NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:69.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Pagi ini, Shela melangkah gesit, mempersiapkan diri mengenakan seragam sekolah yang lengkap. Raut wajahnya yang tadinya muram kini terlihat sedikit bersinar, mengetahui bahwa motor baru pesanannya telah tiba—tiket bebasnya dari rutinitas menumpang kendaraan umum yang melelahkan itu.

Seperti biasa, dia membiarkan para kakaknya berangkat terlebih dahulu sebelum akhirnya dia sendiri keluar dari kamarnya. Dengan hoodie hitam kesayangannya melingkar di tubuhnya, dan celana panjang hitam menggantikan rok seragam yang biasa, ia tampak siap untuk menyambut hari. Di dalam tasnya, rok seragam terlipat rapi, sementara rambutnya diikat dengan rapi demi kenyamanan saat memakai helm nanti. Langkah Shela terhenti ketika dia melewati meja makan. Tanpa menyentuh sarapan pagi, langkahnya tergesa.

Rasa tidak enak yang menyeruak di dada itu tidak semata-mata karena kehilangan nafsu makan—tetapi lebih disebabkan oleh malam yang berat, di mana ia harus bertemu dengan pria yang begitu menjengkelkan itu. Kekesalan yang menggumpal membuatnya nyaris tidak bisa fokus belajar. Sang malam, yang seharusnya dipenuhi dengan mimpi dan istirahat, telah terampas oleh pertemuan tak menyenangkan itu. Namun, Shela tahu, ia harus tetap melangkah—menuju sekolah, menuju hari baru, sembari berharap motor baru itu mampu mengantarkannya ke sebuah babak baru yang lebih cerah.

Tubuh Shela sedikit lemah dan wajahnya terlihat pucat, penanda perut yang tak terisi makanan semalaman, terutama terlihat jelas pada bibirnya yang pucat. Namun, ketidakpedulian itu menjadi kekuatan; dengan tekad bulat, ia mengarahkan pandangan ke motor kesayangannya, pembelian yang telah menelan hampir seluruh tabungan hidupnya. Namun, setiap rintangan terasa layak—Shela rela berkerja lebih keras, mengumpulkan setiap sen untuk mengisi kembali pundi-pundi tabungannya.

Dengan langkah pasti, ia memakai helm kesayangan dan menaiki motor besar itu. Tinggi badannya yang mencukupi memudahkan kaki untuk menapak dengan stabil. Menyalakan mesin, dentuman halus memecah kesunyian, seolah memberi semangat baru. Dengan ati-hati, dia melajukan motor itu melewati jalanan menuju sekolah, sebab ia masih pelajar tanpa SIM, dan tiap gerak harus penuh perhitungan.

Shela baru saja membelokkan tikungan menuju gerbang sekolah ketika pandangannya terpaku pada kekacauan yang menguasai tempat itu. Dari kejauhan, sekumpulan laki-laki saling menyerang satu sama lain dan bertatapan garang terlibat dalam pertarungan sengit. Beberapa mengenakan seragam sekolah Shela dan yang lainnya seragam asing, menandakan perseteruan antara geng Black Eagle dan saingannya dari sekolah rival.

Amarah Shela menyala-nyala, ia benci pada kebrutalan semena-mena yang membahayakan nyawa tak bersalah. Semakin mendekati pusaran pertarungan, Shela mengeraskan gas motornya—sebuah mesin besar yang telah dia kuasai berkat arahan saksama dari temannya di pekerjaan paruh waktunya.

Dengan manuver berani, ia meluncur tepat melintasi pusat pertempuran, mesinnya mengaum keras, memecah kebrutalan. Para peserta bentrok itu, terkejut dan terhenti sejenak, memberi jeda yang cukup bagi Shela untuk menembus celah mereka, sementara debu dan adrenalin menyelimuti udara.

Tanpa menoleh ke belakang, Shela memacu motornya, meninggalkan resonansi keberaniannya yang bergema di telinga mereka yang masih berdebar-debar. Kepulan asap dan keberanian gadis berani itu menjadi pengingat akan kekuatan yang tidak diharapkan, dan sebuah terimakasih yang tak terucap kepada sosok yang telah melatihnya menguasai kebebasan dan keberanian di atas roda dua.

Orang-orang yang berada di sekolahnya menatap takjub ke arahnya, meskipun mereka belum mengetahui siapa dirinya karena memang dia memakai helm full face,jadi kemungkinan dirinya dikenali sangatlah mustahil.

Setelah beberapa kali melakukan putaran Shela melajukan kembali motornya ke arah Black Eagle kamu memutar motornya dengan cepat di bantu dengan satu kakinya. Sekarang posisinya membelakangi black Eagle dan berhadapan langsung dengan musuh. Ia berhenti sejenak memperhatikan musuh dan mulai kembali menancap gas motornya.

Dengan langkah yang berani dan penuh ketegasan, Shela menginjak pedal gas dengan keras, menerjang ke arah musuh yang berkerumun, membuat hati mereka berguncang kencang oleh ketakutan.

Dalam sekejap, tepat di tengah lingkaran para musuh, Shela menarik rem mendadak. Motornya berputar, roda belakang terangkat seolah hendak menyongsong langit, meninggalkan semua mata yang memandang terbelalak, penuh kagum dan takut. Dengan gerakan yang licin, Shela membuka kaca helm full-face-nya yang sebelumnya menyembunyikan wajahnya, menampakkan sepasang mata yang tajam dan tatapan yang begitu dingin seolah-olah mampu membekukan darah.

"Pergi! Atau gue akan menghancurkan kalian satu per satu!" ancam Shela dengan suara yang tegas dan berwibawa.

Siapa lo?" terdengar suara terbata dari salah satu anggota geng, yang Shela yakin merupakan pemimpin mereka.

"Kalian tidak perlu tahu siapa gue!" balas Shela dengan nada yang dingin.

"Gue gak ada urusan sama lo, jadi jangan coba-coba ikut campur!" sang pemimpin geng itu balas dengan amarah yang nyata terlihat dalam sorot matanya. Namun, keberanian dan ketegasan Shela terbukti mampu membungkam setiap ancaman dan keraguan, meninggalkan musuh dalam keheningan dan rasa hormat yang terpaksa.

Shela tersenyum sinis, turun dari motornya dengan aura menantang yang terpancar dari matanya. Dia menghadapi laki-laki itu dengan tatapan tajam yang seolah menembus jiwa.

"Lo udah mengusik ketenangan sekolah gue, itu artinya gue juga berhak ikut campur di sini!" Seru Shela dengan suara berat, penuh keberanian.

Tanpa ragu, dia melancarkan tendangan kilat ke perut laki-laki itu. Dengan bunyi benturan yang keras, tubuh laki-laki itu ambruk ke tanah seperti kain lap yang dicampakkan. Shela meringis dengan kesan mencemooh. "Lemah!" Bentaknya.

Di sekitarnya, murid-murid yang menyaksikan peristiwa itu, mulut mereka menganga penuh kagum, terpesona dengan kemampuan Shela yang bisa menghancurkan lawan hanya dengan satu tendangan.

Sang laki-laki, dengan bantuan rekan-rekannya, bangkit sambil memijat-mijat perutnya yang sakit. "Urusan kita belum selesai, liat aja gue akan balas !" Ancamnya dengan nada penuh dendam, sebelum akhirnya dia naik ke motornya, menyalakan mesin, dan meninggalkan sekolah bersama anak buahnya, meninggalkan debu dan gema amarah yang belum terselesaikan.

Shela berbalik dan kembali menaiki motor barunya, ia melajukan motornya ke dalam area sekolah, kemudian memarkirkan motornya itu di sana. Black Eagle masih memperhatikan setiap gerak-geriknya dan mereka terlihat sangat terkejut begitu tau orang yang sudah menjatuhkan lawan dengan mudahnya itu bersekolah di tempat yang sama dengan mereka.

Mereka cukup tau jika yang membantu meteka melawan geng sebelah adalah seorang perempuan, namun mereka belum tau pasti siapa perempuan itu.

Shela masih terdiam di atas motornya ketika tiba-tiba dia merasakan pusing. Shela menunduk dan memejamkan matanya gada sakit di kepala dan juga perutnya yang mulai terasa perih. Ini pasti karena dari semalam perutnya dibiarkan kosong.

Semua orang di sekitarnya tidak sabar menunggu orang yang dari tadi mereka kagumi membuka helm.

Shela menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing pada kepalanya. Setelah dirasa cukup membaik, ia mulai membuka helmnya dan turun dari motor. Shela merapihkan sedikit rambutnya yang berantakan dan menutupi wajahnya dan sekarang terpampang jelas wajah menawan Shela.

Semua orang menganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, mata mereka terbelalak. Sebagain dari mereka mengerjap-ngerjap matanya untuk memastikan jika penglihatan mereka tidak salah.

Orang yang berhasil melawan musuh dan membuat mereka berdecak kagum adalah Shela, si wanita pembuat onar yang sudah tidak berulah lagi. Mereka benar-benar tidak menyangka akan hal itu.

Dika dan teman-temannya tidak berkedip melihat sebuah fakta yang sangat mencengangkan. Apakah Shela tadi berhasil mengusir musuh seorang diri? Bahkan mereka tidak pernah membayangkan jika Shela mampu mengendarai motor besar seperti itu. Selain itu dari cara Shela menjatuhkan ketua geng lawan itu membuktikan jika Shela menguasai teknik bela diri.

Shela sendiri hanya memasang wajah datar begitu semua orang menatap kagum sekaligus tidak percaya padanya. Ia mulai berjalan memasuki gedung sekolah dan meninggalkan semua orang yang masih diam terpaku.

Shela menyalurkan tas-nya si bahu kanannya dan memasukkan tangannya kedalam kantong celana hitamnya. Shela berjalan dengan percaya diri sehingga membuatnya semakin terlihat. Bahkan bisa dibilang sekarang lebih terlihat memukau daripada anggota black Eagle

" Itu Shela kan? Adik lo, Dika?" tanya Satria memastikan. Dika hanya diam gak mampu berkata-kata.

Sungguh mereka sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi barusan. Shela yang mereka tau sangat feminim dan tidak pernah sekali pun melihat Shela belajar motor jenis apapun, apalagi bela diri. Tapi pagi ini Shela membuktikan pada mereka jika Shela menguasai itu semua.

Seketika mereka semua tersadar saat bel masuk berbunyi menggema di seluruh penjuru sekolah. Reygan yang masih terkejut seketika mengembalikan ekspresi-nya menjadi datar dan mulai memasuki gedung sekolah diikuti oleh teman-temannya yang lain.

1
Sulati Cus
sp🤔 Reygan atau Dika🤔
Sulati Cus
jd orang g tegaan tuh susah
Jane
Dika Begoooo .. omongan marvin yg orang lain di lercayay🤣
Nisa Nisa
ya memang kelakuanmu salah, nyeleneh. Apa kamu gk pernah diajari adab?
Nisa Nisa
lama2 gk simpati sama tokoh utama cerita ini.. kemarahan sama keluarga dilimpahkan utk mahluk lain yg lebih lemah. Padahal dia punya semuanya keluarga yg tetap menafkahi dia gk kurang suatu apa gk pernah lihat bgm anak-anak tanpa orangtua atau ada orang tua tp jg miskin kadang mengeksploitasi anaknya. Dia cuma tdk diperhatikan, tp marah pd semua dan gk berani berontak pd keluarganya.
Nisa Nisa
gk nyadar Shel kamu jg modus sama Marvin walau ditolak mentah mentah🤣🤣 gk da harga diri loe sebagai cewek
Nisa Nisa
Heran jg Shella ini korban keluarga tp dia suka bully perempuan lain, bukannya tahu bagaimana gk enaknya dibully. Tp dari keluarga gk punya rasa kasih sayang ya jadinya dia jg miskin perasaan kasih kesesama. anak bungsu yg gk sempat kenal ibunya harusnya dikasihani disayang eh malah dianggap anak pembawa sial.
Nisa Nisa
adiknya disebut jalang kakaknya ikutan marah, bukan marahi org yg menghina adiknya tp marahi adiknya. Kelakuan adikmu adalah hasil didikan dikeluarga kalian. Percaya ada anak pembawa sial benar-benar gk percaya takdir
Dewi Yanti
shela tuh knp hrs slalu ikut cmpr urusan orag sih, jd nya kn dia yg kena jebak
Sulati Cus
bodohnya di panggil oleh musuhnya nyamperin tanpa persiapan
Nisa Nisa
keluarga yg tdk menerima takdir, tidak mengenal Tuhan.
Yulya Muzwar
ceritanya bagus kak.
Rita Rita
freezer jatuh cinta susah juga ya nebak nya. 🤣
Rita Rita
kedua duanya ada rasa namun keknya Reygan dan Shela belum menyadari
Rita Rita
seperti nya Reygan menyukai Shela dan orang seperti Reygan itu bila jatuh cinta pasti bucin banget
Rita Rita
sumpah,ini part nyesek banget. Shela cepat bangun ya,, teman teman mu sekarang balik mencintai mu.
Rita Rita
si Dika kalo masih bertahan dengan geng yang ga guna itu memang bodoh, jelas banget keberadaan hanya dimanfaatkan apa lagi udah bilang beban, ke injak banget harga diri,,
Hikam Sairi
karna🫵 bodoh dika
Sulati Cus
yg jelas mending keluar dr geng g guna cm bisa meresahkan ae apalagi udah di katain beban apa g merasa di injak harga diri mu
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!