NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Duel yang Membara

Suasana Arena Batu seakan membeku sesaat setelah Zhao Liang bangkit dengan wajah merah padam. Debu yang masih berhamburan dari benturan sebelumnya membuat udara di sekeliling keduanya terasa semakin berat. Sorakan penonton sedikit mereda, berganti dengan desis-desis penuh antisipasi.

Semua orang tahu, duel ini tidak lagi sekadar pertarungan ujian. Ada dendam, ada kebencian, dan ada harga diri yang dipertaruhkan.

Lin Feng berdiri tegak, meski napasnya terengah. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi sorot matanya tidak bergeming. Energi biru-ungu samar masih berkilat dari tubuhnya, tanda bahwa tubuh uniknya telah merespons tekanan pertarungan. Ia tahu, Zhao Liang tidak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka dipaksa tumbang.

Zhao Liang menggertakkan gigi, tangannya mengepal hingga sendi-sendi berbunyi keras. “Kau pikir hanya dengan satu pukulan keberuntungan, kau bisa menjatuhkanku? Lin Feng, aku akan tunjukkan jurus sebenarnya!”

Suara Zhao Liang bergema keras, dan seketika energi hijau di sekeliling tubuhnya memuncak. Aura itu berputar-putar seperti pusaran angin kencang, meniup debu dan kerikil hingga beterbangan. Rambutnya berkibar liar, matanya memancarkan cahaya kehijauan yang tajam.

Beberapa murid yang menonton menahan napas. “Itu… teknik lanjutan keluarga Zhao! Aku pernah dengar, hanya murid dengan bakat khusus yang bisa menguasainya.”

“Kalau benar itu yang kupikirkan, Lin Feng dalam bahaya. Jurus itu dikenal sangat agresif.”

Tetua Mo mengangkat alisnya, tetapi tidak menghentikan duel. Sorot matanya justru makin tajam, ingin melihat sejauh mana kedua murid ini akan melangkah.

Zhao Liang menekuk lututnya, lalu melesat ke depan dengan kecepatan lebih gila dari sebelumnya. Energi hijau melingkupi tinjunya, berubah seperti pusaran angin yang berputar dengan tajam.

“Serangan Angin Badai!”

Pukulan itu diluncurkan dengan kekuatan yang mampu menghancurkan batu besar. Tanah bergetar, udara seakan terbelah. Beberapa murid di luar arena sampai menutup mata, takut menyaksikan Lin Feng dihantam habis-habisan.

Lin Feng menahan napas, matanya menajam. Tubuhnya melangkah mundur setengah tapak, tangan kirinya melipat ke dalam, sementara tangan kanan dipenuhi energi biru-ungu yang semakin pekat. Ia tidak menghindar sepenuhnya, melainkan menunggu momentum yang tepat.

Brakkk!

Benturan terjadi.

Tinju hijau Zhao Liang menghantam keras lengan kiri Lin Feng. Sakitnya menusuk, tulangnya nyaris retak. Namun di saat yang sama, Lin Feng memutar tubuhnya, mengalirkan energi dari pusar ke tinju kanan, lalu menghantam lurus ke arah bahu Zhao Liang.

Bummm!

Tubuh Zhao Liang terhempas menyamping, tapi kali ini ia tidak jatuh. Dengan gesit ia berputar di udara, mendarat dengan satu lutut. Wajahnya terkejut, tapi segera berubah jadi murka.

“Dasar kutukan! Kau benar-benar memaksa aku sejauh ini!”

Lin Feng menarik napas panjang, tubuhnya bergetar karena rasa sakit yang menggerogoti. Namun tatapannya tidak pudar. “Aku sudah bilang. Aku bukan kutukan. Aku akan membuktikan jalanku sendiri.”

Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang semakin membara. Zhao Liang meluncurkan serangan-serangan angin berlapis, setiap pukulan mengandung tekanan yang membuat arena bergema. Lin Feng berkali-kali terdesak, tubuhnya terkena hantaman di bahu, dada, bahkan pinggang. Tapi setiap kali terhantam, ia bertahan. Energi biru-ungu dari tubuhnya berdenyut semakin kuat, seolah memberi bantalan pada luka-luka itu.

“Lihat! Lin Feng masih berdiri meski terus dihantam!”

“Tubuhnya aneh… seolah bisa menahan tekanan lebih dari orang biasa.”

Beberapa tetua lain yang menyaksikan mulai saling berbisik, menilai potensi tersembunyi yang dimiliki Lin Feng. Hanya Yunhai, yang duduk dengan wajah datar, mengetahui bahwa muridnya sedang menapaki jalan yang sangat berbahaya.

Zhao Liang menggeram, lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Dari energi hijau yang berputar, muncul pusaran angin yang melingkupi sekelilingnya, menutup ruang gerak Lin Feng.

“Angin Penjara!”

Dinding angin terbentuk, menekan Lin Feng dari segala arah. Udara jadi tipis, napasnya tersengal. Tekanan itu menghantam tubuhnya, membuatnya sulit bergerak.

Para murid terkejut. “Dia mengurung Lin Feng! Kalau begini, tak ada jalan keluar!”

Lin Feng memejamkan mata sejenak. Tubuhnya sudah penuh luka, napasnya pendek. Namun di dalam pikirannya, kata-kata Yunhai kembali bergema: “Ketika kau terhimpit, jangan hanya mengandalkan tenaga. Dengarkan tubuhmu, biarkan energi unikmu menunjukkan jalannya.”

Lin Feng mengingat itu, lalu merasakan aliran energi biru-ungu dari pusarnya. Ia tidak melawan tekanan angin secara langsung. Sebaliknya, ia merilekskan tubuh, membiarkan energi itu mengalir ke seluruh nadinya. Cahaya samar mulai memancar dari permukaan kulitnya.

Zhao Liang melihat itu, wajahnya terkejut. “Apa yang kau—”

Bummm!

Tiba-tiba, pusaran angin di sekeliling Lin Feng pecah dari dalam. Energi biru-ungu meledak keluar, mengoyak dinding angin seakan kertas rapuh. Ledakan itu mendorong Zhao Liang beberapa langkah mundur, membuat rambut dan pakaiannya berkibar tak terkendali.

Sorak penonton pecah. “Dia berhasil keluar!”

“Bagaimana mungkin tubuh Lin Feng bisa menahan penjara angin itu?”

Lin Feng membuka mata. Tatapannya kali ini berbeda—tenang, tapi penuh keyakinan. Tubuhnya dipenuhi luka, tapi aura yang memancar darinya justru semakin menakutkan.

Zhao Liang menggertakkan gigi, keringat bercucuran. “Tidak… tidak mungkin! Kau hanyalah kutukan! Kau tidak bisa melampaui aku!”

Namun dalam hati kecilnya, ada rasa gentar yang tak bisa ia bantah. Lin Feng bukan lagi murid lemah yang bisa ia hina. Di depan matanya berdiri seorang lawan yang pantang menyerah, bahkan saat tubuhnya hampir hancur.

Pertarungan kembali meledak. Keduanya saling melancarkan pukulan, tinju bertemu tinju, kaki bertemu kaki. Setiap benturan menggetarkan tanah, retakan baru bermunculan di Arena Batu. Sorakan murid-murid semakin keras, sebagian mendukung Zhao Liang, sebagian mulai terpikat dengan keteguhan Lin Feng.

Di kursi batu, Liu Tian yang sejak awal menonton hanya menyeringai tipis. “Menarik… semakin dia bersinar, semakin indah saat aku menghancurkannya nanti.”

Mei Xue menggenggam tangan erat, matanya tak lepas dari Lin Feng. Ia bisa melihat tubuh Lin Feng hampir mencapai batas, namun hatinya yakin murid itu tidak akan menyerah.

Akhirnya, setelah puluhan benturan, keduanya terhuyung mundur bersamaan. Napas terengah, tubuh penuh luka. Arena sunyi sejenak, semua menahan napas menunggu siapa yang akan melangkah lebih dulu.

Lin Feng mengangkat kepalanya, tatapannya masih membara. Zhao Liang, meski tubuhnya masih dipenuhi energi hijau, terlihat goyah.

“Aku… tidak akan kalah darimu, Zhao Liang.”

Suara Lin Feng tegas meski serak. “Aku bukan kutukan, dan aku akan buktikan bahwa aku pantas berdiri di sini.”

Zhao Liang meraung, lalu mengumpulkan energi terakhirnya. “Kalau begitu, kita lihat siapa yang benar-benar pantas!”

Keduanya melesat bersamaan untuk serangan pamungkas. Energi biru-ungu dan hijau bertabrakan di tengah arena.

Bummmmmmmmmmmm!

Ledakan besar mengguncang Arena Batu. Cahaya menyilaukan membuat banyak murid menutup mata. Debu dan asap tebal memenuhi udara.

Saat kabut perlahan menghilang, dua sosok terlihat terhuyung di tengah arena.

Lin Feng masih berdiri, meski tubuhnya gemetar hebat. Sementara Zhao Liang berlutut, darah menetes dari mulutnya. Energi hijaunya tercerai-berai, tak mampu lagi mempertahankan kekuatannya.

Arena terdiam sejenak, lalu sorakan besar meledak. “Lin Feng… bertahan!”

“Dia benar-benar… mengalahkan Zhao Liang!”

Tetua Mo mengangkat tangan, suaranya berat namun penuh wibawa. “Pertarungan ini… dimenangkan oleh Lin Feng!”

Sorakan menggema, sebagian besar murid berteriak histeris. Namun di antara kerumunan, ada juga wajah-wajah masam—mereka yang tidak senang melihat Lin Feng berdiri di atas Zhao Liang.

Zhao Liang jatuh terduduk, matanya merah padam menatap Lin Feng. “Aku tidak akan pernah mengaku kalah… Aku akan membalas, Lin Feng…!”

Lin Feng hanya menatapnya dingin, lalu membalikkan tubuh. Meski langkahnya gontai, setiap tapaknya terasa mantap.

Di kejauhan, Yunhai mengangguk pelan. “Bagus… tapi perjalananmu baru saja dimulai.”

Terdengar sorakan yang masih bergema di Arena Batu, menandai awal dari reputasi baru Lin Feng di Sekte Langit Biru. Namun juga menjadi awal dari kebencian yang lebih dalam, yang kelak akan menuntun pada pertarungan-pertarungan lebih besar.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!