Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian
"Mas.... Sakit.."
Tanpa kata Jaya mengangkat Rumi kedalam gendongannya. Dengan terburu-buru Jaya membawa Rumi keluar dari rumah.
"Jaya, Rumi kenapa?" Jaya sedikit kaget menemukan Abah serta Uminya sudah berada di halaman rumah mereka.
"Abah, Umi, Rumi kesakitan."
"Wildan! Bantu Hassan!" Kiai Ahmad Sulaiman gegas memanggil supir pribadinya untuk segera membantu Jaya membawa Rumi ke klinik terdekat.
Tidak hanya Umi Zalianty dan suaminya. Lestari juga khawatir dengan keadaan nyonya rumahnya.
"Jaga rumah, saya bawa ibu ke dokter dulu." Jaya berkata setelah mendudukkan Rumi di kursi mobil.
Kiai Ahmad Sulaiman serta istri tidak jadi masuk kedalam rumah, mereka ikut membawa Rumi ke klinik.
Tiba di klinik terdekat, Rumi segera di periksa.
Rumi masih merasakan kram yang hebat diperutnya. Tidak lama berselang, dia merasa ada sesuatu yang mengalir diantara pahanya. Darah. Rumi tidak tau pasti apa yang terjadi, tapi dokter yang memeriksanya terlihat khawatir.
Di rumah.
Setelah kepergian Jaya dan Rumi. Nyonya Sanjaya mengamuk.
"Wanita sialan itu terus memonopoli putraku, dia berpura-pura sakit agar Hassan mau membawanya pergi dari rumah. Bedebah memang!"
"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu agar Hassan bisa membenci wanita itu, ibu." wanita yang duduk di sampingnya justru menghasut.
Jenifer tertarik pada Jaya saat pertama kali melihatnya, dia memiliki obsesi untuk membuat lelaki itu jatuh ke tangannya. Sayang ternyata Jaya tak seperti lelaki diluar sana yang menilai wanita hanya dari tampilan serta gelar, Tujuannya mendekati Jaya tentu karena nyonya Sanjaya yang menjanjikan kenyamanan hidup ketika dia berhasil menjadikan lelaki itu sebagai pasangan hidupnya. Tentu Jenifer tidak pernah tahu seberapa rumit kehidupan Jaya sebelumnya.
Wanita sepertinya hanya butuh lelaki sempurna dari segi tampilan dan segi hartanya. Menikmati hidup dengan berfoya-foya setra memanjakan diri dengan harta berlimpah yang tak habis tujuh turunan.
"Sulit membuat Hassan membenci wanita itu, akan lebih baik kita mengatur siasat untuk menyingkirkan wanita itu, mungkin dengan sedikit tekanan wanita sepertinya akan memilih pergi." senyum culas terukir dari bibir wanita paruh baya itu.
Lestari yang menjadi saksi kebencian nyonya Sanjaya pada Rumi ikut prihatin, ia berdoa semoga apa yang direncanakan dua wanita jahat ini tak pernah terlaksana.
Di klinik. Rumi yang tengah berbaring masih terus merasakan kram pada perutnya. Jaya terus berada disampingnya.
Jaya sempat diajak bicara oleh dokter di ruangan yang berbeda, Rumi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi ketika kembali, raut wajah Jaya terlihat pucat dan pria itu terdiam cukup lama. Sebelah tangan Rumi di genggam erat. Saat menggenggam tangannya, Rumi bisa merasakan tangan Jaya begitu dingin.
Raut yang sama ditunjukkan oleh Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty. Dan informasi setelahnya Rumi akan dipindahkan ke rumah sakit.
****
"Mas, kenapa harus ke rumah sakit?" Rumi bertanya ketika mobil ambulans sudah menunggunya yang hanya berbaring di bad yang beroda.
"Dokter bilang kita butuh cek dengan peralatan yang lebih lengkap." Jaya menjawab pelan, suaranya rendah dan terdengar sendu.
Jaya ikut masuk ke dalam ambulance. Sementara Abah dan Uminya mengendarai mobil yang tadi mengantarkan mereka ke klinik.
Jaya berharap semua baik-baik saja. Dia sangat cemas ketika dokter di klinik mengatakan bahwa ia tidak bisa mendengar detak jantung bayi yang berada di rahim Istrinya.
Apalagi ditambah dia melihat dengan kepala matanya sendiri darah yang yang mengalir diantara paha Rumi.
Semoga ketakutan Jaya tidak terbukti, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Rumi dan calon anaknya. Hatinya sudah cukup hancur melihat Rumi yang terus menerus meringis menahan kram diperutnya. Dia tidak ingin lebih hancur dengan sesuatu yang lebih buruk lagi dari ini
******
Hati Rumi hancur ketika mendengar dokter mengatakan bahwa bayinya tidak menunjukkan respon dari setiap rangsangan yang telah diberikan.
Tidak ada detak jantung dan gerakan yang ditunjukkan oleh calon bayinya. Dokter bertanya padanya kapan terakhir kali Rumi merasakan pergerakan bayinya.
Dan Rumi masih ingat betul, bahwa ia merasakan bayinya bergerak aktif tadi pagi setelah ia usai sarapan.
Rumi hanya merintih ketika dokter meminta persetujuan untuk melakukan induksi, Jaya dengan tanpa banyak bicara menyetujui. Sementara Rumi hanya bisa menangis dalam diam. Hati dan perasaannya hancur saat ini juga. Dia ingin menangis kencang, berteriak tapi nyatanya tak mampu.
Sementara Jaya terus berada disampingnya, menggenggam tangannya yang mungkin ikut mendingin karena kebekuan yang tercipta.
"Mas_" Rumi memanggil Jaya dengan suara serak, dia berusaha menahan tangisnya.
"Ya, dek? Kram lagi ya perutnya?" Rumi baru memperhatikan wajah suaminya, ternyata mata yang biasanya indah dipandang, kini memerah menjalar hingga hidung mbangirnya. Jaya-nya menangis.
Rumi menggeleng, air matanya lolos juga ketika melihat kehancuran yang sama di wajah sang suami.
Dengan cepat Jaya menghapus air mata Rumi. "Jangan menambah hancur hati Mas dengan air mata kamu, dek. Jika kamu kuat, Mas akan jauh lebih kuat." Jaya mengecup tangan Rumi dengan bibir yang bergetar.
Tak lama berselang, dokter datang memasangkan infus yang berisi cairan untuk merangsang terjadi kontraksi pada Rumi.
Tak butuh waktu terlalu lama, Rumi merasakan mulas yang luar biasa, lalu hilang. Ketika dokter mengatakan bahwa reaksi kontraksi sudah siap, sang dokter memberikan pilihan pada Rumi tentang proses kelahiran.
Dan Rumi memilih untuk proses lahiran normal. Dokter sudah tidak bisa memberi harapan, karena berulang kali dilakukan pengecekan memang tidak lagi ditemukan tanda-tanda janin masih hidup. Maka sudah dipastikan bahwa Rumi akan menjalani proses melahirkan bayinya siang ini juga.
Setelah Rumi diperiksa dan dilakukan pengecekan menyeluruh, akhirnya dokter menyetujui proses kelahiran normal. Rumi dipersiapkan sebelum masuk keruang persalinan.
Yang saat ini dialami Rumi dinamakan Stillbirth, yaitu kematian janin dalam kandungan dan harus dikeluarkan. Banyak faktor yang bisa menyebabkan, termasuk kondisi calon ibu yang sangat tertekan dan banyak pikiran.
Tentu ketika Jaya diberi tahu keadaan yang terjadi, dia tahu dan sadar apa yang membuat Rumi tertekan.
Jaya tidak mau meninggalkan Rumi sendirian, dia terus ikut kemanapun Rumi dibawa. Kini Rumi sudah siap dengan pakaian persalinan, terlihat jelas mata Rumi berkaca-kaca.
"Kuat, dek." Jaya berusaha menguatkan istrinya. Padahal batinnya sendiri tersiksa mengetahui bahwa yang akan mereka hadapi nanti akan jauh lebih berat, setelah ini mereka berdua masih harus saling menguatkan satu sama lain.
""Maafkan Rumi Mas," lirih Rumi.
Jaya tak mampu menjawab, bukan salah Rumi hingga hal ini terjadi. Berulang kali Jaya menyeka air mata Rumi yang turun tanpa suara. Dia ingin tetap kuat, agar Rumi kuat. Jaya tau ini tidak akan mudah untuk mereka, terlebih untuk Rumi.
"Apapun yang terjadi nanti, satu hal yang Mas minta. Tetap dampingi Mas, Dek." Bisik Jaya, ketika mengatakan itu setetes air matanya jatuh. Segera dia mengusap matanya, lalu dia mulai membisikkan doa-doa di telinga Rumi.
#######
Kira-kira setelah ini, apakah Rumi akan meninggalkan Jaya dan membuat lelaki itu kembali depresi seperti sebelumnya?
Atau Rumi akan bersabar bertahan dengan Jaya dan meraih cinta yang lebih besar dari cinta yang pernah Jaya persembahan untuk masa lalunya.
Atau justru ada Harsa yang akan meraih hati wanita yang pernah dia ceraikan?
Minta dukungannya dong.
Kalau sepi author jadi malas update.
Bener, deh.
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?