"Ini bukan sebuah hubungan"
"Saya tahu"
"Kau tidak akan mendapat apapun dari hal ini"
"Saya mengerti"
"Apa kau masih ingin melanjutkan hal ini?"
Tanpa ragu lagi, Eva menjawab
"Iya"
Laki-laki yang mulai mencium dan membuka pakaiannya ini tidak tahu kalau Eva mendapatkan sesuatu dari hal ini.
Kenikmatan
Dan hanya itulah yang dibutuhkan Eva saat ini. Tanpa semua kerumitan hubungan yang pernah dijalaninya. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Eva ingin menikmati semua sentuhan dan kehangatan pria yang mulai membuat mereka menyatu itu.
Diharap pembaca dibawah umur tidak membaca ini🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Henry berdiri di ujung aula pernikahan, menunggu pengantinnya datang. Semua orang telah memberinya selamat tapi di dalam hatinya sama sekali tidak ada rasa bahagia. Dia hanya menjalankan tanggung jawab dan itu lebih penting daripada bagaimana perasaannya. Lisa De Hart adalah pilihan istri yang paling tepat. Lagu pernikahan diputar dan Henry menoleh ke belakang. Saat dia melihat Lisa dengan gaun putih berjalan mendekat, tiba-tiba ujung matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Berpakaian rapi seperti biasa, rambut terikat dan riasan sederhana. Dari tadi, dia tidak melihat perempuan itu. Kenapa sekarang dia melihatnya?
Perlahan dada Henry terasa tidak nyaman. Sekali lagi dia melihat perempuan yang berdiri di balik pilar dan mendadak merasa semua yang dilakukannya terasa salah. Kakinya ingin melangkah mendekat ke perempuan itu, memeluknya dan membatalkan pernikahan. Tapi pandangan ayah, ibu, kakak, semua dewan direksi dan tamu undangan menghentikannya. Perempuan itu tidak lama lagi akan hilang dari kehidupannya. Dan apapun yang sedang tumbuh di hatinya akan mengering.
Melihat ke arah depan, Henry menatap masa depannya. Dia menerima uluran tangan Lisa dan mengucapkan janji pernikahan sesuai rencana. Pesta pernikahan datang setelah upacara dan Henry tidak lagi melihat perempuan itu. Pasti perempuan itu sudah menyelesaikan tugas dan pergi. Bagi mereka berdua memang tidak ada yang namanya hubungan. Jadi tidak ada alasan bagi perempuan itu untuk tetap berada di sini. Tapi kenapa dia merasa kecewa?
"Selamat, seminggu lagi kau akan menjadi Presdir" ucap Lisa setelah mereka resmi menjadi suami istri.
Wanita ini, sungguh mengerti arti dari pernikahan ini.
"Selama kau mendukungku, semua akan baik-baik saja" jawab Henry.
"Kita juga harus cepat memiliki anak"
Sial, wanita ini juga ingat tentang hal ini. Henry memilih untuk diam dan membawa mereka ke pesta pernikahan. Di dalam hati dia mulai merasa khawatir. Apakah bisa memiliki anak dengan wanita ini. Semoga saja semua terapi yang dia lakukan, membuahkan hasil yang diharapkan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus bagaimana.
"Sayang sekali kalian harus menunda bulan madu" kata ibu Henry di pesta kepada menantu barunya.
"Ini adalah saat yang penting untuk Henry. Saya akan selalu mendukungnya" jawab wanita itu terkesan sebagai istri yang baik.
"Semoga saja kalian tidak menunda untuk hal yang lain" sindir ibu Lisa lalu melihat Henry dari ujung sepatu ke atas kepala. Seperti memeriksa apakah Henry cukup mampu melakukannya.
"Itu adalah urusan mereka. Kita sebagai orang tua hanya menunggu kabar baik" bela ibu Henry lalu mengajak besannya pergi.
"Kalau kau melakukannya seperti yang terakhir kali, sepertinya tidak akan ada masalah" bisik Lisa lalu tersenyum ke arah Henry.
Setelah mednengar istrinya bicara seperti itu tiba-tiba Henry tidak bisa bernapas dengan baik. Dia memutuskan untuk keluar dari tempat pesta dan turun ke restoran. Dia melepas dasi yang mengekang lehernya dan mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Pertanyaan-pertanyaan terus muncul di kepalanya saat memikirkan tentang pernikahan.
Apakah dia bisa melakukannya?
Apakah dia bisa membuat wanita itu hamil?
Bagaimana kalau yang terjadi terakhir kali adalah sebuah kebetulan?
"Anda ingin sesuatu Tuan?" tanya pelayan yang berdiri di balik meja bar.
"Apa saja" jawabnya lalu menerima segelas minuman berwarna keemasan. Dia memutar-mutar gelas beberapa kali lalu menghabiskan semuanya dalam satu kali tenggak.
"Apa Anda tidak apa-apa Miss?"
"Iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih"
Henry mendengar suara yang dikenalnya dan menoleh. Perempuan itu ... ternyata ada disini.
"Apa Anda butuh sesuatu? Segelas air mungkin?" tanya pelayan yang berdiri di sebelah perempuan itu.
"Saya sudah membawanya. Terima kasih"
Kenapa? Apa yang terjadi dengan perempuan itu? Kenapa mereka berdiri di depan toilet dan berbicara seperti itu? Wajah perempuan itu juga sepertinya lebih pucat dari yang biasanya dilihat oleh Henry. Apa perempuan itu tidak apa-apa? Apa perempuan itu sakit? Henry bangkit dari kursinya dan ingin mendekat ke arah perempuan itu berdiri. Tapi sesuatu menahannya. Tak lama perempuan itu juga berjalan pergi, meninggalkan restoran. Henry tetap berdiri di tempatnya dan merasa sangat bodoh. Apa sebenarnya yang dia lakukan?
"Beri aku minuman itu lagi!" perintahnya kepada pelayan bar.
"Baik Tuan"
"Berikan terus sampai aku bilang stop"
"Tapi Tuan"
"Aku bahkan bisa membeli hotel ini kalau aku mau. Jadi jangan membantahku!"
Pelayan bar tidak bicara lagi dan terus nmemberikan Henry minuman. Entah berapa gelas yang dia minum, tapi hatinya tetap terasa tidak baik. Dan pada saat dia mulai kehilangan kesadaran, seorang pria datang untuk membawanya pergi dari bar.
Keesokan paginya, Heny terbangun dengan sakit di kepalanya.Dia duduk di pinggir ranjang dan melihat sekeliling. Ini bukan kamar apartemennya. Dimana ini?
"Mabuk di malam pertama pernikahan. Apa ini trik-mu untuk membebaskan diri dari kewajiban?"
Henry melihat ke arah wanita yang sedang berdiri di dekat pintu. Dia tidak menjawab dan mengambil segelas air. Berusaha membasahi kerongkongannya yang kering dan menatap kota yang disinari matahari.
"Jam berapa ini?" tanyanya.
"Lewat tengah hari. Kita tidak jadi makan siang dengan orang tuaku"
"Masih ada besok" jawab Henry tidak mau disalahkan.
Dia meninggalkan Lisa yang menyimpan amarah di wajahnya dan pergi ke kamar mandi. Mendinginkan kepalanya yang masih sakit.
Setelah bersiap, dia keluar dari kamar. Bertemu dengan Fint yang berdiri di dekat Lisa.
"Tuan muda"
"Apa kau membawa semua dokumen yang kubutuhkan?" tanya Henry tidak memedulikan wanita yang sedang memainkan ponselnya.
"Tuan, ini adalah hari setelah pernikahan Anda. Bukankah seharusnya Anda ... "
"Pulanglah kalau kau tidak mau bekerja"
Fint terdiam dan mulai membawakan berkas yang diminta oleh Henry ke ruang kerja. Wanita yang ada disana tidak peduli dengan apa yang Henry lakukan dan tetap memainkan ponselnya.
"Tuan, Nyonya muda ... "
"Ingatlah untuk siapa kau bekerja"
Senja datang tak terasa dan Henry masih saja bekerja.
"Tuan muda" kata Fint menyela pekerjaannya.
"Apa?"
"Nyonya Besar meminta Anda dan Nyonya muda makan malam di rumah utama"
Sebenarnya Henry tidak ingin keluar dari tempatnya bekerja. Tapi karena yang meminta adalah ibunya Henry, dia tidak punya pilihan lain.
"Katakan pada wanita itu untuk bersiap"
"Tuan ... Baiklah"
Saat penuh keheningan saat Henry dan istrinya pergi ke rumah utama keluarga Ford. Mereka disambut dengan wajah cerah ibu Henry.
"Selamat datang"
"Nyonya Ford" sapa wanita itu.
"Kenapa masih memanggil seperti itu? Panggil aku ibu"
Wanita itu tersenyum sinis dan Henry sangat benci melihatnya. Karena hidung wanita itu tampak bengkok saat tersenyum.
"Mana ayah?" tanya Henry.
"Ada di ruang baca. Ibu mengundang seseorang lagi, semoga kalian tidak keberatan makan malam dengannya"
Orang lain? Kenapa ibunya mengundang orang lain dalam makan malam keluarga? pikir Henry agak merasa tidak nyaman.
Dan ketika dia tahu siapa tamu yang datang untuk makan malam, Henry sangat terkejut. Perempuan itu muncul dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Rambut terurai lepas, riasan sedikit tebal dan gaun berwarna biru langit yang membuat kulitnya tampak cerah.
"Selamat malam Miss Grey" sapanya terlebih dahulu.
"Selamat malam Wakil Presdir" balas perempuan yang bau parfumnya mengundang gairah Henry.