Sekuel Ketos Itu Suamiku.
🍁🍁
"Nikah yuk, Bi!" ajak seorang cowok pada seorang gadis yang berjalan di dekatnya.
"Nggak mau!" balas gadis berkerudung lengkap dengan cadarnya tersebut. Menolak mentah-mentah ajakan menikah dari seorang cowok yang dia ketahui bernama Alther Davindra Bagaskara.
🍁
Siapa yang tidak mengenal cowok bernama Alther Davindra Bagaskara? Murid pindahan yang langsung menjadi most wanted di SMA Mahardika.
Wajahnya yang tampan paripurna, postur tubuhnya sesuai idaman para kaum hawa, serta praupannya yang dingin itu sungguh menjadikannya seorang pangeran di sekolah barunya. Bahkan statusnya sebagai ketua geng motor semakin menjadikan Al sebagai cowok idaman mereka.
Namun, siapa sangka jika cowok keren dan brandalan seperti Al malah jatuh hati kepada perempuan bercadar dan sangat menutup penampilan serta menjaga batasannya? Tidak akan ada yang percaya, bukan?
Siapakah perempuan yang berhasil menarik hati Al?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28. Langsung Ke KUA
Bab. 28
Setelah mendapat wejangan dari Genta beberapa waktu yang lalu, hari ini Al memberanikan untuk mendekati Bina. Bukan hanya sekedar mengobrol. Melainkan ingin berbicara serius pada gadis itu.
Dan kebetulan ia seolah mendapat dukungan penuh. Hingga tanpa sengaja di kala Al sedang berangkat menuju ke sekolah, tanpa sengaja ia melihat Bina di pinggir jalan dengan mendorong motornya yang mungkin sedang mogok.
"Kenapa lagi motornya?" tanya Al. Yang kemudian turun dari motor setelah menepikan motornya di depan Bina. Sontak membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Al?" ucap Bina seraya memicingkan matanya. Menelisik siapa yang sedang berhenti di depannya sekarang ini. Jika dilihat dari seragam almamater yang sedang dia pakai, itu sama dengan apa yang Bina pakai saat ini.
Al mengangguk. Lalu melepas helm full facenya sehingga Bina bisa melihat wajah Al lebih jelas. Karena tadi yang terlihat hanya mata pria itu saja.
"Kenapa?" tanya Al lagi. "Kehabisan bensin lagi?" tanya Al mencoba menebak seperti yang pernah Bina alami dulu itu.
Bina menggeleng. "Enggak. Ini masih full kok isinya. Cuma nggak tau kenapa dia ngambek lagi," jawab Bina yang terdengar begitu menggemaskan di telinga Al.
Sampai-sampai membuat cowok itu tersenyum tipis. 'Candu banget suara manjanya.' batin Al yang memang sudah dibutakan dengan sosok yang ada di hadapannya saat ini. Padahal Al belum pernah melihat wajah Bina secara keseluruhan. Hanya mata indah itu saja yang terlihat sudah berhasil membuat Al terpesona.
Al memeriksanya sebentar. Lalu cowok itu menatap Bina yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kayaknya musti di bawa ke bengkel ini motornya," ujar Al seraya berdiri. Mendekat ke posisi Bina, hingga secara refleks membuat Bina mundur selangkah di kala Al terasa begitu dekat dengannya. Tidak ada satu meter darinya.
Bina tampak gusar. "Bengkel masih jauh dari sini. Sedangkan aku buru-buru," gumam Bina. Menoleh ke arah sekitar dan tidak menemukan seseorang yang bisa ia minta pertolongan. Atau paling tidak menarik motornya untuk di bawa ke bengkel.
"Cari siapa?" tanya Al dengan mata memicing lalu mengikuti arah yang ditatap oleh Bina.
"Mau minta tolong sama orang buat narik motor aku ke bengkel. Kalau nggak cepat-cepat, nanti bisa telat. Apa lagi sekarang ada ujian, kan?"
Mengingat hal tersebut semakin membuat Bina tampak begitu resah dan bergerak gelisah. Beberapa kali menakutkan tangannya dan meremasnya cemas.
"Gimana kalau aku sampai nggak ikut ujian. Yang ada nanti Bunda kecewa," gumamnya lagi. Mondar mandir berharap ada orang yang bisa ia mintai pertolongan.
Al menghela napas. Kenapa gadis di depannya saat ini tidak bisa meminta tolong kepada dirinya.
"Ya udah, motornya tinggal sini aja. Lo bareng sama gue," ujar Al pada Bina. Membuat gadis itu terkejut tak terkira. Pasalnya ia tidak pernah berboncengan dengan seorang pria.
"Ah, makasih sebelumnya. Tapi maaf, aku nggak bisa boncengan sama ka—"
"Nggak naik motorku, Bina. Tapi kita naik taxi. Gue temenin. Karena nggak mungkin lo naik sendiri, kan?" potong Al cepat. Tahu betul pemikiran gadis bercadar ini.
Bina meringis di balik cadarnya. Ia kira kalau Al bakalan mengajak dirinya naik motor cowok itu.
"Kirain kamu bonceng, maaf," ujar Bina merasa tidak enak karena sudah salah sangka.
"Ya kalau lo mau, boleh. Sekalian langsung ke KUA," sahut Al begitu santai namun sangat ngena di Bina.
"Hah?"
Maafkan daku yang meninggalkan cerita ini. wkwkwk. kali ini nggak bakalan ku tinggal lagi kok. bakalan aku sayang² sampe selesai😂
pengen tau kelanjutannya