Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tagihan Sewa
Teriakan lantang Lubuo terdengar oleh para prajurit yang berlarian untuk melihatnya. Mereka semua terdiam membisu, bahkan para jenderal tidak bisa berbuat banyak.
Lalu, seorang jenderal paruh baya berbadan tegap menghampiri Lubuo yang turun bersandar di pohon.
“Jenderal, sepertinya kita terkena perangkap,” ucapnya menyimpulkan.
Jenderal Lubuo menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Jenderal Xuan, aku tidak merasakan adanya jebakan selain …,” ucapnya terputus, “ada sesuatu yang tidak kita ketahui.”
“Bagaimana mungkin?” Jenderal Xuan tidak merasakan adanya kejanggalan di wilayah Gerbang Timur.
“Sudahlah. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengatur ulang rencana secepatnya,” ujar Lubuo tidak ingin menunda waktu.
Semua prajurit ditarik kembali ke Gerbang Timur.
Sementara itu di ibu kota, Kaisar Qin Zhang menerima laporan dari tim pengintai yang ditempatkan di Kota Feiyun melalui orang kepercayaannya.
“Prediksi Yang Mulia benar terjadi, kapal perang dari Kekaisaran Dazin tidak menepi di pelabuhan Kota Feiyun, melainkan di wilayah timur, tepatnya di zona bebas. Apa rencana Yang Mulia selanjutnya?” ujar Yan Song disertai pertanyaan.
Kaisar Qin tertawa ringan lalu berkata, “Kita tidak perlu terburu-buru menghadapi mereka. Situasi di sana akan menarik dan ini berbeda dari perang biasanya.”
“Bagaimana dengan Gerbang Timur? Mereka pasti membangun kamp di sana,” tanya Yan Song kembali.
“Pergilah, aku butuh detail situasi sebelum memutuskan!”
“Baik, Yang Mulia.”
Senyum lebar menghiasi wajah Kaisar Qin yang berdiri menghadap jendela. Secara senyap, sang kaisar sudah mengamati situasi yang terjadi di wilayah timur kekaisarannya.
“Yang Mulia, ada perubahan situasi di wilayah timur,” ucap seorang pria bertopeng yang berlutut di belakang Kaisar.
“Lanjutkan!” pinta Kaisar Qin tanpa membalikkan badan.
“Semua kapal yang berada di laut timur terbakar, dan sebelumnya logistik mereka menghilang tanpa diketahui pelakunya. Bahkan, kami sendiri tidak mendapatkan jejak. Sepertinya ada ahli tersembunyi di balik semua itu,” beber pria bertopeng.
“Menarik dan sangat mengejutkan!” seru Kaisar tampak begitu senang.
Ia kemudian memanggil seorang kasim ke ruang pribadinya.
“Pergilah ke timur dan perintahkan Jenderal Yao Ming untuk menarik mundur pasukan,” titahnya.
Tanpa menjawab, sang kasim menjura lalu pergi.
Kembali ke Gerbang Timur.
Para jenderal Kekaisaran Dazin berkumpul di lantai atas Paviliun Hitam. Jenderal Lubuo yang memimpin rapat darurat.
“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang sedang kita hadapi saat ini, tetapi yang paling penting adalah mendapatkan kebutuhan pangan secepatnya untuk menghidupi semua prajurit,” ujar Lubuo.
“Untuk masalah pangan, aku sudah mengirim pasukan pemburu ke Kota Feiyun dengan dukungan dari pasukan pemanah. Seharusnya cukup untuk menghadapi dua ribu prajurit penjaga kota,” timpal Jenderal Hei Feng.
“Bagus, tapi logistik kita yang hilang bukan hanya pasokan pangan, ada juga perlengkapan senjata, dan perbekalan medis. Tambahkan seribu prajurit untuk membawa semua kebutuhan kita!” Lubuo ingin semua yang hilang bisa secepatnya terganti.
“Baik,” Jenderal Hei Feng kembali menimpali.
“Untuk blokade teritorial, aku percayakan kepada Jenderal Xuan.”
“Tim pengintai sudah bergerak mengantisipasi kedatangan musuh dan secepatnya kita bisa mengisolasi wilayah timur ini,” jelas Jenderal Xuan menanggapi, lalu melanjutkan, “Beberapa hari ini kita masih bisa bertahan dari ketiadaan pangan. Namun, dengan kejadian hari ini, apakah kita aman berada di sini?”
Jenderal Lubuo mengelus janggut merahnya seraya menatap semua jenderal.
“Untuk mengantisipasi situasi yang tidak bisa diprediksi, kita tempatkan prajurit dalam formasi melingkar,” cetusnya.
Semua jenderal mengangguk setuju.
“Rencana utama kita untuk mengambil kota bisa kita lanjutkan setelah tim pemburu kembali dari Kota Feiyun,” jenderal Lubuo menambahkan.
Sebelum sesi rapat hendak dibubarkan oleh Lubuo, seorang komandan datang meminta audiensi.
“Katakan apa yang membawamu ke sini?” desak sang jenderal. Ia tidak bisa lagi menunda rencananya.
“Lapor, Jenderal. Di belakang arena pertarungan merupakan area kosong yang dikelilingi perbukitan. Kami sudah menelusuri dan memastikan cukup aman untuk para prajurit mendirikan tenda. Mohon persetujuan Jenderal.”
“Jumlah tenda kita terbatas, tapi baiklah, aku setuju.”
Lubuo kemudian melirik Jenderal Xuan dan berkata, “Formasi melingkar tetap dijalankan dengan sistem bergilir.”
“Baik,” sahut Jenderal Xuan.
***
Di area terdalam, Qin Zhao sedang asyik menyandarkan kepala di paha Zhi Ruo yang terus mengipasinya.
“Tuan, lihatlah! Para prajurit terus berdatangan memasuki perangkap. Apa Tuan yakin tidak butuh bantuan? Aku juga ingin ikut serta membantai mereka,” kata Zhi Ruo.
“Ada waktunya Nyonya membantuku. Sekarang aku hanya ingin berlatih tanpa gangguan,” balas Qin Zhao.
“Apa kehadiranku mengganggu Tuan?”
“Tentu saja mengganggu,” ucapan Qin Zhao membuat Zhi Ruo merengut.
“Aku ingin tidur. Nanti bangunkan aku kalau area perangkap sudah penuh!” imbuhnya.
“Baik, Tuan.”
Saat matahari tenggelam di ufuk barat, lebih dari tiga ribu prajurit memenuhi area terdalam wilayah Gerbang Timur. Zhi Ruo menepuk lembut pipi Qin Zhao untuk membangunkannya.
“Tuan, mereka semua sudah siap dihabisi,” ucapnya.
Qin Zhao membuka mata sambil menguap. Wajah cantik Zhi Ruo menyambut tatapannya.
“Saatnya beraksi!” kata Qin Zhao yang kemudian berdiri, memakai topeng, serta menghunus pedang.
“Pedang yang kau berikan kenapa cepat sekali berkarat?” Qin Zhao melihatnya heran.
“Maaf, Tuan. Pedang biasa menang seperti itu. Apa mau ditukar dengan pedang lainnya?” Zhi Ruo merasa tidak enak hati melihat tuannya memakai pedang berkarat.
“Tidak perlu,” tolak Qin Zhao, “aku bisa mengasahnya di tubuh para prajurit.”
Qin Zhao kemudian menghilang lalu muncul di samping seorang komandan yang tengah memberikan arahan di hadapan ribuan prajurit.
Serentak semua prajurit mengacungkan tombak.
“Siapa kau?” tanya sang komandan dengan mengacungkan ujung pedang ke wajah Qin Zhao.
“Aku pemilik wilayah ini. Kedatanganku untuk menagih biaya sewa kalian selama berada di sini. Per hari dikenakan biaya sepuluh tael emas." Tatapan Qin Zhao menyapu barisan prajurit seolah ia menghitungnya. "Kulihat jumlah kalian ada lima ribu orang, jadi aku akan memberikan potongan biaya sekitar lima persen,” beber Qin Zhao santai.
“Kuberi waktu setengah dupa untuk kalian membayarnya,” imbuhnya.
Sang komandan terbahak-bahak mendengarnya, begitu juga para prajurit yang tak kuasa menahan tawa hingga membuat wilayah terdalam Gerbang Timur bergema.
“Waktu kalian habis!” Qin Zhao tersenyum di balik topengnya, dan satu napas berikutnya ….
Tiga ribu lebih kepala para prajurit berjatuhan mengiringi tawa lantang dari sang komandan yang belum usai.
Qin Zhao berdiri menatapnya dengan kedua kaki menyilang dan satu tangan menopang dagu.
“Tuan tidak capek tertawa terus? Semua anak buahmu sudah tertidur pulas dengan kepala yang terpisah,” kata Qin Zhao yang membuat tawa si komandan terhenti seketika.
“Ka … kau!” Terperangah wajah si komandan melihat ribuan prajurit terbaring di atas tanah yang dibanjiri darah.
“Sekarang harga sewa naik menjadi lima juta tael emas. Tenang saja, itu sudah termasuk biaya kebersihan. Ayo bayar sekarang!” balas Qin Zhao yang satu tangannya terulur dengan telapak terbuka.
Tubuh si komandan bergetar dan pedangnya jatuh. Ia kemudian berlutut dengan cucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
“Senior, ampuni hamba!” pintanya mengiba.
“Tinggal dibayar saja kok susah betul.” Qin Zhao malas mendengarnya.
“Maaf, Senior. Hamba tidak memiliki uang sebanyak itu,” kata si komandan, jujur.
“Begini saja, kau kumpulkan semua kantong penyimpanan pasukanmu! Waktumu satu dupa dari sekarang!”
Semakin bergetar tubuh si komandan. Waktu satu dupa untuk mengambil kantong penyimpanan dari tiga ribu lebih prajurit tidaklah cukup, tetapi hanya itu satu-satunya jalan hidup. Ia pun bergegas mengambilnya.
Lebih dari dua dupa berlalu, si komandan kembali dengan tumpukan kantong penyimpanan yang dikumpulkannya ke dalam kain tenda.
“Senior, aku sudah mengumpulkan semuanya tanpa ada satu pun yang terlewat,” ucapnya melaporkan seraya menyerahkannya ke hadapan Qin Zhao.
“Ya sudah, kau boleh pergi,” balas Qin Zhao setelah memasukkan semua harta ke alam pikirnya.
Si komandan bersujud beberapa kali sebelum akhirnya pergi melarikan diri, tetapi Qin Zhao langsung menghadangnya.
“Eh, Senior. Ada apa?” Si komandan menggigil melihatnya.
“Tuan, maksudku kau boleh pergi meninggalkan dunia ini.”
Slash!
Satu tebasan cepat berhasil memisahkan kepala si komandan beserta nyawanya.