Nicole Louisa Edgar mendapatkan surat undangan dari kekasih pertamanya yang merupakan raja dari kerajaan Artaleta.
Tapi ia harus merasakan pernikahan dengan sahabat raja Artaleta sendiri yang merupakan musuhnya ketika mereka masih bersekolah diluar negeri.
Apakah pernikahan itu akan berlangsung lama?
Apakah ia akan jatuh cinta pada suaminya yang sangat menyebalkan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kritis
Elissa berada diluar istana menunggu kepulangan Nicole. Sudah malam ia belum pulang. apa yang akan ia katakan pada suaminya jika tahu? Terdengar suara kereta mendekati istana, Elissa dapat sedikit bernafas lega melihat kereta yang ditumpangi Nicole telah tiba.
Nicole keluar dari kereta perlahan. Ia melihat Elissa yang sedang cemas.
"Mylady, kenapa pulang malam?"
Nicole tersenyum. "Duchess Erpham memberikanku tambahan acara."
"Kau lelah bukan? Bagaimana perutmu?"
Nicole memegang perutnya. "Aku baik-baik saja."
"Aku ketakutan. Aku ingat dokter menyuruhmu untuk beristirahat dirumah."
"Mulai besok aku akan dirumah. Tenanglah Elissa."
Ketika malam menjelang, Nicole seorang diri dikamar. Vale masih belum pulang. Kemungkinan ia baru pulang pagi-pagi. Ia tidak bisa tidur malam ini. Kejadian tadi membuatnya sangat marah. Perempuan itu tega menyebarkan berita bohong demi mendapatkan keinginannya. Ia menggelengkan kepalanya. Esok ia akan bertanya pada suaminya apa yang terjadi.
Tiba-tiba ia merasa perutnya sangat sakit. Ia bangun dan berjalan menuju meja untuk mengambil air minum. Ia melangkah perlahan sambil memegang perutnya yang terus terasa sakit. Ia merintih kesakitan.
"Sakit sekali" rintihnya. Ia terduduk disamping ranjang sambil memegang perutnya. Setelah meminum obat pereda sakit, ia mulai bangkit dari duduknya. Ia mulai berbaring dan mencoba menutup mata perlahan.
Ketika pagi menjelang. Nicole merasa ada tangan yang membelai kepalanya. Ia membuka matanya pelan, suaminya sedang duduk disampingnya. "Mylord. Kapan kau pulang?"tanya Nicole sambil melihat pakaian yang dikenakan suaminya. Ia masih terlihat rapi.
"Aku baru pulang."
Nicole duduk dibantu Vale.
"Aku merindukanmu. Aku cepat-cepat pulang." bisik Vale sambil memeluknya. "Apakah kau beristirahat dengan baik?"
Nicole mengangguk pelan. Ia senang suaminya kini ada disampingnya.
Tiba-tiba pintu diketuk dengan kencang. Nicole melepaskan pelukannya pada Vale. Ia melihat Elissa datang tergopoh-gopoh sambil membawa surat kabar ditangannya.
"Ada apa Elissa?"tanya Vale
"Maafkan saya mylord, mylady... ini surat kabar pagi ini. Ada sesuatu didalamnya."
Vale mengambil surat kabar itu langsung dari tangan Elissa. Ia membaca dan terkejut melihat foto Nicole ada disana. Gambar itu memperlihatkan Nicole sedang menampar seseorang. Ia menatap Nicole. "Apa yang terjadi?"
Nicole melihat surat kabar itu dan terdiam.
"Ayo katakan sayang, ada apa selama aku pergi?"
Nicole mulai menangis. "Wanita itu telah menyebarkan gosip mengenai kita sehingga warga menilai kita tidak pantas menyandang gelar duke dan duchess."
"Siapa wanita itu?" tanya Vale marah.
"Aku tidak tahu, aku sudah memberinya pelajaran tadi malam."
"Sayang, kenapa kau lakukan sendiri? Kenapa kau tidak menungguku?" tanya Vale cemas.
"Karena aku tidak bisa menunggu. Selama jamuan dengan para duchess dan lady, aku diperbincangkan. Tadi malam aku pergi ke Balmore untuk mencari wanita itu."
Vale memeluk Nicole kembali. "Jangan pernah lakukan itu lagi, biar aku saja yang menyelesaikannya."
Nicole mengangguk. Ia masih meneteskan airmata. Vale memegang tangannya. "Kau harus bisa menjaga kandunganmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian. Aku akan menyelesaikan masalah ini hari ini. Kau harus istirahat. Besok acara kita padat."
Nicole mengangguk. "Baiklah Mylord."
Nicole menggenggam tangan Elisa dengan erat. Pagi tadi acara diistana telah berjalan dengan baik. Ia dan suaminya telah diberikan gelar oleh Raja Juan. Semua prosesi sudah dilakukan dengan baik.
“Kenapa, Mylady? Ada yang sakit?”tanya Elissa khawatir.
Nicole mengangguk pelan. “Hanya sedikit, Elii. Mungkin aku kelelahan”
“Tentu saja Mylady kelelahan. Mylady tidak pernah tidur dengan tenang akhir-akhir ini” Jawab Elisa. “Apa Mylady mau pulang? Biar saya menemui Mylord untuk membawamu pulang.”
“Tidak. Aku tidak mau mengecewakan Raja Juan dan suamiku." Ia melihat suaminya sedang berkeliling menemui bangsawan-bangsawan yang hadir.
“Tapi kesehatan Mylady lebih penting.”
Kereta kuda berhenti. Elissa mendesah karena pada akhirnya mereka telah melanjutkan perjalanan. Elissa turun terlebih dahulu. Ia membantu Nicole turun dari kereta. Imelda menghampirinya karena mereka berada didua kereta berbeda.
“Ayo sayang.”ucapnya pada Nicole.
Mereka berduapun memasuki taman istana. Beberapa pasang mata nampak terpesona melihat kedua wanita itu. Nicole melihat sosok itu. Vale sedang menatapnya intens. Ia tersenyum bahagia.
Zest tiba dengan pengawalnya. Ia langsung menemui Nicole dan ibunya.
"Apakah benar kau sedang hamil?" tanya Zest semangat.
"Betul, paduka."
Zest tersenyum senang. Tiba-tiba wajahnya berubah. “Kenapa wajahmu pucat?”
Nicole mulai mengipasi wajahnya. “Sepertinya aku harus menghirup udara segar, paduka”
“Baiklah. Sebelum acara dimulai, kau berjalan-jalan disekitar kebun, disana udara dan harum tanaman cukup baik. Kau bisa menambah energi ketika berada disana."
Nicole tersenyum dan berjalan terpisah dengan Zest. “Jangan mulai lagi.” Ringis Nicole sambil memegang perutnya. Ia terus berjalan dan duduk dikursi yang ada didekat kebun. Elissa tidak terlihat. Ia kini sendiri.
Vale mencari keberadaan Nicole. Sejak pergi dengan Zest, ia tidak terlihat. Ia melihat adiknya, namun ia tidak menemukan Nicole. Ibunya tampak masih berada disamping Zest.
“Paduka, apakah kau melihat Nicole?”
Zest bingung. “Bukannya tadi dia ada di kebun belakang?"
Vale mendesah dan menatap ibunya. “ Nicole belum pulang. Aku bisa pastikan itu.”
Vale pun segera berlari untuk mencari keberadaan Nicole. Tiba-tiba ia mendengar suara jatuh yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tanpa banyak berfikir, Vale mencari arah benda yang terdengar jatuh itu. Ia terkejut ketika melihat seseorang yang tergeletak didepannya. Itu bukan benda melainkan Nicole. Nicole jatuh pingsan. Beberapa orang terlihat menghampirinya.
Vale cepat berlari melompati beberapa tanaman untuk bisa cepat menghampiri Nicole sebelum oranglain. “Nicole!” serunya ketika ia telah disamping Nicole.
“Kasihan sekali. Aku tadi melihatnya kesakitan diperutnya sebelum jatuh pingsan” Ungkap seseorang.
Vale menatap wajah Nicole yang pucat.
“Mylady.. mylady”panggil Elissa yang berlari dengan tergopoh-gopoh.
Vale mengangkat tubuh Nicole dengan mudahnya. Ia dengan cepat membawanya kedalam kereta. Elisa berjalan dibelakangnya. “Kenapa Nicole, Elissa?”
“Sejak hari itu Mylady memang sering kesakitan, Mylord.” Jawab Elisa sambil mengikuti langkah Vale yang cepat.
"Ayo cepat Tuan, kita harus menemukan dokter. Saya dari awal sudah sangat takut jika hal ini terjadi.”
Vale mengikuti instruksi Elisa sambil terus membopong tubuh Nicole tanpa merasa keberatan. Ketika sampai dikereta, ia memangku tubuh Nicole yang terlihat semakin pucat. “Nicole, bertahanlah.”
Elisa masih shock melihat Nicole. Ketika berada dikereta tadi ia sudah bertanya tentang keadaan Nicole. Tapi ia tetap ingin menghadiri pesta itu. “Tadi saat diperjalanan, Mylady sudah merasa kesakitan, Mylord. Tapi Mylady berkata tidak mau mengecewakan Paduka Raja.”
Tiba-tiba Elissa melihat darah mengalir di kakinya. "Mylord!" teriak Elissa sambil menangis. Vale terkejut. "Tidak sayang, kau harus kuat. Sebentar lagi kita sampai." Ucap Vale cemas.
Ketika ia sampai ke istana, dua orang dokter telah siap dan menunggunya. Tanpa pikir panjang, Vale langsung membawa tubuh Nicole kedalam kamarnya. Ia mempercayakan sepenuhnya pada dokter.
Vale berada diluar kamarnya dengan tidak tenang. Beberapa kali Elissa menghampirinya untuk memberikan minum tapi selalu ditolak. Kali ini Elisa harus memaksanya. “Jika Mylord seperti ini, Mylady akan sedih. Minumlah. Aku tahu kau tegang.”
Dengan ragu Vale mengambil gelas itu dan meminumnya. Beberapa orang tiba-tiba datang setelah salah seorang dokter tadi keluar. Vale memberikan gelas yang belum habis airnya itu pada Elissa.
Ia menarik salah seorang dari mereka. Ia memakai pakaian putih-putih dan masker. “Apa yang terjadi dengan istriku?”
“Duchess harus dibawa dengan segera kerumahsakit, duke.”
Mata Vale membesar. “Apa yang terjadi?”
“Duchess kritis."
Jangan lupa mampir di karya ku juga!☺️Mari kita saling mendukung semua karya anak bangsa🇮🇩😎
_
Terima Kasih🙏 @Karolinly🤓
Tema rumah tangga angsat. Makasih