"Kalau kau ingin aku tidak mengenali mu di kampus. Oke!! Itu tidak masalah bagi ku. Tapi kalau nikah dan pakai kontrak kontrakan seperti di novel-novel! I say NO! Aku tidak akan bersedia!! Dan kalau pun kau ingin menyembunyikan ini dari semua orang maka aku punya satu syarat yang harus kau penuhi.” Sebut Saka.
"Aku tidak sedang melakukan negosiasi saat ini tuan Gyan Assaka Hardata." Jawab Bia malas.
"Kalau begitu sayang sekali. Karena begitu sampai dikampus aku akan langsung mengumumkan pernikahan kita ke semua orang.." Ujar Saka dengan enteng nya.
Bia menghela nafas panjang dan melihat malas pada Saka. " Baik. Aku setuju. Tapi aku tidak mau ada siapapun yang tahu tentang pernikahan kita selain keluarga kita dan orang yang datang ke nikahan kita kemarin.."
“cepat katakan!” sambung Bia.
"Aku ingin kau melayani k-u... "
"Apa!!!" sela Bia, langsung memotong ucapan Saka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
“Lepaskan tangan Bia pak, anda menyakiti nya.”Ucap Owen penuh makna.
“Tolong lepaskan tangan anda, pak Saka.” Bia yang telah kembali mendapatkan kewarasan kini menarik pelan tangan ny adari Arka. Sorot mata nya yang tadi nya terkejut melihat kedatangan Saka, kini telah berganti dengan sorot mata yang dingin yang seolah-olah sedang melihat seorang asing.
“Bia-“ Ucap Saka terputus sebab Bia sudah mengalihkan pandangan nya dari Saka.
“Banyak orang yang melihat kita saat ini pak Saka. Anda pasti tidak ingin Bia menjadi top one gossip di kampuskan??” peringat Owen yang syukur nya berhasil membuat Saka melepaskan pegangan tangan nya.
Saka pun pergi dari tempat Bia dan memulai perkuliahan perdana pagi itu di kelas Bia.
Mulai dari perkenalan hingga masuk kedalam pemaparan materi, mata Saka sama sekali tidak lepas dari melihat Bia. Saka seperti nya tidak peduli jika ada mahasiswa nya yang menyadari hal itu.Karena memang Bia lah alasan utama Saka mengajar di sana.
Tak terasa dua jam pun berlalu dan kelas itu pun berakhir. Semua orang berbondong-bondong keluar dari kelas, termasuk Bia dan Owen. Mereka juga keluar dari kelas seperti yang lain nya.
“Bia, aku ingin bicara sebentar dengan mu.” Saka menahan tangan Bia,
“Maaaf pak Saka, tapi aku dan Bia sudah ada janji makan siang bersama.” Owen menepis tangan Saka. Saka memandang Owen dengan tatapan tidak suka nya. “Pria ini! dua kali sudah dia mengganggu ku hari ini. Apa harus aku suntik mati dia agar dia tidak mengganggu urusan ku dan Bia lagi?” seru Saka dalam hati dengan menatap Owen dengan tatapan bak seorang psikopat yang siap untuk menghabisi korbannya.
“Owen benar. Hari ini aku ada janji makan siang dengan Owen. Mungkin lain waktu kita bisa makan bersama.” Tolak Bia dengan cara yang halus. Bia tidak ingin diri nya jadi bahan gosip karena dua pria ini berkelahi di kampus.
“Aku ingin bicara dengan mu sekarang Bia. Itu arti nya sekarang bukan besok.” Potong Saka.
“Tapi aku tidak sedang ingin bicara dengan mu pak Saka. Kau tidak ada hak memaksa ku! Aku bukan tunangan mu lagi!” Bia sengaja menegaskan hal itu pada Saka. Mana tahu Saka lupa akan kenyataan yang menyakitkan hati Bia itu.
“Kalau aku tidak bisa memaksa mu dengan cara baik- baik maka aku akan memaksa mu dengan wewenang ku sebagai dosen mu!” Saka tersenyum smirk, Saka yakin ancaman nya yang satu ini pasti akan berhasil membuat Bia tunduk pada nya lalu mengikuti nya.
“Maaf, jika aku tetap tidak bisa ikut dengan mu! Kau bisa buat nilai ku D atau E atau bahkan Z kalau perlu, aku tetap tidak akan pergi dengan mu.” tegas Bia, menyentak kuat tangan Saka.
“Ayo Owen kita makan. Aku sudah lapar.” Ucap Bia, dan sengaja menggandenga tangan Owen di depan Saka.
“Bia...” ujar Saka, menahan sakit di dada melihat Bia menggandeng tangan laki-laki tepat di depan nya. “Aku tidak akan menyerah Bia! Aku tidak akan menyerah! Dulu kau yang berjuang untuk hubungan kita! Kini giliran ku!” ucap nya dengan tatapan nanar ke arah Bia dan Owen yang mulai tidak terlihat lagi dari pandanga nya.