masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keenan aneh
Semalam kami tidur di ruangan yang berbeda. Keenan di kamar tamu, aku di kamar kami. Mataku nggak mau terpejam bahkan sedikit saja. Pandanganku masih berkeliling menatap kamar ini.
Sekarang sudah jam 4 pagi. Sebenarnya mataku mengantuk. Tapi menolak untuk tertutup. Jadi aku memilih untuk mandi dan membereskan barang barangku ke koper. Melepas semua perhiasan pemberian Keenan termasuk cincin nikah ku.
"Kamu baik baik di rumah ya. Jangan hilang." Kataku pada cincin nikah yang ku simpan di kotak perhiasan.
Aku juga hanya membawa baju yang aku beli sendiri. Semua baju pemberian Keenan aku susun rapi di lemari.
Jam setengah 6 barangku sudah siap di bawa. Aku segera ke bawah untuk pergi. Tanpa berpamitan dengan Keenan aku mencoba mencari tumpangan online.
Pintu rumahku di bukakan oleh mba Ari yang dari jam 5 pagi sudah mulai beres beres rumah. Aku menunggu di depan gerbang rumah sendirian, untunglah langit sudah agak terang.
00
Aku memilih pergi ke toko saja, nggak enak juga kan kalo pagi pagi membawa kabar buruk ke mama Vera.
Aku membuka pintu belakang masih menarik koper yang cukup berat. Rasanya Sampai di toko terasa seperti di rumah, mendadak aku jadi sangat mengantuk.
Aku sudah mengabari Adam agar dia nggak kaget aku tidur di atas. Karna sebentar lagi mereka akan sampai.
Aku meletakkan koperku di ruanganku dan memilih tidur ranjang single bed.
00
"Mba, mba Nana bangun udah waktunya makan siang." Aku mendengar suara Riska pelan.
"Kalo nggak makan nanti mba Nana pingsan lagi. Ayo makan dulu." Kini Riska menggerakkan badanku.
"Ia aku bangun. Sekarang jam berapa?" Tanyaku pada Riska.
"Udah jam setengah 3. Maaf ya mba aku bangunin nya kesorean gini. Soalnya tadi rame banget. Jadi kita baru pada makan gantian." Riska tersenyum lebar di depanku.
"Yuk kita makan. Kamu udah makan?" Tanyaku pada Riska.
"Aku juga blm makan mba. Yuk kita makan." Ucap Riska semangat.
Sampai di lantai bawah cafe sudah sepi. Hanya tinggal 2 meja saja yang terisi pelanggan. Riska dan aku segera menuju dapur dan kaget menemukan 10 kotak pizza berukuran besar.
"Mba Nana, siang tadi suami kakak anterin 10 box pizza ini." Jelas Karina tanpa ku minta.
"Terus kenapa nggak kalian makan?" Tanyaku pada mereka yang sedang berkumpul di dapur.
"Yaa, belum sempet kak daritadi." Jawab Adam.
"Alasan aja kalian mau nungguin aku kan." Kataku yang membuat mereka mual.
"Hey kalian ayo makan. Ini makanan gratis loh." Kataku mengambil sepotong piza dan menyuapi Riska yang kelaparan.
"Oh ia ini ada kartu nya juga." Adelia memberiku kartu pesan.
"Kalian makan duluan ya. Aku mau mandi." Kataku yang memilih naik ke atas lagi.
Aku menatap kertas pesan dari Keenan. Sangat kepo tapi juga ingin segera merobek. Sampai di ruanganku aku segera membaca surat dari Keenan.
"Dear my wife. Pagi tadi aku kaget karna kamu sudah nggak ada. Aku mohon sama kamu untuk tinggal sama mamaku, aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu hon. Jangan lupa makan jangan lupa kirim pesan untukku. Aku sayang kamu."
Aku membacanya sampai selesai. Biasanya jantungku akan berdegup kencang atau merasa sangat senang setiap Keenan perhatian denganku. Tapi kali ini seakan hatiku masih ragu.
Aku menyimpan surat tadi ke dalam koperku. Segera memilih baju dan mandi.
00
Lantai dua sejak tadi sepi. Aku seharian ini ingin bermalas malasan jadi aku hanya duduk di sebelah jendela sambil memesan beberapa makanan dan minuman.
Aku menatap keluar jendela, kok masalah rumah tangga aku seberat ini ya. Aku harus kuat kaya mama atau aku harus mundur?
"Nggak tau ah aku pusing." Aku menyandarkan kepalaku pada lenganku dan memejamkan mata lalu tak terasa rasa kantuk itupun datang.
00
Sudah satu jam Nana tertidur di meja pelanggan tapi tak ada yang berani membangunkannya. Keenan datang kesana duduk di sebelah Nana sambil memandang wajah Nana tanpa suara. Berusaha agar tidak membangunkan Nana.
"Kak, mau pesan apa?" Tanya Riska pelan seperti berbisik setelah Keenan meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Nanti aja. Tolong jangan ada yang boleh naik ya. Kasian kalo berisik nanti Nana bangun." Ucap Keenan yang di jawab anggukan oleh Riska.
Hampir 2 jam Keenan menatap wajah Nana yang tertidur di meja. Sekarang sudah hampir jam 7 malam tapi sepertinya Nana sangat kelelahan dan nyenyak dengan posisi itu.
Keenan meminta kertas dan pulpen pada Riska setelah turun dari lantai dua. Keenan menuliskan sesuatu disana.
"Tolong nanti kasih nana kalau sudah bangun ya, tapi jangan di bangunin paksa. Jangan di baca, saya percaya kamu." Kata Keenan menyerahkan kertas yang ditulisnya tadi.
"Kenapa nggak di bangunin kak, mba nananya?" Tanya Adelia kepo.
"Nggak papa kasian dia cape. Jangan di bangunin ya, inget. Kasih tau yang lain jangan bangunin Nana. saya mau pulang." Keenan segera keluar dari cafe meninggalkan Adelia dan Riska yang malah baper dengan perlakuan Keenan ke Nana.
"Gila yaaa sayang banget sama istrinyaaaa." Kata Riska senang.
"Mau punya suami perhatian gitu." Sambung Adelia.
00
"Aduh, aduh." Aku terbangun karna tanganku kram.
"Kok udah gelap gini diluar." Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan jam setengah 8. Aku menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Kok aku bisa tidur lama banget yaaa. Ah muka aku jadi sedikit bengkak gini. Ah, laper lagi." Di depan kaca ku lihat kelopak mataku yang seperti bengkak.
Sampai di dapur ada beberapa bucket ayam cepat saji di atas meja. Tapi setelah mencari aku nggak kunjung menemukan surat di meja itu.
"Mba udah bangun?" Tanya Elisa.
"Ini makanan dari mana?" Tanyaku pada Elisa.
"Dari suami mba Nana. Tadi kak Keenan Dateng kesini tapi tadi yang ngobrol sama kak Keenan Adelia sama Riska." Jawab Elisa sambil membereskan alat masaknya.
"Aku cari Riska dulu ya." Aku segera ke depan menemui Riska.
"Mba Nanaaa." Teriak Riska senang.
"Mba ini ada titipan dari suami mba yang selama mba tidur tadi dia nemenin mba dan nggak izinin orang lain buat naik ke atas. Aaaaah romantis banget nggak sih?" Jelas Riska sambil berputar bahagia.
"Ia ia. Makasih ya." Aku segera mengambil surat Keenan dan memilih naik ke ruanganku.
"Hai ma cherie maafin aku ya. Selama ini terlalu paksa kamu. Aku nggak akan paksa kamu tinggal di rumah mama. Just enjoy your life with happiness sebelum bertemu dengan aku yang merepotkan ini. Aku bakal selalu kirim chat walau kamu nggak akan bales. Aku janji bakal jemput kamu segera. Tunggu aku ya, aku sayang kamu my honey."
Aku menghela nafas, setelah membaca surat dari Keenan.
"Apa sih maksud dia kirim surat dan makanan banyak banget kaya gitu. Terus dia chat semua kegiatan dia beserta orang orangnya dan pap. Astagaaaa bisa penuh galeri aku."
Ada 22 pesan baru yang Keenan kirim. Dan semuanya tentang aktivitasnya seharian, contohnya "Aku lagi di lapangan cek kerjaan, sama Arif dan kru lapangan." Dan chat selanjutnya foto selfie Keenan dengan background proyek yang belum jadi.
Begitu terus isi chatnya sampai bawah, hanya tentang dia dan kegiatannya. Apakah dia berniat memperbaiki semua? Kepercayaan, komunikasi, hubungan kita? apakah Keenan aneh?
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
16.08.2020
Nadiapuma
Hai mohon maaf membuat kalian menunggu lama. Aku sedikit sibuk...
terimakasih banyak atas komen kalian yang selalu jadi penyemangat kuuuu... ♥️