Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Neraka
"Kamu terlihat sangat segar pagi ini, Naya. Apa ketidakhadiranku benar-benar membuatmu sedalam itu beristirahat?"
Suara Arkan memecah keheningan lobi apartemen. Pria itu berdiri di sana, baru saja turun dari mobil dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia menatap Naya yang berdiri kaku di samping Janu.
"Aku hanya mengikuti saran ibumu untuk banyak tidur, Arkan," jawab Naya dengan nada sedingin es.
"Begitu? Baguslah." Arkan melangkah mendekat, mengecup kening Naya di depan para staf lobi—sebuah gestur yang membuat Naya ingin berteriak jijik. "Ayo masuk ke mobil. Dokter spesialis itu sudah menunggu di rumah sakit ayahmu."
Naya melirik Janu yang sedang memasukkan koper Arkan ke bagasi. Wajah Janu tampak seperti mayat hidup. Pesan ancaman Naya semalam jelas telah menghancurkan ketenangannya.
"Kenapa diam? Ayo," ajak Arkan sambil membukakan pintu mobil untuk Naya.
Di dalam mobil yang bergerak menuju rumah sakit, keheningan terasa sangat menekan. Arkan duduk bersandar, matanya terus tertuju pada ponselnya, sementara Naya menatap keluar jendela, memikirkan dokumen yang ia sembunyikan di dalam album foto.
"Naya," panggil Arkan tanpa menoleh.
"Ya?"
"Selama aku di Singapura, apa saja yang kamu bicarakan dengan Janu?"
Jantung Naya berdegup kencang, tapi ia tetap tenang. "Hanya soal menu makan siang dan keluhan ibumu. Kenapa? Kamu tidak percaya pada laporan harian asistenmu?"
"Aku percaya pada asistenku, tapi aku tidak percaya pada istri yang baru saja ketahuan mencoba membobol serverku minggu lalu," Arkan menoleh, menatap Naya dengan tajam. "Janu bilang kamu sempat ingin keluar untuk mencari udara segar. Benar begitu, Janu?"
Janu yang sedang menyetir tersedak ludahnya sendiri. "I-iya, Pak. Mbak Naya sempat mengeluh bosan di apartemen."
"Lalu kenapa kamu tidak mengizinkannya, Janu?" tanya Arkan dengan nada menguji.
"Karena Bapak sudah memberi perintah tegas untuk tidak membiarkan Mbak Naya keluar tanpa seizin Bapak," jawab Janu dengan suara bergetar.
Arkan tersenyum tipis, lalu kembali menatap Naya. "Lihat, Naya? Aku hanya menjagamu. Dunia di luar sana sangat berbahaya bagi wanita yang baru saja menjadi pusat perhatian karena pernikahan mendadak."
"Menjaga atau mengurung? Ada perbedaan tipis di antara keduanya, Arkan," sahut Naya tajam.
"Di mataku, keduanya sama saja jika tujuannya adalah keamanan asetku."
Sesampainya di rumah sakit, Naya berlari kecil menuju ruang rawat ayahnya. Di sana, seorang pria paruh baya dengan jas putih sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Bagaimana keadaan Ayah, Dok?" tanya Naya terburu-buru.
"Kondisi Pak Baskara masih stabil, namun belum ada tanda-tanda kesadaran penuh. Pak Arkan meminta saya melakukan pemeriksaan saraf lebih mendalam hari ini," jelas Dokter itu.
Naya menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Ayah... ini Naya. Naya datang."
Arkan berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu dengan tangan di saku celana. "Dokter, apa benar ada kemungkinan dia tidak akan pernah bangun lagi?"
Naya menoleh dengan amarah yang meluap. "Kenapa kamu bertanya seperti itu di depannya?"
"Aku hanya bertanya soal probabilitas medis, Naya. Kita harus realistis. Jika dia tidak bangun, siapa yang akan mengurus sisa administrasi perusahaannya yang masih berantakan?" Arkan mendekat, berdiri tepat di samping Naya.
"Administrasi atau surat wasiat?" desis Naya pelan agar dokter tidak mendengar.
Arkan hanya menyeringai. "Dokter, tolong tinggalkan kami sebentar. Saya ingin bicara pribadi dengan istri saya."
Begitu dokter keluar, Arkan mencengkeram bahu Naya. "Dengar. Aku tahu kamu menemui Baskoro kemarin."
Naya membeku. Seluruh aliran darahnya seolah berhenti. "Apa yang kamu bicarakan?"
"Jangan bodoh, Naya. Kamu pikir jalur limbah itu tidak punya sensor panas? Kamu pikir taksi yang kamu naiki itu tidak terlacak oleh sistem keamananku? Aku tahu kamu menemui paman pecundangku itu di kafe tua."
Naya mencoba melepaskan cengkeraman Arkan. "Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak menghentikanku kemarin?"
"Karena aku ingin tahu seberapa banyak informasi yang dibocorkan pria tua itu padamu. Jadi, apa yang dia berikan? Audit palsu? Cerita fiksi soal hutang ayahmu?" Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Naya. "Baskoro hanya iri karena aku yang berhasil mengambil alih perusahaan ini, bukan dia."
"Dia memberikan bukti bahwa kamu mencoba membunuh Ayahku!" teriak Naya, suaranya tercekat.
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang sangat mengerikan. "Mencoba membunuh? Naya, jika aku ingin ayahmu mati, dia sudah dikubur enam bulan yang lalu. Aku justru membayar rumah sakit terbaik ini agar dia tetap hidup. Kenapa? Karena dia adalah sandera terbaik yang pernah aku miliki untuk membuatmu tetap merangkak di bawah kakiku."
"Kamu... kamu benar-benar gila!"
"Mungkin. Tapi gila yang berkuasa," Arkan melepaskan bahu Naya. "Sekarang, berikan dokumen itu padaku."
"Dokumen apa? Aku tidak membawa apa pun!"
"Jangan berbohong! Aku tahu Baskoro memberikan amplop cokelat. Serahkan sekarang, atau aku akan menyuruh dokter di luar sana mencabut alat bantu napas ayahmu detik ini juga."
Naya menatap wajah ayahnya yang pucat, lalu menatap Arkan. "Kamu tidak akan berani melakukannya di rumah sakit publik ini."
"Kamu ingin bertaruh? Kamu ingin melihat seberapa cepat pengacaraku bisa membuat ini terlihat seperti 'kegagalan medis' yang tidak terduga?" Arkan merogoh ponselnya, jarinya berada di atas nomor seseorang.
"Tunggu!" Naya berteriak. "Aku tidak membawanya ke sini! Dokumen itu ada di apartemen! Tersembunyi!"
Arkan menurunkan ponselnya. "Di mana?"
"Aku tidak akan memberitahumu sampai aku yakin Ayah mendapatkan jadwal operasi yang dijanjikan dokter tadi."
"Kamu mencoba bernegosiasi denganku menggunakan nyawa ayahmu sendiri? Berani sekali kamu," Arkan menyipitkan mata. "Baik. Kamu punya waktu sampai malam ini. Jika saat aku pulang dokumen itu tidak ada di mejaku, kamu tidak akan pernah melihat ayahmu lagi. Mengerti?"
Naya hanya mengangguk lemas.
Dalam perjalanan pulang, Arkan tidak bicara sepatah kata pun. Ia terlihat sangat marah. Begitu sampai di apartemen, ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu.
Naya berlari ke kamarnya, mencari album foto itu. Tapi saat ia membukanya, amplop cokelat itu sudah hilang.
"Tidak mungkin... tadi pagi masih ada di sini!" Naya membongkar seluruh isi kamarnya dengan panik.
Ia berlari keluar dan menemukan Janu di lorong. "Janu! Di mana amplop cokelat di kamarku? Kamu yang mengambilnya?"
Janu menatap Naya dengan mata berkaca-kaca. "Maaf, Mbak... Ibu Sofia masuk ke kamar Mbak saat Mbak sedang di rumah sakit tadi. Beliau menemukan album itu."
Naya merasa dunianya runtuh. "Sofia? Di mana dia sekarang?"
"Di ruang kerja Pak Arkan. Beliau baru saja masuk ke sana membawa amplop itu."
Naya langsung berlari menuju ruang kerja Arkan. Tanpa mengetuk, ia mendobrak pintu. Di dalam, Sofia sedang duduk di kursi tamu, sementara Arkan berdiri di depan jendela memegang lembaran kertas dari amplop cokelat tersebut.
"Jadi ini yang kamu sembunyikan, Naya?" Sofia berdiri, menatap Naya dengan kebencian yang mendalam. "Kamu mencoba menghancurkan putraku dengan sampah dari Baskoro ini?"
"Itu fakta, bukan sampah! Arkan menjebak Ayahku!" teriak Naya.
Arkan berbalik. Wajahnya sangat tenang, tapi matanya memancarkan api kemarahan. Ia meremas kertas-kertas itu dan melemparkannya ke dalam perapian listrik yang menyala di sudut ruangan.
"Tidak!" Naya mencoba menyelamatkan kertas itu, tapi Sofia menahan lengannya.
"Sudah terlambat, Naya. Bukti fisikmu sudah jadi abu," ucap Arkan dingin. "Sekarang kamu tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada Baskoro, tidak ada Janu, dan tidak ada lagi belas kasihan dariku."
"Arkan, dengar... aku akan melakukan apa saja, tapi tolong jangan sakiti Ayah," isak Naya.
"Kamu sudah terlambat untuk memohon. Kamu melanggar peraturan utamaku: jangan pernah berkhianat," Arkan berjalan mendekat, suaranya merendah hingga hanya Naya yang bisa dengar. "Besok, kamu akan ikut aku ke Bogor. Kita akan menemui Hendra. Tapi bukan untuk menyelamatkannya, Naya. Kamu akan melihat sendiri bagaimana aku menangani orang yang berani bicara terlalu banyak."
Naya gemetar hebat. "Bogor? Kamu akan membunuhnya?"
"Aku akan memberinya pensiun yang layak. Dan kamu akan menjadi saksi matanya. Agar kamu tahu apa yang terjadi jika kamu mencoba melakukan ini lagi," Arkan menepis tangan Sofia dari lengan Naya. "Masuk ke kamarmu. Dan Janu!"
Janu muncul di ambang pintu, kepalanya tertunduk.
"Bawa dia masuk. Kunci pintunya. Dan jika dia hilang lagi, pastikan kamu sudah menyiapkan surat wasiatmu sendiri," perintah Arkan.
Naya diseret keluar oleh Janu. Sebelum pintu tertutup, ia melihat Arkan kembali menatap jendela, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas kecil yang tidak berarti.
"Mbak Naya..." bisik Janu saat mereka di lorong. "Mbak harus lari malam ini."
"Lari ke mana, Janu? Dia tahu semuanya!"
"Lewat balkon kamar saya. Saya akan bantu Mbak. Pergi ke Bogor sekarang, sebelum Arkan sampai di sana besok. Hanya Hendra yang bisa menyelamatkan Mbak sekarang."
Naya menatap Janu. "Kenapa kamu membantuku lagi?"
"Karena saya tidak mau menjadi bagian dari pemb*n*han, Mbak. Cepat. Pak Arkan sedang sibuk dengan Ibunya. Ini kesempatan terakhir Mbak."
Naya menghapus air matanya. "Bantu aku, Janu. Bantu aku sekali lagi."