"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
Setelah melewati perjuangan yang cukup menyita waktu dan juga perasaan, akhirnya Tomi mengantongi izin dari Abil untuk membawa kembali sang istri bersamanya. Kembalinya Sonia di kediaman mertua di sambut tangis bahagia oleh mertua dan adik iparnya.
"Mamah pikir kamu tidak akan kembali lagi ke rumah ini, sayang." ibu mertua memeluk Sonia, melepas kerinduan pada menantunya itu. Begitu pula dengan adik iparnya, Zira.
"Zira kangen sama mbak Sonia." Zira pun turut memeluk kakak iparnya.
"Peluknya jangan erat-erat, kamu bisa menyakiti calon anak mas, Zira!." Melihat Zira memeluk Istrinya dengan erat, Tomi lantas menegur adiknya itu. Tomi khawatir terjadi sesuatu pada sang istri.
"Calon anak?." Cicit Zira dan ibu hampir bersamaan. "Apa itu artinya Sonia sedang mengandung?." Kedua wanita berbeda generasi tersebut pun sontak mengurai pelukan, dan melayangkan tatapan menuntut pada Tomi.
Tomi pun mengangguk. Sadar ibu dan adiknya tak sabar menanti jawaban darinya
"Terima kasih Tuhan atas anugerah terindah ini." Ibu kembali memeluk Sonia, tapi kali ini tak begitu erat agar tak sampai menyakiti calon cucu pertamanya. "Terima kasih, Sonia. Terima kasih telah membawa kehidupan baru di keluarga ini." Ujar Ibu.
Dengan kedua mata berkaca-kaca, Sonia mengangguk. Mungkin ia telah kehilangan kedua orang tua kandungnya, tapi untuk kasih sayang, Sonia tetap mendapatkannya dari keluarga suaminya.
"Apa saat hamil kamu akan tetap bekerja, sayang?." Tanya ibu. Kini mereka telah berkumpul di ruang tengah.
Belum sempat Sonia menjawab, Tomi lebih dulu mewakili istrinya untuk menjawab pertanyaan ibu.
"Tomi tidak berniat membatasi kegiatan Sonia, termasuk untuk tetap bekerja saat sedang hamil. Tetapi, saat ini Tomi ingin Sonia melanjutkan pendidikannya saja dulu, karena itu salah satu harapan mertua Tomi ketika masih hidup. Daddy ingin Sonia mendapat gelar sarjana dan Tomi ingin mewujudkan harapan Daddy mertua Tomi, mah." Tanpa diketahui oleh Sonia akhir-akhir ini Tomi memikirkan tentang pendidikan Sonia. Ia ingin mewujudkan keinginan serta harapan mendiang mertuanya.
"Zira setuju. Kuliah itu enak loh, mbak, selain banyak teman, kita juga bisa cuci mata." Timpal Zira berdasarkan pengalamannya.
Menyadari tatapan Tomi, Zira langsung menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Gadis itu sadar salah bicara.
"Maksudnya, bagi para kaum jomblo seperti Zira boleh cuci mata, tapi mbak Sonia kan sudah punya mas Tomi. Jadi, sebaiknya jangan!." Ketimbang menghadapi amukan Tomi, Zira memilih mengoreksi perkataannya.
"Cemburuan amat sih jadi orang." batin Zira seraya melirik pada kakaknya.
"Papah sih setuju dengan keputusan kamu, Tomi, asalkan Sonia tidak merasa kerepotan kuliah di saat sedang hamil." Papah turut berkomentar. Tidak berbeda jauh dengan sang suami, ibu pun setuju jika menantunya itu melanjutkan pendidikannya, mumpung masih muda.
Seketika Zira kepikiran untuk melanjutkan kuliah di dalam negeri saja. Bukankah tidak buruk juga jika ia kuliah di kampus yang sama dengan kakak iparnya. Zira lantas mengutarakan keinginannya tersebut pada kedua orang tua serta kakaknya.
"Terserah kamu saja. Lakukan apa yang menurut kamu baik dan juga nyaman, nak." Ayah tidak keberatan jika putrinya melanjutkan pendidikannya di dalam negeri saja, dengan begitu mereka tak perlu terlalu khawatir jika Zira kembali jauh dari pengawasan mereka.
"Baiklah. Mas akan mencarikan kampus yang sesuai dengan jurusan kamu." Tomi pun setuju jika Zira melanjutkan kuliah di dalam negeri. Lagipula sudah banyak kampus kedokteran yang berkualitas di negeri ini, begitu pikir Tomi.
Zira terlihat lega. Akhirnya ia tak perlu kembali ke luar negeri. Ya, tanpa diketahui oleh siapapun, rupanya alasan Zira kembali ke tanah air bukan hanya sekedar untuk liburan semester, tetapi ada alasan lainnya. Alasan yang hingga detik ini masih disembunyikan oleh gadis itu seorang diri.
*
Beberapa hari kemudian, Tomi telah mendaftarkan Sonia dan Zira ke sebuah kampus ternama di ibukota. Meskipun keduanya tidak satu fakultas, namun masih di university yang sama. Ya, Sonia menempuh pendidikan di fakultas ilmu bisnis, sementara Zira melanjutkan pendidikannya di fakultas kedokteran.
Untungnya di awal kehamilannya ini Sonia tidak merasakan mual muntah, sehingga wanita itu tidak merasa terbebani jika harus kuliah.
Di hari pertama kuliah, keduanya sengaja diantar oleh Tomi. Bukan hanya untuk memastikan istrinya selamat tiba di kampus, namun Tomi ingin memastikan tidak ada buaya darat yang akan mendekati istrinya selama menempuh pendidikannya di kampus tersebut. Ya, Tomi sengaja ikut turun dari mobil dan menge-cup kening Sonia dan itu di saksikan oleh beberapa mahasiswa yang berdatangan. Sonia yang menyadari maksud dan tujuan suaminya, hanya bisa tersenyum dalam hati. Nampaknya Tomi ingin menunjukkan bahwa Sonia telah memiliki dirinya sehingga tak ada yang boleh mendekatinya.
"Siang nanti mas jemput, sayang." Tutur Tomi setelah menge-cup kening istrinya.
"Iya, mas." Jatuh cinta pada pandangan pertama kepada suaminya tersebut membuat Sonia tidak merasa keberatan dengan sikap posesif Tomi terhadapnya.
"Cuma mbak Sonia doang nih yang dikecup keningnya, adik kesayangannya enggak?." Zira sengaja menggoda kakaknya.
"CK." Tomi mendecak lidah kemudian mengulurkan tangannya pada Zira.
"Hahahaha." Tawa Zira langsung pecah melihat ekspresi sebal Tomi.
"Santai mas bro, adik tercintamu ini cuma bercanda!." Ujar Zira di sisa tawanya. Gurauan hangat yang tercipta diantara kakak-beradik tersebut membuat beberapa mahasiswa yang kebetulan menyaksikan merasa iri, terutama bagi mereka yang hubungannya dengan sang kakak tidak sedekat itu. Ya, status sosial mereka tidak menyulitkan siapapun untuk mengenali sosok Tomi dan juga Zira, berbeda dengan Sonia yang lama berdomisili di luar negeri. Meskipun berasal dari keluarga berada, tapi tak banyak yang mengenal sosok Sonia sebagai Adik sepupu dari pengusaha terkemuka, yakni Syabil Fahreza. Itulah mengapa Tomi sengaja mengantarkan istrinya tersebut di hari pertamanya, agar para buaya penghuni kampus tahu jika wanita cantik itu adalah miliknya.
Setelahnya, Tomi pun pamit kembali melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan.
Berhubung mereka menempuh pendidikan pada jurusan yang berbeda, Sonia dan Zira lantas berpisah di halaman kampus. Jarak antara fakultas Sonia dan Zira kisaran lima ratus meter. Cukup jauh sebenarnya, akan tetapi di hari pertama biarlah ia berjalan agak jauh, hitung-hitung olahraga, begitu pikir Zira. Ya, fakultas Sonia terletak di gedung depan sementara Zira masih lima ratus meter ke area belakang.
Mengingat tujuan utamanya adalah untuk menimba ilmu agar segera mendapat gelar sarjana, Sonia tak begitu mementingkan pertemanan. Kalaupun nantinya ia mendapat teman baik, maka itu bonus untuknya, sesimpel itu cara berpikir Sonia.
Baru saja hendak memasuki kelasnya, Kedua pupil mata Sonia langsung terbelalak saat menangkap keberadaan seorang wanita yang dikenalnya melintas di salah satu lorong gedung.
"Bukankah dia_." Sonia lantas menajamkan penglihatannya untuk memastikan.
Sonia suruh pindah aja Thor
kasian Dede bayinya