Bisakah seorang bad boy mendapatkan wanita yang ia cintai saat pandangan pertamanya? Bahkan akankah wanita itu memperjuangkan cinta mereka hingga ke jenjang penikahan?
Adriel Dary Raymond, pria tampan yang terkenal dengan julukan bad boy serta sikap cuek dan dinginnya. Tiba-tiba di pertemukan dengan seorang wanita. Jovanka Lovta Orlando, merupakan wanita yang mencuri hati pria bda boy itu. Wanita pindahan ini memiliki paras cantik dengan pesona serta rahasia tak terduga.
Mereka berdua memiliki masa lalu yang menggoreskan rasa trauma akan cinta dalam suatu hubungan. Akankah mereka saling mencintai? Dan apakah mereka bisa melalui badai dan memperjuangkan hubungan cinta mereka?
WARNING !
Maaf karena terdapat kata-kata kasar dan adegan dewasah. Harap bisa lebih bijak untuk membaca, dan yang belum cukup umur jangan baca 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ins.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mine 2
Malam ini dengan kesadaran penuh, Jovanka telah menyerahkan mahkotanya pada pria yang ia cintai saat ini. Perasaan takut dan tekad kuat menjadi lemah disaan nafsu menjadi pemeran utamanya.
Setelah kegiatan mereka yang menyisakan perih untuk Jovanka. Adriel berbaring di samping Jovanka. Dengan nafas tersenggal, Adriel mencoba mengatur nafasnya.
Ia menatap takjub dan bangga saat ini. Dimana ia berhasil memiliki semua yang ada pada diri Jovanka. Namun, melihat setetes air bening mengalir dari mata Jovanka, membuat hati Adriel terenyuh miris.
Apa kau menyesal sekarang, Sayang? Apa kau berfikir aku sama dengan laki-laki biadab itu? Apa yang kau rasakan kali ini, apa kau mengutuk kelakuan kita sekarang?
Ketakutan dan perasaan takut lainnya kin bercampur menjadi satu. Adriel pun menghapus jejak air mata itu dengan lembut.
"Mengapa? Apa kau menyesal, Yank?" tanya Adriel lembut.
"Mmmm-," Jovanka tak menjawab dan hanya menggeleng ragu.
Adriel pun mendekap erat kekasihnya itu. Jovanka semakin terisak ketika kepalanya bersandar didada bidang Adriel. Adriel pun merasakan deras air mata yang kini membasahi tubuhnya.
"Jika kau menyesal akan perbuatan kita, maka aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Jika kau takut aku meninggalkanmu, maka aku akan tetap berkata itu tidak mungkin. Jika kau masih belum percaya, maka apa bukti yang perlu aku berikan? Haruskah aku meminta restu pada Kakak dan ayahmu sekarang juga? Berikan aku jawaban, Yank. Sungguh aku takut dan tidak bisa mengerti perasaannu kali ini. Jangan bikin aku takut,"
Melihat bahasa tubuh Jovanka yang semakin bergetar membuat Adriel semakin bingung.
"Aku takut, jujur aku takut saat ini. Sebagai wanita pun aku gagal menjaga kehormatanku. Sebagai anak dan seorang adik, aku juga gagal menjaga kepercayaan mereka. Otakku tertutup nafsu sesaat. Aku menyesal tapi, alasan yang membuat aku takut kali ini. Bisakah kau menepati janji pertanggung jawabanmu? Akankah kau akan menghormatiku seperti dulu? Apakah kau akan selalu bersamaku tetap seperti ini? Aku mohon jangan! Jangan tinggalkan aku begitu saja, seperti kau meninggalkam para wanita di masa lalumu itu? Jawab aku! Karena sungguh kali ini aku meragukanmu," tegas Jovanka.
Adriel merubah posisi nya denga duduk bersandar pada ranjang. Jovanka pun mengikuti pergerakan Adriel. Adriel meraih tangan Jovanka dan menatap lekat mata wanita itu.
"Jovanka Lovta Orlando, aku tau jika ini merupakan sebuah mahkota dan kehormatan seorang perempuan. Aku beruntung, sungguh beruntung menjadi yang pertama mendapatkannya. Aku pun tau jika itu mungkin tidak pantas bagiku. Karena kebejatanku sebelum bertemu denganmu. Aku tau jika hal ini pasti menyakitimu kali ini. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya dan yakin padaku sepenuhnya. Apa perlu malam ini juga aku menghadap Kakakmu? Bahkan mengatakan pada ayahmu serta orang tuaku, akan kejadian ini dan keinginanku mempersuntingmu? Tolong jangan ragukan aku lagi, Yank! Aku sungguh mencintaimu dan aku tidak akan meninggalkanmu,"
Entah apa yang Adriel rasakan kali ini. Namun, percaya atau pun tidak sebagai pria, ia pun merasa berdosa kali ini. Adriel merasa dirinya pun gagal menjaga wanita yang paling ia cintai kali ini.
Tuhan, aku berdosa dan aku sangat salah kali ini. Namun, ampuni dan berikan aku kesempatan memperbaiki semuanya. Jangan biarkan pria ini mrninggalkanku. Jangan pernah kau membalikkan hatinya.
Aku mencintainya, Tuhan.
"Ayo, kita temui, Kakakmu! Dan menghadap orang tuaku malam ini juga!" ujar Adriel serius.
"Hah, malam ini?"
"Iya, malam ini. Apa kau takut?" tanya Adriel.
Adriel pun kembali memeluk Jovanka dengan hangat. Ia ciumi pucuk kepala Jovanka dan mengelusnya lembut.
"Jangan takut! Harusnya aku yang harus takut menghadapi mereka. Karena aku telah menodai adik dan putri kesayangan mereka ini. Dan aku pun pasti di jatuhi hukuman oleh orang tuaku nanti," ucap Adriel.
Jovanka pun sedikit lega dan bisa sedikit tersenyum kali ini. Meskipun memang rasa ketakutan itu masih ada.
"Baiklah, aku pegang janjimu ini, Yank! Namun, ingat kali ini kau milikku dan aku milikmu. Jika pun kau mengkhianati janji-janjimu ini. Maka aku tidak akan segan atau pun ragu untuk membunuhmu. Camkan itu, Yank!"
Setelah percakapan panjang mereka, akhirnya Jovanka memutuskan untuk percaya dan meyakini janji Adriel. Mereka pun memutuskan untuk tidur kembali tentunya kali ini dengan menggunakan pakaian yang lengkap.