Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kemarahan Kaisar
Di tengah puing-puing, dengan suara serak yang membelah keheningan, Kaisar Tianfei tiba-tiba meraung keras, matanya berkilat penuh amarah dan dendam. Meskipun tubuhnya compang-camping, aura kekuasaannya kembali memancar.
"Kirim seratus ribu tentara!" perintahnya, suaranya menggelegar di atas reruntuhan.
"Tangkap hidup-hidup pengkhianat Hakim Prefektur Selatan Shentu!"
Kemarahan Kaisar jelas. Dalam benaknya, semua kehancuran ini pasti berawal dari laporan-laporan dari Prefektur Selatan, terutama sketsa kultivator yang melayang itu. Ia kini yakin, Hakim Shentu, yang seharusnya bertanggung jawab atas wilayah damai itu, adalah dalang di balik semua ini.
Di tengah ketegangan yang mencekam dan amarah Kaisar yang membara, Kasim Utama, dengan napas terengah-engah dan tubuh gemetar, berkomentar.
"Yang Mulia," katanya, suaranya penuh rasa hormat dan kekaguman,
"Ini adalah anugerah. Janda Ratu Leluhur telah mengambil tindakan langsung, menyelamatkan Yang Mulia dari percobaan pembunuhan yang keji ini, dan mengatasi malapetaka yang tak terbayangkan."
Jenderal Agung, yang juga masih terguncang, mengangguk setuju.
"Benar sekali, Yang Mulia," tambahnya, suaranya dalam.
"Kami berhutang nyawa padanya. Kehadiran Janda Ratu Leluhur adalah sebuah keajaiban."
Seolah mendengar raungan Kaisar dan melihat kehancuran yang terjadi, satu per satu, para jenderal dan prajurit terkemuka yang selamat dari ledakan mulai berdatangan. Mereka bergegas menuju pusat reruntuhan, bergerak cepat untuk melindungi Kaisar yang kini tampak begitu rentan.
Dari kejauhan, pemandangan itu persis seperti lalat yang mengerubungi kotoran, berbondong-bondong mendekat, membentuk lingkaran pelindung di sekeliling tiga sosok compang-camping itu, siap mengorbankan nyawa demi kaisar mereka.
Yang tadinya adalah Istana Naga yang megah, sebuah simbol kemegahan dan kekuasaan Kekaisaran Tianlong, kini telah direduksi menjadi lautan puing yang bergemuruh dalam keheningan malam.
Dimana sebelumnya berdiri gerbang-gerbang raksasa berukir naga emas, kini hanya tersisa tumpukan batu pecah dan kayu hangus, siluet mengerikan di bawah cahaya bulan yang samar.
Aula-aula pertemuan yang menjulang tinggi, tempat para menteri bersidang dan keputusan negara diambil, kini tak lebih dari onggokan reruntuhan, dinding-dindingnya menganga seperti mulut raksasa yang tercabik.
Menara-menara pengawas yang megah, yang dulunya menjulang gagah menembus awan dan menawarkan pemandangan seluruh ibu kota, telah patah, tubuhnya yang batu hancur berkeping-keping, puing-puingnya tersebar seperti pecahan bintang jatuh.
Taman-taman istana yang indah, dengan kolam teratai dan jembatan melengkung, kini porak-poranda, patung-patung giok pecah, dan pepohonan purba tumbang, ditutupi lapisan debu tebal.
Setiap lorong, setiap paviliun, setiap detail arsitektur yang selama berabad-abad menjadi saksi bisu sejarah kekaisaran, kini telah hancur tanpa ampun. Batu-batu permata yang menghiasi dinding dan tiang telah lenyap, meleleh atau terkubur di bawah timbunan reruntuhan.
Udara masih dipenuhi bau hangus dan asap, menjadi nisan tak terlihat bagi kemegahan yang telah lenyap. Istana Naga, jantung kekaisaran, kini hanyalah monumen bisu dari sebuah kehancuran yang tak terbayangkan.
UGHH…
Di sebuah tempat antah berantah, di mana kabut tebal menyelimuti pepohonan purba yang menjulang tinggi, seorang wanita yang sangat cantik berjalan terhuyung. Gaun sutranya yang dulu anggun kini compang-camping, dan rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini tergerai kusut, menutupi sebagian wajahnya.
Setiap langkahnya adalah perjuangan; kakinya terasa lemah, nyaris tak mampu menopang bobot tubuhnya.
Dia terbatuk pelan, bibirnya pucat, dan matanya memancarkan kelelahan yang mendalam. Pandangannya berputar, dan hampir saja ia terjatuh. Namun, dengan insting terakhir, tangannya terulur dan mencengkeram sebuah tiang yang entah dari mana.
Itu adalah tiang batu tua, diselimuti lumut, yang mungkin dulunya merupakan bagian dari reruntuhan kuil atau monumen kuno.
Wanita itu bersandar pada tiang itu, menjaga keseimbangan agar tidak jatuh, napasnya terengah-engah, berusaha mengumpulkan kembali sedikit tenaga yang tersisa.
Saat bertumpu pada tiang batu, wanita cantik itu tiba-tiba terbatuk hebat. Dari bibirnya yang pucat, seteguk darah hitam pekat dimuntahkan, membasahi gaunnya yang sudah compang-camping. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang mengerikan terjadi. Vitalitasnya menyusut drastis, seolah menguap dari dalam tubuhnya.
Kulitnya yang tadinya halus dan bercahaya kini mengeriput dengan cepat, menarik ke dalam, memperlihatkan tulang pipi dan rahang yang menonjol. Rambutnya memutih dalam sekejap, dan matanya yang dulu indah kini cekung dan redup.
Dalam hitungan detik, sosok wanita cantik itu lenyap, digantikan oleh penampilan seorang nenek-nenek yang sangat renta. Dia tampak begitu lemah dan keriput, seperti selembar kulit tipis dari kematian, nyaris tak berdaya untuk bertahan di dunia ini.