NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sistem Si Pewaris Terkaya

Transmigrasi Sistem Si Pewaris Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Sistem / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Madya_

Lyra hanyalah gadis biasa yang hidup pas-pasan. Namun takdir berkata lain ketika ia tiba-tiba terbangun di dunia baru dengan sebuah sistem ajaib!

Sistem itu memberinya misi harian, hadiah luar biasa, hingga kesempatan untuk mengubah hidupnya 180 derajat. Dari seorang pegawai rendahan yang sering dibully, Lyra kini perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri dan menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di dunia!

Namun perjalanan Lyra tak semudah yang ia bayangkan. Ia harus menghadapi musuh-musuh lama yang meremehkannya, rival bisnis yang licik, dan pria kaya yang ingin mengendalikan hidupnya.

Mampukah Lyra menunjukkan bahwa status dan kekuatan bukanlah hadiah, tapi hasil kerja keras dan keberanian?

Update setiap 2 hari satu episode.

Ikuti perjalanan Lyra—dari gadis biasa, menjadi pewaris terkaya dan wanita yang ditakuti di dunia bisnis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Kehancuran sekutu Kandiswara

Lampu kristal di aula perjamuan berkilau, memantulkan bayangan emas ke dinding marmer. Namun, alih-alih kemegahan pesta, yang terasa justru ketegangan yang kental udara berat penuh tatapan curiga. Nama Lyra sudah jadi bahan bisik-bisik. Bukan lagi gadis muda yang tadi pagi membuat investor terpukau dengan pidatonya, melainkan “tersangka” pemalsuan data ekspor.

Semua mata mengikuti langkah Lyra saat ia masuk. Gaun biru tua dengan kilauan lembut membuatnya tampak seperti bayangan laut yang menelan cahaya. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Alessandro yang berdiri di seberang aula menatapnya dingin, namun penuh pengertian. Ia tahu badai besar baru saja pecah.

Di tengah kerumunan, seorang pria berambut perak mengangkat gelas anggurnya, senyum licik tersungging di bibirnya. Marcello Valente, CEO Valente Global Trade. Suaranya menggelegar, menembus riuh rendah percakapan.

“Beginikah caramu mencari panggung, Nona Lyra? Mengelabui forum internasional dengan data fiktif? Investor dunia punya hak untuk tahu siapa kau sebenarnya.”

Beberapa tamu menoleh ke arah Lyra, wajah mereka dipenuhi keraguan. Sebagian lagi justru mulai mengangguk, seolah percaya begitu saja. Marcello menyesap anggurnya dengan puas, yakin rencananya berhasil.

Namun Lyra hanya tersenyum tipis, berjalan maju. Hak tingginya berdetak ritmis di lantai marmer, seperti tanda drum perang.

Zen berbisik di dalam pikirannya

“Semua bukti sudah terkumpul. Saat kau memberi aba-aba, sistem akan menayangkan data forensik server dan rekaman transaksi ilegal mereka. Waktu eksekusi sekarang atau tidak pernah.”

Lyra mengangguk samar, tanpa mengubah ekspresinya.

“Menarik sekali. Kau menuduhku, padahal kau sendiri yang bermain di lumpur.”

Marcello terkekeh sinis

“Kata-kata kosong. Aku punya dokumen yang membuktikan—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, layar besar di ujung aula tiba-tiba menyala. Deretan data muncul: rekaman suara, laporan keuangan, email internal Valente Global Trade. Semua menunjukkan satu hal pemalsuan data ekspor-impor, suap pada pejabat, hingga perjanjian rahasia dengan Kandiswara.

Kerumunan seketika meledak. Ada yang terbelalak, ada yang berdiri dengan wajah murka. Investor yang tadinya condong ke Valente langsung menarik diri, sementara beberapa bangsawan Eropa saling berbisik cepat, wajah mereka berubah serius.

Lyra mengangkat dagunya sedikit, suaranya tetap tenang.

“Itu bukan dataku. Itu datamu. Kau pikir sistem keamananku bisa dijebol semudah itu? Kau salah besar. Kau menanam racun, dan malam ini semua orang melihat siapa pemilik racun itu.”

Wajah Marcello memucat, tangannya bergetar

“Tidak… tidak mungkin! Ini fitnah! Data bisa dimanipulasi..”

Suaranya tenggelam ketika Alessandro maju satu langkah, matanya setajam bilah pedang

“Aku sudah memverifikasi metadata dokumen itu. Semua valid. Tidak ada manipulasi. Semua yang ditayangkan nyata adanya.”

Teriakan kecil terdengar dari meja investor Jepang. “Valente, kau mempermalukan kami semua!”

Marcello mencoba mundur, tapi langkahnya terasa berat.

...----------------...

Flashback singkat – Dua hari sebelum forum

Lyra duduk di dalam jet pribadinya, menatap layar transparan yang menampilkan data transaksi global. Zen menyorot satu nama berulang kali: Valente Global Trade.

“Analisis pola menunjukkan transfer gelap dari Valente ke rekening keluarga Kandiswara. Jumlahnya terlalu besar untuk hanya ‘urusan bisnis’. Kau mau aku bongkar sekarang?”

Lyra menyunggingkan senyumnya ia masih ingin bermain main dengan mereka.

“Tidak. Kita biarkan ia merasa aman. Kita beri dia ruang untuk menyerang lebih dulu. Musuh yang terlalu percaya diri… akan menusukkan pedang ke dirinya sendiri.”

Di matanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Ia tidak akan sekadar bertahan ia akan menjerat Valente dengan perangkap elegan yang tak bisa ia hindari.

...----------------...

Kembali ke perjamuan

Lyra melangkah lebih dekat.

“Aku tahu sejak awal kau adalah sekutu Kandiswara. Bukti transfer gelap sudah kutemukan jauh sebelum forum dimulai. Tapi aku ingin melihat seberapa jauh kau berani melangkah. Dan kau benar-benar menjerat lehermu sendiri malam ini.”

Marcello gemetar, pandangannya liar mencari dukungan. Namun investor yang sebelumnya ada di sisinya justru menjauh.

Pria itu berteriak putus asa. Namun para investor mulai bersuara lantang.

"Sungguh memalukan!"

"Kau menipu forum internasional!"

"Valente Global sudah selesai!"

Satu per satu, perwakilan perusahaan menarik kontrak kerja sama dengan Valente di tempat. Bahkan ada yang merobek dokumen sambil berdiri.

Lyra mendekat, menatap sekutu Kandiswara yang kini gemetar.

"Begitulah ketika kau menaruh taruhan pada keluarga yang salah. Kau terlalu buta oleh sanjungan manis Kandiswara, sampai lupa bahwa bisnis bukan tentang dendam pribadi. Kau menjual reputasimu demi mereka. Dan sekarang kau hancur karenanya."

Pria itu jatuh terduduk di kursinya, wajahnya penuh penyesalan. "Aku… aku seharusnya tidak… percaya mereka…"

Bisikan marah mulai diarahkan ke nama Kandiswara. Beberapa investor menoleh dengan tatapan jijik.

"Kalau ini sekutunya, apa yang keluarga Kandiswara sembunyikan?"

"Mereka membawa racun ke meja kita."

Zen berbisik lagi di benak Lyra.

“Dampak berantai dimulai. Saham Valente turun 47% hanya dalam dua puluh menit. Keluarga Kandiswara di Jakarta sudah menerima kabar mereka ketakutan. Kekuasaan mereka mulai retak.”

Marcello roboh di kursinya, tubuhnya bergetar. Seisi aula menatap pemandangan itu sang CEO yang biasanya arogan kini runtuh, hancur di hadapan semua orang.

Alessandro mendekat ke Lyra, menatapnya penuh kekaguman.

“Sekali lagi kau tidak hanya menyeberangi badai, Lyra. Kau membuat kapal lawan karam.”

Lyra menoleh, senyumnya samar.

“Kadang… badai hanyalah awal dari perjalanan.”

Aula terdiam. Namun dari sudut ruangan, beberapa investor lain bertukar tatapan penuh intrik. Nama Kandiswara disebut lagi, kali ini dengan kebencian yang lebih tajam.

Dan di layar ponsel beberapa jurnalis, berita sudah menyebar:

“Valente Global Trade runtuh. Jejak keterlibatan Kandiswara tercium.”

Duchess Aurelia, yang sedari tadi hanya menyaksikan, mengangkat gelas anggurnya dengan senyum tipis. "Sepertinya sang pemain catur baru saja dimakan bidaknya sendiri."

Lyra menarik napas panjang, lalu memberi senyum kecil pada hadirin.

"Malam ini, kalian menyaksikan sendiri siapa yang menjatuhkan siapa. Aku tidak perlu meyakinkan lagi. Fakta sudah berbicara."

Tepuk tangan pecah, meski sebagian masih bingung oleh badai yang baru berlalu. Alessandro berjalan ke sisinya, membisikkan dengan suara rendah.

"Kau baru saja mengubur satu kerajaan bisnis."

Lyra menoleh padanya. Matanya berkilat tajam.

"Dan ini baru permulaan."

...----------------...

Langkah Lyra bergaun biru tua berkilau itu bergema ringan di marmer aula yang kini terasa lebih lengang setelah keributan barusan. Semua mata masih menatapnya, ada yang penuh kagum, ada yang ngeri, ada pula yang menyesali telah meremehkannya. Kilauan lampu kristal di atas seakan merayakan kemenangannya malam itu.

Sekutu Kandiswara, Valente, sudah digiring keluar oleh petugas keamanan forum dengan wajah pucat pasi, tubuhnya gemetar, dan suara paniknya masih terngiang. Investor-investor yang sempat meragukan Lyra kini justru berbisik dengan nada hormat. Nama Lyra semakin bergema, bukan lagi sekadar “gadis muda dari Indonesia”, melainkan sosok yang mampu menjungkirbalikkan panggung internasional hanya dengan satu langkah.

Lyra berhenti sejenak di ambang pintu aula. Senyum tenang mengembang di bibirnya. Rasa lega bercampur kepuasan menyelubungi hatinya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menghancurkan satu sekutu Kandiswara sampai ke akar-akarnya. Bukan sekadar peringatan, tapi kehancuran total yang akan dicatat sejarah bisnis dunia.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan anonim masuk, singkat namun sarat ancaman:

Jika kau pikir kau sudah mematahkan cakar Kandiswara, kau salah. Kau hanya menyentuh ujungnya. Kami sedang menunggumu di Jakarta. Dan kali ini, kau tidak akan keluar dengan selamat.

Jemari Lyra berhenti di atas layar. Matanya menatap teks itu cukup lama, sebelum tawa kecil lolos dari bibirnya. Senyum tipis, nyaris manis, terbentuk di wajahnya bukan senyum orang yang ketakutan, melainkan senyum seseorang yang baru saja menerima tantangan yang sudah ia nanti.

Dalam hatinya ia berbisik, hampir seperti doa perang.

Mari kita lihat… siapa yang benar-benar tidak keluar selamat.

Ia menutup ponselnya, menyelipkannya ke tas kecil di lengannya. Suasana hatinya justru indah terlalu indah seolah kemenangan barusan menjadi simfoni pembuka untuk peperangan berikutnya. Langkahnya ringan, matanya berkilat. Malam itu, Lyra bukan hanya gadis yang berhasil membuktikan diri. Malam itu, Lyra menjelma menjadi badai yang siap menggulung siapa pun yang berani berdiri di jalannya.

Lampu kristal di aula masih menyala, namun bagi Lyra, cahaya kemenangan yang ia bawa jauh lebih terang daripada itu.

Jangan lupa like, subscribe dan komen agar author semangat update. Terima kasih🤗

1
Ressah Van Germ
sebaiknya jgn terlalu banyak menampilkan drama para pengawal, yg nbnya adalah robot, agar tidak merusak alur/ mengurangi kesukaan pembaca.
Ressah Van Germ
gimana mau komen kalo dibuat tegang terus kyk gini? 🤭💪
Ressah Van Germ
masih binun, zen ini nama sistem, tp apa berwujud manusia spt para pengawal jg?
Ressah Van Germ
sorry gak s4 komen...
lagi asyik ngikuti alurnya..🤭💪
Ressah Van Germ
sayangnya ga ada ktrampilan beladiri/ kekuatan fisik, apa belum ya?
Ressah Van Germ
coba mampir, sapatau sesuai harapan
...
Ken Dita Yuliati
tegaaanggg bacanya dan deg-degkan tau taunya nunggu bab selanjutnya.....,
Lala Kusumah
tegaaaanng degdegan banget 😵‍💫🫣🫣😵‍💫
Grey Casanova
udah tamat kah?
Lala Kusumah
cepat hempaskan mereka Lyra 💪😍😍
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
pembantu/asisten rumah tangga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
hai kak mampir
Lala Kusumah
tegaaaanng 😵‍💫😵‍💫🫣🫣
Lala Kusumah
kereeeeeennn Lyra 👍👍👍
Lala Kusumah
siaaap, lanjutkan 👍👍👍
Lala Kusumah
kereeeeeennn n hebaaaaaatt Lyra 👍😍💪😍
Mimi Johan
Bagus sekali ceritanya
Lala Kusumah
siap lanjutkan Thor 🙏🙏🙏
Lala Kusumah
semangat sukses selalu Lyra 💪😍😍😍
Gedang Raja
bagus sesuai keinginan 👍💪👍🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!