NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Jangan Ambil Anakku

CCTV menunjukkan mobil abu-abu keluar dari gerbang samping pukul empat lewat dua belas menit.

Platnya palsu.

Asisten rumah tangga baru menghilang.

Di layar, Lila terlihat mengikuti wanita itu dengan langkah ragu. Beberapa detik kemudian tubuh kecilnya ditarik masuk mobil.

Naya tidak bersuara saat melihat rekaman itu.

Justru diamnya membuat semua orang takut.

Rayyan menangis di pelukan Nenek Ratih.

"Papa, itu Lila. Papa cari dia."

Arkan sudah menelepon kepala keamanan, polisi, dan tim legal. Raka membagi rekaman ke tim pencari. Namun semua gerakan terorganisir itu terasa lambat bagi Naya.

Ia berdiri, mengambil tas, lalu berjalan keluar.

Arkan menahan jalan. "Mau ke mana?"

"Mencari anak saya."

"Dengan cara apa? Berlari di jalan?"

"Kalau perlu."

"Naya, dengarkan aku."

"Saya sudah terlalu sering mendengarkan orang seperti kalian."

Kata kalian membuat Arkan berhenti.

Naya menatapnya dengan mata merah.

"Anak saya pernah diambil dari rumah sakit. Saya tidak bisa melawan karena saya dibius. Hari ini anak saya diambil lagi dari rumahmu. Jangan suruh saya duduk."

Arkan tidak punya jawaban yang cukup.

Rania berdiri di sisi ruangan, gemetar. Bu Mira sudah dihubungi berkali-kali tetapi tidak mengangkat. Pak Surya juga tidak.

Naya menoleh pada Rania.

"Telepon ayahmu."

"Apa?"

"Telepon dia."

"Aku tidak tahu apa-apa."

Naya melangkah cepat dan merebut ponsel Rania. Rania menjerit, tetapi Naya sudah membuka daftar panggilan terakhir.

Ada nomor tanpa nama yang dihubungi lima menit sebelum Lila hilang.

Naya menekan ulang.

Rania mencoba merebut. "Jangan!"

Arkan menangkap tangan Rania.

Telepon tersambung.

Suara laki-laki di ujung sana terdengar kesal.

"Sudah kubilang jangan telepon dulu. Anak itu aman. Suruh Naya keluar dari hidup Arkan, baru..."

Naya menekan speaker.

Ruangan mendengar semuanya.

Rania langsung lemas.

Arkan mengambil ponsel.

"Di mana anak itu?"

Suara di ujung sana diam.

Arkan berkata lebih pelan, lebih berbahaya, "Aku tanya sekali lagi. Di mana anak itu?"

Telepon diputus.

Raka langsung mengambil ponsel untuk melacak nomor. Arkan menatap Rania.

"Siapa?"

Rania menangis. "Aku tidak tahu. Aku cuma... aku cuma ingin menakutinya. Aku tidak tahu mereka benar-benar..."

Naya menampar Rania.

Kali ini tidak ada yang menghentikan.

"Dia empat tahun," kata Naya. "Dia sudah cukup takut seumur hidupnya."

Rania memegang pipinya, menangis tersedu.

"Aku tidak bermaksud menyakiti."

"Orang seperti kamu selalu begitu. Menghancurkan hidup orang, lalu bilang tidak bermaksud."

Pelacakan nomor membawa mereka ke gudang kosong dekat Kalimalang, milik perusahaan logistik kecil yang pernah menjadi vendor Pradipta. Polisi sedang menuju lokasi, tetapi Naya tidak menunggu.

Arkan tahu ia tidak akan bisa menahannya.

"Masuk mobilku."

"Saya bisa..."

"Kalau kamu mau sampai lebih cepat, masuk."

Naya masuk.

Perjalanan itu terasa seperti pisau. Naya duduk kaku, tangan mencengkeram boneka kelinci Lila. Arkan menyetir sendiri, lebih cepat dari yang seharusnya, sementara Raka di mobil belakang mengarahkan tim.

"Kalau dia terluka," Naya berkata tanpa menatap Arkan, "saya tidak peduli siapa keluargamu. Saya tidak peduli siapa Rania. Saya akan bakar semuanya."

"Aku tahu."

"Tidak. Bapak tidak tahu."

Arkan menatap jalan.

"Aku tahu anakku diculik dari rumahku. Aku tahu itu tanggung jawabku."

Naya tertawa pahit.

"Anak Bapak?"

Arkan sadar kalimatnya.

Ia tidak memperbaiki.

Gudang itu tampak kosong dari luar. Pintu besi setengah tertutup. Ada satu motor dan mobil abu-abu tanpa plat di samping bangunan.

Naya turun sebelum mobil benar-benar berhenti.

"Naya!"

Ia berlari masuk.

Di dalam, bau debu dan oli menyerang hidung. Ada suara tangis tertahan dari ruang kecil di belakang.

Naya mengikuti suara itu.

Pintu dikunci dari luar dengan rantai.

"Lila!"

Dari dalam terdengar gerakan panik.

Naya menarik rantai dengan tangan kosong. "Lila! Mama di sini!"

Arkan datang dan menendang kunci itu dua kali sampai patah.

Pintu terbuka.

Lila duduk di sudut ruangan, tangan dan kakinya diikat kain. Mulutnya ditutup lakban. Matanya merah, seluruh tubuhnya gemetar.

Naya jatuh berlutut.

"Ya Allah..."

Ia membuka lakban perlahan. Lila langsung menabrak pelukannya tanpa suara.

Tidak ada tangis keras.

Hanya napas patah seperti anak yang terlalu takut untuk menangis.

"Mama di sini," Naya berbisik berulang-ulang. "Mama di sini. Maaf. Maaf."

Tiga pria yang menjaga gudang mencoba kabur lewat pintu belakang, tetapi tim keamanan Arkan dan polisi yang baru tiba mengepung mereka. Salah satunya mengaku dibayar orang Pradipta untuk "menahan anak sebentar".

Naya mendengar itu, tetapi seluruh dunianya hanya Lila.

Saat ia mencoba berdiri sambil menggendong Lila, tubuhnya limbung.

Arkan menangkap bahunya.

Kali ini Naya tidak sempat menepis.

Ia terlalu lemah.

"Bawa dia ke rumah sakit," kata Arkan.

Naya mengangguk, tetapi langkahnya goyah.

Di mobil, Lila tetap memeluk leher Naya. Arkan duduk di kursi depan, melihat dari kaca spion. Ada bercak darah kecil di pergelangan tangan Lila akibat ikatan.

Tangannya mencengkeram setir.

Di rumah sakit, dokter memastikan Lila tidak mengalami luka berat, tetapi trauma akutnya jelas. Naya juga diperiksa karena hampir pingsan. Tekanan darahnya rendah, tubuhnya kelelahan.

"Ibu juga harus istirahat," kata dokter.

"Saya tidak sakit."

"Ibu hampir jatuh dua kali."

Lila menatap Naya dengan mata takut.

Naya langsung berkata, "Baik. Mama istirahat."

Arkan berdiri di pintu ruang perawatan.

Ia melihat Naya berbaring dengan Lila di sampingnya. Anak itu tetap memegang baju Naya bahkan saat tertidur.

Naya membuka mata.

"Terima kasih," katanya kaku.

Arkan menggeleng. "Jangan berterima kasih untuk hal yang seharusnya tidak terjadi."

"Memang seharusnya tidak."

Arkan menerima itu.

"Rania akan diperiksa."

"Dia akan menangis. Keluarganya akan menutup. Pengacara akan memutar cerita. Saya tahu alurnya."

"Tidak kali ini."

Naya menatapnya.

Arkan berkata, "Tidak di depanku."

Untuk sesaat, Naya ingin percaya.

Keinginan itu membuatnya takut.

Maka ia memejamkan mata.

"Jangan janji kalau Bapak belum tahu seberapa busuk keluarga itu."

Arkan menatapnya lama.

"Kalau begitu, tunjukkan padaku."

Naya tidak menjawab.

Tapi malam itu, ketika Lila menggigil dalam tidur, Arkan melihat Naya memeluknya dan berbisik, "Tidak ada yang akan mengambil kamu lagi."

Kalimat itu bukan hanya untuk Lila.

Itu sumpah.

Dan Arkan tahu, setelah hari ini, perang antara Naya dan keluarga Pradipta tidak bisa lagi dihentikan.

Ponsel Arkan bergetar lagi sebelum fajar.

Raka mengirim foto KTP Sumi, bukti transfer, dan satu nama yang membuat Naya langsung berdiri saat mendengarnya.

Mira Pradipta.

Tidak ada pesan panjang. Hanya rekening perantara, jumlah uang, dan catatan singkat dari aplikasi pembayaran: "antar paket sebelum sore".

Naya membaca layar itu dua kali.

"Paket," katanya.

Arkan tidak menjawab.

"Anak saya disebut paket."

Suaranya pelan, tetapi Arkan mendengar sesuatu di dalamnya patah. Lila masih tidur di ranjang rumah sakit kecil, infus menempel di tangan. Setiap napas anak itu membuat Naya menoleh, memastikan ia masih ada.

Arkan berdiri di dekat pintu. "Aku akan serahkan ini ke polisi."

"Polisi yang mana? Yang dulu menutup berkas saya dalam tiga hari?"

"Bukan penyidik yang sama."

"Semua orang bisa dibeli."

"Tidak semua."

Naya tertawa sekali, kering. "Bapak baru percaya itu karena Bapak belum pernah miskin."

Kalimat itu mengenai Arkan lebih keras daripada tuduhan. Ia ingin membantah, tetapi tidak ada kalimat yang pantas keluar dari mulut laki-laki yang rumahnya selama ini melindungi kebohongan.

Ia hanya berkata, "Aku tidak bisa mengubah empat tahunmu."

"Memang tidak."

"Tapi aku bisa membuka siapa yang mengambilnya."

Naya menatapnya.

Di matanya masih ada curiga, marah, dan lelah. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya: harapan yang dipaksa bangun.

"Kalau Bapak berhenti di tengah jalan," katanya, "saya tidak akan memohon lagi. Saya akan hancurkan mereka dengan cara saya."

Arkan mengangguk.

"Kalau aku berhenti, kamu boleh mulai dari aku."

Naya tidak menyangka jawaban itu.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri dalam suara mesin rumah sakit dan napas Lila yang tipis.

Lalu Lila bergerak kecil.

"Mama..."

Naya langsung menunduk dan menggenggam tangannya.

Di ambang pintu, Arkan melihat pemandangan itu dan akhirnya mengerti satu hal.

Seorang ibu tidak perlu bukti hukum untuk mengenali anaknya.

Hukum hanya perlu mengejar ketinggalannya.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!