Juminten dan Bambang dari namanya sudah sangat khas dengan orang desa.
Kisah percintaan orang desa tidak ada bedanya dengan orang kota dari kalangan atas hingga bawah.
Juminten, gadis yang ceria dan supel menaruh hati kepada Bambang kakak kelasnya di sekolah.
Gayung bersambut, Juminten dan Bambang dijodohkan oleh kedua orangtua mereka.
Pernikahan yang Juminten impikan seperti di negeri dongeng karena dapat bersanding dengan pria yang dia cintai hancur berkeping-keping. Disaat Juminten berbadan dua, Bambang lebih memilih menemui cinta pertamanya dibandingkan menemaninya.
Apakah Juminten akan mempertahankan rumah tangganya atau pergi jauh meninggalkan Bambang dan segala lukanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Mulachela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Mereka pun melanjutkan perjalanan, jalan yang mereka lewati kali ini melewati pohon-pohon karet. Bau getah karet yang menggumpal dan terkena tetesan air hujan, membuat bau busuknya semakin menyengat.
Farid yang sudah tak kuat menahan baunya, akhirnya muntah di tengah jalan. Resti yang kebetulan di belakangnya segera membopong Farid ke bawah pohon bambu di dekat mereka. Membantu Farid melepaskan Tas punggungnya.
Resti terlihat sangat cekatan. Tas ransel yang ada di punggungnya di berikan pada Juminten. "Tolong, Minyak kayu putih, Jum!" Ucapnya sambil membuka kaos yang di pakai Farid karena sudah basah dengan keringat.
Juminten segera mengambil minyak kayu putih yang kebetulan ada di sakunya. Resti pun membalurkan pada punggung, perut, ketiak juga leher Farid.
"Ayo tanganmu masukin, Wan! Berat nih!" Resti memakaikan Jaket yang kebetulan ada di sampiran tangannya, Farid pun pasrah dan hanya menyodorkan tangannya.
Resti membuka ranselnya, mengambil teh hangat yang di simpan di dalam tremos kecilnya.
"Minum dulu, pelan-pelan!" Farid mengangguk, meminumnya dengan pelan-pelan.
"Udah mendingan belum?" Juminten ikut khawatir melihat muka pucat sahabatnya.
"Alham-dulillah, udah. Ma-kasih ya!" Farid bersiap membaringkan tubuhnya.
"Udah, nggak apa-apa. Istirahat aja, dulu!" Resti mengarahkan Farid untuk meletakkan kepalanya di atas pahanya. Agar bisa beristirahat dengan nyaman.
Mereka pun duduk-duduk dulu sambil menunggu Farid kuat untuk melanjutkan perjalanannya.
"Ah, bodoamat! Panggil aja nama Jumi sampe capek!" Juminten membuka bungkusan tahu bulat jatah Bambang yang lupa di berikan.
Resti menoleh, "Lu ngomong ma sapa, Jum?"
"Tuh, panggil nama Jumi pake bisik segala! Kerasin napa!" Juminten mulai menikmati tahu nya.
"Jum, jangan bikin gue takut!" Resti mulai takut, bahkan untuk menelan saliva rasanya susah.
"Serius, orang nya di belakang Juminten. Ini sekarang lagi manggil, Juminten! "
"Coba manggilnya gimana?"
"Jum.. Juminten!" dengan suara seraknya. "Suaranya dari arah sana, tuh!" Telunjuk Juminten mengarah ke pohon bambu di belakang mereka.
"Tapi, kok gue agak merinding ya?"
"Sama, Juminten juga. Tapi, Juminten buat cuek. Ini juga ada bau menyan, loh!" Juminten menarik nafasnya, "Eh, Bukan menyan, tapi melati!"
"Bego,itu hantu beneran oi!"
"Yaudah terus mau ngapain?" Juminten masih asyik memakan tahu nya.
"Kalian mau nggak?" Juminten menyodorkan ke temannya.
"Boleh, deh!" Resti mengambil tusuk gigi yang diberikan Juminten,lalu memakannya.
Mereka melihat bayangan putih lewat dihadapan mereka. Bulu kuduk mereka merinding. Resti seketika menghentikan kunyahannya.
"Itu demit beneran, weh!"
"Yaudah, biarin aja! Asal kita nggak nganggu mereka, kan! Mereka juga nggak bakal numbalin kita kayak di film kan? Toh, tampang kita dagingnya pasti pahit. Makanya deket aja nggak selera."
"Sok tau, lu! Kayak kanibal aja lu!" Resti melempar minyak yang di pegang dan dijawab tawa Juminten.
"Ba-ca-in ya-sin" jawab Farid dengan terbata.
"Nggak hapal gue. Lu aja deh Wan, Jum" saut Resti.
"Ogah ah, biarin aja! Emang dia kan gerak aktifnya malem, dia pagi mana berani siwer! Setan yang siwer pagi-pagi, berarti di hukum mboknya. Gegara pulang nggak tepat waktu!"
"Emang mereka punya mbok? Ngaco!" Resti salah fokus melihat di pohon depan mereka. "Kenapa itu kayak ada kain merah gerak-gerak, ya!"
"Mana sih? Si valak lagi haid kali jadi merah! "
"Malah, Valak! Bukannya valak tempatnya di gereja, ya? Ya ampun, otakku mikir mulu deket Juminten. Masa setan bisa haid. "
"Ah, Kalo gitu mereka lagi adu tarung. Pasti lagi saingan caper mereka sama Wan Abut! Wah, ada orang soleh masuk hutan! "
"Lah, kok gu-e?"
"Kan jarang-jarang ada cowok muka tampang arab masuk hutan. Tampang lu pantesnya kan ikutnya pengajian! Bawa sorban, sarungan sama pecian yang tinggi! "
" Ibaratnya kayak aku nih, naksir sama Jin BTS. Meskipun gue naksir dia sampe tahun jebot, tetep nggak bakal di balas sama si Jin. Sama kayak mereka, mereka bosen liat hantu mukanya kan seram-seram. Nah, liat lu mata mereka jadi seger. Berasa dapat jackpot! "
"Wah, share nomer ponsel lu wan! Sebutin, gih! Biar mereka WhatsApp lu tiap malem. Sambil nemenin mereka nongkrong diatas pohon!" Resti ikut menggoda Farid.
"Hooh, buat temen kencan kalo bisa! Enak wah, kencannya gausah pakai motor!"
"Sini, sayang terbang sama aku! Peluk aku erat ya!" Juminten mengarahkan posisi pelukan.
Resti dan Juminten menertawakan Farid yang menjadi korban julid mereka. Farid merasa istimewa kali ini, sudah muntah-muntah di tengah dapat jackpot di jodohin sama setan.
"baru kali ini, gue nggak bersyukur punya wajah turunan arab! Masa di sandingin ma valak!" gerutu Farid. Membuat dua sahabat nya semakin keras tawanya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Suaranya bahkan hampir seperti orang menyeret disertai suara nafas menggebu. Mereka pun menghentikan tawaan mereka.
Ketegangan ada di wajah mereka. Bahkan, Lolongan anjing terdengar lebih keras, menambah suasana semakin tegang. Pohon bambu di dekat mereka, bergerak-gerak semakin keras.
"Kok gue berasa kayak di film pembunuhan beneran, ya!" Farid pun membangunkan tubuhnya.
"Kabur yuk!" Ajak Juminten yang juga merasa ketakutan
"Yuk! Satu... Dua.." Resti mengaba-aba.
" tiga! Kabur! " ucap mereka bersamaan.
Mereka pun berlari bersama masuk lagi ke dalam hati . Namun, lari mereka terhenti ketika mendengar suara orang yang tertawa terbahak-bahak.
" Wah, osis ternyata! Di kerjain kita! " Farid memasang wajah geramnya.
" Bales dendam, yuk! Jumi gemas nih! " Juminten bersiap maju menghadapi mereka, namun Resti mencekal tangannya.
" Udah.. nggak usah! Abis-abisin tenaga!"
"Noh target depan mata!" Mata Resti melirik tongkat besi bendera warna merah diatasnya.
"Alhamdulillah, kelar sudah." Farid merentangkan tangannya, merasakan lega.
"Yuk, balik! Jumi laper nih!" Juminten mengelus perutnya.
"Perasaan laper mulu deh, dari tadi!" cibir Resti, karena selama perjalanan Juminten tak berhenti mengunyah.
"Udah, ayo balik! Keburu makin gelap nih!"
Mereka pun kembali ke villa, menemui pos panitia osis.
"Permisi, ini kak!"
"Wah, selamat ya, Dek! Kurang 30 menit lagi kena sanksi soalnya!"
"Oke, tim Farid ya! Kita terima. Selamat istirahat, ya!"
Juminten yang sudah tak tahan menahan laparnya menuju ke cafetaria, memesan pop mie rasa soto ayam. Cuaca yang dingin, ditambah tubuh yang lelah memang paling nikmat menikmati mie instan yang berkuah.
Ting!
Ting!
Ting!
Juminten merogoh kantung celana, terdapat banyak panggilan dan pesan masuk dari suami, Emak juga Bang Eka.
Juminten pun asyik membalas pesan mereka, hingga ada yang memeluknya dari belakang!
"Istriku capek nggak, sayang?" Juminten yang tahu siapa pelakunya, mengelus tangan yang melingkar di perutnya.
"Loh, kalian berdua udah nikah?" Suara Rendi dari belakang mereka, membuat mereka berdua kaget.
Bersambung..biar kayak adegan di tipi-tipi🤣
Bambang jgn galau gitu,noh Rena sdh siap jd masa depanmu. tinggal kedipkan matamu buat othor. biar bisa dpt daun muda😁✌️🏃🏃🏃💨💨💨💨