NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Takdir

Sang Pewaris Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: BigMan

~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]

Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.

Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.

Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 - Kegaduhan di Kedai: Bagian 3

Malam kembali sunyi, tetapi atmosfer di kedai masih terasa tegang. Beberapa warga desa tetap berdiri di depan pintu, tak berani masuk ataupun pergi. Pemilik kedai menghela napas lega, tetapi tangannya masih gemetar saat mencoba membereskan pecahan gelas di lantai.

Kouji melirik Abirama, matanya masih tajam. "Orang-orang itu... bukan pendekar biasa."

Abirama tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengarah ke pintu, ke arah para pendekar bayaran itu menghilang dalam kegelapan. Seperti bayangan yang menunggu saat yang tepat untuk kembali.

"Kau mengenali mereka?" akhirnya Kouji bertanya.

Abirama menggeleng pelan. "Tidak..." Ia berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke pemilik kedai. "Tuan, apakah mereka datang bersama kelompok lain?"

Pria tua itu meneguk ludah. "Mereka datang siang tadi, berempat. Tapi... mereka sempat menyebutkan sesuatu tentang kawan-kawan mereka yang akan menyusul."

Kouji menyipitkan mata. "Berapa banyak?"

Pemilik kedai ragu sejenak. "Aku... tidak tahu pasti. Tapi salah satu dari mereka berkata, 'Saat semuanya berkumpul, desa ini akan terasa lebih hidup’... Aku tak paham maksudnya, tapi..."

Kouji dan Abirama saling bertukar pandang. Tidak ada senyuman, tidak ada kelakar. Hanya pemahaman senyap bahwa ancaman ini jauh lebih serius dari yang terlihat.

Di luar kedai, kelompok pendekar bayaran itu berjalan perlahan di sepanjang jalan desa yang remang-remang. Langkah mereka tidak terburu-buru, tetapi ada aura bahaya yang melekat pada setiap gerakan mereka.

Pria bermata sipit, yang tampaknya pemimpin kelompok itu, tersenyum tipis sambil menyisir rambutnya ke belakang. "Jadi... menurut kalian, siapa pria tadi?"

Salah satu rekannya, seorang pendekar bertubuh kekar dengan bekas luka di pipi, menghela napas kasar. "Entah. Tapi dia punya aura yang aneh. Aku tidak suka."

Pria bermata sipit tertawa kecil. "Oh? Seorang Tsubaki Takashi tidak menyukai seseorang? Itu jarang terjadi."

Tsubaki Takashi mendengus. "Jangan bercanda, Yori. Aku hanya mengatakan kalau orang itu... berbeda. Aku bisa merasakan tekanan dari sorot matanya."

Yori, pria bermata sipit itu, mengangguk pelan. "Aku juga merasakannya. Bukan sekadar orang desa biasa. Tapi lebih menarik lagi, dia memilih untuk tidak bertindak."

"Apakah itu berarti dia lemah?" Salah satu dari mereka bertanya.

Yori berhenti melangkah. Senyumnya menghilang. "Tidak. Justru sebaliknya."

Rekan-rekannya terdiam.

Yori memandang langit yang mulai tertutup awan. "Seorang pendekar sejati tahu kapan harus bertarung dan kapan harus menahan diri. Dan pria itu... jelas sedang menahan sesuatu."

Ia menoleh ke arah kegelapan, matanya menyipit tajam. "Aku ingin tahu seberapa dalam sumur kekuatan yang ia sembunyikan."

......................

Di rumahnya, Sora masih terjaga. Ia duduk bersila, menggenggam erat kain selimutnya. Di luar, ayahnya belum kembali.

Ia tahu ibunya menyuruhnya untuk tetap di rumah. Ia tahu bahwa jika ia nekat pergi, ia hanya akan dimarahi.

Tapi...

"Tck." Ia menggeleng, lalu berdiri perlahan. Ia tidak bisa hanya diam.

Dengan langkah hati-hati, ia menyelinap ke luar rumah, memastikan bahwa ibunya tidak melihatnya. Ia berlari melewati jalan desa yang gelap, mengikuti arah kedai.

Namun, saat ia hampir sampai, ia merasakan sesuatu.

Langkahnya terhenti.

Udara di sekelilingnya terasa berat. Ada tekanan aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Lalu—

Sebuah suara lirih terdengar dari kegelapan.

"Kau bocah yang menarik."

Sora terkejut. Ia berbalik, tetapi tidak melihat siapa pun.

Matanya menelusuri bayangan di antara rumah-rumah desa. Angin malam berembus perlahan, membawa bisikan halus yang hampir seperti suara seseorang.

"Kita akan bertemu lagi."

Tiba-tiba, tekanan itu menghilang. Udara kembali normal.

Sora terdiam, napasnya tersengal.

Siapa... yang baru saja berbicara padanya?

Dan lebih penting lagi...

Bagaimana mereka tahu namanya?

Di kejauhan, dari balik bukit yang menghadap desa, sesosok siluet berdiri diam di bawah sinar rembulan.

Dan di malam yang sunyi itu, sesuatu yang besar sedang menanti di balik bayang-bayang.

......................

Malam semakin larut, dan kelompok Yori akhirnya tiba di perkemahan mereka, sebuah tempat tersembunyi di balik hutan berbukit.

Puluhan pendekar bayaran bersandar di bawah pepohonan, beberapa sedang membersihkan senjata, sementara yang lain berbicara pelan di sekitar api unggun. Suasana terasa berat, seakan semua orang tahu bahwa ini bukan sekadar perjalanan biasa.

Di tengah perkemahan, berdiri seorang pria dengan jubah gelap yang berkibar diterpa angin malam. Wajahnya samar dalam bayangan, tetapi sorot matanya tajam, mengamati desa yang jauh di bawah bukit. Dialah pemimpin mereka.

Yori melangkah maju, diikuti oleh rekan-rekannya. Dengan sedikit membungkuk, ia berbicara.

"Kami Kembali."

Sang pemimpin tidak segera menjawab. Matanya tetap tertuju ke arah desa, seolah menembus kegelapan untuk mengamati sesuatu yang tak terlihat.

"Bagaimana?" akhirnya ia bertanya, suaranya dalam dan tenang.

Yori menyeringai tipis. "Menarik. Ada seseorang yang tidak seperti penduduk desa biasa."

Akhirnya, sang pemimpin mengalihkan pandangannya ke Yori. "Seberapa menarik?"

Yori menatap langsung ke mata pemimpinnya, lalu menjawab dengan nada serius. "Dia menahan diri."

Sejenak, hanya suara angin malam yang terdengar.

Sang pemimpin mengangguk kecil, lalu berucap lirih. "Kalau begitu, kita akan mengujinya nanti."

Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan pembicaraan, suara langkah kecil terdengar dari sisi perkemahan.

Seseorang muncul dari kegelapan, berjalan dengan tenang menuju mereka.

Seorang bocah lelaki.

Rambutnya panjang dan putih, menciptakan kontras dengan wajahnya yang pucat. Bekas luka bakar melintang di pipinya, memberi kesan liar sekaligus dingin. Matanya berkilat, penuh dengan rasa ingin tahu yang nyaris menyerupai kegembiraan.

Sang pemimpin menatap anak itu, lalu mengangkat alis sedikit. "Kau terlihat puas."

Bocah itu tersenyum tipis. "Aku menemukan sesuatu yang menarik."

"Oh?" Sang pemimpin kini benar-benar memperhatikan anaknya. "Apa yang kau temukan?"

Bocah itu melipat tangannya di dada, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja menemukan mainan baru yang tak terduga. "Aku bertemu seorang bocah."

"Bocah?" Yori menimpali, sedikit tertarik.

Bocah berambut putih itu mengangguk perlahan. "Ya. Seusiaku, tapi... berbeda."

Sang pemimpin menyipitkan matanya. "Berbeda bagaimana?"

Bocah itu menghela napas pelan, seolah berusaha mencari kata yang tepat. Lalu, dengan suara pelan namun tajam, ia menjelaskan, "Dia bisa merasakan aku."

Salah satu pendekar di sekitar mereka tertawa kecil. "Dan apa istimewanya itu? Anak-anak seringkali mudah terkejut—"

"Bukan seperti itu." Bocah itu langsung memotong. Tatapannya tajam, dan senyumannya menghilang. "Dia benar-benar merasakan aku. Sebelum aku berbicara, sebelum aku bergerak. Saat aku memperhatikan dari bayangan, dia berhenti. Napasnya berubah. Aku bisa melihat keraguan di matanya, seakan dia tahu ada sesuatu yang mengawasinya."

Hening.

Yori dan beberapa pendekar lain mulai menyadari bahwa ini bukan hal biasa.

Sang pemimpin menatap anaknya dengan lebih dalam. "Jadi... dia bisa mendeteksi kehadiranmu?"

Bocah itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Ya, itu... Menyenangkan."

Sang pemimpin terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Suara tawanya rendah, tetapi ada sesuatu yang dingin di dalamnya.

"Menarik."

Bocah itu mengangguk seraya tersenyum lebar.

Sang pemimpin berbalik, kembali menatap desa yang redup di kejauhan. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, hanya menikmati keheningan yang menggantung di udara.

Lalu, dengan suara yang hampir seperti bisikan, ia berkata,

"Kalau begitu, kita akan bermain sedikit lebih lama."

Angin bertiup kencang, menggoyangkan api unggun di sekitar mereka. Malam itu, sesuatu telah bergerak di balik bayang-bayang. Dan tak ada seorang pun di desa yang tahu bahwa mereka sedang diawasi oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar pendekar bayaran biasa.

1
Abu Yub
Lanjut thor, aku datang lagi.
Abu Yub
tiba tiba
Abu Yub
merengut
Big Man
Mksh supportnya /Determined//Determined/.. Siap2 kita upp ya
Ernest T
bagus .n mantap .
Ernest T
up sampai sliiiiiiii . Thor semangat
Big Man: siap2 kita upp boss.. /Determined//Determined/
total 1 replies
Big Man
seru kok kak.. namnya aja yg jepang kak.. tp story line nya sma kek pendekar2 timur lain.. hnya saja.. gda kultivator .. tp istilahnya berbeda
Big Man: niat blas chat.. mlah ke post di koment.. asem dah
total 1 replies
Ernest T
lnjutttt. kren
Big Man: terimakasih kak /Applaud/
total 1 replies
Desti Sania
belum terbiasa dengan scien jepang
Big Man: Mudah2n cocok ya.. menghibur.. story line nya hmpir sma kok kak sma pendekar2 timur lainnya.. cmn istilahnya aja yang beda dan gda kultivator di sini /Grin/
total 1 replies
Desti Sania
mungkin
Desti Sania
prolog nya dah keren thor,semoga isinya gak membosankan ya
Big Man: amiin.. thanks kak.. semoga menghibur ya
total 1 replies
Bocah kecil
Abirama bukan kaleng2 keknya.. pra pendekar aja tau dan bisa merasakan kekuatan abirama yang tidak biasa.. menarik.. /Kiss/
Aditia Febrian
Aseekkk... Gass lah.. Hajar mereka Abirama!!! /Determined//Determined/
Bocah kecil
Gass lanjoot...!!!
Aditia Febrian
Makin seruu... /Determined//Determined/
Abu Yub
Aku datang lagi thor/Ok/
Big Man: Mksh thor.. /Kiss/
total 1 replies
Abu Yub
sip
Bocah kecil
Ni bocil sumpahna, yang satu baperan, yang satu cuplas ceplos.. /Facepalm/
Aditia Febrian
Tahapan ujian menjadi pendekar sejati:
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?

Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/
Big Man: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Bocah kecil: Bner.. relate sbnrnya..
untuk menjadi org sukses ya slah satunya :
1. Disiplin
2. Kerja keras.
3. Terusin aja sendiri
/Tongue//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Aditia Febrian
Ngakak parah /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!