Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 - Delapan Unsur
Liu Xiu menyiritkan keningnya saat mendengar permintaan Dong Fang, dia menatap Dong Fang heran, "Kau mengerti sulitnya menjadi seorang alkemis? Selain sulit, untuk menjadi alkemis, membutuhkan beberapa kemampuan khusus yang jarang dimiliki orang banyak."
"Apa kemampuan khusus yang senior magsud itu elemen yang bisa digunakan seseorang?" tanya Dong Fang, dirinya pernah membaca jika ada delapan elemen yang ada didunia, yaitu air, api, tanah, petir, angin, logam dan kayu. Jika seseorang ingin menapaki jalan alkemis, dia setidaknya harus memiliki dua elemen dalam tubuhnya yaitu unsur api dan kayu.
Liu Xiu menganggukan kepalanya, "Setiap manusia dilahirkan dengan bakat elemen yang berbeda-beda, kebanyakan mereka bisa memakai satu elemen dan beberapa yang beruntung bisa memiliki dua elemen sekaligus. Untuk mempelajari alkemis, seseorang harus memiliki dua elemen, yaitu api dan kayu. Aku tak yakin kau memiliki kedua unsur itu."
Dong Fang menghela nafas panjang, dia sendiri merasa pesimis jika dirinya memiliki kedua unsur itu, terutama unsur kayu yang jarang sekali dimiliki manusia, kurang satu persen diantara semua pendekar yang memiliki elemen berunsur kayu.
Tapi, Dong Fang menghapus pikiran negatifnya, dia sendiri belum mengetahui elemen unsur apa yang dirinya miliki.
"Aku belum mengetahui elemen apa yang aku miliki, aku belum pernah memeriksanya." Dong Fang menggelengkan kepalanya.
"Apa kau serius? Aku tidak percaya kau yang seorang Pendekar Inti, tak mengetahui unsur elemenmu sendiri." Liu Xiu menatap mata Dong Fang, "Lupakan saja. Lagipula, tidak ada untungnya kau berbohong padaku. Tetapi sebelum itu, bantu aku terlebih dahulu untuk membereskan semua daganganku."
Liu Xiu kemudian mengambil botol-botol berisi pil itu dan memasukkannya secara hati-hati kedalam karung goni. Dong Fang ikut membantu pedagang tua itu.
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka berdua akhirnya selesai membereskan kedai itu. Liu Xiu kini bersiap untuk pulang.
"Ikuti aku." Liu Xiu sambil berjalan meninggalkan Dong Fang.
Dong Fang mengikuti pedagang tua itu, mereka berjalan melewati jalur yang tak terlalu ramai. Sambil berjalan, Dong Fang melihat kesegala arah, dirinya sedikit takjub dengan kota ini, meskipun tak termasuk kota besar, pembangunan kota ini jauh lebih maju daripada Kota Shenjing, Kota tempat tinggal Dong Fang dahulu.
Mereka berjalan selama beberapa puluh menit, hingga akhirnya mereka sampai di pinggiran kota yang sepi. Daripada bangunan-bangunan, disana lebih banyak pohon yang terlihat dan diantara pohon-pohon tersebut, sebuah gubuk kayu kecil terlihat.
"Kita sampai." Liu Xiu menyimpan dengan hati-hati barang-barang yang dibawanya kedalam rumahnya.
"Aku tak menyangka, ada hutan kecil dan gubuk kecil didalam kota ini." Dong Fang dengan wajah tak berekspresinya melihat sekelilingnya, dirinya kini tak menemukan bangunan-bangunan besar seperti saat di bagian tengah kota. Tetapi ada beberapa bangunan tinggi yang terlihat ditempatnya sekarang.
Setelah selesai dengan urusannya, Liu Xiu keluar dari gubuknya dan mendekat kearah Dong Fang dengan sebuah bola kaca kecil transparan ditangannya.
Liu Xiu menyodorkan sebuah bola kecil transparan itu kearah Dong Fang, "Aku tak menyangka benda ini akan berguna lagi setelah beberapa puluh tahun tak digunakan."
"Kau bisa meletakkan tanganmu diatas sini." lanjut Liu Xiu sambil menyodorkan bola itu.
Sesuai petunjuk pedagang sepuh itu, Dong Fang menyimpan telapak tangannya di bola transparan itu. Setelah itu, bola transparan itu mulai bercahaya.
Dahi Liu Xiu mengkerut, wajahnya terlihat bingung sekaligus terkejut, sebuah ekspresi yang sulit dideskripsikan.
Dari bola itu, delapan warna terpancar, menandakan Dong Fang memiliki elemen dengan delapan unsur.
"I-Ini... Apa-apaan? Apakah bola elemen ini rusak?" Liu Xiu dengan nada terkejut, sekaligus tak percaya.