Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien Rese
Senja melihat kehebohan yang terjadi di rumah sakit siang itu. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi saat itu, ketika dia datang para perawat, bidan, bahkan dokter berkerumun dan membentuk barisan seolah mengantri untuk bertemu idola mereka.
"Apa yang terjadi? Ada apa?" tanya Senja kepada Tina yang ikut memadati kerumunan di ruangan dokter itu.
"Artis terkenal, datang ke rumah sakit ini. Dijadwalkan akan melakukan operasi minggu depan," terang Tina.
"Aku pikir apa, heboh gak jelas. Lebih baik aku pergi kalau," ujar Senja yang melenggang pergi. Tina hanya menggeleng-geleng sembari tersenyum melihat sahabatnya yang sangat cuek terhadap apa pun itu.
'Kau sedang apa? Apakah kau sudah makan siang?' Suatu pesan masuk dari Edward. Pria itu seolah kurang kerjaan mengirimnya pesan setiap beberapa jam sekali. Namun, Senja bahagia, dia merasa begitu spesial bagi pria itu.
"Cie, senyum-senyum sendiri, siapa tuh?" ucap Rina udah ada di belakang Senja, bersama Tina. Mereka tampaknya tidak bisa masuk dan tidak bisa melihat artis idola mereka di tempat itu.
"Bagaimana dengan artis kesayangan kalian, Apa sudah pulang?"
"Dia masih di sana, hanya saja kami tidak bisa melihatnya. Seperti biasa, hanya orang-orang yang memiliki jabatan di rumah sakit ini yang bisa melihat artis papan atas sepertinya," ujar Rina kesal. Padahal pria itu adalah artis kesayangannya.
Senja hanya membalas dengan senyuman, merasa kasihan pada kedua temannya.
"Tapi, kalau kau mau masuk ke dalam, pasti kami bisa ikut masuk, Din," ucap Tina berharap Senja mau berubah pikiran.
Tapi perbincangan mereka justru terhenti kala melihat satpam yang sedang berjaga di pintu. Seorang wanita yang berpakaian lusuh menggendong anaknya yang terlihat lemas. Senja yang penasaran akhirnya mendekat mencari tahu apa yang terjadi terhadap wanita itu.
"Ada apa Pak Kodir?" tanya Senja ingin tahu. Dia begitu iba melihat keadaan wanita itu, yang terlihat tampak panik dan juga begitu ketakutan, terus membelai punggung anaknya yang terkulai lemas di gendongannya.
"Ini Mbak, ibu ini tidak mau pergi padahal dokter Husna sudah memintanya pergi dari sini. Tadi pagi orang tua ini juga sudah datang membawa anaknya. Dia ingin memeriksa kondisi anaknya yang sedang sakit tapi setelah dokter Husna mengatakan perkiraan biaya yang harus disiapkan, Ibu ini mengatakan bahwa dia tidak memiliki uang sebanyak itu, jadi dokter Husna memintanya untuk pergi mencari rumah sakit yang lebih murah," terang Pak Kodir.
"Tolonglah anak saya, Bu Dokter. Dia sedang sakit parah, kakinya membengkak dan bernanah sejak dia jatuh. Saya sudah memberinya obat dari klinik tapi ternyata tidak sembuh juga. Mereka mengatakan kaki anak saya akan diamputasi karena sudah busuk tapi saya tidak mau. Saya tidak ingin anak saya pincang, Dokter. Saya mohon Bu Dokter, membantu lah saya," ucap sang ibu terus memelas kasihan pada Senja.
Kembali senja mengutuk perbuatan dokter Husna. Sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang dokter, seharusnya dia mengutamakan keselamatan pasien terlebih dahulu baru membicarakan biaya.
"Tin, minta tolong ambilkan ranjang dorong agar kita bisa membawa anak ini," ucap Senja pada Tina.
Tanpa bertanya lebih lanjut sahabatnya itu pun melakukan apa yang diminta oleh Senja. Pergi mengambil ranjang, kemudian kedua sahabat itu datang mendorong ranjang itu. Dengan perlahan Pak Kodir membantu merebahkan tubuh anak itu di sana dan membantu mendorong ke ruang UGD.
Saat di perjalanan Dokter Husna yang baru keluar dari rapatnya melihat keadaan itu dan segera menghadang langkah mereka. Dia melihat ke arah anak yang berbaring di ranjang dorong, lalu menoleh ke arah ibunya. Dia mengenali wanita itu karena tadi pagi dialah yang mengusirnya di rumah sakit ini.
"Mau ke mana kalian bawa anak ini?" tanyanya ketus.
"Aku ingin memeriksanya, jadi aku akan membawanya ke ruang UGD," jawab Senja tanpa rasa takut.
"Lupakan saja, wanita itu tidak akan bisa membayar pengobatan anaknya ini lebih baik minta dia membawa ke klinik atau ke rumah sakit yang lebih murah dari rumah sakit ini" jawabnya tanpa merasa bersalah. Harusnya dia tidak pantas disebut dokter.
Senja yang sudah muak tidak menjawab perkataan Husna, justru dia meminta melanjutkan perjalanan mereka mendorong ranjang itu menuju UGD. Husna yang merasa dipermalukan menarik tangan Senja hingga mereka saling berhadapan.
"Jangan pikir karena kau adalah putri pemilik rumah sakit ini, maka kau bisa melakukan apa pun sesuka hatimu. Semua tindakan di rumah sakit ini mempunyai aturan, kau tidak bisa melakukan apa yang kau anggap benar tapi menyalahi aturan di rumah sakit ini!" hardiknya dengan tatapan tajam.
"Aku akan menanggung semuanya. Segala administrasi dan juga tanggung jawab yang kau butuhkan nantinya, yang terpenting yang harus kulakukan adalah menolong anak ini karena nyawanya lebih penting dari apapun urusan administrasi di rumah sakit ini!" seru Senja menepis tangannya dari genggaman Husna lalu mengikuti temannya yang mendorong pasien itu ke ruang UGD.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Kau salah mencari lawan, Dinda!" umpat Husna dengan gigi menggeretak.