Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka Teki Baru
Setelah melewati perjalanan yang membisu dengan Ayah, akhirnya aku sampai juga di depan butik.
"Bye ayah, terimakasih sudah mengantar putri kesayanganmu ini ke tempat kerjanya." Ucapku dengan lambaian tangan sebagai tanda perpisahan dengan beliau.
Mobil Ayah melaju tanpa permisi, aku menggaruk dahiku seraya mengernyitkan karena aku bingung kenapa sikap beliau tak seperti biasanya.
Ayah itu selalu semangat jika aku bertingkah manja padanya karena dengan begitu beliau bisa melancarkan kejahilannya dengan sangat sempurna.
"Mungkin karena Ayah tak percaya jika yang menghubungiku benar-benar Celo, pasti dia mengira itu adalah Rafka." Ocehanku yang cukup membuat para pramuniaga butikku kompak melirik ke arahku.
Menyadari aku jadi pusat perhatian mereka, maka ku lanjutkan gerutuan ku menjadi sebuah lirik lagu dengan harapan mereka mengira jika yang baru saja didengar adalah sebuah konser gratis dari atasannya.
Seperti biasa sebelum memulai pekerjaan dan aktivitas di butik, aku mempunyai peraturan untuk selalu briefing dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing.
"Pagi semua... Mari pastikan hari ini semuanya rapi dan wangi agar mampu memikat konsumen yang datang." Arahku kepada semua karyawan.
"Baik, bu. Jika boleh tanya kenapa sepertinya ibu bahagia sekali lagi ini, ada apakah?" Respon salah satu karyawan.
"Tentu saja dong. Pagi itu harus diawali dengan semangat agar kita mampu melewati hari tanpa beban, mari kita berdoa untuk meminta kelancaran hari ini." Timpal ku dengan senyum yang lebar.
"Saya rasa semua sudah jelas dengan tugas masing-masing, jadi saya akan langsung ke ruangan kerja saya dan akhir kata selamat bekerja semuanya." Kalimat penutup untuk mengakhiri briefing pagi ini.
Semua karyawan kompak menjawab ''iya, bu."
Bibirku bisa tersenyum lega karena melihat mereka sangat loyal bekerja denganku. Aku selalu memastikan semua hak mereka terpenuhi sebelum aku menagih kewajibannya.
Alunan langkah kakiku mengantarku ke ruangan kerja. Di sana aku segera membuka laptop untuk mengecek pergerakan progres butik pada bulan ini.
Kendati ada sedikit penurunan dari bulan sebelumnya, tetapi untuk keseluruhan hasilnya masih bisa dipastikan cukup memuaskan.
Jariku kemudian mendorong mouse laptop untuk membuka folder design yang telah aku rancang beberapa hari lalu. Sisanya tinggal tahap finishing agar cepat terpajang di manikin butik.
"Melihat kondisi perekonomian sekarang rasanya masih cukup baiklah pergerakan butikku." Gumamku seraya memainkan jari-jariku di atas laptop.
Sebuah fakta yang masih membuat semua orang terdekatku bingung dan aku pun juga tak punya jawaban pasti tentang ini adalah meskipun aku seorang pelaku usaha di bidang fashion dan sudah memiliki sebuah butik sendiri.
Tetapi aku masih saja suka berbelanja dan berburu pakaian baru dari butik ataupun toko baju lain.
Seperti hari ini, di sela-sela kesibukanku memikirkan tahap finishing untuk design ku, otakku masih saja meminta jariku untuk membuka website brand pakaian dari seorang designer ternama.
"Wajar sih sebenarnya kan untuk ajang perbandingan agar analisaku bisa berkembang kira-kira apa saja yang membuat brand lain laku." Pembelaan otakku ketika berhasil membujuk jariku menari di website tersebut.
Celo juga pernah bilang meskipun kadang kala bergerak di bidang yang sama pasti sebuah brand tetap saja memiliki ciri khas sendiri, lagipula butikku juga bukan menjual semua pakaian.
Berbicara soal Celo tiba-tiba saja membuatku ingin sekali menghubunginya untuk memastikan jam berapa jadwal penerbangannya lusa agar aku tak terlambat untuk menjemputnya.
Aku memutuskan untuk membawa sesuatu yang berkesan agar dia bahagia. Tak ingin toko bunga langgananku tutup, aku putuskan ke sana sekarang.
"Celo selalu memberiku buket bunga, tak mungkin aku membalasnya dengan hal yang sama secara dia pria maskulin. Lebih baik aku memesankan buket rokok favoritnya saja." Batinku yang masih fokus ke layar ponsel untuk memesan taksi online.
Siapa sangka di tengah-tengah aku mencari pengemudi, sebuah notifikasi panggilan masuk dan ternyata Rani yang menghubungiku.
"Assalamualaikum ran, Kenapa kamu nelepon kakak?" Ucapku santai.
"Waalaikumsalam kak, aku mau tanya shade lipstik kakak apa dan merk apa?" Tanyanya.
"Lipstik yang biasa kakak post di story dan shadenya nude, tetapi kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya hal ini?" Penyakit kepo ku seakan kambuh seketika.
"Kakak jangan kaget ya, aku menemukan struk pembelian satu set belanja dari sebuah toko kosmetik dengan lipstik yang memiliki shade merah merona di laci meja kamar kak Celo.
Aku yang tahu gaya make up kak Katty sehari-hari pun bingung, sehingga mengira mungkin kakak sedang ingin explore shade yang lain." Rani mengungkapkan dengan penuh kehati-hatian.
"Lipstik shade merah?! Boleh minta tolong kamu kirim foto struknya, ran?" Nada bicaraku sedikit meninggi, bukan marah hanya menegaskan pernyataan Rani benar atau tidak.
"Baik kak nanti aku fotokan, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya." Tutup Rani singkat.
Lima menit dari berakhirnya obrolan kita, sebuah foto yang menjadi topik obrolan kita pun sudah ku terima.
Benar saja keterangan kertas belanja itu tertulis pembelian satu set make up, mataku membulat begitu membukanya.
Pandanganku tak pernah beralih dan tentu saja hal ini membuat logikaku bekerja, kejadian belakangan ini bagaikan sebuah teka teki hidup Celo yang selama ini disembunyikan dari orang-orang terdekatnya.
Aku merebahkan tubuhku ke kursi yang saat ini ku duduki, dengan posisi tangan kanan memegang kening dan tangan kiri memegang layar gadget.
Setiap ada teka teki baru yang terjadi tak lama dari teka teki sebelumnya membuatku berpikiran jika pria yang akan menjadi imamku kelak memiliki kepribadian ganda.
"Sepertinya niatku ke toko bunga harus aku tunda, lebih baik sekarang aku menghubungi Rafka dan menceritakan tentang ini." Seruku seraya berjalan menuju jendela ruangan kerja.
Sialnya sebanyak empat panggilan dariku tak dijawabnya.
Mungkin Rafka sedang sibuk dengan pekerjaannya, aku langsung meneruskan foto kiriman Rani ke nomornya berharap Rafka segera mengerti jika aku menghubunginya karena ada hal yang cukup penting sehingga dia bisa menghubungiku balik.
Jam makan siang tiba.
Aku masih asik mondar mandir di area kursi dan jendela, ponselku pun masih setia ada dalam genggamanku. Sesekali aku menyalakan layarnya untuk memastikan bahwa Rafka segera menghubungiku.
Panik, kesal dan Heran tentunya ketiga hal itu tak bisa aku pungkiri saat ini terus berkolaborasi mengelilingi hati dan pikiranku.
Helaan demi helaan nafas menemaniku untuk mengatasi saat-saat genting seperti ini. Ujung ibu jari kananku pun tak luput dari pelarianku, aku terus menggigitnya.
Rasa lapar pun tak ku rasa, karena tak kunjung mendapat balasan dari Rafka ku putuskan untuk menelponnya ulang dan kali ini dia dengan cepat menerimanya, ada sedikit kelegaan dalam diriku.
Sepertinya dia juga sudah membaca pesanku karena centang duanya sudah biru.
..