Perjodohan membuat Tommie dan Aisyah harus bersama.
Bagaimana jika suamimu adalah orang yang paling sering membullymu dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku membencimu, Kak!
**Suamiku Membenciku
Author: Linda Mardiana
Bab: Aku membencimu, Kak**
Hari ini, Della datang ke kediaman Aisyah karena permintaan dari Aisyah. Aisyah mengatakan kepadanya, ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
Della duduk berseberangan dengan Aisyah, wanita itu terus menatap Della dari ujung rambut hingga ujung kaki, menatapnya lekat hingga membuat Della merasa sedikit tidak nyaman.
Della menjadi salah tingkah karena tatapan yang di berikan Aisyah, gadis itu berfikir bahwa Aisyah masih marah kepada dirinya, karena sempat menggoda suami Aisyah, dulu.
"Apakah kau sangat mencintai Kak Tommie, Della?" tanya Aisyah dengan suara lembutnya, memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa saat lalu.
Della tampak sangat terkejut, gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Aisyah, yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari dirinya.
"Ap-apa maksudmu Aisyah? Ba-bagaimana mungkin aku mencintai suamimu? Dulu aku hanya khilaf," jawab Della terbata-bata karena gugup.
Aisyah hanya menarik nafasnya dalam-dalam, tampak gadis itu sekilas menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya kembali menatap wanita yang pernah menggoda suaminya tersebut.
"Jika kau mencintai Kak Tommie, berjuanglah, aku akan membantumu untuk dekat dengannya," ucap Aisyah lirih, Della hanya tertawa kecil seolah menganggap ucapan Aisyah barusan hanya sebuah lelucon.
"Aku tidak sedang bercanda Della, aku takut hidupku tidak lama lagi, karena itulah aku ingin memberikan Kak Tommie kepada wanita yang tepat," sambung Aisyah, lirih.
Seketika Della terdiam, ia tampak kebingungan mendengar ucapan sang sepupu barusan. Della tidak mengerti maksud dari ucapan Aisyah barusan.
"Apa yang kau katakan Aisyah? Apakah kau sedang mengerjai diriku? Jangan bercanda dengan berlebihan seperti itu," jawab Della, ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Bacalah," ucap Aisyah sembari memberikan sebuah kertas, hasil pemeriksaannya beberapa minggu lalu. Gadis itu tampak tertunduk sedih setelah memberikan kertas tersebut.
Della mulai membaca satu-persatu kalimat yang tertera di ketas tersebut, membacanya secara teliti, dan mencoba memahami isinya.
Teesss!
Air mata Della perlahan mengalir dari ujung matanya, terus mengalir dan perlahan membasahi selembar kertas yang tengah berada di tangannya.
"Apakah ini benar, Aisyah? Apakah Om Putra dan suamimu sudah tahu mengenai hal ini?" tanya Della, gadis itu lalu beranjak dan duduk di samping Aisyah.
"Tidak! Mereka tidak boleh tahu, aku tidak ingin melihat mereka bersedih," jawab Aisyah dengan lirih sembari masih tertunduk.
"Jadi, apakah kau mau membantuku, Della. Tolong jaga suamiku setelah aku pergi," pinta Aisyah, wanita itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap sendu ke arah Della sembari menyunggingkan senyum manisnya.
Entah mengapa, senyuman Aisyah seolah bagai belati yang menyayat hati Della. Hatinya terasa begitu sakit ketika mendengar ucapan sepupunya tersebut.
"Tidak, Aisyah! Tolong jangan memaksaku untuk melakukan hal ini. Aku yakin kau masih bisa di sembuhkan, bukankah ini masih stadium awal? Ini belum terlambat," ujar Della berusaha menyemangati Aisyah.
"Entahlah Della, aku hanya takut jika tuhan berkehendak lain." Aisyah hanya kembali menatap sendu ke arah gadis yang tengah berada di depannya.
"Aku akan menjalani pengobatan di siangapura, bulan depan. Aku akan berangkat sembunyi-sembunyi, tolong jangan beritahu siapapun mengenai keberangkatanku apalagi tentang penyakitku," ucap Aisyah, Della hanya terdiam.
"Aku akan membantumu untuk dekat dengan Kak Tommie dan dalam satu bulan tolong bantu aku untuk membuatnya benci kepadaku," sambung Aisyah, Della hanya mendengarkan perkataan wanita itu tanpa menggubrisnya.
Della sebenarnya tidak ingin menerima tawaran dari Aisyah, tetapi entah mengapa cinta yang telah lama ia pendam untuk Tommie perlahan kembali tumbuh, setelah Aisyah memberikan secercah harapan bagi dirinya untuk mendapatkan hati Tommie.
"Apakah kau yakin? Bagaimana jika kau kembali suatu saat nanti, apakah kau akan mengusirku begitu saja?" tanya Della, membuat Aisyah membungkam mulutnya sejenak.
Cukup lama Aisyah terdiam dan mencerna perkataan Della. Bagaimana jika ia bisa di sembuhkan dan kembali suatu saat nanti? Haruskah ia mengusir Della dari kehidupan Tommie dan kembali mengambil haknya untuk bersama Tommie? Tetapi, hal itu hanya akan merenggut kebahagiaan Della.
"Tidak, Della! Aku akan berpisah dengan Kak Tommie, jika aku kembali suatu saat nanti. Meskipun aku selamat, tetapi aku tidak bisa memberinya keturunan," jawab Aisyah, sembari terus menatap Della dengan lirih.
"Apakah kau yakin? Bagaimana dengan dirimu, nantinya?" Della kembali bertanya, Aisyah hanya menyunggingkan senyumnya.
"Jangan khawatirkan tentang aku, jika semua orang di sekelilingku bahagia, itu sudah lebih dari cukup bagiku," jawab Aisyah, sembari tersenyum berusaha menutupi kesedihan yang sedang melanda hatinya saat ini.
Della hanya mengangguk, gadis itu menerima tawaran Aisyah dan bersedia membantu sepupunya itu. Setidaknya ia memiliki sedikit harapan untuk bersama Tommie, batinnya.
Malam Hari
Langkah Tommie terhenti di depan pintu masuk rumahnya, ketika mendapati Della sedang berdiri tepat di hadapannya, gadis itu sangat cantik malam ini, lebih cantik dari biasanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tommie, dengan raut wajah datarnya. Tampak sekilas pria itu memandangi tubuh gadis seksi yang tengah berdiri tepat di hadapannya.
Maklum saja, Tommie juga seorang pria dewasa yang normal, ia juga bisa khilaf jika melihat godaan seperti itu.
"Ah-Anu, tadi aku datang berkunjung, tetapi Aisyah malah memintaku untuk menginap," jawab Della sembari terus menyunggingkan senyum ke arah suami sepupunya tersebut.
Tommie hanya menghela nafasnya dengan kasar, kemudian langsung beranjak dan pergi meninggalkan gadis itu tanpa menggubrisnya sedikitpun.
Tampak wajah Tommie sedang sangat jengkel saat ini, ia dengan susah payah untuk mengusir gadis itu, bahkan sampai meminta bantuan sang mertua. Namun, dengan mudahnya Aisyah malah membawa gadis itu kembali.
**Di dalam kamar
Brak**!
Tommie membanting pintu kamar dengan kesal, kemudian menguncinya dan masuk begitu saja tanpa mengucap salam, seperti hal yang biasa ia lakukan.
"Gadis bodoh, mengapa kau membawa Della kembali masuk ke rumah ini?" bentak Tommie yang merasa sangat kesal, kepada Aisyah yang tengah memainkan ponselnya di atas ranjang.
Aisyah tidak menggubris pria itu, ia terus fokus memainkan ponselnya tanpa melirik sedikitpun ke arah Tommie.
Tommie merasa semakin jengkel karena Aisyah mengabaikan dirinya dan pura-pura tidak mendengarnya. Dengan kesal, pria itu menghampiri Aisyah dan membanting ponsel Aisyah.
Aisyah seketika melirik tajam ke arah pria itu, menatap sang suami dengan penuh amarah sembari menyilangkan tangannya di atas dada.
"Mengapa kau tidak pernah berubah? Selalu saja mudah emosi dan melampiaskan semua kekesalanmu kepadaku!" bentak Aisyah, untuk pertama kalinya wanita itu terlihat sangat berbeda dari hari-hari biasanya.
Ia berani membentak dan meninggikan suaranya kepada sang suami, ia juga menjadi terkesan sangat kasar hari ini.
Aisyah yang terlihat sangat marah, lebih memilih beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tommie yang sedari tadi menatapnya dengan tajam, tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
Brugh!
Tommie tiba-tiba saja menarik tangan Aisyah dan memojokkan tubuh mungil gadis itu di dinding, menghalangi wanita itu dengan kedua tangannya. Pria itu terlihat sangat emosi karena ulah Aisyah.
"Mengapa kau berani membentakku sekarang? Apakah hanya karena aku yang tidak menyukai sepupumu berada di sini?" bentak Tommie.
"Tidak! Sebenarnya aku sangat ingin membentak dan melawanmu selama ini. Aku sudah sangat lelah menghadapi sikap tempramen mu!" ujar Aisyah, sembari menyunggingkan senyum sinis ke arah Tommie.
"Katakan, apa maksudmu!" Tommie mulai tersulut emosi, pria itu mencengkram kuat dagu Aisyah dan menatap tajam mata wanita itu.
"Apakah kurang jelas kata-kata yang aku ucapkan barusan? Baiklah, akan aku ulangi. Aku sudah bosan kepadamu, aku sangat membencimu," jawab Aisyah, sembari tersenyum sinis ke arah Tommie.
Tommie tampak semakin kesal mendengar ucapan Aisyah barusan, pria itu semakin kuat mencengkram dagu Aisyah hingga membuat gadis itu merintih kesakitan.
Brugh!
Tommie melampiaskan kekesalannya dengan memukul tembok di samping wajah Aisyah, hampir saja pukulannya mengenai wajah wanita itu.
Tampak seketika wajah Aisyah menjadi pucat pasi, ia benar-benar terlihat sangat ketakutan melihat kemurkaan sang suami atas ulahnya hari ini.
"Mengapa kau menjadi seperti ini? Apa hanya karena aku tidak menyukai keberadaan sepupumu?" tanya Tommie, berusaha bertanya baik-baik dengan Aisyah.
"Bukankah sudah aku katakan tadi? Aku sudah lelah dengan sikap tempramenmu, aku membencimu," ucap Aisyah yang berusaha tetap bersikap tenang.
Tommie hanya terdiam, masih menatap tajam mata wanita itu. Berusaha melihat sedikit kejujuran yang barangkali terlihat dari tatapan sang istri. Tatapan yang biasanya sangat teduh dan selalu menenangkan hatinya, entah mengapa ia merasa tatapan itu sudah berubah.
"Apa yang membuatmu seperti ini? Bukankah kemarin kita baik-baik saja? Bahkan, tadi pagi kau masih mengatakan cinta kepadaku, lalu mengapa sekarang kau mengatakan bosan dan membenciku?" tanya Tommie lirih, berusaha bicara baik-baik.
"Aku hanya bersandiwara selama ini, aku sebenarnya tidak pernah mencintai dirimu. Apakah kau kira aku akan mudah memaafkan semua yang telah kau lakukan kepada diriku, dulu?" Aisyah kembali menyilangkan tangannya di atas dada, menatap sinis pria yang tengah berada di hadapannya.
Tommie tampak sangat terkejut mendengar ucapan sang istri barusan, ia merasa sangat aneh dengan perubahan sikap Aisyah yang tiba-tiba.
"Jangan mengatakan hal itu, tolong katakan kau berbohong! Tolong katakan kau sangat mencintai aku!" pinta Tommie, lirih.
Deg!
Jantung Aisyah seakan berhenti berdetak, dadanya terasa begitu sesak, saat Tommie tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Ia juga merasa sangat bersalah karena telah melukai hati Tommie.
Tampak sekilas Aisyah menyeka air matanya yang perlahan mengalir, bagaimanapun ia tetap harus kuat untuk melanjutkan sandiwara ini agar Tommie segera membenci dirinya agar ia bisa meninggalkan Tommie dengan tenang.
"Lepaskan aku!" bentak Aisyah, wanita itu mendorong paksa tubuh sang suami yang tengah memeluknya sangat erat.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan dirimu sebelum kau mengatakan bahwa kau mencintai aku," jawab Tommie, yang kembali melangkah mendekati Aisyah dan merangkul tubuh wanita itu sangat erat.
"Tolong jangan seperti ini Kak, jangan buat aku semakin berat untuk melepaskanmu. Aku sangat menyayangi dirimu, aku sangat mencintai dirimu, tetapi aku takut kau tidak akan pernah bahagia bila terus bersamaku," batin Aisyah.
Gadis itu berhenti memberontah, ia terdiam dalam dekapan hangat sang suami beberapa saat, dan membiarkan pria itu untuk memeluk dirinya. Ia terus menyeka kasar air matanya.
"Maaf, tapi aku tidak pernah dan tidak akan pernah bisa mencintaimu," ucap Aisyah. Pelukan Tommie semakin melonggar ketika Aisyah mengatakan hal tersebut.
Aisyah segera menjauh dan pergi begitu saja dari hadapan Tommie yang masih mematung di tempatnya tadi.
Bersambung....
Jangan lupa like, and komen😘
Kasi Votenya juga dong, 10 aja😁
Terima kasih,😍
aku setia nunggu up terbaru
Maylea selalu mendukung Aisyah...
Salam hangat dari MAYLEA SI GADIS MASA DEPAN