Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 24
Jenia menatap pantulan dirinya di cermin, ia sedikit ragu memakai pakaian yang di pakainya itu untuk bertemu orang tua dari Ansel.
“Cwen, mama bagus tidak memakai ini?”
Jenia menatap putrinya yang sedang anteng memakai sandwich pemberian dari Ansel.
Cwen mendongak dan menatap mamanya dari atas sampai bawah, tidak ada yang aneh, mamanya tetap terlihat sangat cantik dengan dress sederhana yang di pakainya.
“Mama tetap cantik kok, kenapa ma?”
Jenia menggeleng lalu kembali menatap pantulan dirinya pada cermin.
“Apa ini terlihat pantas untuk bertemu orang tua pak Ansel?”lirih Jenia memutar-mutar tubuhnya untuk melihat seberapa cantik dress yang di pakainya.
“Mama memangnya kita mau kemana? Kok mama pakai baju bagus segala?”tanya Cwen menghampiri mamanya, ia juga menatap pantulan dirinya di cermin. Terlihat cantik dengan gaun putih selutut dan rambut yang diikat setengah, tapi Cwen masih belum tahu alasan mamanya memakaikan pakaian seperti untuk ulang tahun itu di tubuhnya.
Jenia menoleh dan menatap putrinya dengan senyum kecil menghiasi wajahnya,“kita akan bertemu mama dan papa dari pak Ansel, jadi kita harus memakai pakaian yang bagus dan rapih,” beritahu Jenia.
Cwen menatap mamanya tidak percaya,“mama serius? Kita akan bertemu dengan mama dan papa pak guru?”
Jenia mengangguk, dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri,“Cwen bersikap baik-baik ya saat di rumah pak guru nanti!”
Cwen mengganggguk semangat,“siap ma, Cwen akan bersikap baik saat di rumah pak guru nanti, Cwen janji tidak akan membuat mama malu di hadapan keluarga pak guru,” Cwen mengangkat jari telunjuknya sebagai bentuk tanda ia berjanji kepada mamanya.
Jenia tersenyum lembut lalu mengusap lembut kepala Cwen dengan sayang.
“Jenia kenapa pintu apartementnya tidak di tutup?”
Jenia dan Cwen menoleh secara bersamaan dan menemukan Ansel yang memakai pakain santai masuk ke dalam apartement mereka.
Ansel mematung melihat penampilan Jenia yang menurutnya sangat cantik. Dress merah di bawah lutut tampak sangat cantik dan juga pas di tubuh Jenia, belum lagi rambutnya yang di cepol sehingga hanya menyisakan sedikit rambut di dekat telinganya.
Ansel benar-benar sangat terpana melihat tampilan Jenia yang tidak biasa saja malam ini. Terlihat benar-benar sangat cantik, Ansel bahkan kehilangan kata-katanya saat melihat sang pujaan hati di hadapannya itu.
“Pak guru kenapa melihat mama seperti itu?”
Suara Cwen langsung membuat Ansel tersadar dan cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dari Jenia, ia menatap Cwen yang tampak manis dengan gaun putih di atas lututnya, juga rambutnya yang terurai dan hanya diikat setengah, benar-benar tidak kalah cantik dari mamanya.
“Cwen cantik sekali malam ini,”puji Ansel membuat senyum lebar Cwen langsung terbit dari wajahnya, ia senang ketika pak gurunya memuji dirinya cantik, karena jika di sekolah tidak ada yang pernah memujinya cantik, karena rambutnya yang pirang.
“Pak guru juga tampan kok,”balas Cwen dengan malu-malu.
Ansel tersenyum, lalu kembali menatap Jenia yang langsung mengalihkan pandangannya dari Ansel, membuat Ansel diam-diam tersenyum lucu.
“Kamu sudah siap, ayah dan bunda sudah menunggu kita di rumah, kebetulan ada kakak-kakakku di dalam rumah, jadi bisa sekalian berkenalan dengan mereka, mereka baru saja pulang ke rumah untuk bertemu denganmu,”
Jenia semakin panas dingin di tempatnya. Apa katanya? Semua kakak Ansel datang ke rumah hanya untuk bertemu dengan dirinya? Jika begini ceritanya, Jenia tidak akan menyetujui untuk datang ke rumah Ansel. Karena Jenia semakin tidak percaya diri.
“S-saya, sepertinya tidak jadi datang pak Ansel,” ucap Jenia tersenyum kecil kepada Ansel.
“Loh kenapa tidak jadi datang mama? Harusnya mama senang karena kita akan bertemu dengan keluarga pak guru, agar kita semakin dekat ma dengan pak guru, kalau kita sudah dekat dengan pak guru, pasti kita juga bisa dekat dengan keluarga pak guru,”
Ansel yang ingin berbicara langsung menutup mulutnya begitu Cwen sudah lebih dulu mengambil alih tugasnya. Diam-diam Ansel tersenyum di dalam hatinya karena Cwen sungguh dapat diandalkan dalam membujuk mamanya.
“Kita datang ya ma, sayang loh masa Cwen sudah cantik begini tidak jadi di pamerkan kepada keluarga pak guru,”bujuk Cwen menggoyang-goyangkan tangan mama nya ke kanan dan kek kiri.
Jenia melirik Cwen sebentar lalu kembali menatap Ansel yang menganggukkan kepalanya.
“Baiklah,”ucap Jenia pasrah.
“Yeay, kita jadi datang, kita jadi datang,” Cwen meloncat-loncat Karena perasaan senangnya yang tidak bisa di tahan-tahan.
Jenia berdoa semoga dirinya di terima baik di keluarga Ansel, jika pun tidak di terima baik, semoga keluarga Ansel masih memperlakukannya layaknya tamu. Jenia tidak mau kembali merasa tidak di butuhkan dan juga merasa di buang.
***
“Wah rumah pak guru besar sekali,”
Cwen menatap takjub bangunan rumah bertingkat itu dengan tatapan kagum, bahkan kedua matanya berbinar melihat ada kolam renang cukup besar yang terletak di depan rumah Ansel.
Cwen jadi ingin berenang, ia belum pernah tahu seperti apa rasanya berenang, apakah akan seseru seperti saat ia melihat video di televisi? Atau akan semenyenangkan saat Cwen bermain air di dalam kamar mandi.
“Pak guru, apa pak guru pernah berenang?" pertanyaan polos Cwen sukses menghentikan langkah Ansel yang sedang mengenggam tangan Jenia yang terasa sangat dingin.
“Cwen ingin berenang?”tanya Ansel menatap Cwen dan juga objek yang sedang Cwen tatap bergantian.
Cwen mengangguk semangat, "mau pak guru, Cwen belum pernah merasakan berenang,” antuasias Cwen malah membuat Jenia menoleh dan mendadak merasa bersalah, perasaan gugup juga gugup yang ia rasakan tadi sedikit menghilang di gantikan dengan perasaan bersalah kepada sang putri.
“Maafkan mama yang belum bisa membawa Cwen berenang, lain kali kita berenang bersama, oke?”
“Oke, siap ma,”balas Cwen antuasias, suasana hatinya yang sudah senang semakin senang.
“Sebentar lagi Cwen akan merasakan berenang, sebentar lagi Cwen akan merasakan berenang,” ucap Cwen sepanjang jalan menuju pintu utama rumah Ansel.
Ansel membatin di dalam hatinya, ia berjanji akan membawa Cwen merasakan semua yang belum pernah Cwen rasakan di masa kecilnya bersama sang ayah kandung. Berenang, pergi main ke pantai, bermain ke tempat wahana, pergi ke pasar malam, sekedar jalan-jalan di dalam mall, menonton bioskop, dan juga menghabiskan bersama dengan dirinya. Calon papa.
“Ansel kamu baru sampai juga?”
Jenia dan Ansel reflek menoleh ke belakang, begitu mendengar suara seorang wanita yang menyebut nama Ansel.
“Kak, aku kira kalian semua sudah ada di dalam rumah,”Ansel mengerutkan dahinya melihat kehadiran kakak pertamanya yang senyum-senyum tidak jelas, bahkan ada banyak sekali barang belanjaan di kedua tangan kakaknya itu.
“Kakak pergi ke toko untuk membeli banyak barang.”jawab sang kakak sambil menatap Jenia dan Cwen bergantian. Lalu masuk ke dalam rumah sembari tersenyum lebar.
seru ceritanya