NovelToon NovelToon
SEBUAH DOSA

SEBUAH DOSA

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:509.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Penelope Magdalene

Bagaimana bila ibumu tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayahmu yang tidak pernah kau temui?

Bagaimana bila sejak kecil kamu selalu diikuti sosok berdarah yang selalu berubah wujud mengerikan; kamu tidak tahu siapa sosok itu atau kenapa dia mengikutimu?

Bagaiman bila sampai ibumu meninggal dia tidak pernah membuka rahasia tentang ayahmu yang sangat ingin kamu ketahui?

Aku baru saja menguburkan ibuku dengan perasaan sedih dan menyesal yang begitu dalam. Rahasia besar tentang identitas ayahku di bawa almarhuma ibu sampai ke liang lahat.

Namun layar takdir akhirnya terkuak juga ketika aku menemukan buku harian ibu yang lama tersembunyi. Di buku harian itulah aku akhirnya menemukan jawaban tentang ayah dan kebenaran tentang sosok berdarah yang selalu mengikutiku.

Follow Akun IG @penelopemagdalene24

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penelope Magdalene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

21 Desember 1989

Tiga hari sudah berlalu dan semangatku sungguh rendah. Aku bahkan malas menulis di buku harianku karena hal-hal yang terjadi padaku sungguh menyedihkan dan menjengkelkan!

Tidak ingin kuingat lagi.

Aku merasa sedih ketika Adit memberitahukan padaku bahwa surat dari Lukas baru saja tiba dan di dalamnya Lukas meminta maaf karena dia tidak bisa mengunjungi dan merayakan natal bersama kami seperti rencana awalnya. Dia menjelaskan dalam suratnya bahwa dia diundang untuk merayakan natal bersama keluarga temannya yang tinggal di Brazil.

Aku merasa kecewa karena aku sangat menantikan kedatangan Lukas. Aku sudah rindu padanya, dan aku pun sudah menaruh harapan besar kalau kedatangan Lukas akan meringankan suasana di villa ini. Lukas memang adalah seorang yang riang, yang suka memeriahkan suasana dimana pun dia berada. Yah, tapi mengingkari janji juga adalah ciri khas Lukas yang pasti lebih memilih untuk pergi ke tempat yang lebih seru.

Pak Marten belum juga diketemukan. Semua warga mulai resah, panik dan ketakutan karena banyak desas desus kalau dia sudah dilahap oleh opo nedaha. Sebenarnya, opini warga terbagi dua: ada yang yakin bahwa pak Marten sudah menjadi korban opo nedaha.

Ada juga warga yang lebih berpikiran logis yang berpendapat bahwa pak Marten mabuk dan nekat pergi ke laut padahal malam itu sedang badai. Fakta bahwa kapal pak Marten tidak berada di tempat penambatan adalah salah satu bukti pembenarannya.

Kalau aku pribadi lebih percaya bahwa pak Marten sudah menjadi korban opo nedaha. Konyol mungkin tapi, aku ingat perkataan bapak itu dulu ketika kami bertemu di kios ibu Oli. Mungkin dia benar pergi menantang opo nedaha dan mungkin dia kalah.

Setiap hari topik pembicaraan orang-orang hanya berputar-putar pada hilangnya bapak itu. Tensi di sekeliling kami sangat tinggi, seperti ada ketegangan yang dirasakan oleh setiap warga. Ditambah lagi dengan perbedaan pendapat yang kadang dengan cepat bisa menyulut emosi.

Setiap hari ibu Linda dan beberapa warga akan pergi menyusuri hutan, beberapa akan pergi ke kampung sebelah untuk mencari jejak pak Marten tapi, hasilnya nihil. Beberapa warga akan berkumpul di sore hari setelah mereka selesai bekerja di ladang untuk membantu mencari pak Marten, begitu juga dengan warga yang bekerja sebagai nelayan, mereka akan pergi ke laut di siang hari untuk menyelam mencari bangkai kapal pak Marten atau bahkan mayatnya. Hasilnya nihil.

"Aku takut, bu Van," kataku ketika kami sedang berdiri di tepi pantai, menyaksikan beberapa bapak nelayan yang saling bergantian menyelam untuk mencari pak Marten. "Aku pernah dengar pak Marten bilang kalau dia mau menantang opo nedaha, bahwa dia akan menjadikannya budaknya."

"Kapan itu, mbak?" ibu Vanda terlihat sangat bersemangat ketika mendengar ceritaku.

"Beberapa hari yang lalu. Waktu itu aku lagi beli es di kios tante Oli."

"Aku memang yakin sekali dia itu diculik oleh opo nedaha." kata ibu Vanda dengan muram.

Perasaanku menjadi tidak tenang ketika mendengar perkataan ibu Vanda, terlebih lagi ketika bapak-bapak itu kembali dari penyelaman mereka tanpa hasil.

Setiap hari tanpa hasil, tanpa kabar - setiap hari rasa tertekan dan takut mulai menekan di dalam hati warga.

Desas-desus dan suasana di sekelilingku yang tidak mengenakan itu membuatku sungguh takut sehingga tanpa pikir panjang lagi aku langsung menceritakan pada Adit tentang apa yang kualami sejak rumah ini di doakan oleh pak Pendeta dan mendesaknya untuk segera pulang kembali ke Jakarta. Untunglah aku belum sempat jujur tentang rencanaku untuk tetap tinggal dan membina hubunganku dengan Yohanes karena pembicaraanku dengan Adit tidak berakhir baik. 

Aku sungguh kecewa pada Adit.

"Aku sudah muak dengan obsesi mbak Rani akan hal-hal supernatural seperti itu!" bentak Adit yang tidak membiarkanku untuk menyelesaikan cerita. "Awalnya aku ikut-ikut aja agar mbak betah disini tapi, lama kelamaan kalau terus diulang-ulang aku jadi kesal juga! Mbak menakuti Rosa dan Nining dengan cerita-cerita seram seperti itu, membuat hidup kami tidak tenang! Mungkin aku juga salah karena ikut menyeret mbak ke kampung ini, ke villa ini. Tempat ini memang terpencil, aku maklum kalau mbak tidak betah dan ingin pulang kembali ke Jakarta. Kalau mbak merasa seperti itu, jujur saja, jangan mengarang-ngarang cerita konyol agar kami ikut tidak betah disini."

Adit menghela napas panjang kemudian melanjutkan. "Kalau memang mbak Rani mau kembali ke Jakarta, tidak apa-apa. Nanti aku urus untuk tiket kapal dan pesawatnya."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi; terdiam dan menahan tangis. Sedih rasanya dibentak olehnya. Ini memang bukan pertama kalinya aku dibentak, bagaimanapun juga, aku adalah seorang pembantu sedekat apapun aku dengan keluarganya, tidak peduli selama apapun aku melayani keluarga mereka, aku tetap hanya seorang pembantu.

"Mbak pikirkan saja," kata Adit singkat sebelum meninggalkanku dengan kesedihanku.

Sepanjang hari setelah perkelahian kami, aku mengurung diri dalam kamarku dan tidak keluar sampai jam makan malam. Saat makan malam pun aku kebanyakan diam, hanya sesekali berbicara untuk menanggapi perkataan Rosa. Adit juga kebanyakan diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Makan malam yang sungguh tidak mengenakan! Ketika kami sudah selesai makan, aku merasa sangat lega.

"Dit, maafkan mbak, ya, sudah berbicara seperti tadi. Mbak tidak ingin membuat kamu susah tapi, kalau bisa mbak belum mau kembali ke Jakarta. Aku masih mau tinggal disini menemani kalian liburan," kataku ketika Adit hendak pergi ke ruang depan untuk mengikuti Rosa dan Nining.

"Maafkan aku, mbak Ran. Aku tadi terbawa emosi aja. Aku lagi banyak pikiran," Adit menggaruk dahinya penuh frustrasi. "Kalau memang mbak masih mau tinggal disini, tidak apa-apa. Aku senang kalau mbak tetap disini."

Adit tersenyum sembari memegang tanganku dan meremasnya.

"Kamu mikirin apa, Dit?"

"Pak Marten. Aku rasa terakhir kali dia terlihat adalah ketika dia bertemu denganku malam itu, malam ketika aku mau ke rumah oma Maria."

"Oh ya? Dia bilang gak mau kemana?"

"Itulah anehnya, orang itu ngomongnya gak jelas. Aku tanya dia mau kemana, dia bilang mau ke bank, ngambil duit. Bank apa yang buka malam-malam begitu?"

Aku terdiam, tidak mengerti dengan arti perkataannya. Ke bank? Malam-malam? Apa maksudnya? Lagipula mana ada bank di kampung ini! Bank hanya ada di Tahuna. Apa dia mau ke Tahuna? Entahlah! Pantas Adit banyak pikiran karena mungkin saja dia adalah orang terakhir yang melihat pak Marten sebelum lelaki itu menghilang.

Keputusan Adit untuk tetap tinggal di kampung ini memaksaku untuk mencari jalan lain untuk melindungi keluargaku. Aku tidak bisa tidur semalaman suntuk karena terus memikirkan cara yang bisa aku lakukan untuk melindungi Adit, Rosa dan Nining.

Pergi ke dukun di kampung sebelah? Aku tidak mau, terlalu takut kalau aku akan berdosa, menjadi penghianat imanku karena mencari solusi di tempat dimana ilmu hitam dipraktekan.

Aku berpikir apakah orang yang memelihara iblis seperti opo nedaha dapat dibujuk untuk tidak mengincar mangsa tertentunya? Apakah aku bisa bicara dengan orang itu, untuk membujuknya agar tidak mengincar keluarga kami? Siapa yang harus aku bujuk?

Apa benar oma Oce yang memelihara iblis itu? Bagi warga kampung disini sudah jelas bahwa dialah biang keladi munculnya opo nedaha di desa ini meski masih tidak jelas bukti apa yang mereka miliki untuk menuduh nenek tua itu. Namun, pikirku, tidak ada asap kalau tidak ada api, bukan? Ada sesuatu pada diri oma Oce yang membuat warga kampung sini yakin bahwa dialah yang memelihara opo nedaha dan mereka mungkin benar.

Melihat rupa oma Oce, tidak sulit mempercayai rumor itu. Aku pun mulai yakin kalau dia ada hubungannya dengan opo nedaha.

Apa aku harus pergi mengunjungi oma Oce dan membujuknya untuk menghindarkan kami dari incaran opo nedaha? Oh, sungguh konyol kamu, Rani! Tapi mungkin, hal yang kupikir konyol, itulah yang akan menyelamatkan kami! Seperti halnya Moren yang mati-matian pindah ke Manado, meninggalkan keluarganya di Sangihe hanya untuk lari dari opo nedaha.

Aku dengar dari ibu Vanda kalau Moren sudah berangkat ke Manado kemarin bersama Agus, suaminya. Ya, larilah, Ren! Kamu sudah membuat keputusan yang benar.

Bagaimana dengan kami?

Yohanes mengunjungiku malam itu. Kebetulan saat itu langit cerah dan bulan pun bersinar dengan terangnya. Yohanes menjemputku untuk menghabiskan malamku di atas kapalnya. Namun, sayangnya ketika Yohanes datang, aku yang sudah penuh dengan ide-ide konyol untuk berbiara pada oma Oce langsung membicarakan hal tersebut dengannya.

Dia marah dan membentakku.

"Kamu sungguh tidak masuk akal! Tolong otak kamu di pakai! Kamu tidak kasihan melihat oma Oce? Tega sekali kamu memikirkan hal seperti itu tentangnya! Aku pikir kamu terpelajar, Ran tapi, ternyata kamu sama saja dengan orang-orang disini."

"Kamu tidak tahu apa yang kulihat, Yoh! Itu sungguh menakutkan," jelasku di sela-sela tangis. Sungguh sulit beradu pendapat dan berusaha untuk tidak berisik di saat yang bersamaan.

Yohanes mendesau kesal. "Apa kita masih membicarakan hal itu lagi? Aku pikir kamu sudah menerima bahwa semua itu hanyalah khayalanmu semata. Rani, aku sudah berjanji akan menjagamu, apa kamu lupa? Kamu tidak percaya padaku?"

"Yoh, bagaimana kamu akan melindungiku kalau kamu tidak tahu apa yang aku takutkan? Bagaimana kamu bisa mengerti ketakutanku kalau yang selalu kamu lakukan hanyalah menyepelehkan apa yang membuatku takut! Moren sudah berangkat ke Manado, dia lari karena takut menjadi mangsa opo nedaha! Ancaman itu nyata, Yoh! Apakah kamu juga tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Ana? Ana adalah mantan tunanganmu, kan?"

"Ana meninggal karena tenggelam, Ran. Dia menjadi bingung karena hormon kehamilan. Tolong jangan jadi seperti orang yang tidak berpendidikan, yang selalu percaya pada hal gaib padahal ada penjelasan ilmiah yang lebih masuk akal! Aku hidup berpuluh-puluh tahun di kampung ini tapi tidak sekalipun aku melihat makhluk yang disebut orang-orang itu opo nedaha!"

"Beruntungnya kamu!" balasku dengan seringai garang. "Mungkin opo nedaha adalah peliharaanmu!"

"Jaga mulut kamu!" Yohanes mencengkram lenganku. Disaat dia sadar telah melakukannya, dia dengan cepat melepaskanku dan mendesau penuh rasa frustrasi. "Mungkin lebih baik kamu kembali ke Jakarta. Sepertinya hidup di kampung ini tidak cocok untukmu."

Yohanes segera pergi, meninggalkanku dengan air mata yang berlinang di dalam kamar. Aku berlutut sambil menahan tangis di samping tempat tidurku. Sakit rasanya!

Tubuhku lemas, aku bahkan tidak ingin lagi berdiri. Aku berbaring di samping tempat tidurku, menghadap kolong dibawahnya.

Dari bawah kolong suara nafas yang berat terdengar dan siluet hitam seorang wanita terlihat. Di sekelilingku kesunyian menyelubungi, seakan aku berada di ruangan yang kedap.

"Kapule e kau, inang," bisikan itu terdengar pelan di telingaku.

Perlahan-lahan tangan putih yang berdarah terulur dari dalam kolong. Tangannya menggapai tanganku, menggenggamku dengan erat; dinginnya tangan yang mati itu terasa menusuk di kulitku.

"Kapule e kau, inang," bisiknya lagi.

Aku terpaku, tidak bisa bergerak apalagi lari. Aku membiarkannya menggenggam tanganku, membiarkannya berbisik di telingaku.

"Kapule e kau, inang," uap dingin nafas yang mati terasa di telingaku.

"Apa maumu?" bisikku sambil menangis. "Aku tidak bisa pergi...aku tidak mau pergi...aku mencintainya, aku tidak bisa meninggalkannya."

"Aku mencintainya...aku mencintainya..." kataku lagi dan lagi sampai akhirnya kegelapan memenuhiku dan aku pun tidak sadarkan diri. 

Selama 2 hari Yohanes tidak mengunjungiku, aku bahkan tidak pernah melihatnya lagi disekitar kampung. Selama 2 hari itu pun aku seperti orang linglung, tidak jelas sedang melakukan apa.

Aku padahal sudah bertekad untuk tidak mengindahkan perkataan Yohanes dan tetap pergi ke rumah oma Oce untuk berbicara dengannya. Berkali-kali aku mencoba untuk mengunjungi rumahnya tapi, tidak pernah bisa. Aku sudah menempuh setengah perjalanan sebelum kemudian berbalik arah dan pulang. Ternyata aku tidak seyakin yang aku kira tentang oma Oce, atau mungkin tidak seberani yang kukira. 

Akhirnya aku banyak menghabiskan waktuku duduk termenung, merindu namun sedih dan takut disaat yang bersamaan. Tidak berdaya.

Karena sikapku yang rupanya berubah, aku pernah memergoki Adit dan Rosa yang sedang berbisik tentangku. Tanpa sengaja aku mendengarkan Rosa yang berbicara tentangku pada Adit; menurutnya aku terlihat sedang stres dan depresi. Tanggapan Adit adalah untuk mengatur kepulanganku, menurutnya aku mungkin terganggu dan resah dengan insiden hilangnya pak Marten.

Aku juga pernah tanpa sengaja mendengarkan tante Marice yang waktu itu datang mengantarkan kue natal untuk kami. Dia berbicara dengan tante Nona sambil bisik-bisik.

"Tapi, dia melihat opo nedaha!" bisik tante Marice. "Kamu tidak berpikir dia berbohong, kan?"

"Opo nedaha itu tidak nyata," kata tante Nona dengan cuek sambil membawa parang ke kebun.

Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Tadi pagi, setelah sarapan kami duduk di ruang depan sambil mendengarkan warta berita di radio, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan. Aku segera membukakan pintunya dan menemukan ibu Linda yang datang. Dia mencari Adit untuk berbicara dengannya.

Setelah dia kupersilahkan masuk dan sudah bertemu dengan Adit, aku meninggalkan mereka untuk pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk ibu Linda. Ketika aku kembali, ibu Linda sudah berlinang air mata menjelaskan pada Adit perihal suaminya.

"Saya tahu orang-orang sini banyak yang bilang kalau Marten mabuk dan tenggelam di laut tapi, saya tidak bisa menerimanya, pak Adit. Saya berani bersumpah bahwa suami saya sudah tidak minum-minum lagi. Dia sudah tidak pernah lagi membeli cap tikus," ibu Linda membersihkan hidungnya dengan selembar sapu tangan yang Rosa pinjamkan. "Anak kami yang paling tua, Elsye, akan segera lulus SMP dan kami berencana untuk mengirimnya ke Manado untuk bersekolah di sana. Saya punya tante yang tinggal di Manado, yang mau menampungnya. Jadi, saya dan Marten sedang menabung uang kami untuk sekolah anak saya itu. Itulah sebabnya saya yakin Marten itu tidak mabuk dan tenggelam, karena dia berkomitmen, pak Adit. Dia mau Elsye sekolah tinggi di Manado sampai dia bela-belain berhenti minum dan merokok agar uangnya bisa ditabung untuk biaya sekolah anak kami."

"Kalau menurut pandangan ibu Linda, apa yang terjadi pada pak Marten?"

"Saya rasa dia mungkin tersesat di kehu marange tapi, tidak ada warga yang berani mencari kesana, pak Adit. Karena itulah saya mau minta tolong pak Adit untuk menghubungi polisi supaya mereka bisa mencari di hutan itu. Beberapa hari yang lalu saya sudah buat laporan di Tahuna tapi, sampai sekarang belum ada tanggapan, polisinya belum datang-datang juga. Saya pikir pak Adit, kan, petinggi di pemerintahan, pasti kalau bapak yang lapor, polisinya akan cepat tanggap."

"Hutan kehu marange yang di belakang rumah ini, bu Lin?"

Ibu Linda mengangguk.

"Kenapa sampai ibu Linda berpikir seperti itu? Bukankah sudah lama ada larangan dari kepala desa kalau hutan itu tidak bisa dimasuki?"

"Sudah beberapa bulan ini Marten sering masuk ke hutan itu. Dia pikir saya tidak tahu dan dia tidak pernah jujur tentang itu. Setiap kali saya tanya dia selalu menyangkalnya. Saya sudah pernah memperingatkan dia untuk jangan masuk ke hutan itu. Entahlah pak Adit. Beberapa kali saya perhatikan dia masuk ke hutan itu paginya, malamnya dia akan berlayar mencari ikan besok pagi ketika dia kembali, dia akan membawa pulang uang yang banyak untuk tabungan sekolah Elsye. Kata dia uang itu hasil penjualan ikan tapi, saya rasa dia berbohong."

"Apa yang ibu Linda ingat dimalam terakhir melihat pak Marten? Kapan itu? Dia pamitnya mau kemana?"

"Terakhir saya melihat Marten itu tanggal 16 desember. Sore itu suasana hatinya lagi senang, pak Adit. Sekitar jam lima atau setengah enam, dia pamit katanya mau pergi ke sumber uang. Dia bilang pada saya, setelah malam ini, kami tidak akan kekurangan uang lagi dan Elsye bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, bahkan sampai ke Jakarta!" Ibu Linda terisak lagi, mungkin sakit hatinya mengingat betapa bahagianya pak Marten dengan optimismenya namun berakhir tragis seperti ini.

"Ibu Linda mengerti maksud pak Marten? Karena saya juga ketemu di jalan dengannya sore itu. Saya sempat menyapa dan bertanya dia mau kemana, kata pak Marten dia mau ke bank untuk mengambil uang tapi, anehnya dia tidak berjalan ke arah keluar kampung melainkan ke arah rumah pak Yusuf."

"Ke bank? Saya tidak mengerti, pak Adit. Saya juga bertanya padanya tapi, dia bilang saya jangan khawatir. 'Pokoknya, kamu tenang saja, Lin, aku akan membawakan uang yang banyak untukmu,' begitu katanya."

"Pak Adit," kata bu Linda setelah beberapa saat mereka terdiam. "Bapak mau, kan membantu saya?"

"Iya, bu Lin, saya pasti bantu. Besok saya akan pergi ke Tahuna untuk membuat laporan," Adit berdiri dan mengikuti ibu Linda ke pintu depan. "Ibu Linda banyak berdoa, semoga pak Marten selamat dan segera ditemukan. Saya akan berusaha membantu semampu yang saya bisa."

"Terima kasih, pak," kata bu Linda sebelum dia pulang.

Terlihat jelas rasa putus asa di raut wajah lelah bu Linda namun, yang tidak terlihat adalah amarahnya yang besar, yang gampang tersulut ketika mendengar provokasi dari mulut tetangga.

Tanpa kuketahui ceritaku tentang perkataan pak Marten di kios ibu Oli sampai ke telinga ibu Linda. Sore itu, ibu Linda membawa sebatang kapak dan pergi ke rumah oma Oce.

1
Evan Dirga
aku merasa terombang ambing antara keyakinan bahwa cerita ini lebih ke arah penyakit jiwa, tapi di sisi lain aku juga mempertimbangkan mengenai kebenaran adanya kutukan pemuja iblis.

terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.
Evan Dirga
apakah Laura akan menjadi opo nedaha selanjutnya ?
Evan Dirga
jangan jangan Yohannes dan Effendi Panji tidak benar benar dieksekusi ?
Evan Dirga
dan sekarang Rani malah mengabaikan tanda tanda sakit jiwa yang diderita oleh anaknya, Laura.
Evan Dirga
kenapa tidak dibawa saja keponakannya ? malah menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
Evan Dirga
wah kacau sekali keluarga Subroto.
Evan Dirga
bukankah celah itu seharusnya cukup besar untuk keluar masuk dua orang dewasa ? 🤔
Evan Dirga
tapi kejahatan sesungguhnya dilakukan oleh manusia.
Evan Dirga
Pak Yusuf dan Yohannes masuk ke Villa lewat mana ?
Evan Dirga
apakah di jaman ini belum ada perahu motor ya ?
Evan Dirga
cinta memang buta.
Evan Dirga
bukan karena tante Nona alias Nela yang tidak mewarisi iblisnya, tapi mungkin karena dia tidak mewarisi penyakit mental pendahulunya, atau bisa juga karena kakek Paulus dengan cepat mengambil tindakan untuk memulihkan kondisi kejiwaan Nela ke psikolog.
Evan Dirga
kalau di klinik ada ruang rawat inapnya, bukankah rosa sebaiknya dirawat di sana ? selain akan dapat perawatan lebih intensif, juga untuk mengamankan kondisi psikologisnya.
Evan Dirga
tidak terpikirkan untuk diawetkan dengan dibuat ikan asap atau ikan asin ?
Evan Dirga
baru sadarkah ?
Evan Dirga
yang jadi masalah, jika rosa dibiarkan ketakutan terus menerus, bisa berakibat fatal bagi kehamilannya.
Evan Dirga
apa tidak lebih baik dibawa ke klinik saja supaya mendapatkan penanganan intensif ?
Evan Dirga
rosa hamil. pendarahan karena syok.
Evan Dirga
atau jangan jangan, rosa sedang hamil muda.
Evan Dirga
akhirnya .. Rani memilih menyerah pada gairah cinta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!