NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

...8: BATAS RAGA DAN RAHASIA ISTANA...

...****************...

Menghadapi kesulitan sering kali menjebak seseorang dalam lingkaran dilema dan kejenuhan yang pekat. Ketika kecemasan yang berlebihan mulai menyelimuti batin, kendali atas pikiran pun perlahan sirna, hingga akhirnya belenggu tak kasat mata itu menyumbat segala potensi dan keinginan untuk berkembang.

Namun, Kenzie menolak menyerah pada kondisi tersebut. Ia memaksa dirinya merombak total cara pandangnya yang semula manja. Remaja itu memompa sisa-sisa motivasi yang tersisa di dasar jiwanya, membakar kembali semangat yang sempat padam demi menelan bulat-bulat menu latihan ekstrem dari Arvendel. Sebuah ujian fisik yang harus ia selesaikan tanpa boleh mengeluarkan satu keluhan pun.

"Sepertinya aku memang harus melakukan ini tanpa mengeluh sedikit pun. Jika tidak, aku hanya akan tetap menjadi pecundang rapuh untuk selamanya," bisik Kenzie pada diri sendiri. Gurat keputusasaan yang sempat menggelayuti wajahnya perlahan luruh, digantikan oleh binar harapan yang baru.

Tepat saat motivasinya memuncak, teguran keras Arvendel yang baru saja lewat telepati telah memecah kesunyian batinnya, yang memerintahkannya untuk bergerak lebih cepat.

Tanpa ragu lagi, Kenzie memacu langkah kakinya. Ia melesat menyusuri jalur pegunungan yang terjal dengan kecepatan yang meningkat drastis. Dalam waktu singkat, sosoknya telah sampai kembali di dataran cadas, tempat barisan batu hitam raksasa berdiri kokoh menghadang jalan.

...----------------...

Kenzie menghentikan langkahnya sejenak, memandangi labirin raksasa di hadapannya sembari memutar otak, mencari celah terbaik untuk melewatinya dengan efisien.

"Sepertinya aku tahu cara menjinakkan rintangan ini!" seru Kenzie setelah sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya.

Dengan gerakan cepat, Kenzie meluncur turun menyusuri celah-celah batu. Rencana yang ia eksekusi adalah metode paling aman sekaligus menghemat energi. Alih-alih melompat dari satu batu ke atas batu lainnya yang berisiko membuat kakinya patah, Kenzie memanfaatkan kemiringan cadas untuk merosot dan meluncur di sisi-sisi batu besar tersebut.

"Haha! Satu demi satu batu berhasil kulalui!" seru Kenzie riang, menikmati ritme berseluncur yang tak terduga itu.

Di teras gubuk, perhatian Arvendel mulai tersedot oleh taktik baru muridnya. Alih-alih melompati batu seperti pendekar beladiri pada umumnya, Kenzie justru menggunakan kelenturan tubuhnya untuk meluncur di permukaan batu besar.

"Anak ini... mulai menggunakan akalnya. Jika dipikir-pikir ternyata senam lantai itu ada gunanya juga" gumam Arvendel dengan seulas senyuman tipis yang mengembang di bibirnya—sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan.

"Namun, jika ia terus menggunakan cara aman seperti itu, perkembangan otot dan daya ledak kakinya akan lambat berkembang... Ah, sudahlah. Nanti jika tubuhnya sudah lebih kokoh, ia pasti akan mampu melewati batu-batu itu dengan melompat secara alami," lanjut Arvendel dalam hati. Sang Pendekar Agung tahu betul bahwa kekuatan sejati tidak bisa dipahat dalam semalam; ia berkembang secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di lereng gunung, Kenzie berhasil lolos dari jebakan labirin batu. Secara bertahap, ia kembali meningkatkan kecepatan, berlari menuruni gunung menuju batas vegetasi hijau.

Namun, begitu ia tiba di area hutan lebat yang dipenuhi akar pepohonan purba, situasi mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Tempat yang saat mendaki terasa sebagai rintangan mudah, kini bertransformasi menjadi jebakan maut saat dilewati dalam posisi turun.

Sudut kemiringan lereng yang curam membuat Kenzie harus melompat turun ke bawah. Dalam posisi ini, gravitasi menjadi musuh utamanya. Sekali saja ia salah menapak atau tersangkut, ia akan terlempar ke depan dan berguling di atas tanah yang dipenuhi cabang tajam, sebuah kesalahan yang bisa berakibat cedera fisik atau luka robek yang parah. Berbeda jauh dengan proses melompati akar saat menaiki gunung yang secara biomekanika tubuh terasa jauh lebih alami.

Kenzie menelan ludah, langkahnya sempat tersendat di bibir hutan. "Sebelumnya aku memang mudah melewati rintangan ini saat naik... tapi sekarang, kenapa terlihat sesulit ini untuk dilalui?"

Kenzie menggelengkan kepalanya keras-keras. "Persetan! Aku akan tetap mencobanya!"

Ia memulai pergerakannya dengan terpaksa karena tidak ada pilihan jalur lain selain menerobos rintangan itu secara langsung.

"Hiat!" Kenzie melompat menembus kerapatan sulur kayu. "Aku harus menyelesaikan putaran ini dengan cepat, karena setelah ini aku masih harus mengulanginya lagi hingga waktu yang ditentukan habis!"

Gubrak!... Lompatan demi lompatan Kenzie lakukan dengan nekat. Akibatnya, ia harus rela tubuhnya berulang kali menghantam tanah dan terperosok di antara belitan akar demi menjaga agar waktunya tidak terbuang sia-sia. Setiap kali tubuhnya menghempas bumi, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke sekujur tubuhnya. Padahal, ini baru putaran pertamanya.

"Akh...! Sakit sekali rasanya, sialan!" erang Kenzie sembari bangkit dengan susah payah, menahan rasa perih yang mendera lutut dan sikunya.

Kenzie terus menerus berjuang, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya sebisa mungkin. Hingga pada akhirnya, ia berhasil lolos dari cengkeraman hutan akar dan berlari keluar menuju kaki gunung. Hingga putaran pertama selesai.

Tanpa mengambil jeda untuk bernapas, Kenzie membalikkan tubuhnya dan kembali mengulangi proses tersebut; berlari menaiki dan menuruni gunung. Tiap kali melewati hutan lebat, Kenzie dipastikan akan terjatuh dan tergores saat melompat turun. Dan setiap kali harus menaklukkan susunan batu raksasa saat mendaki, Kenzie terpaksa memeras seluruh sisa tenaganya agar bisa memanjat hingga ke puncak.

Waktu terus bergulir di bawah siksaan terik matahari. Kenzie kini telah berhasil menembus putaran kelimanya. Matahari telah tepat berada di atas kepala, menandakan waktu siang yang dinanti-nantikan akhirnya tiba.

"Beberapa... langkah lagi... aku akan mencapai kaki gunung ini... Haa... Haa..." Napas Kenzie sudah tersengal-sengal parah, paru-parunya terasa seperti menghirup abu panas. Fisiknya sudah menyentuh batas mutlak dan tidak lagi mampu untuk berjuang, namun batinnya terus memaksa kakinya yang gemetar untuk tetap bergerak maju agar bisa sampai lebih cepat.

Di tempat Arvendel, sang guru merasa sangat puas dengan hasil usaha keras muridnya. Melihat sang murid yang semula congkak kini terkulai lemas dan tersiksa oleh menu latihan buatannya memberikan kepuasan batin tersendiri bagi pendekar hebat tersebut.

"Baiklah. Sebagai gurunya yang baik, aku akan pergi menjemput murid nakalku itu," ucap Arvendel perlahan.

Dengan satu sentakan kaki yang halus, Arvendel melesat ke udara. Tubuhnya terbang melayang, membelah angin dengan memanfaatkan pusaran energi batin miliknya menuju kaki gunung.

Tepat pada detik terakhir Kenzie menapakkan kakinya di titik akhir, seluruh kekuatannya lenyap. Tubuhnya ambruk ke atas rumput, mengalami kelelahan ekstrem dan rasa sakit yang luar biasa akibat akumulasi cedera ringan selama latihan.

"Apakah kamu baik-baik saja, Bocah?" sebuah suara bariton menyapanya dari atas.

Kenzie tersentak kaget mendapati Arvendel yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Detik berikutnya, rasa canggung yang luar biasa menyelimuti hati Kenzie. Pada awal latihan tadi, ia sempat berpikir bahwa menu latihan dari Arvendel hanyalah bualan santai yang mudah ditaklukkan, karena itulah ia sempat pamer dan bersikap seolah-olah semuanya terasa enteng.

"Ah... M-master!" ucap Kenzie dengan nada canggung, mencoba menegakkan punggungnya yang pegal. "Anda... sedang apa di sini?"

"Murid nakal... Akhirnya kamu sadar bahwa latihan ini tidak segampang seperti yang ada di dalam kepala kecilmu itu, bukan?" ujar Arvendel dengan nada suara yang tegas, memberikan tekanan wibawa seorang master.

"Lihatlah kondisimu yang berantakan seperti cucian kotor itu! Itu adalah bukti nyata dari hasil meremehkan segala sesuatu dan tidak mempersiapkan mental dengan benar sebelum bertindak!" lanjut Arvendel tajam.

Kenzie menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap telapak tangannya yang lecet. "Maafkan aku, master... karena telah meremehkan latihan yang Anda berikan."

Arvendel menghela napas melihat ketulusan di mata muridnya. "Baiklah. Jika sudah paham, bergegaslah kembali ke gubuk."

Kenzie melangkah pergi mendahului Gurunya, membawa rasa lelah yang teramat sangat berat di sekujur tubuh. Hatinya diselimuti penyesalan yang mendalam akibat sifatnya yang terlampau meremehkan hal-hal yang tampak mudah dari luar. Pikirannya kini tertunduk lesu oleh tamparan kenyataan, terpukul oleh kebodohan sikapnya sendiri.

Alih-alih ingin menjemput murid dengan cara memapahnya kembali, arvendel hanya menyuruh Kenzie berjalan sendiri kembali ke gubuk, dan bahkan ia menyuruh kenzie duluan pergi, sementara ia terbang kembali kegubuk dengan mudah. Apakah guru yang berbaik hati akan tega melihat muridnya yang cedera berjalan sendiri tanpa adanya bantuan?. Tapi arvendel berbeda ia justru menyuruh kenzie berjalan kembali sendiri dan ia sendiri sementara terbang sendiri kembali kegubuk tanpa memapah sang murid.

Setelah tiba di depan gubuk, Kenzie mendapati Arvendel sudah duduk dengan anggun di kursi yang berhadapan dengan meja kayu, seolah-olah sang guru tidak pernah pergi dari tempat itu. Arvendel tampaknya sengaja menanti kedatangan sang murid dengan tenang. Guru yang baik akan menantikan kedatangan muridnya. batin arvendel yang sedikit tidak tahu malu yang mengatakan bahwa ia akan menjemput kenzie padahal ia hanya menyuruhnya kembali sambil berjalan sendiri dengan keadaan lelah fisik.

Dengan langkah kaki yang sempoyongan dan lutut yang hampir goyah, Kenzie berjalan lurus hingga akhirnya tiba di hadapan meja Arvendel. pria tua sialan ini.. Apa dia sengaja semisterius ini padaku! Aku pikir dia datang membantuku pulang menuju gubuk?.. ternyata ia hanya pamer saja.. Cih!!. desis Kenzie mengeluh dalam pikirannya.

"Duduklah," titah Arvendel pendek.

"Siap, master," ucap Kenzie patuh, langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kayu di seberang Arvendel.

Begitu Kenzie duduk, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah hening. Tidak ada percakapan yang berlanjut selama beberapa saat. Di hadapan Kenzie, Arvendel hanya diam membisu sembari menikmati tegukan minumannya dengan ritme lambat. Sementara Kenzie sendiri terlalu lelah dan kehilangan kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan, hingga akhirnya Arvendel memecah keheningan tersebut.

"Aku ingin bertanya beberapa hal padamu," ucap Arvendel membuka pembicaraan, matanya menatap tajam ke arah Kenzie dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup.

"Apa yang ingin Anda tanyakan, master? Aku akan menjawabnya sejujur mungkin." Pria tua sialan.. Berlagak sok misterius. keluh Kenzie di benaknya.

"Apakah selama kamu hidup di dalam Istana Kekaisaran dulu, kamu sama sekali tidak pernah menyentuh latihan bela diri sedikit pun?" tanya Arvendel dengan nada santai, sembari menuangkan kembali cairan bening dari gucinya ke dalam cangkir kayu.

Kenzie memasang wajah heran, sedikit memiringkan kepalanya yang masih pening sebelum menjawab, "Sebenarnya... aku memang tidak pernah diajarkan ilmu bela diri atau teknik bertarung, master. Aku hanya diberikan porsi olahraga umum, seperti berlari mengelilingi halaman istana, melakukan gerakan senam lantai estetika, dan olahraga fisik lainnya yang bertujuan murni hanya untuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat."

Kenzie menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan jujur, "Dan... Ayahanda memang sengaja menyuruhku memfokuskan seluruh waktu untuk mempelajari ilmu pengetahuan, taktik politik, dan sejarah agar aku tumbuh menjadi seorang putra mahkota yang terpelajar."

Arvendel menghentikan gerakan cangkirnya di udara. Rasa heran mulai merayap di benak pendekar tua itu setelah mendengar penjelasan masa depan Kenzie. "Apakah Kaisar tidak memikirkan masa depan darah dagingnya sendiri? Apakah dia ingin anaknya tumbuh menjadi seorang pecundang yang pengecut ketika dewasa nanti? Atau... apakah Kaisar memang tidak menginginkan takhtanya diteruskan oleh keturunannya sendiri?"

Arvendel meletakkan cangkirnya dengan ketukan pelan di atas meja. "Mengapa kaisar dari sebuah kekaisaran besar seolah enggan memberikan seorang guru bela diri terbaik pada kalian berdua Kaka beradik, atau setidaknya melatih dasar-dasar pertahanan diri pada anak-anaknya sejak dini?"

Mendengar rentetan pertanyaan yang menyudutkan mendiang ayahnya, Kenzie tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kalau soal itu... Ayahanda sebenarnya telah memikirkan semuanya dengan sangat matang, master. Beliau telah merancang sebuah latihan khusus dan rahasia yang baru akan diberikan kepada kami berdua... tepat ketika kami menginjak usia tujuh belas tahun."

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!