NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: PERJAMUAN MAUT DI PUNCAK MARINA

​Langit Singapura malam ini bermandikan cahaya neon, namun di puncak Marina Bay Sands, atmosfer terasa seakan membeku. Angin kencang menyapu skypark yang telah dikosongkan secara paksa oleh pasukan berseragam putih dengan lambang Lotus. Tidak ada turis, tidak ada tawa. Yang ada hanyalah aroma kematian yang elegan.

​Gwen Adiguna melangkah keluar dari lift pribadi. Ia tidak lagi mengenakan gaun pengantin yang compang-camping. Kini, ia mengenakan jumpsuit kulit hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna, dengan jubah panjang berwarna merah darah yang berkibar ditiup angin. Di pinggangnya, dua pistol semi-otomatis berlapis krom berkilau di bawah lampu kota.

​Di belakangnya, Elang berjalan dengan langkah waspada. Tangannya tidak pernah jauh dari pisau karambit di balik sabuknya. Namun, langkah mereka terhenti ketika sepuluh laras senapan laser membidik tepat ke jantung mereka.

​"Selamat datang di singgasana aslimu, Gwen," sebuah suara yang sangat akrab menggema.

​Di tepi kolam renang tanpa batas (infinity pool), The Matriarch—Diana Adiguna—duduk dengan tenang. Ia menyesap teh dari cangkir porselen seolah-olah ia tidak sedang berada di tengah konspirasi global. Di sampingnya, Garuda berdiri dengan senyum sinis, memegang sebuah alat kendali jarak jauh.

​"Ibu... atau haruskah aku memanggilmu pengkhianat?" suara Gwen dingin, memotong kebisingan angin.

​The Matriarch meletakkan cangkirnya. Ia berdiri, kecantikannya yang abadi tampak mengerikan di bawah cahaya rembulan. "Pengkhianat adalah kata yang kasar bagi seseorang yang telah menyiapkan panggung dunia untuk putrinya. Semua ini, Gwen—The Hive, Maximilian, bahkan penderitaan Elang—hanyalah ujian untuk melihat apakah kau layak mewarisi kekuasaan The White Lotus."

​"Kau gila!" Gwen berteriak. "Kau menghancurkan Ayah! Kau membuat Elang hidup dalam neraka rasa bersalah selama sepuluh tahun hanya untuk sebuah 'ujian'?"

​"Dunia ini butuh pemimpin yang tidak punya hati, Gwen. Dan lihatlah dirimu sekarang," Diana berjalan mendekat, mengabaikan todongan senjata Elang. "Kau bukan lagi gadis cengeng yang menangisi pengkhianatan Reno. Kau adalah pemangsa. Kau adalah mahakaryaku."

​Tiba-tiba, Garuda melangkah maju. Ia menarik sebuah tuas, dan lantai di bawah Elang mendadak terbuka, menjatuhkan pria itu ke dalam sebuah sangkar kaca yang muncul dari bawah dek.

​"ELANG!" jerit Gwen.

​"Jangan bergerak, Kakak Ipar!" Garuda menodongkan pistol ke arah sangkar kaca tersebut. "Satu langkah saja kau mendekat, dan aku akan mengisi sangkar ini dengan gas saraf yang akan mencairkan paru-paru Kakakku dalam hitungan detik."

​Elang memukul kaca itu dengan keras, namun itu adalah kaca anti-peluru tingkat militer. "Gwen! Jangan pedulikan aku! Hancurkan sistemnya!"

​The Matriarch tersenyum puas. Ia menyodorkan sebuah tablet digital ke arah Gwen. "Pilihannya sederhana, Sayang. Masukkan kode akses biometrikmu untuk mengaktifkan 'Black Rain' dan kita akan menguasai dunia bersama sebagai ibu dan anak. Atau... biarkan Elang mati di depan matamu, dan kau akan tetap menjadi ratu tanpa mahkota yang kehilangan segalanya."

​Gwen menatap Elang yang mulai sesak napas karena oksigen di dalam sangkar mulai dikurangi oleh Garuda. Lalu ia menatap wanita yang melahirkannya.

​"Kau pikir kau mengenalku, Ibu?" suara Gwen mendadak berubah menjadi sangat tenang—ketenangan sebelum badai yang mematikan.

​"Aku yang membentukmu, Gwen."

​"Tidak," Gwen tersenyum pahit. "Kau mungkin yang memberiku darah ini, tapi Elang-lah yang memberiku jiwa. Dan Ayah-lah yang memberiku hati."

​Gwen perlahan meletakkan tangannya di atas tablet tersebut. Progres aktivasi muncul: 10%... 30%... 50%...

​"Itu benar, Gwen... berikan padaku," bisik Diana dengan mata berbinar serakah.

​Namun, saat angka mencapai 99%, Gwen mendadak memutar tablet itu dan menghantamkannya ke pinggiran kolam hingga hancur berkeping-keping.

​"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Diana.

​"Aku tidak memasukkan kode aktivasi, Ibu," ucap Gwen sambil menarik pemicu di jam tangannya. "Aku memasukkan protokol self-destruct untuk seluruh satelit Adiguna. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak akan pernah mendapatkannya!"

​BOOM!

​Di langit Singapura, sebuah ledakan cahaya terlihat saat salah satu satelit meledak di orbit. Di saat yang sama, seluruh sistem elektronik di puncak Marina Bay Sands mulai meledak dan mengeluarkan percikan api.

​"TIDAAAK! SEMUA RISETKU!" Diana meraung marah. Ia mencabut pistol dari balik jubahnya dan membidik Gwen.

​DOR!

​Peluru menyerempet bahu Gwen, namun Gwen tidak menyerah. Ia menerjang ibunya sendiri. Mereka bergulat di tepi kolam renang dalam sebuah pertarungan yang brutal antara ibu dan anak. Diana mungkin ahli strategi, tapi Gwen telah ditempa oleh pertempuran jalanan bersama Elang.

​Sementara itu, Garuda yang panik mencoba menekan tombol gas saraf, namun tangannya ditembak oleh Hendra yang muncul dari helikopter penyelamat di atas mereka.

​"Elang, tangkap!" Hendra melemparkan sebuah alat pemecah kaca.

​Elang menangkapnya, menghancurkan kaca sangkar, dan keluar dengan amarah yang meledak. Ia langsung menerjang Garuda. Dua saudara itu bertarung di tepi balkon, saling menghujamkan pukulan tanpa ampun.

​"Kau membunuh Ayah demi wanita iblis itu, Garuda!" Elang menghantam wajah adiknya.

​"Dia menjanjikanku dunia, Elang! Sesuatu yang tidak pernah bisa kau berikan!" Garuda membalas dengan tendangan, namun Elang menangkap kakinya dan melemparnya ke arah pilar beton.

​Di sisi lain, Gwen berhasil menjatuhkan Diana ke lantai. Ia menodongkan pistol tepat di antara mata ibunya.

​"Lakukan, Gwen," tantang Diana dengan napas terengah, namun matanya tetap dingin. "Buktikan bahwa kau adalah anakku. Bunuh ibumu sendiri."

​Tangan Gwen bergetar. Air mata mengalir di pipinya, mencuci noda debu dan darah. "Aku bukan kau, Ibu. Aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri hanya untuk kekuasaan."

​Gwen menurunkan senjatanya. Namun, Diana justru tertawa gila. Ia menarik sebuah granat kecil dari sakunya. "Jika aku tidak bisa menjadi Ratu, maka kita semua akan terbakar di neraka ini!"

​"Gwen, AWAS!" Elang berlari secepat kilat, menerjang Gwen dan membawanya berguling menjauh tepat saat granat itu meledak.

​BOOM!

​Ledakan itu menghancurkan sebagian dek skypark. Diana Adiguna terlempar ke arah kolam renang tanpa batas, tubuhnya terseret arus air yang tumpah akibat kerusakan sistem, dan jatuh dari ketinggian lantai 57 menuju kegelapan malam.

​"IBUUU!" Gwen menjerit, meski wanita itu telah mencoba membunuhnya.

​Garuda yang melihat ibunya jatuh, kehilangan semangat tempurnya. Ia jatuh berlutut, menatap kosong ke arah kegelapan. Ia segera diringkus oleh pasukan Hendra.

​Fajar mulai menyingsing di atas Marina Bay. Asap masih mengepul dari puncak gedung ikonik itu. Gwen duduk bersandar pada Elang, kepalanya bersandar di bahu pria itu. Mereka berdua bersimbah darah, lelah, dan hancur, namun mereka masih bernapas.

​"Sudah berakhir, Gwen," bisik Elang sambil mencium puncak kepala Gwen. "Satelit sudah hancur. White Lotus dan The Hive sudah kehilangan taringnya."

​Gwen menatap sisa-sisa tablet yang hancur. "Aku telah menghancurkan warisan orang tuaku, Elang. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang."

​Elang memegang dagu Gwen, memaksanya menatap matanya yang tulus. "Kau punya aku. Kau punya ayahmu. Dan kau punya kebebasan yang selama ini kau inginkan. Kekayaan bisa dibangun kembali, Gwen. Tapi jiwa yang merdeka... itu tak ternilai harganya."

​Gwen tersenyum tipis, lalu mencium bibir Elang dengan penuh perasaan. Di tengah reruntuhan konspirasi keluarga yang paling mengerikan di Asia, mereka menemukan satu hal yang tidak bisa dihancurkan oleh kode komputer atau ledakan granat: Cinta yang tulus.

​Namun, jauh di bawah sana, di dermaga tersembunyi, sebuah tangan pucat muncul dari air, mencengkeram tepian dermaga. Sebuah cincin berlambang Lotus masih melingkar di jari tengahnya.

​Permainan mungkin berakhir hari ini, tapi dendam seorang ibu tidak akan pernah benar-benar mati.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!