Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.
@KaryaSB026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Kakek guru mengambil tangan Feli lalu menggoresnya dengan pisau “Kakek apa yang …”
“Hanya darah dunia luar dan dunia ini yang bisa membuat benteng dari keegoisan, darah ini terbentuk menjadi kekuatan.”
“Maksud guru ?”
“Darahmu dan darahnya sudah bersatu.”
“Aku semakin tidak mengerti.”
“Kamu pernah terluka di rumah itu ?”
“Guru ??”
“Jawab saja.”
“Iya sebelum berhubungan intim dan sesudah.”
“Kapan sesudah ?”
“Waktu itu tidak sengaja menyentuh bunga mawar hitam dan tanganku tertusuk durinya.”
“Apa kamu tau saat itu kamu sedang hamil ?”
“Hah hamil ?”
“Darah kalian bersatu membentuk janin itu.”
“Feli tenang dengarkan penjelasan Guru,” Feli hampir marah.
“Maya tidak sengaja mengetahui kamu dalam bahaya, dia memohon padaku untuk membantumu. Dia mengorbankan segalanya demi keselamatanmu, mereka sudah menghajar habis-habisan sampai kamu keguguran. Melihat kondisimu Maya mengambil mayat orang lain lalu menukarnya dengan tubuhmu yang berada di jurang pendek dekat gunung,” mendengarkan kenyataan tubuh Feli gemetar sampai mau terjatuh.
“Feli …” membantu Feli duduk.
“Kehadiran keegoisan sudah ada sejak dunia ini tercipta namun tidak ada orang yang tau keegoisan itu akan terlahir kembali menghancurkan dunia ini. Shankara merupakan garis keturunan ke empat yang ditakdirkan menghancurkan keegoisan itu namun dia tidak bisa melakukannya sendiri harus ada darah orang dari negeri lain untuk membantunya. Aku ingin mengakhiri keegoisan itu tapi setelah ratusan tahun tidak ada tanda-tanda kemunculannya sampai gelombang angin memberitahuku ruang waktu terbuka, aku kira ruang waktu itu hanya terbuka sekali tapi ternyata ada kembali.”
“Ruang waktu pertama disaat aku datang ke dunia ini ?”
“Benar.”
“Artinya Feli bukan Shanaya.”
“Takdir membawamu kemari untuk membantunya, ikatan takdir kalian begitu erat.”
Feli mengambil botol besar lalu menghabiskannya “Gila ada hal begini di dunia gue dan sekarang gue malah terjebak di dunia ini ?”
“Bukan tampa alasan kamu datang kemari.”
“Guru kenapa baru memberitahuku sekarang selama satu tahun ini berarti guru tau semuanya?”
“Aku tidak akan gegabah mengatasi masalah ini, butuh waktu akurat semuanya.”
“Guru bilang saat aku tertusuk duri mawar lagi hamil itu artinya ?”
“Darah itu yang melindungi keluarga Shankara dari kekuatan jahat Hera.”
“Kurang ajar, kenapa gue gak tau saat itu sedang hamil.”
“Dia beneran orang lain bukan Shanaya ?” Maya mendengar setiap kata kasar yang keluar dari mulut Feli.
“Setiap tetesan darah saat kamu hamil akan menciptakan kekuatan untuk melawannya, karena saat itu kalian dalam keadaan jujur dan bahagia.”
“Gue udah lupa kata itu.”
“Astaga Feli ternyata ?” Maya menutup mulutnya.
“Di dunia gue, gue gadis malas tapi setelah masuk dunia ini banyak hal yang memberiku pelajaran bukan hanya menjadi rajin. Keberanian dan ketangkasan ku meningkat tidak terhitung jumlahnya, tunggulah akhir dari kematianmu Hera.”
“Kamu harus berhati-hati, saat ini kalian belum bersama kembali kekuatan kamu ataupun Shankara melemah.”
“Harus bersamanya kembali untuk mengalahkan wanita jahat itu.”
“Cukup kalian bersama bisa mengakhirinya.”
“Darah kalian sudah bercampur tinggal meningkatkan.”
“Baiklah mari menyusun rencana.”
“Bukan hanya kebersamaan harus tumbuh rasa kepercayaan, kejujuran dan cinta jika tidak semuanya akan sia-sia. Biarkan dia bersama Shankara terlebih dahulu sisanya kita yang lakukan.”
“Baik Guru.”
“Aku tau hal ini mengguncang mu tapi kita tidak perlu berada di titik ini selamanya.”
“Iya Guru.”
“Jadi selama ini guru menyembunyikannya dari ku karena ingin mencari kebenarannya,” batin Maya.
“Maya dapatkan tetesan darah Shankara !”
“Ah bagaimana caranya ?”
“Feli yang akan memberikan jalan keluarnya.”
“Baiklah kalau begitu aku kembali,” berdandan seperti Shanaya.
“Sangat cepat.”
“Mendekati Shankara tidak mudah.”
“Tidak bagiku,” senyum dingin.
“Kenapa aku merasa bulu kudukku berdiri,” Maya merinding.
“Sudah sekarang kalian istirahat dulu !”
“Tapi Guru ?”
“Apa kamu sudah bosan memanggilku kakek ?”
“Ah maaf aku terlalu emosi.”
“Kita harus menyusun rencana secara perlahan jangan terburu-buru.”
“Kamu tunggu pembalasanku, anakku Ibu akan membalas dendam atas kematianmu.”
“Sejak kapan dia berubah ?”
“Sejak amarah membara dalam dirinya.”
Di pagi hari Feli sudah berdandan cantik mengenakan baju olahraga.
“Mau kemana pagi begini ?”
“Menurutmu ?”
“Olahraga tapi dandan ?”
“Olahraga sambil menggoda.”
“Hah ?”
“Gurrruuuu muridmu itu lihat !”
“Rencana dimulai hahaha …”
“Guru dan murid sama saja.”
Feli lari pagi di sekitar danau dengan tujuan mendekati Shankara yang akan berada disana beberapa menit setelahnya.
“Siapa dia ?”
“Hey kenapa masuk area ini ?”
“Kenapa tidak boleh bukannya danau ini milik umum.”
“Sepertinya dia orang baru.”
“Cepat pergi melapor !”
Nina yang menerima laporan langsung menuju lokasi “Mau pergi kemana begitu terburu-buru?”
“Seseorang memasuki area danau Nek.”
“Siapa yang begitu berani ?”
Setibanya di danau Nenek tidak menyangka mendapat kejutan besar “Cucu menantu …”
“Bukannya dia Feli ?”
“Kamu masih hidup nak,” memeluk erat Feli.
“Pelukan ini sudah lama aku tidak mendapatkannya,” batin Feli menahan diri.
“Ah sorry aku bukan cucu menantu anda, saya masih lajang.”
“Bagaimana mungkin ?”
“Wajah mereka sangat mirip Nyonya,” bisik Ola.
“Benar…” melihat dari atas ke bawah
“Nak siapa namamu ?”
“Feli.”
“Nama kepanjangan ?” tanya Nina penasaran.
“Felisberta Divya Deolinda.”
“Namanya seperti bukan dari negeri kita.”
“Hehe perasaan nona saja.”
“Nona dia panggil aku nona ?”
“Ayo ikut Nenek !”
“Hah ?”
“Gagal sudah rencana ku,” batin Feli bengong.
“Duduk disini nak,” menepuk kursi yang sering di duduki Shankara.
“Kursi itu,” mengingat kenangan saat bersama Shankara duduk di kursi itu.
“Ah tidak sebaiknya aku segera pulang.”
“Jangan terburu-buru,” cegah Ibu Shankara membawa satu piring kue kering.
“Ibu …” hendak beranjak.
“Makan dulu,” Feli merasa canggung dan bingung.
“Tidak tidak …”
“Sebentar ! setidaknya makan beberapa buah-buahan ini.”
“Buah-buahan itu hanya ada di hutan dekat rumah kayu,” menatap buah-buahan kecil di piring.
“Wah nampaknya ada tamu,” Hera datang.
“Wanita gila itu kenapa datang rasanya sudah muak melihatnya,” keluh Nina dalam hati.
“Bos …”
“Kita lihat sampai mana dia bertahan,” sejak Feli lari pagi Shankara yang berada di kamarnya tidak sengaja melihat dari jendela. Melihat Feli diserbu anak buahnya dia tidak khawatir malah meminta Dika datang untuk melihat pertunjukan.
“Perlakuan yang sangat berbeda, orang yang baru datang dijamu bagaikan ratu,” komentar Dika.
“Bos ada apa ?” Raymond datang.
“Buat kopi !”
“Hah ?” Raymond bingung.
“Lakukan saja Ray.”
“Baiklah.”
“Pantas saja keegoisan memenuhi tubuhnya sikap nya saja begitu,” melirik Hera.
“Sungguh kebetulan yang tidak wajar.”
“Nona jangan salah paham aku sedang lari pagi tidak terasa sampai di danau yang merupakan lahan milik mereka. Kalau begitu aku pamit dulu !”
“Tinggal lah lebih lama, mari mengobrol !” cegah Ibu Shan.
“Ah tidak-tidak …” Feli tidak mau mendapat masalah.
“Dimana Shankara ?”
“Cari saja sendiri,” batin Nina.
“Di kamarnya,” jawab Ibu Shan dingin.
Nenek terus memperhatikan Feli yang memakan beberapa kue kering dan buah-buahan.
“Coba kue ini !”
“Baiklah …” ragu-ragu.
“Keluarkan semua kue di rumah ini !”
“Ah tidak perlu ini sudah cukup.”
“Mana mungkin,” tetap menyuruh pelayan mengambil.
“Kue ini hanya menjadi hiasan di rumah ini.”
“Tidak ada yang mau memakan kue selezat ini ?”
“Tidak.”
“Kenapa ?” belum sempat menjawab Feli menyuapi kue untuk Ibu Shan.
“Coba lah Bu kue ini sangat lezat sekali saja mencobanya pasti tidak mau berhenti memakannya,” Feli memberikannya di penuhi senyumnya yang lebar.
Mengigit kue “Ah rasanya sungguh manis,” berlinang air mata.
“Ada apa ? apa aku melukaimu ?” mengambil tisyu untuk mengelap air matanya yang menetes.
“Tidak apa-apa ada yang masuk ke mataku,” memalingkan wajah.
“Nenek juga cobalah !” hal yang sama terjadi pada Nenek.
“Sudah lama sekali ada orang yang makan makanan manis.”
“Benarkah ?” Feli santai.
“Semenjak bintang rumah ini pergi,” Nina hampir saja meneteskan air mata.
“Kenapa hatiku rasanya sesak,” batin Feli mengusap dadanya.
“Rasa kue ini kini menjadi manis kembali,” Ibu Shan berkata dengan lembut.
“Dimana Bos kalian ?” suara Hera di luar kamar.
“Ada apa kamu mencari ku ?”
“Shan cuaca hari ini sangat bagus bermain panahan sangat cocok,” pandangan Hera mengarah ke Feli yang terlihat jelas dari sana.
“Hemn,” keluar tanpa melirik Hera.
Hera berniat menggandeng Shankara tapi dia berjalan cepat dan pandangan terus mengarah ke Feli.
“Kurang ajar,” kesal Hera menatap tajam Feli dari kejauhan.
“Nak dimana kedua orang tuamu ?”
“Mereka ada di kampung.”
“Kamu merantau ?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Dengan siapa kamu tinggal ?”
“Kakek ku.”
“Shanaya tidak memiliki kakek dia bukan Shanaya,” batin Nina.
“Lalu apa kamu sekolah atau kerja ?”
“Keduanya, aku tidak bisa kalau hanya diam saja. Setelah sekolah atau libur aku bisa bekerja.”
“Bekerja paruh waktu ?”
“Iya begitulah.”
“Bagaimana kalau kamu tinggal disini saja ?” tanya Nenek membuatnya terkejut sampai tersedak.
“Tidak bisa hehe …”
Di keasikan Feli mengobrol Hera mengarahkan anak panah kepadanya “Aku ingin lihat apa kamu bisa menghindar.”
“Awas …” Nina melihat anak panah mengarah ke Feli berlari menghadangnya namun gerakannya kalah cepat dengan Feli.
Memegang anak panah “Sepertinya sasaran Nona Hera meleset,” tersenyum puas melihat kekesalan di wajah Hera.
“Kamu tidak apa-apa ?” Nenek panik.
“Gadis manis yang hebat,” puji Ibu Shan.
“Kecepatannya sungguh luar biasa,” Nina kagum.
“Dia lebih cepat dari angin,” batin Shankara.
“Nona Feli nampaknya lebih paham panahan.”
“Tidak terlalu hanya tau saja,” nada sombong Feli.
“He’h lihat saja nanti,” batin Hera menyiapkan rencana.
“Bagaimana kalau kamu mencobanya ?”
“Tidak masalah,” berjalan mendekat.
Dari Feli ketemu dengan Neneknya Shankara Kakek Guru mengawasi dari jauh bersama Maya “Anak itu kenapa bodoh sekali, memperlihatkan kekuatan membuatnya semakin waspada.”
“Bukannya bagus, jadi Feli tidak mudah di bully dia pasti berpikir berkali-kali iya kan ?”
“Kou lebih bodoh,” memukul kepalanya dengan tongkat.
“Aww Guru,” marah tapi tidak bisa melampiaskan.
Feli menarik kain ke lengannya lalu mengambil anak panah dan busur “Anginnya dari Timur,” mengarahkan anak panah kearah Barat.
“Aku kira kamu hebat,” meremehkan Feli.
Melepaskan anak panah “Tentu saya tidak akan sehebat Nona Hera.”
“Lihat anak panah itu mengenai buah apel di pohon dan sampai di titik target,” ucap Nina.
“Melepaskan anak panah kearah yang berbeda untuk sampai di titik yang di tuju tapi dengan melewati hal lain terlebih dulu,” sambung Dika.
“Kenapa aku merasa seperti melihat Shanaya di versi yang berbeda.”
Mengambil anak panah “Tidak disangka ternyata Nona Feli jago memanah,” menembak anak panah tepat di anak panah Feli.
“Kehebatan saya masih kalah dengan Nona Hera,” mengambil beberapa anak panah sekaligus.
“Astaga dia menembakkannya begitu saja dan mengenai sasaran sampai tidak ada satupun sela untuk Hera menembak lagi ?” Raymond sangat terkesan.
Shankara bertepuk tangan “Luar biasa keahlian yang dimiliki mu sangat jarang orang bisa melakukannya, teknik yang di gunakan sangat bagus.”
“Dia baru saja memujiku ?”
Shankara melirik luka di tangan Feli yang di tutupi kain tadi “Luka itu seperti bekas gelang yang hancur,” Shankara mengingat gelang yang diberikan olehnya untuk Shanaya sama persis dengan bentuk luka itu.
“Menarik, bagaimana kalau kita bermain lagi ?” mengambil pistol.
“Nampaknya Nona Hera belum puas bermain, baiklah aku temani.”
“Cara dia memegang pistol seperti seorang ahli yang profesional.”
“Postur tubuh yang sangat akurat,” batin Shankara.
Seakan ada pertandingan Feli dan Hera berlomba memamerkan keahlian menembak. Suara tembakan yang keras bergantian terdengar, semua orang bukan hanya tidak terganggu mereka malah menikmati pertunjukan.
“Sial dia lebih mahir,” melempar pistol.
“Mengalah ?”
“Nona Feli sangat hebat yah,” puji Hera dengan rasa emosi.
“Lain kali coba yang lain.”
“Kenapa adikku begitu keren ?” Maya begitu bangga.
“Dia muridku.”
“Hari sudah mulai larut aku harus pulang Kakek pasti sudah menunggu.”
“Bawalah beberapa kue ini,” Ibu Shan tadi menyiapkan kue dan beberapa buahan untuk di bawa Feli.
“Terima kasih Ibu.”
“Ibu ?” semua orang saling melirik.
“Sama-sama,” tersenyum bahagia.
“Ibu mau makan apa mala mini ?” mengacuhkan semuanya lalu masuk ke dalam.
“Apa saja, kali ini aku ingin makan banyak.”
“Aku akan memasak banyak hidangan.”
“Shan besok aku kembali lagi,” Hera badmood.
“Tidak kembali lebih baik,” batin Nina senang.
“Cari tau tentang wanita itu !!” perintah Hera.
“Cari tau tentang dia !” perintah Shankara.
“Muridku menjadi favorit semua orang hahahaaa….”
“Mereka tidak akan mendapatkan apapun,” Maya sudah menutup semua informasi tentang Feli.
“Ayo muridku kita pulang jangan sampai Feli lebih dulu tiba !”
“Tentu Guru.”
Feli menelusuri jalan sambil ngedumel “Akting yang buruk, eh tapi kenapa mereka memperlakukanku seperti itu padahal hanya mirip saja kan.”
Menendang batu kecil yang menghalangi jalannya “Lebih parahnya tuh cewek gila nantangin mulu udah tau keahliannya sangat buruk.”
“Mau aku bantu lampiaskan amarahmu ?”
“Sedang apa kamu disana ?”
“Mendengarkan seseorang menggerutu.”
“Kurang kerjaan ?”
“Iya.”
“Kenapa dia sangat menyebalkan.”
“Entahlah.”
“Kamu bisa mendengar suara hatiku ?”
“Siapa pun bisa mendengarnya dengan suara sekencang itu.”
“Benarkah ?”
“Mau kemana ?”
“Pulang,” nada acuh.
“Mau di antar ?”
“Aku bisa sendiri.”