Diego Xu adalah seorang anak yatim piatu yang hidup di sebuah desa yang jauh dari kota, sejak kecil dia tidak pernah tau siapa orang tuanya.
Di desa ia dirawat oleh kepala desa dan warga sekitar, setelah kepergian kepala desa, dia berjuang mencari uang sendiri, tapi takdir mempertemukan dia dengan peninggalan sang ayah yaitu lima pengawal yang setia menemaninya dan terbantainya keluarganya, membuat dia bertekat untuk membalaskan dendamnya, dua tahun berlalu, dia mencoba mencari keberuntungan di ibu kota dengan modal keahlian beladirinya, dia berhasil menggagalkan aksi penculikan anak semata wayang dari pasangan miliarder perusahaan ternama dan di adopsi oleh keluarga tersebut, melihat bakat Diego diatas rata rata, orang tua angkatnya mendaftarkan Diego di camp militer, dan dari sinilah perjalanan Diego Xu dimulai..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ganesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pertempuran Melawan Dewan Hitam dan Kemunculan Kakek yang Tak Terduga
Matahari terbenam dengan cepat di markas Diego dan pasukan bayangan, memberikan nuansa gelap yang tampak semakin menghantui..
Meskipun musuh-musuh yang berada di dunia Diego telah berhasil dihancurkan, ketegangan justru semakin meningkat.
Di balik kemenangan mereka, ada ancaman yang lebih besar: Dewan Hitam.
Dewan Hitam adalah aliansi yang terdiri dari lima penguasa kuat dari dunia lain, tempat asal keluarga Diego.
Mereka telah lama menyusup dan mengendalikan kekuatan politik, militer, serta ekonomi di berbagai dunia termasuk dunia Diego.
Kini, setelah kekalahan kaki tangan mereka, Dewan Hitam tidak akan tinggal diam. Serangan balik mereka akan segera datang, dan pertempuran terakhir akan menjadi penentu takdir keluarga Diego dan dunia.
Diego berdiri di depan peta besar di ruang strateginya, menatap lokasi markas Dewan Hitam di dunia asal keluarganya.
Itu adalah benteng yang tak tertembus di pegunungan hitam, sebuah wilayah penuh misteri dan kegelapan yang konon terlindung oleh sihir kuno yang sangat kuat.
Bahkan dalam dunia asal orang tuanya, tidak ada banyak yang berani mendekati wilayah itu, apalagi mencoba menyerang.
“Sudah waktunya kita menghadapi mereka,” ujar Adam, ayah Diego, dengan suara tegas namun tenang. Wajahnya yang berwibawa memancarkan kekuatan besar. “Ini bukan hanya soal membalas dendam. Dewan Hitam sudah terlalu lama mengancam dunia kita dan sekarang juga dunia ini. Jika kita tidak menghentikan mereka, kekuasaan mereka akan meluas tanpa batas.”
Devina, ibu Diego, berdiri di samping Adam. Pandangannya penuh keteguhan. “Mereka sudah merusak cukup banyak kehidupan. Tapi ingat, kita tidak bisa menghadapinya dengan kekuatan fisik saja. Mereka memiliki sihir yang sangat kuat. Kita harus lebih bijak dalam melawan mereka.”
Diego menyadari apa yang akan datang. Ini bukan hanya pertempuran biasa. Dewan Hitam adalah lawan yang luar biasa. Tapi dia tidak sendirian.
Selain ayah dan ibunya, dia memiliki pasukan bayangan yang setia: Greg, Bob, Ares, Luna, dan Lina. Mereka adalah prajurit terbaik yang pernah ada, bukan hanya di dunia ini, tapi juga di dunia asal keluarganya.
“Baiklah,” Diego menarik napas panjang. “Kita serang mereka di tempat mereka merasa paling aman: markas Dewan Hitam. Kita hancurkan mereka sekali dan untuk selamanya.”
Perjalanan ke Dunia Lain
Diego dan pasukan bayangannya, bersama Adam dan Devina, melakukan perjalanan ke dunia lain melalui portal yang hanya bisa diaktifkan oleh anggota keluarga Diego.
Dunia itu penuh dengan kekuatan magis, berbeda jauh dengan dunia yang biasa Diego tinggali. Langit di dunia itu terlihat gelap, dihiasi oleh gugusan bintang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Udara terasa lebih berat, seolah-olah energi magis di sekitarnya menyelimuti setiap bagian dari tempat itu.
Markas Dewan Hitam berdiri kokoh di puncak gunung yang menjulang tinggi di antara lembah-lembah yang diliputi kabut tebal..
Itu adalah benteng yang tak pernah bisa ditembus oleh pasukan mana pun sebelumnya. Tapi Diego dan timnya bukanlah pasukan biasa.
Saat mereka mendekati markas itu, Leandro menjelaskan dengan nada hati-hati, “Dewan Hitam bukan hanya kuat secara fisik. Mereka menguasai sihir kuno yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Kita harus berhati-hati. Satu kesalahan saja bisa membawa kehancuran.”
Diego hanya mengangguk. Dia tahu peringatan ayahnya tidak bisa dianggap remeh. Namun dia tidak punya pilihan. Mereka harus menghancurkan Dewan Hitam, apapun risikonya.
Ketika mereka mendekati gerbang markas, kabut tebal mulai bergerak, dan tiba-tiba, mereka dihadang oleh makhluk-makhluk bayangan yang dipanggil oleh Dewan Hitam..
Makhluk-makhluk itu menyerang dengan kecepatan luar biasa, namun Greg dan Ares, yang telah lama berlatih menghadapi sihir gelap, mampu mengatasi mereka dengan cepat.
“Tetap fokus!” teriak Greg. “Ini baru permulaan!”
Diego dan timnya terus bergerak maju, menghadapi setiap tantangan yang datang dengan disiplin dan kekuatan yang luar biasa. Mereka berhasil menembus lapisan-lapisan pertahanan yang disusun oleh Dewan Hitam..
Namun, saat mereka mendekati ruang utama di mana para penguasa Dewan Hitam berkumpul, sihir mereka semakin kuat.
Adam dan Devina menggunakan kekuatan sihir mereka untuk menangkis serangan-serangan gaib yang dilemparkan oleh para anggota Dewan Hitam.
Di tengah-tengah pertempuran, Diego bisa merasakan betapa kuatnya lawan mereka. Setiap serangan yang mereka lancarkan selalu diimbangi oleh kekuatan luar biasa yang berasal dari Dewan Hitam.
Namun, saat pertempuran tampak memuncak dan keseimbangan mulai terancam, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Di tengah-tengah ledakan sihir, sesosok pria tua muncul di depan mereka. Dia mengenakan jubah hitam yang memancarkan aura yang luar biasa kuat.
Wajahnya berkeriput, namun matanya memancarkan kekuatan dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan.
Diego tidak mengenal pria itu, tapi Adam langsung terdiam, ekspresi terkejut melintas di wajahnya.
“Ayah?” Adam berkata dengan suara tertahan.
Pria tua itu adalah Xander, ayah Adam—leluhur dari keluarga Diego—yang selama ini dianggap sudah mati dalam pertempuran besar melawan Dewan Hitam puluhan tahun yang lalu..
Adam telah menghabiskan sebagian besar hidupnya tanpa mengetahui bahwa ayahnya masih hidup.
Xander menatap Adam dengan senyum penuh kebijaksanaan. “Leandro, aku belum mati. Dewan Hitam hanya berpikir mereka sudah mengalahkanku. Aku telah menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik, dan hari ini adalah saatnya.”
Diego terpana. Kakeknya, yang selama ini dikira telah gugur, muncul pada saat yang paling kritis.
“Kau bertarung dengan baik, Leandro. Tapi sekarang, biarkan aku yang menyelesaikan ini,” kata Xander sambil melangkah maju ke hadapan Dewan Hitam.
Kekuatan yang terpancar darinya sungguh luar biasa. Dia adalah salah satu penyihir terkuat dari dunia mereka, dan Dewan Hitam tampak gentar di hadapannya.
Salah satu anggota Dewan Hitam, seorang wanita dengan rambut hitam legam dan mata berkilat-kilat, berteriak, “Xander! Kau seharusnya sudah mati!”
Xander hanya tertawa pelan. “Kalian sudah mencoba membunuhku, tapi aku bukan lawan yang mudah. Sekarang giliran kalian yang akan merasakan kehancuran.”
Xander mengangkat tangannya, dan kekuatan luar biasa terpancar darinya. Sihir kuno yang telah disegel selama bertahun-tahun akhirnya dilepaskan. Dalam sekejap, ruang tempat mereka bertempur mulai bergetar.
Batu-batu besar yang menjadi fondasi markas Dewan Hitam mulai retak.
Langit di atas mereka berubah, seolah-olah seluruh alam merespons kekuatan luar biasa yang dilepaskan oleh Xander.
Para anggota Dewan Hitam, yang awalnya percaya diri, kini berbalik menjadi takut. Mereka mencoba melawan, melepaskan semua sihir gelap yang mereka miliki, namun kekuatan Xander jauh melampaui apa yang mereka bayangkan.
Setiap serangan sihir yang mereka luncurkan, dibalikkan dengan mudah oleh Xander.
“Ayahku benar,” ujar Leandro sambil menghunus pedangnya. “Ini adalah akhir kalian.”
Diego, yang berdiri di samping ayahnya, ikut mengangkat senjatanya. “Kita selesaikan ini bersama.”
"Dan ayah, setelah pertarungan ini selesai, kau masih memiliki hutang penjelasan yang belum kau beritahukan ke aku tentang panggilan kakek kepadamu" ucap Diego
Adam atau Leandro hanya mengangguk sambil tersenyum tipis..
Dengan kekuatan gabungan dari Xander, Leandro, Selena, dan Diego, mereka menghancurkan Dewan Hitam satu per satu.
Setiap anggota Dewan Hitam yang berusaha melawan, dipukul mundur dan dihancurkan oleh kekuatan keluarga Diego yang kini telah bersatu kembali.
Pertempuran itu berlangsung sengit, namun akhirnya, para anggota Dewan Hitam tidak mampu menahan serangan gabungan itu.
Satu per satu, mereka runtuh, kekuatan mereka hancur, dan akhirnya, Dewan Hitam pun lenyap dari dunia.
Setelah kemenangan itu, Diego berdiri di atas reruntuhan markas Dewan Hitam.
Bersama ayahnya, ibunya, dan kakeknya, dia merasakan beban besar yang selama ini mereka pikul akhirnya terangkat.
Dunia kini aman dari ancaman Dewan Hitam, dan keluarga Diego kembali menjadi satu.
Namun, meskipun musuh mereka telah hancur, Diego tahu bahwa ini hanyalah awal dari tantangan baru yang akan datang..
Keluarganya mungkin telah memenangkan pertempuran ini, tetapi dunia selalu penuh dengan ancaman yang tak terduga. Kini, dengan kakeknya di sisi mereka, mereka akan lebih siap dari sebelumnya.
“Ini baru permulaan,” kata Xander dengan senyum
buat athor sukses selalu.. beda orang beda imajinasi...