[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIDADARI
Beberapa hari berlalu Echa sudah pulang dari rumah sakit dijemput mobil Paman dan Bibinya, diantar oleh sahabat dan teman-temannya.
Sekarang Echa sudah memulai sekolahnya, setelah memakai ribuan kata dan ratusan bujukan kepada paman dan bibinya itu. Dan saat ini Echa resmi menjadi Siswi di sekolah SMA Starlight, hari ini adalah hari yang paling dibenci oleh kakak kelasnya, tapi hari ini adalah hari yang paling dinantikan oleh siswa/siswi baru. Hari senin.
Setelah upacara selesai, dan dengan amanat panjang lebar, semua siswa/siswi baru mencari nama mereka di papan pengumuman untuk melihat dimana letak kelas yang mereka tempati.
"kita sekelas!!" teriak Ivy antusias.
"Serius?" tanya Hanin.
"Serius, di kelas X Ipa 3." jawab Echa semangat.
"Ga usah basa-basi gimana kalau langsung cari kelasnya aja?" tanya Ivy.
"Ayo!!" jawab mereka kompak.
Mereka menyusuri koridor mencari kelas yang mereka tempati untuk satu tahun ini, tapi saat menuju tangga, Echa melihat lagi perempuan yang dia temui saat ingin pergi ke aula, perempuan dengan luka penuh sayatan.
Echa hanya menundukkan kepalanya saat melewati mahluk tak kasat mata itu. Untuk saat ini dia tidak ingin berurusan dengan mereka.
"Ketemu!!" ujar Hanin antusias.
Mereka bertiga masuk kedalam kelas yang sudah ramai dengan murid-murid baru. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh para siswa yang ada didepan pintu.
"Wah, kita sekelas sama bidadari-bidadari." ujar salah satu siswa sambil menatap Echa, Hanin dan Ivy bergantian.
"Woi kita punya bidadari." sahut saah satu siswa lagi.
Echa, Hanin dan Ivy hanya menanggapi mereka dengan senyuman yang sangat manis. Padahal menurut Ivy dirinya hanyalah batu kali yang hanyut, tapi syukurlah kita disebut bidadari.
Hanin dan Echa duduk sebangku sedangkan Ivy sedang mencari teman yang tidak fake. Ivy menggunakan penglihatannya untuk mencari teman yang sejalan dengan dirinya, namun nihil, tak ada yang benar. Mungkin belum semuanya datang.
"Semuanya pada fake friend." bisik Ivy.
"Jangan gitu Vi." ujar Echa.
"Iya deh, Caca yang baik." ucap Ivy.
"Haii." panggil salah satu siswi sambil mengulurkan tangannya.
"Eh iya hai." sahut Echa sambil menerima uluran tangan itu.
"Riana kalian boleh panggil aku Ana." ujar siswi tersebut yang bernama Riana tersenyum manis pada Echa.
"Echa panggil aja Caca." sahut Echa sambil tersenyum manis.
"Riana." ucap Riana sambil mengulurkan tangannya pada Hanin.
"Hanin." jawab Hanin menerima uluran tersebut sambil tersenyum manis.
"Riana." kata Riana mengulurkan tangannya pada Ivy.
"Ivy panggil aja Vivi." ujar Vivi sambil menerima uluran tersebut.
Untuk yang satu ini Echa melihat seperti tidak ada kepura-puraan semuanya netral, dia ingin berteman baik dengan Echa, Hanin dan Ivy, dan Echa juga melihat ada rasa sakit yang mendalam pada diri Riana. Namun, dia tak ingin membaca pikiran Riana lebih jauh lagi. Nanti malah mood Echa yang tidak baik.
"Boleh duduk disini?" tanya Riana.
"Boleh." jawab Ivy.
"Selain kalian cantik kalian juga baik ya." ucap Riana.
"Cantik bukan tolak ukur, yang harus kita miliki saat ini jadi orang baik, karena dunia butuh orang baik bukan orang cantik." ujar Hanin.
"Ana juga cantik kok." kata Ivy sambil tersenyum ramah.
Riana memiliki tubuh yang bagus seperti model dengan kulit sawo matang dan mata yang indah dan lesung pipi yang menambah kesan manis dan anggun pada diri Riana.
"Aku kalah cantik sama kalian." sahut Riana sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan nundukkin kepala, Ana beneran cantik luar dalam." ujar Echa.
"Makasi ya, Ana ngerasa udah kenal jauh banget sama kalian." ucap Riana.
Mereka saling bercerita tentang dirinya masing-masing pada Riana, kecuali kemampuan yang mereka miliki. Tidak ada kepalsuan apapun pada diri Riana, semua yang dia ucapkan itu benar dengan apa yang dia pikirkan. Sampai tidak terasa sekarang sudah jam istirahat.
"eh ke kantin yu." ajak Hanin.
"Ayo!!" jawab mereka kompak.
Saat mereka berjalan di koridor, semua pasang mata menatap mereka berempat, ada yang menatap kagum dan sinis.
"Ana ngerasa risih kalau diliatin kaya gini." bisik Riana.
"Sama Caca juga." ujar Echa.
"Vivi si engga, berasa kaya artis aja." sahut Ivy.
"Maklum urat malu Vivi udah abis." ucap Hanin.
"Apasi Nin, Vivi masih punya urat malu ko." ujar Ivy.
"Udah, malu." sahut Echa.
Echa melihat diujung koridor sana seperti seseorang yang dia kenali mendekat kearah sini. Echa memicingkan matanya dan saat itu juga Echa melihat orang itu sedang menatap dirinya. Bara dan teman-temannya. Echa tak bisa lepas dari tatapan itu, seolah dikunci oleh sang pemilik mata coklat indah itu.
"Hai Caca, Hanin, Vivi." panggil Namira.
"Eh, Hai Kak Rara, apa kabar?" tanya Echa yang memutuskan kontak mata dengan Bara.
"Baik. Katanya kamu kecelakaan ya? maaf Kakak gak bisa jenguk kamu kemarin. Tapi kapan-kapan Kakak bakalan kerumah Caca kok, boleh kan?" tanya Namira panjang lebar.
"Aku baik-baik aja kok Kak. Boleh pintu rumah Caca bakalan terus kebuka kok buat siapapun." jawab Echa.
"Kak kita gak ditanya nih?" tanya Hanin.
"Mau ditanya sama Kakak atau Nathan?" tanya Namira cengengesan.
"Oh iya ini siapa?" tanya Mutiara.
"Riana Kak." jawab Riana.
"Ehem." gumam Gavin.
"Gini ni kalau cewe ketemu cewe, gak tau tempat." ujar Azka.
"udah ya, ada yang marah kayanya." ucap Namira.
Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju kantin. Dengan tatapan para murid yang memandang mereka dengan berbagai macam ekspresi.
"Kalian mau pesen apa?" tanya Ivy.
"Apa aja deh." jawab Hanin malas.
"Gini ni kalau yang gak di sapa." ujar Echa senyum penuh arti.
"Bodo!!" sahut Hanin yang kesal.
"Caca pesen Mie ayam aja." ujar Echa.
"Ana boleh ikut ga?" tanya Riana.
"Boleh, ayo." jawab Ivy sambil melangkah pergi bersama Riana.
"Kenapa si Nin?" tanya Echa.
"Kesel banget, Nyapa engga ngeliat juga engga, jadi batal sukanya." jawab Hanin dengan wajah cemberut.
"Nin, mungkin Kak Nathan mau kamu nyapa duluan, kali-kali kamu yang nyapa dia, siapa tau dia emang lagi pengen di sapa." ujar Echa.
"Bodo amat Ca." sahut Echa.
"Terkadang benci itu mudah dibanding jatuh cinta. Hanya dengan apa yang dilihat saja kita langsung berspekulasi." ucap Echa sambil tersenyum manis.
"Kadang juga dari benci itu kita mudah jatuh cinta, entah itu karena sering hadir atau selalu ada dalam pikiran kita." sambung Echa.
"Caca yang terbaik buat Hanin makasi ya sarannya." ujar Hanin.
"Jangan berspekulasi sendiri, nanti kena imbasnya sendiri." ucap Echa.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror