NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Absolut

Rasa hangat dan sesak itu masih tertinggal di rongga dada Alana, berdenyut pelan seiring dengan langkah kaki Axel yang kembali terayun masuk ke dalam mobil.

Tidak jauh dari posisi berdirinya, Arsen memperhatikan seluruh interaksi singkat tersebut dalam keheningan malam yang pekat.

Tatapan mata elangnya yang tajam akhirnya kembali jatuh, mengunci sosok Alana untuk yang terakhir kalinya malam itu, memberikan tekanan psikologis terakhir yang terasa mengikat kebebasan bernapas mahasiswinya.

Lalu, dengan nada suara bariton yang rendah, berat, dingin, dan penuh dengan penekanan yang tidak boleh dilanggar, Arsen menjatuhkan kalimat penutup yang mutlak.

"Mulai detik ini... saya minta kamu sadar posisi, menjauhlah, dan jangan pernah mencoba untuk menjadi terlalu dekat atau mencampuri urusan anak saya lagi. Anggap malam ini tidak pernah terjadi jika kamu masih ingin melihat kedai ini buka besok pagi, Saudari Alana."

Setelah selesai menjatuhkan titah peringatan yang keras dan absolut tersebut, Arsen langsung membalikkan tubuh tegapnya secara efisien.

Pria itu berjalan tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Alana untuk menjawab atau sekadar membela diri. Langkah kaki pantofelnya yang kokoh membawa tubuh tegapnya menuju ke arah mobil sedan mewah berwarna hitam legam yang terparkir di ujung gang sempit.

Pintu mobil hitam itu terbuka secara otomatis. Pria tersebut langsung merunduk, masuk ke kursi belakang dengan gestur yang teramat tenang dan ekspresi wajah yang tetap datar, kaku, seperti biasanya.

Beberapa detik kemudian, suara mesin mobil menyala halus dan kendaraan mewah itu perlahan bergerak maju, lalu mundur meninggalkan gang kecil tempat Alana berdiri.

Alana masih mematung di depan warungnya. Kedua telapak tangannya menggenggam erat selembar kain lap meja yang sedari tadi belum sempat ia simpan ke dalam ember pencucian. Matanya bergerak lambat, mengikuti lampu belakang mobil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan di tikungan jalan raya yang ramai.

Baru setelah atmosfer di sekitarnya kembali sepi—hanya menyisakan desau angin malam yang menerpa spanduk kain kedainya—gadis itu perlahan mengendurkan bahunya yang kaku.

Ia mengembuskan napas panjang yang terasa teramat berat, seolah baru saja melepaskan pasokan udara yang tertahan di paru-parunya sejak tadi.

"Pusing banget..." gumam Alana dengan suara parau.

Ia mengangkat satu tangannya, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan gerakan frustrasi.

Jujur saja, setelah badai verbal yang baru saja lewat, hatinya mendadak terasa tidak enak.

Sangat tidak enak.

Terutama saat melihat ekspresi Axel tadi sebelum masuk ke dalam mobil. Ucapan terima kasih yang tulus dari bocah itu terasa kontras dengan kekejaman dunia luar yang mengungkungnya.

Anak laki-laki itu memang sangat pendiam untuk ukuran anak seusianya. Terkesan sangat dingin, kaku, dan acuh tak acuh terhadap sekitar.

Kadang-kadang bahkan terlihat menyeramkan untuk ukuran anak seusianya, seolah memiliki benteng tak kasat mata yang tebal.

Namun entah kenapa, setelah interaksi malam ini, Alana merasa bisa melihat dengan jelas ada lapisan kesepian yang begitu besar dan pekat, yang bersembunyi rapat di balik tatapan mata kosong bocah tersebut.

Andai situasi dunianya normal, Alana mungkin akan dengan senang hati menjadi tempat bernaung atau sekadar menjadi teman mengobrol bagi anak sekecil itu.

Namun, realita hidup Alana sendiri terlalu rapuh untuk menampung badai orang lain.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia beberapa tahun lalu, Alana dipaksa dewasa oleh keadaan sebelum waktunya. Ia tidak punya tempat bersandar.

Kehilangan dua pilar terpenting dalam hidupnya membuat Alana tahu persis rasanya berjuang sendirian di dunia yang kejam ini tanpa perlindungan siapa pun.

Dan sekarang... setelah melihat langsung bagaimana hubungan Axel dan Arsen di dunia nyata, Alana merasa sedikit mengerti.

Sedikit saja.

Namun, pemahaman yang sedikit itu rupanya sudah lebih dari cukup untuk membuat dadanya terasa ikut sesak dihantam rasa iba yang mendalam.

"Kasihan juga ya si Axel..." gumamnya pelan, menatap lurus ke arah jalanan kosong tempat mobil mewah tadi terparkir.

Namun, belum sempat pikiran melantur lebih jauh, Alana seketika menggelengkan kepalanya dengan sangat keras, mencoba mengusir segala bentuk pemikiran emosional yang bisa mencelakai dirinya sendiri.

"Nggak, nggak. Jangan gila, Alana. Jangan pernah ikut campur urusan orang kaya," ucap Alana ketat, menunjuk dirinya sendiri di pantulan kaca etalase kedai yang agak buram. "Lo udah diperingatin dengan sangat jelas tadi."

Alana masih bisa mengingat dengan teramat jelas bagaimana sorot mata elang milik Arsen beberapa menit lalu menguliti ketenangannya.

Tatapan mata yang sangat tajam, menekan, dan sanggup membuat seluruh bulu kuduknya meremang. Apalagi saat pria itu mulai menyinggung dan mengancam tempat usahanya.

Mungkin Arsen memang tidak secara terang-terangan mengeluarkan kalimat ancaman verbal yang kasar atau makian badai.

Pria itu tidak berteriak.

Namun, Alana cukup pintar dan peka untuk memahami maksud tersirat di balik untaian kalimat diplomatis nan dingin yang diucapkan sang dosen.

Arsen memegang kendali atas segalanya. Sifat perfeksionis dan kekuasaan pria itu bukanlah sesuatu yang bisa ia lawan. Dan Alana sadar betul, dirinya tidak akan pernah bisa mengambil risiko sekecil apa pun.

Kedai kecil berkain spanduk sederhana ini adalah satu-satunya sumber penghasilan utamanya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Di dunia yang luas ini, Alana dipaksa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa pilar pelindung. Kedai inilah yang menjadi sumber biaya kuliahnya tiap semester, sumber biaya makannya setiap hari, dan penopang atap kontrakannya agar tidak digusur.

Kedai ini adalah satu-satunya hal berharga yang benar-benar ia miliki dan tersisa dari sejarah hidupnya.

Karena itu, meskipun merasa tidak tega pada nasib Axel, Alana memaksakan akal sehatnya untuk memutuskan tidak memikirkan semuanya terlalu jauh lagi.

"Itu urusan domestik keluarga mereka. Bukan urusan lo," ucapnya, menarik napas panjang demi menenangkan detak jantungnya yang masih agak berantakan. "Lagian... siapa juga gue? Cuma mahasiswi yatim piatu yang kebetulan jualan nasi geprek di jalur pulang anaknya."

Setelah berhasil menata kembali benteng pertahanan batinnya, Alana memaksa tubuhnya untuk bergerak kembali fokus membereskan sisa-sisa kedainya.

Meja-meja plastik yang tadinya terpasang rapi mulai dilipat satu per satu dengan gerakan tegas, menimbulkan suara ketukan plastik yang memecah kesunyian malam.

Piring-piring anyaman bambu digosok bersih di bawah kucuran air wastafel kecil. Sisa bahan makanan seperti potongan ayam dan cabai ulek dikemas rapat, lalu disimpan ke dalam kulkas kecil kelolaannya.

Butuh hampir satu jam bagi Alana yang bekerja sendirian sampai seluruh sudut kedainya benar-benar bersih, dan rapi.

Saat pekerjaan terakhirnya beres dan lampu utama dimatikan, Alana bisa merasakan seluruh persendian di tubuhnya terasa remuk dan kaku.

Hari ini terasa berjalan terlampau panjang dan melelahkan baginya. Paginya ia harus dihantam materi kuliah yang padat di bawah pengawasan dosen-dosen killer, siangnya dikejar tenggat waktu tugas yang menguras otak, sore hingga malam harus berdiri di depan wajan panas untuk jualan, dan puncaknya adalah drama keluarga besar Wijaya yang sama sekali tidak pernah ia minta untuk masuk ke dalam plot hidupnya yang sederhana.

"Gue butuh tidur. Otak gue udah mau pecah," bisik Alana lirih.

Ia mematikan saklar lampu terakhir, sebelum meninggalkan area depan dalam kegelapan, lalu melangkah gontai masuk ke dalam kontrakannya yang berada tepat di bagian belakang kedai.

Tidak butuh waktu lama bagi gadis yang teramat kelelahan itu untuk langsung menjatuhkan diri di atas kasur busa tipisnya.

Dan dalam hitungan menit, Alana sudah tertidur lelap, tenggelam dalam mimpi tanpa bayang-bayang ancaman dingin dari keluarga Wijaya.

...----------------...

Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, mobil sedan mewah yang ditumpangi oleh Arsen dan Axel melaju konstan membelah dingin dan sunyinya jalanan kota yang mulai melengang.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, tidak ada percakapan apa pun. Tidak ada suara radio yang menyala, tidak ada pertengkaran mulut, dan tidak ada pembelaan diri.

Hanya ada keheningan pekat yang terasa semakin lama semakin berat setiap menitnya, mengintimidasi setiap jengkal ruang yang ada.

Axel duduk membeku di sisi kiri kursi belakang, menyandarkan bahu kecilnya pada pintu mobil sementara kepalanya menghadap lurus ke luar jendela kaca, menatap kosong pendar lampu-lampu jalanan kota yang bergerak mundur dengan cepat.

Sementara di sisi kanan, terpisah oleh jarak yang cukup lebar, Arsen duduk dengan punggung tegak, sementara tangannya fokus memeriksa beberapa dokumen email penting di atas layar tablet kerjanya.

Ayah dan anak itu bahkan tidak saling memandang satu sama lain sejak mobil mulai bergerak meninggalkan gang kedai Alana.

Seolah-olah mereka tak lebih dari dua orang asing yang kebetulan berada dalam satu kendaraan yang sama karena terpaksa.

Sopir pribadi keluarga Wijaya yang berada di kursi kemudi depan sampai tidak berani membuka suara sedikit pun atau menghela napas terlalu keras.

Atmosfer di bagian belakang kabin terasa terlampau mencekam dan menekan mentalnya, membuat perjalanan malam itu terasa seperti barisan waktu yang enggan bergerak maju.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!