Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hilang jejak
Pagi hari. Waktu baru menunjukkan pukul 06.30, di apartemen Benjamin Jordan.
"Princess... Apa kau sudah bangun?" teriak Ben sambil mengetuk pintu kamar Raya.
Ceklek.
Pintu terbuka saat Ben hendak mengetuk lagi.
"Kakak...?" sapa Raya. Semalam dia sudah sepakat untuk memanggilnya Kakak, walaupun Ben tidak keberatan jika Raya tetap memanggilnya Mas Bejo.
"Kau sudah siap? Kalau begitu, ayo kita turun; kita akan sarapan dulu sebelum berangkat!" tutur Ben lembut.
"Iya, Kak Ben." Dan mereka pun segera turun bersama. Di meja makan, Tuan Abdullah sudah menunggu keduanya.
"Selamat pagi, Daddy!" sapa Raya.
"Selamat pagi juga, Sayang!" jawab Tuan Abdullah.
"Bagaimana tidurmu semalam, Sayang?!" tanya Tuan Abdullah. "Apa kau tidak bisa tidur? Kenapa ada lingkaran hitam di matamu?"
"Ah, tidak juga, Daddy. Hanya terbangun beberapa kali. Mungkin karena Raya tidak terbiasa tidur di kamar mewah seperti ini!" jawab Raya sambil tersenyum.
"Maafkan Daddy, Sayang. Seharusnya Daddy tidak melakukan ini padamu. Seharusnya Daddy tetap menjagamu dengan dua tangan Daddy sendiri!" Tuan Abdullah merasa menyesal.
"Jangan berbicara seperti itu, Daddy. Raya paham situasi yang Daddy hadapi pada saat itu!" jawab Raya.
"Baiklah, kita segera sarapan. Pesawat kita sudah menunggu!" Ben memotong pembicaraan mereka berdua.
Di waktu yang sama, di rumah Pak Hamid.
"Tin... tin...!"
Arga membunyikan lagi klaksonnya, karena menunggu Raya yang tak kunjung keluar.
Ceklek, suara pintu terbuka, membuat Arga menoleh. Tapi dia kecewa, karena yang keluar bukan orang yang ditunggu oleh Arga.
"Ada apa kau kemari?!" tanya Mira ketus. "Bisa-bisanya si tukang ojek miskin ini, jam segini sudah nongol di sini," batinnya kesal.
"Aku datang untuk menjemput Maharaya. Apa dia belum siap?!" tanya Arga. Meskipun kesal terhadap Mira, tetapi dia tetap mencoba untuk bersikap sopan.
"Rupanya kau itu benar-benar tak tahu malu, ya! Apa sebegitu frustasinya dirimu setelah aku putuskan? Hingga lalu mendekati kakakku? Tidak bisa cari gadis lain, ya? Atau memang kau benar-benar tidak laku?!" Kata-kata Mira begitu pedas. Belum lagi gayanya sambil bersedekap; benar-benar sok iyes sekali dia.
"Tolong panggilkan saja Raya. Kalau tidak segera berangkat, dia akan terlambat!" Arga masih mencoba bersikap sopan.
"Orang yang kau panggil dengan nama Maharaya itu tidak lagi tinggal di sini!" ucap Mira ketus.
"Apa? Apa maksudmu?!" tanya Arga bingung.
"Kau tidak bisa paham bahasa manusia, ya? Aku bilang Maharaya sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia bukan kakakku, dan dia sudah diusir oleh Bapak!" jawab Mira lagi. Dia enggan menjelaskan semuanya tentang Raya. Tak penting baginya. Lagi pula dia masih sebal dengan status Raya yang ternyata Putri konglomerat itu. Lebih kesal lagi karena Arga, setelah putus dengannya, malah berpacaran dengan Raya. Juga karena dulu saat bersamanya, Arga tak pernah mengajaknya jalan-jalan. Tapi saat bersama Raya, malah dengan entengnya Arga sudah memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya. Itu yang didengarnya secara tak sengaja saat menguping pembicaraan Raya dengan Bapak beberapa hari yang lalu.
"Apa? Raya mengajukan surat resign?" tanya Arga tak percaya, mendengar laporan dari Pak Septi. Tadi begitu mendengar ucapan Mira, bahwa Raya tak lagi tinggal di rumah itu, dia segera pergi dan hendak mencarinya di perusahaan, tempat Raya bekerja. Tapi yang didapatinya justru berita yang sangat mengejutkan.
"Iya, benar, Tuan Muda! Seseorang yang katanya bernama Kevin, datang dengan membawa dua amplop berisi surat resign. Yang satu punya Maharaya, dan yang satu lagi punya Bejo!" Pak Septi memberikan keterangan.
"Apa? Kenapa keduanya resign secara bersamaan?" tanya Arga heran.
"Di surat resign mereka menjelaskan, alasannya adalah karena sudah mendapat pekerjaan di tempat lain. Dan perusahaan tentu saja tidak bisa menahan. Karena itu adalah hak mereka, jika memang mendapatkan tempat yang mereka anggap lebih baik dari tempat kita. Terutama lagi karena mereka berdua tidak datang secara langsung; hanya lewat orang suruhan."
"Mana data tentang Mas Bejo yang kemarin? Dimana alamatnya?" Tidak bisa begini. Kenapa Raya pergi tanpa berbicara apa pun padanya? Setidaknya seharusnya Raya bisa mengabarinya lewat pesan singkat. Tetapi ini, bahkan nomornya pun tak bisa dihubungi. Jika pun bisa, pasti langsung di-reject.
Arga segera menggeber sepeda motornya, menuju alamat yang tertera di dalam biodata Mas Bejo. Tetapi alangkah terkejutnya Arga, ketika dia sampai di alamat yang dimaksud, pemilik kontrakan mengatakan, bahwa Mas Bejo tidak tinggal di sana. Mas Bejo hanya sekali-sekali saja datang. Dan sudah seminggu ini Mas Bejo memutuskan tidak lagi memperpanjang kontrak di tempat itu. Tentu saja hal itu membuat Arga kelimpungan. Kemana lagi dia akan mencari kekasihnya?
Padahal dia baru saja merencanakan akan membuat lamaran secara resmi untuk Maharaya, tetapi sekarang kekasihnya itu pergi tanpa berita.