Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Tahan aja dulu, Pak. Sementara promosi aja dulu, nggak papa, hal seperti ini biasanya hanya akan berlangsung kurang dari 6 bulan." lelaki itu menoleh ke samping.
"Semoga bosnya masih punya uang simpanan untuk mengaji karyawan untuk masa-masa sulit ini."
"Dia punya! Dan pasti bisa menunggu hingga harga sawit kembali normal." pria paruh baya itu selalu berbinar-binar jika melihat kepribadian orang yang duduk di sampingnya. Dia.. laki-laki idaman yang dikabarkan baru saja bercerai.
Dalam benaknya selalu bertanya, apakah gerangan yang membuat pria di sampingnya ini bercerai? Dari segi materi dia mampu, dari segi seorang pemimpin dia juga sangat bertanggung jawab, santun, dan yang paling utama, dia baik akhlaknya. Siapakah perempuan yang tak beruntung itu yang rela melepas laki-laki seperti dia.
"Semoga saja." Darwin mengangguk-anggukkan kepala.
"Jikapun kepepet, Bapak sarankan saja untuk menawarkan ke pabrik, cukup membawa contoh buah saja, jika mereka cocok, biarkan mereka yang nanti datang cek sendiri ke kebun." saran pria itu.
"Kenapa nggak langsung bawa barangnya saja? Jadi kalau mereka cocok bisa langsung pembayaran."
"Jangan! Nilai jualnya akan berbeda jika seperti itu, orang akan menekan harga serendah-rendahnya jika kita yang datang, karena mereka berpikir kita yang butuh, sebaliknya, jika mereka yang datang, harga kita yang tentukan. Dan tentu jauh lebih baik, Pak."
Darwin tersenyum cemerlang, itulah mengapa ia begitu bangga dengan pria yang duduk disampingnya ini, dia seseorang yang layak dijadikan contoh.
"Akhirnya kita sampai, Mba Queen sudah menunggu."
Binar di wajah pria itu perlahan memudar, berganti sebentuk pemahaman akan tujuannya ke tempat ini. Lantas dia tersenyum kecil sambil membuka sabuk pengaman. Tidak ingin menghindar lagi, pria itu memantapkan hatinya untuk turun, menemui dia yang sejujurnya masih memenuhi ruang hati.
Dua pria itu turun dari mobil, berjalan beriring memasuki warung sederhana di persimpangan.
Langkah kaki salah satu pria itu menelan, saat langkahnya mulai mendekati meja dimana pemilik hatinya duduk.
Sama halnya si pria, perempuan yang melihat kehadirannya langsung berdiri.
"Maaf sudah membuat kamu lama menunggu."
"Si-silahkan duduk." bata perempuan itu berusaha menahan diri agar tak berlari menghambur kepelukan pria yang kini tengah duduk di sampingnya.
Hawa panas menyergap wajah Queensa secara tiba-tiba, ketenangan Anjasmara melukai hatinya.
Queensa terpekur. Apa rasa rindu itu hanya dia saja yang rasa, wajah itu tetap sama, ketenangan Anjasmara justru mengusik Queensa yang sudah berusaha menahan diri.
"Pak Darwin maaf, apa boleh saya bicara empat mata dulu dengan temannya?"
Darwin yang ditanya seperti itu agak terkejut, mungkinkah mereka saling kenal? Laki-laki itu mengangguk samar, karena Anjasmara juga tak bicara apa-apa dia hendak beranjak pergi, tetapi kalah cepat dengan Queensa yang dengan cepat menarik pergelangan tangan Anjasmara.
Queensa memaksa Anjasmara menjauh, dia ingin melakukan pendekatan personal dan membuat mantan suaminya mau mendengarkan penjelasannya.
Tentu saja Queensa berharap begitu. Demi menebus rasa bersalahnya, dia akan melakukan apa saja. Akan tetapi.....
"Nggak usah ditarik, saya akan ikuti kamu." ucapan Anjasmara itu biasa, tapi mampu melukai hati Queensa yang memang sudah hancur lebur. Otaknya seolah berbisik jikalau pria itu jijik bersentuhan dengannya.
Queensa menatap wajah Anjasmara lekat-lekat. "Kamu... " tangannya hampir menjangkau pipi Anjasmara, tetapi pria itu memundurkan langkahnya, hingga menyisakan tangan Queensa yang melayang di udara. Queensa tersenyum kecut. Seharusnya dia tersentil atas sikap mantan suaminya. Namun, dia berusaha mengusir perasaan sakit pada hatinya, Queensa sadar rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang pria itu tanggung atas sikapnya dulu.
"Ma-maaf... " pertahanan air mata Queensa jebol. Belum apa-apa buliran bening itu satu persatu turun membasahi pipi.
Anjasmara mengepalkan kedua tangannya, dia benci melihat air mata perempuan itu.
######
Gimana?
Apa Mas Anjasmara cari cewek lain saja?
Mungkinkah ada kesempatan untuk mereka rujuk?
Teman-teman, jangan lupa jejak cintanya untuk aku ya...
Like, komen, vote, ⭐⭐⭐⭐⭐ yang kalian berikan itu penyemangat tiada tanding.
Happy Reading semua.....
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓