Gendhis harus merelakan pernikahan mereka berakhir karena menganggap Raka tidak pernah mencintainya. Wanita itu menggugat cerai Raka diam-diam dan pergi begitu saja. Raka yang ditinggalkan oleh Gendhis baru menyadari perasaannya ketika istrinya itu pergi. Dengan berbagai cara dia berusaha agar tidak ada perceraian.
"Cinta kita belum usai, Gendhis. Aku akan mencarimu, ke ujung dunia sekali pun," gumam Raka.
Akankah mereka bersatu kembali?
NB : Baca dengan lompat bab dan memberikan rating di bawah 5 saya block ya. Jangan baca karya saya kalau cuma mau rating kecil. Tulis novel sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Yune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana kantor Starfood kembali ramai setelah beberapa minggu yang penuh ketegangan. Meski Clara telah dipindahkan ke divisi keuangan, ambisinya untuk menjatuhkan Raka dan Gendhis belum padam. Ia duduk di ruang barunya, menatap layar komputer dengan senyum sinis yang sulit disembunyikan. Jemarinya dengan cepat mengetik pesan di grup chat internal, yang terdiri dari beberapa rekan kerjanya yang masih loyal padanya.
"Pemindahan ini bukan karena kinerjaku buruk. Semua orang tahu, kan? Aku dipindahkan karena istri manajer kita merasa cemburu. Lucu sekali, bukan? Padahal aku hanya bekerja secara profesional."
Pesan itu menyebar dengan cepat. Beberapa rekan kerja mulai berbisik-bisik di area pantry, menciptakan bisikan tak kasat mata yang menyebar bak api kecil yang menjilat dedaunan kering. Ada yang mengangguk setuju, merasa Clara adalah korban ketidakadilan, tapi tidak sedikit pula yang menggeleng, paham betul bahwa Clara memiliki niat tersembunyi sejak awal.
Tentunya, sepak terjang Clara sudah diketahui oleh beberapa orang yang pernah bekerja sama dengannya. Gadis muda itu memiliki ambisi kuat untuk mewujudkan keinginannya. Bahkan, dia mungkin bisa menggaet pemilik perusahaan kalau memiliki kesempatan.
Sementara itu, Raka duduk di ruangannya, memeriksa laporan mingguan. Namun, fokusnya terpecah saat mendengar bisikan-bisikan di luar. Ia tahu pasti, rumor mulai beredar. Meski tidak memperlihatkan ekspresi terganggu, sorot matanya mengeras.
Tak lama kemudian, Gendhis datang membawa makan siang untuk Raka. Wajahnya berseri, tak menyadari badai kecil yang sedang berkecamuk di luar ruangan kaca itu. Raka tersenyum tipis, mencoba mengalihkan perhatian Gendhis dari suasana yang tak nyaman.
"Aku bawain makanan kesukaanmu, Mas. Aku masak sendiri, lho," ucap Gendhis sambil meletakkan kotak makan di meja.
Raka menarik Gendhis mendekat, mencium keningnya lembut. "Terima kasih, Sayang. Ayo kita makan siang bersama."
Semenjak kejadian Clara yang protes pada James, Silvia justru memperbolehkan Gendhis sesuka hatinya datang ke kantor. Dia memahami kalau ibu hamil membutuhkan suami di sampingnya. Jadi, tidak masalah bila Gendhis ingin berlama-lama berada di sisi Raka asalkan tidak memengaruhi kinerjanya.
Namun, bahkan momen manis itu tak bisa sepenuhnya mengusir berita yang beredar di sekeliling mereka. Tepat saat Gendhis hendak pergi, dia mendengar sekelompok karyawan di lorong membicarakan sesuatu. Dengan gamblang, beberapa orang itu membicarakan tentang dirinya dan Clara.
"Iya, katanya Bu Gendhis tuh cemburuan banget. Makanya Clara dipindah. Padahal kalau suaminya setia, ya nggak usah segitu insecure-nya."
"Ah, kalau menurutku memang harus hati-hati ga, sih? Perempuan seperti Clara bisa nekad melakukan apa pun. Menurutku, wajar saja Bu Gendhis cemburu. Dia berhak melakukannya," tukas salah satu orang yang memahami kalau tidak bisa begitu saja mempercayai seseorang, bahkan suaminya sendiri.
Langkah Gendhis terhenti. Matanya menyipit, menahan gejolak emosi yang tiba-tiba membara di dada. Ia berbalik, masuk kembali ke ruangan Raka. Ternyata, gosip yang menyebar membuat posisinya tersudut.
"Ada yang harus kita bicarakan, Mas," katanya tegas.
Raka mengerti tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut. Ia bangkit dari kursinya, menarik tangan Gendhis untuk duduk. "Aku tahu tentang rumor itu. Aku akan mengatasinya. Jangan biarkan hal ini mengganggu pikiranmu."
"Tapi ini bukan hanya tentang aku atau kamu. Ini tentang bagaimana orang memandang kita. Aku nggak suka diperlakukan seperti ini," balas Gendhis, suaranya bergetar menahan emosi.
Raka menggenggam tangan Gendhis erat. "Aku akan bicara dengan James. Kita selesaikan ini secara profesional."
"Aku jadi muak dengan perempuan itu, ingin sekali rasanya memecatnya. Akan tetapi, aku sadar diri kalau aku bukan orang yang memiliki kekuasaan," tukas Gendhis yang masih emosi.
Raka menenangkan Gendhis, dia setuju dengan ucapan istrinya. Akan tetapi, Clara tidak melakukan sesuatu yang membahayakan perusahaan. Dia pun tahu kalau harus bersikap profesional dalam pekerjaan.
Di sisi lain, Clara menikmati kekacauan kecil yang ia ciptakan. Namun, dia belum selesai. Ia berencana melangkah lebih jauh, menggunakan kesempatan gathering perusahaan yang akan datang untuk memperkeruh suasana.
Kabar tentang gathering perusahaan ke luar kota mulai menyebar. Semua karyawan diundang, tetapi ada satu aturan tegas—tidak diperbolehkan membawa pasangan.
Mendengar hal itu, Clara tersenyum puas. "Kesempatan emas," pikirnya.
Raka menerima email undangan resmi untuk gathering tersebut. Ia melirik Gendhis, yang sudah lebih tenang dan memilih untuk menunggu Raka selesai bekerja. Dalam benaknya, ia gelisah ketika mengetahui tentang gathering perusahaan tersebut.
"Lebih baik, aku tidak ikut saja. Dari pada membuat Gendhis khawatir," gumam Raka tanpa sadar.
"Ikut apa, Mas?" tukas Gendhis menjadikan mimik Raka berubah.
Sementara itu, Clara menatap undangan yang sama dengan tatapan licik, menyusun rencana untuk membuat gathering ini menjadi medan pertempuran emosional yang tak terlupakan.
"Aku pastikan kamu menjadi milikku, Raka," ucap Clara sambil memandangi undangan gathering.
***
Bersambung...
Terima kasih telah membaca...
dengan diawali penderitaan dari tokoh2nya berakhir dengan bahagia semua....
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️❤️