Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saridewi marah.
Sore itu dirumah Bagas. Pintu baru terbuka, tas Bagas belum sempat ditaruh, Suara tinggi Saridewi sudah menyambar duluan.
" Jadi benar kamu lepas hak asuh anak? Begitu saja?" Saridewi berdiri ditengah ruang tamu, baju kemejanya kusut, rambutnya juga terlihat berantakan. Tidak seperti penampilannya yang biasa glamor. Saridewi tahu dari pak Arman.
Bagas menutup pintu pelan. Capek. Dia ingin istirahat sekarang. " Ma, Aku tidak mau ribut sekarang."
" Tidak mau ribut?" Saridewi tertawa sinis. " Laki laki waras mana yang mau menyerahkan hak asuh anaknya ke mantan istrinya tanpa perlawanan? kamu itu bapaknya. Mereka darah daging kamu, Bagas." Emosi Saridewi. Dadanya naik turun.
" Justru karena aku bapaknya, ma. Makanya aku melepaskan hak asuh anak anak ke ibunya." Bagas menaruh kunci mobilnya diatas meja." Galang trauma setiap melihat aku, Gilang masih kecil, tapi dia bingung. Kalau aku paksa ambil hak asuh anak anak. mereka hancur, Ma." Jelas Bagas.
"Hancur?" Saridewi melangkah maju. " Mana ada anak yang hancur tinggal bersama dengan bapaknya? Yang hancur itu harga diri kamu sebagai seorang papa."
" Tolong,ma. Biarkan aku sendiri sekarang. " Bagas memegang keningnya.
" Tidak bisa. Kamu harus melakukan banding, Mama tidak rela. Seumur hidup mama tidak pernah kalah.."
" Iya, Mama tidak pernah kalah, maka dari itu Mama menghancurkan istri pertama papa, hanya untuk mewujudkan ambisi Mama menjadi istri satu satunya." Bagas menatap tajam Saridewi.
Plak.
Tamparan Saridewi mendarat dipipi Bagas. kencang.
Ruangan hening sekian detik.Hanya suara AC dan napas mereka yang memburu.
Bagas tidak balas. Dia cuman memegang pipinya, lalu tertawa miris." Ini ya? Ini yang Mama mau? Melihat aku mengemis hak asuh, rebutan anak dipengadilan dan buat Galang makin membenci aku.Itu yang Mama mau?"
Saridewi membuang napas." Mama mau kamu melawan." Saridewi teriak. matanya membesar." Mama mau kamu itu menang, kamu itu bapaknya. Kamu punya hak. Kenapa begitu saja susah buat kamu? Mama tidak mau kamu memberi nafkah cuma cuma ke Raya, dengan alasan anak."
Bagas melihat mamanya, ternyata itu alasan mamanya meminta hak asuh anak, karena dia tidak rela uangnya diberikan ke Raya.
Bagas mundur selangkah. Menatap wanita yang dipanggilnya Mama. Rahangnya mengeras. " Jadi dari awal Mama meminta hak asuh anak, hanya karena Mama takut aku ngasih uang ke Raya? Aku kira Mama benar benar sayang sama Galang dan Gilang. Tapi ternyata Mama.. " Bagas tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.
Saridewi panik." Bukan begitu...Mama sayang sama anak anak kamu. Mama cuman tidak terima kamu kalah. Mama tidak bisa melihat hal itu, Kamu sedih Mama juga sedih, Bagas."
" Yang buat aku kalah itu, diri aku sendiri ma, Aku yang sudah menghancurkan semuanya, Semua salahku." Bagas menangis dihadapan Saridewi.
Airmata Bagas jatuh. Bukan isak. tapi lelehan diam yang lebih sakit daripada tamparan.
Saridewi kaku, tamparan ditangannya sendiri terasa panas. Baru kali ini dia melihat anak laki lakinya. Jagoannya. Nangis hancur didepannya, bukan karena kalah bisnis. Tapi karena kalah jadi bapak.
" Gas," Suaranya melemah
" Aku yang selingkuh, Ma." Bagas bicara sambil tertawa pedih. Airmatanya terus menetes. " Aku yang tiap malam bohong ke Raya , Lembur. padahal aku sedang bersama perempuan lain. Aku yang buat Galang mengintip dari balik gorden, karena takut aku membuat mamanya sedih lagi. Aku yang buat Gilang selalu bertanya, kenapa papa tidak datang datang?"
Bagas menghapus airmatanya kasar." Lalu, Mama paksa aku untuk mengambil hak asuh anak anak? Biar mereka ingat selamanya. Papanya merebut mereka dari mamanya dipengadilan? Mama mau Mama dengar anak anak bilang, Papa jahat."
Saridewi mundur, duduk lemas disofa. wajahnya yang selalu dipakaikan make up tidak bisa menutupi tanda tuanya." Mama...mama tidak mau kamu dimanfaatkan, Gas. Mama takut Raya pakai anaknya untuk minta uang terus sama kamu. kamu kerja banting tulang . Dia enak enakan.."
" Raya juga bekerja, Ma. Raya tidak pernah minta." Suara Bagas tinggi. " Dari sidang pertama sampai putusan, Raya tidak ada minta harta gono gini. Dia cuman minta hak asuh anak . Nafkah anak itu Hakim yang memutuskan dan jumlahnya tidak seberapa dibandingkan luka yang aku buat dihatinya. "
Hening. Hanya ada suara jam diruang tamu. Bagas jongkok. Nadanya turun. Capek. " Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak anak, Ma."
Saridewi membuang wajahnya. Matanya merah.Baru kali ini dia mengerti, ego dia sebagai wanita yang tidak pernah mau kalah. nyaris mengorbankan kebahagiaan cucu cucunya.
Bagas berdiri. tarik napas." Uang bisa aku cari, ma.Tapi kepercayaan Galang? maaf dari Gilang pas dia sudah mengerti semuanya? Itu sama sekali tidak bisa dibeli dan aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau anak anak semakin benci padaku. "
Bagas mengambil kunci mobil yang ada diatas meja.
" Mau kemana kamu?" Suara Saridewi parau.
" Ke makam papa." Jawab Bagas pelan." Mau minta maaf. Dulu papa meninggalkan istri pertamanya karena mama yang suruh. Sekarang aku meninggalkan istriku karena menurunkan ego sendiri. Kita sama, Ma. Sama sama menghancurkan rumah tangga pakai tangan sendiri. "
Kalimat itu menampar Saridewi lebih keras daripada tamparannya tadi ke pipi Bagas.
Bagas jalan kepintu, berhenti sebentar tidak menengok ke belakang." Ma, kalau mama beneran sayang sama anak anak aku, Tolong jangan ajari mereka untuk membenci ibunya, Jangan ajari kalau uang lebih penting daripada kata maaf. Karena kalau mama melakukan itu, Mama bukan saja kehilangan aku, Tapi mereka juga.. "
Pintu tertutup. Pelan.
Saridewi sendirian, Dimeja ada foto Galang sama Gilang waktu lebaran tahun lalu. Tersenyum bahagia sambil memeluk Bagas.
Tangan Saridewi bergetar mengambil foto itu. Baru sadar. Dari tadi dia berteriak hak asuh. Tapi tidak sekalipun bertanya. Bagaimana keadaan Galang dan Gilang sekarang? Apa mereka sudah makan? apa mereka sehat? Tidak ada pertanyaan seperti itu.
Saridewi menangis. Bukan karena kalah. Tapi karena baru mengerti. Dia hampir saja mengajarkan Anaknya menjadi seperti dirinya. Menang diatas luka orang lain.
Betapa ambisinya dia dulu. Demi mendapatkan apa yang dia mau. Dia rela menjadi istri kedua dan menghancurkan istri pertamanya dengan kata asutan. Sehingga istri pertamanya berhasil disingkirkan dan semua harta suaminya jatuh ketangan nya.
Dia tampak menyesal. Entah itu benar benar penyesalan selamanya atau hanya saat ini saja. Tangganya masih gemetar memegang foto Galang sama Gilang. Dua cucunya itu tersenyum lebar.
Sekarang. jangankan untuk memeluk mereka. melihat senyum seperti itu saja sudah tidak mungkin lagi. jadi bapak saja. anaknya hampir gagal.
Saridewi hapus airmatanya. tapi airmatanya jatuh lagi. Dia ingat. Setiap kali Galang bertemu dengannya, Galang pasti sembunyi .
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN