meninggalkan pintu kamar Elara tanpa pernah mengetuknya. Ia berjalan kembali ke ruang rekreasi, mengambil foto grup terbaru mereka, dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya, tepat di dekat jantungnya yang masih berdetak, meski hitung mundurnya sudah dimulai.

Di luar, langit mulai menunjukkan tanda-tanda fajar. Warna ungu tua perlahan bergeser menjadi abu-abu, menandakan bahwa malam telah berakhir. Bagi orang lain, ini adalah awal dari hari baru yang penuh harapan. Bagi Raka, ini adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan, tanpa peduli betapa keras ia mencoba menahannya.

Ia duduk kembali di sofa, menunggu matahari terbit, menunggu senyuman palsu berikutnya yang harus ia kenakan, menunggu akhir yang sudah ia terima dengan lapang dada, demi cinta yang ia simpan rapat-rapat.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!